
Rafael merasakan ujung buah pir milik Alisha untuk pertama kalinya. Dia memainkan dan menyesap ujung kecil yang ternyata sangat enak meski tidak ada apa pun yang keluar.
Rafael seperti bayi kecil yang kehausan, menikmati mainan baru yang ternyata sangat mengasyikkan. Satu tangan yang lain memainkan ujung buah pir lainnya hingga membuat Alisha memejamkan mata, antara nikmat dan pasrah.
Cukup lama Rafael menikmati hidangan pembuka yang sangat lezat itu. Hingga dia merasakan sesuatu yang mengeras di balik celana pendeknya. Rafael pun terpaksa melepaskan buah pir Alisha dan membuka bajunya karena gerah.
Setelah melepaskan bajunya, Rafael membuka sendiri celana pendek miliknya dan semua yang melekat pada tubuh kekar itu. Hingga akhirnya, benda berurat yang panjang dan besar itu menggelantung bebas. Rafael pun memperhatikan wajah Alisha.
Gadis itu memejamkan mata melihat milik suaminya yang sebentar lagi akan merenggut kegadisannya. Alisha berdebar keras, dia tidak mau berontak karena itu pasti akan membuat Rafael murka dan membangunkan sifat temperamennya. Kalau sampai dia berbuat kasar, mungkin Alisha akan mengalami trauma seumur hidup. Itu yang gadis itu pikirkan.
"Jangan menutup mata Alisha, aku ingin kamu juga menikmati permainan kita. Ayo sentuhlah!" kata Rafael sambil menuntun tangan Alisha untuk menyentuh Naga Sakti miliknya.
Alisha perlahan membuka mata saat merasa tangannya menyentuh pusaka milik Rafael.
"Kamu harus melihat dan menyentuhnya dulu sebelum merasakannya." Rafael mengarahkan tangan Alisha untuk bergerak maju mundur. Ternyata, rasanya sangat nikmat.
"Jijik tau, Mas," kata Alisha yang masih terlalu tabu untuk melihat apalagi menyentuh milik orang lain.
"Sekarang boleh jijik, tapi begitu merasakan Naga Sakti memasukimu, aku yakin kamu pasti akan sangat menyukainya," jawab Rafael sambil berbisik. Dia lalu mencium dan menjilat telinga Alisha yang membuat gadis itu merasakan gelenyar aneh.
Tak berapa lama, Rafael mencoba membuka rok milik Alisha dan melepaskan kain segitiga miliknya. Selama sakit, Alisha memang tidak menggunakan celana karena itu membuatnya kesulitan.
Alisha berdebar saat kain itu ditarik satu per satu dari tubuhnya. Dia tidak mungkin bisa lari atau berhenti, karena Rafael itu monster baginya.
Kini, tubuh Alisha benar-benar tak tertutup apa pun. Alisha yang malu kini menarik selimut untuk menutup tubuhnya. Dia lalu berkata, "Mas, aku mohon jangan kasar! Meskipun kamu tidak mencintaiku, setidaknya hargai aku sebagai istri yang patut diperlakukan dengan lembut."
Rafael kembali mencium bibir Alisha. Dia tidak ingin merusak suasanan dengan banyak bicara. Rafael membuktikannya dengan gerakannya yang lembut, sama sekali tidak menyakiti Alisha.
Sambil berciuman, tangan Rafael kembali menyentuh buah pir Alisha yang dapat digenggamnya dengan satu tangan. Lalu, tangan itu mulai bergerak turun menuju perut dan masuk ke dalam selimut dan membukanya.
Rafael bisa dengan jelas melihat bentuk tubuh istrinya yang tidak pernah terjamah. "Irisan buah kiwi yang menggoda," kata Rafael sedikit membuka kaki Alisha. Dia lalu memasukkan satu jarinya ke dalam irisan buah kiwi itu, dan merasakan lubang sempit itu sedikit basah.
Rafael kembali mencium dan menyentuh seluruh tubuh Alisha supaya dia mengeluarkan pelumas alami dalam tubuhnya. Lalu, saat jarinya merasakan licin yang luar biasa, Rafael mengarahkan Naga Sakti miliknya untuk mencicipi irisan buah kiwi Alisha.
"Sakit!" pekik Alisha yang langsung dibalas ciuman oleh Rafael.
Menjeritlah, aku tidak akan melepaskanmu karena ini rasanya sungguh sulit. Kenapa sulit sekali? Apakah memang sesempit ini, atau hanya Alisha yang begini?
Weh udah ketemu namanya.. udah kebayang lah ya. hemmm enak, Bang?