Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Ceraikan Aku ~ Bab 86


Kehamilan Alisha disambut bahagia oleh Rafael dan Alfaro juga. Sedangkan Syana dan Anna jelas terlihat tidak suka. Mesku begitu, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain pasrah karena rencana mereka telah gagal.


Alisha sudah tidak bekerja lagi, dia sudah mempercayakan perusahaan kepada suaminya dan juga Ria yang masih sibuk membantunya.


Di rumah, Alisha ditemani mertuanya yang tidak berani mengganggu Alisha karena ancaman Rafael.


"Ma, aku boleh tanya sesuatu nggak, Mama 'kan lebih pengalaman soal hamil?" tanya Alisha basa-basi. Dia sibuk memakan irisan buah yang sudah disiapkan oleh pelayan di rumahnya.


"Jangan tanya-tanya, saya tidak peduli sama kamu dan anak kamu," jawab Syana. Dia mengambil majalahnya dan berpindah tempat ke meja makan.


"Anak aku 'kan cucu Mama juga," balas Alisha.


"Tidak. Aku tidak sudi punya cucu dari rahim kamu." Syana urung berpindah ke meja makan. Dia malah meninggalkan Alisha yang mengerucutkan bibir.


Tanpa terasa, lelehan hangat mengalir membasahi pipinya. Perlakuan mertuanya yang tidak mau menerima bayi dalam kandungannya.


Beberapa hari semenjak kejadian itu, Alisha sudah melupakannya. Dia tetap bersikap biasa saja seolah tidak ada masalah antara dirinya dan sang mertua.


Alisha dan Rafael kembali memeriksakan kandungan Alisha. Alisha sering mengeluh perutnya terasa kram, sehingga mereka kembali melakukan USG untuk mengecek kembali kondisi janin itu.


Namun, sepertinya apa yang disampaikan dokter bukanlah kabar yang baik. Janin Alisha terlalu kecil untuk kandungan seusianya. Mereka harus kembali dua minggu lagi untuk memastikan apakah janin itu berkembang atau tidak.


Sepanjang perjalanan dari dokter kandungan menuju rumah, Alisha dan Rafael sama-sama terdiam. Mereka hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.


Sampai di rumah, Anna dan Syana menatap aneh ekspresi datar Rafael dan juga kesedihan di wajah Alisha. Mereka menyimpulkan bahwa suami istri itu tengah berseteru saat ini.


"Anna, wanita tidak tahu diri ini memanfaatkan anak untuk mengikat Rafael. Mungkin dia pikir dengan kehadiran anak itu bisa memperbanyak kekayaannya. Tapi, siapa yang menyukai anaknya itu. Keluarga Hartono tidak akan menerimanya."


Rafael masib berada di ujung tangga dan bisa mendengar apa yang dikatakan ibunya itu, tapi karena dia sedang tidak berselera untuk berdebat, dia memilih masuk ke kamar dan segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Alisha tidak mengatakan apa pun, tapi air mata yang mengalir di pipi, serta tatapan marahnya sudah menjelaskan bahwa Alisha tidak baik-baik saja. Dia mengabaikan mertuanya dan menyusul sang suami ke kamar.


***


Rafael telah keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya menangis tanpa suara. Dia mengusap air mata Alisha yang merasa sangat bersedih sepertinya.


"Al, jangan menangis. Kamu harus sehat dan kuat. Supaya dia juga bisa kuat dan sehat bertahan di perut kamu." Rafael membawa Alisha ke dalam pelukannya.


"Mas, apa salahku sampai mama kamu sangat membenciku? Apa salah anakku, Mas?" Tangis Alisha kian pecah dalam dekapan hangat suaminya.


Dokter memang baru memprediksi, tapi Alisha merasakan firasat yang buruk. Apalagi, mertuanya sangat membenci ia dan bayi di kandungannya. Apa yang dikatakan Syana mungkin bisa menjadi doa buruk untuk keselamatan cucunya sendiri.


"Jangan didengarkan, Al. Aku akan mengusir Mama dan Anna untukmu."


"Jangan, Mas. Kalau kamu melalukannya, Mama akan semakin membenciku dan anakku."


...Mon maap ya, terlambat update. Lagi ujian 🥲 tapi, othor sempatin update 3 bab, asal kembang kopinya jangan lupa 💋💋...