
Pertanyaan spontan yang Satria tanyakan membuat Anna tersenyum palsu menanggapinya. Sebagai anak kecil, sangat wajar Satria menanyakan hal semacam itu, apalagi dia dan Shaka memang seumuran.
“Adiknya cuma di perut Mommy Al, Sayang. Di perut Mommy Anna cuma ada makanan nih,” jawab Anna dengan bercanda. Dia tidak mau menjelaskan sesuatu yang Satria belum bisa pahami.
“Mommy, kenapa makan telus? Adiknya enggak mau ke pelut Mommy kalna Mommy banyak makan,” kata Satria.
Shaka yang sedang menyuapkan secuil roti ke mulut Alisha, seketika menoleh karena kata-kata Satria.
“Shaka juga suka makan. Kalau pelut Shaka diisi makanan, belalti dedeknya enggak bisa masuk ke pelut Shaka?” Bocah dengan pipi bulat itu mengerutkan kening sambil mengetuk-ketuk bibirnya.
Pemikiran Shaka itu membuat Anna dan Alisha tertawa, sedangkan Satria menatap Shaka dengan kesal.
“Yang bisa kasih dedek itu Mommy-Mommy. Mana bisa Shaka punya bayi di pelut,” balas Satria.
“Wah, tahu dari mana anak daddy kalau dedek bayi cuma di perut mommy-mommy?” Alfaro mengangkat putranya dan menciumnya gemas.
Shaka menatapnya sekilas, lalu melanjutkan lagi menikmati roti miliknya.
“Shaka minta daddy gendong tuh, biar kayak Kak Satria, digendong daddy juga,” kata Anna memprovokasi.
“No. Shaka mau mamam aja,” jawab bocah itu cuek bebek. Dalam hidupnya, yang paling penting adalah makan. Naik ke pundak daddy sama halnya dengan menyia-nyiakan makanan di tangannya. Tidak lebih menarik dari sepotong roti dengan taburan kismis di atasnya itu.
Mama Syana ikut bergabung, Rafael memilih duduk di samping Alisha. Di taman yang cukup luas itu, ada ayunan dan juga beberapa mainan anak yang baru-baru ini Mama Syana pesan supaya Shaka dan Satria betah menginap di rumah itu.
Satria tiba-tiba sudah membawa bola yang entah sejak kapan diambilnya. Bocah itu mengajak Shaka dan Rafael untuk main bola. Dia dan Alfaro sudah sering berlatih di Singapura, dan hari ini mereka ingin menantang Rafael dan Shaka.
“Satria sama Kak Al itu sering banget main bola, kayaknya Satria pengen nantangin Shaka sekarang, Al.” Anna menatap putranya dengan bangga.
Pria kecil dengan rambut panjang itu sangat percaya diri bisa mengalahkan Shaka dan Rafael dalam pertandingan perdana ini.
“Aduh, Shaka bisa enggak ya,” kata Alisha dengan ragu.
“Shaka, main yuk! Nanti kalau kita menang, daddy belikan pizza jumbo, Shaka bisa habiskan semuanya,” ajak Rafael yang selalu paham bagaimana cara membujuk Shaka.
Shaka memikirkan matang-matang apa yang daddynya tawarkan. Pizza jumbo adalah favoritnya sekarang. “Es klim?” ucapnya yang meminta lebih dari pizza.
“No. Enggak boleh makan es krim,” sahut Alisha.
Rafael yang tadinya mau menyetejui permintaan Shaka, tapi ternyata itu tidak sejalan dengan reaksi Alisha. Wanita yang memegang tahta tertinggi di hati Rafael dan Shaka itu menolak keras permintaan Shaka atas imbalan jika menang pertandingan.
Alisha sangat tahu, Shaka tidak bisa hanya makan 1 cup es krim, karena dia akan terus minta tambah dan tambah.
“El, kalau kamu sama Shaka bisa menang, sepuluh persen saham tambang,” teriak Alfaro yang paham jika Rafael kesulitan membujuk putranya.
