
Rafael melihat Melinda yang terjatuh karena ulah suaminya. Pipi wanita itu sampai membekas kemerahan. Saat Rafael berteriak dan akan mendekati Melinda, Rafael melihat tiga wanita yang sangat dikenalnya juga berjalan mendekat ke arah Melinda. Mereka adalah Alisha dan kedua perawatnya.
Alisha sepertinya tidak menyadari atau mungkin tidak mendengar teriakan suaminya. Dia yang mulai berjalan pelan mendekati Melinda, membuat Rafael panik karena takut Alisha terkena pukul suami Melinda itu.
Perawat Irma menolong Melinda yang terjatuh membuat suami wanita itu semakin emosi dan akan memukul Melinda lagi, sedangkan Rafael berlari karena khawatir dengan istrinya.
Tiba-tiba Rafael mendekap tubuh Alisha membuat wanita itu terkejut. Belum tersadar dari keterkejutannya, Alisha bertambah terkejut saat melihat punggung suaminya mendapat pukulan dari suami Melinda.
Rafael mengerang kesakitan tetapi pelukannya pada tubuh Alisha semakin erat. "Aku nggak akan biarin kamu terluka," ucapnya yang masih mendekap erat tubuh Alisha.
"Mas, aku nggak apa-apa, tapi itu Melinda."
"Mas, tolongin aku, Mas. Aku nggak mau disakiti terus sama dia," ucap Melinda sembari berlindung di samping Rafael.
"Oh, jadi ini yang kamu bangga-banggakan dan kamu yakini akan menolong kamu?" tanya suami Melinda dengan tatapan sinisnya.
Rafael berbalik badan. Saat ini, dia melindungi istrinya di belakang punggungnya, dan Melinda ada di samping kirinya.
Bukannya menjawab, Rafael justru balik bertanya, "Kamu preman?"
Suami Melinda itu tersenyum miring dan hendak menarik lengan Melinda dengan satu tangan. "Aku suaminya."
Rafael memejamkan mata sejenak, sedangkan Melinda malah menangis dalam cengkeraman suaminya sendiri. Wanita itu terlihat ketakutan oleh perlakuan suaminya yang terlihat garang.
"Oh, benarkah? Istri yang seperti apa? Istri yang suka selingkuh? Atau malah hamil dengan laki-laki lain?" tanya suami Melinda yang wajahnya sudah memerah menahan amarah.
"Hamil? Dengan laki-laki lain?" Rafael mulai bingung.
Melinda hanya bisa menangis tersedu. Bibirnya yang bergetar menahan sakit di lengannya yang dicengkeram kuat oleh suaminya.
"Ya, jangan-jangan bayi di kandungannya itu milikmu!" tuduh laki-laki dengan tubuh kekar dan rambut panjang yang diikat ke belakang itu.
"Aku?! Menyentuhnya saja aku tidak pernah!" balas Rafael tanpa takut.
"Anak itu bukan milikku, dia hamil saat aku pergi ke luar negeri untuk dua bulan. Saat aku pulang dia bilang sedang hamil. Kalau bukan anakmu, lalu anak siapa? Aku menyesal menikahi wanita ular sepertinya," ucap suami Melinda sambil mendorong tubuh wanita itu ke arah Rafael.
Melinda tersungkur dan mengenai tubuh Rafael, beruntung dia tidak lagi jatuh yang mungkin membahayakan kehamilannya.
Rafael memberi kode pada perawat Irma untuk membantu Melinda. Dia lalu maju semakin dekat dengan suami mantannya itu dan menasehatinya. "Bukankah kamu sendiri yang merebutnya dariku, tepat di hari pernikahan kami. Sekarang kamu sendiri yang harus menanggung resikonya. Bertanggung jawablah, jika itu anakmu kamu pasti akan menyesal seumur hidup."
"Bagaimana aku bisa mempercayainya, kalau ternyata aku bukanlah orang pertama yang menikmati tubuhnya." Suami Melinda menatap Rafael dengan sinis. Dia seperti menyimpan dendam yang besar lada Rafael.
"Bukankah kamu yang sudah menikmatinya terlebih dahulu, itu sebabnya kamu mengalami gangguan mental saat kehilangannya. Hei wanita cantik! Hati-hati dengan suamimu ini!" kata suami Melinda pada Alisha.
Alisha bingung dengan apa yang terjadi di depannya. Dia yang tadinya ingin memberi kejutan pada suaminya, justru dirinyalah yang mendapat kejutan besar.