“Al, itu penawaran yang sangat menarik, ayolah Al. Meskipun belum tentu kita menang, tapi itu lumayan seta buat tambahan beli supercar nanti!” Rafael menarik tangan Alisha dan menciuminya. Dia lalu memeluk perut Alisha seolah mencari dukungan pada janin di perut istrinya itu.
“Hem, yaudah tapi aku mau lahiran di luar negeri ya, gimana?” kata Alisha.
Rafael langsung mengiyakan, dan akhirnya Shaka-Rafael dan Satria-Alfaro bisa bertanding.
“Kamu mau lahiran di mana, Al?” tanya Mama Syana penasaran. Ide melahirkan di luar negeri memang sepertinya sangat menarik dan Alisha dulu juga pernah mengatakan keinginannya itu.
“Ya, waktu lahiran Shaka sebenarnya aku pengen lahiran di Amerika, Ma, tapi entah kali ini di mana ya, Ma?” Alisha kini berundingan dengan mertuanya.
Anna jadi membayangkan bagaimana jika dia juga melahirkan di luar negeri. Dia lalu menatap putra dan suaminya yang pasti juga berharap dia akan hamil. Namun, bayang-bayang kecelakaan saat hamil besar itu membuatnya dirundung rasa takut. Bahkan, sampai sekarang Anna tidak berani duduk di kursi depan saat naik mobil karena kecelakaan itu memang menyisakan trauma yang mendalam untuknya.
“Em, di mana ya? Anna kalau kamu negara mana, Ann?” tanya Mama Syana.
Ekspresi Anna hanya tersenyum datar seolah tidak memiliki ide apa pun, padahal sebenarnya dia tidak ingin memikirkan atau membahas soal melahirkan yang membuatnya bersedih. “Aku enggak tahu, Ma.”
Anna kenbali menatap Satria dan Alfaro yang dia dukung. Mereka tampak antusias mengalahkan Rafael dan Shaka yang ternyata sangat cepat berlari. Meski Shaka tidak sepandai Satria saat menggiring bola, tapi bocah itu bisa mengimbangi permainan.
Alisha melihat kesedihan di mata kakak iparnya itu, dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan Anna. “Kakak kenapa? Apa Kak Anna sedih karena aku hamil?” tanya Alisha.
Namanya wanita hamil, perasaan Alisha jauh lebih peka dari siapa pun.
“Enggak kok, Al. Aku cuma keinget sama kecelakaan waktu itu. Kalau aku hamil lagi, rasanya aku belum siap untuk hamil lagi,” jawab Anna. “Aku bahagia dengan kehamilan kamu, Al. Anak kamu, anak aku juga dan aku berharapnya Satria sama Kak Al bisa menganggapnya sama.”
Mama Syana langsung merangkul menantunya. Memiliki dua orang menantu yang sama-sama dianggap sebagai putrinya, Mama Syana kadang harus menempatkan diri di antara keduanya supaya Anna dan Alisha tidak merasa dibeda-bedakan, dan jangan sampai melukai salah satu di antara keduanya.
“Anna, mama mengerti perasaan kamu, tapi kecelakaan itu adalah musibah yang kita tidak pernah tahu kapan akan menimpa kita, sedangkan kehamilan itu anugerah yang belum tentu dikasih meski kita memintanya setiap hari. Mama menghargai perasaan kamu, tapi mama harap, kamu juga membicarakan masalah ini sama suami kamu,” nasehat Mama Syana.
Saat Mama Syana dan kedua menantunya masih saling berpelukan, tiba-tiba Rafael, Alfaro dan Satria berteriak-teriak membuat rasa haru mereka tiba-tiba lenyap. Para wanita itu lalu mengalihkan perhatian mereka pada Shaka yang berlari ke arah Alisha sambil membawa bola di dekapannya.
“Shaka, kembalikan bolanya!”
Enggak mau ah, aku mau main sendili sama leadels yang masih nungguin aku.
Pengen mereka cepet-cepet gede, tapi masih gemes banget sama Shaka gimana dong 😂😂😂