
Anna menatap laki-laki yang kini menatapnya dengan tatapan remeh. Laki-laki yang betah hidup sendirian itu sebenarnya kasihan dengan Anna. Wanita yang dilupakan oleh adiknya.
Jika saja, saat pertunangan itu, Anna dan keluarganya memilih Alfaro, pasti Anna tidak akan sesakit ini. Akan tetapi, Alfaro memang sudah tahu bahwa dari dulu Anna menyukai Rafael, tapi sayangnya Rafael lebih mencintai Melinda.
"Apa yang kamu cari dari Rafael. Aku melihat bagaimana Rafael menyukai Alisha, dia menjaga dan mencintai Alisha dengan sangat baik. Walaupun kamu mencintai dia setulus apa pun, kalau dia bukan jodohmu, kamu bisa apa?"
Mendengar hal itu, telinga Anna terasa panas. Di sini siapa yang salah? Seolah-olah Anna dianggap sebagai perebut suami orang, padahal Anna merasa tidak bersalah. Dia yang lebih dulu mengenal dan mencintai Rafael, bahkan mereka sudah bertunangan. Lalu, kenapa Alfaro menganggap dirinyalah yang bersalah?
Alfaro berjalan menuju kamarnya, tapi baru beberapa langkah, Anna menghentikannya.
"Apa yang kamu tahu? Kamu hanya laki-laki yang tidak pernah merasakan cinta, mana paham kamu soal mencintai. Lihat dirimu itu! Sok menasehati, padahal kamu sendiri tidak tahu apa-apa."
Alfaro berbalik badan. Dia kembali berjalan mendekati Anna yang dengan berani mengatainya.
"Siapa bilang aku tidak pernah jatuh cinta? Siapa bilang aku tidak paham soal mencintai? Delapan tahun aku mencintai dia dalam diam, dan aku berusaha menghapusnya dari ingatanku. Tapi, apa pernah aku sepertimu? Merusak hubungan orang lain demi meraih cintamu sendiri."
Anna mundur beberapa langkah, tetapi Alfaro malah menangkapnya.
"Aku jauh lebih kenyang merasakan cinta sendirian Anna. Kalau kamu masih mendekati Rafael, itu artinya kamu bukan wanita berkelas," ejek Alfaro. "Kamu kaya, cantik, pintar, berpendidikan dan sangat hebat. Apa gunanya kamu merebut suami dari wanita lain?"
"Aku yang sudah bertunangan dengan Rafael dan Alisha yang merebutnya dariku. Kenapa aku yang disebut perebut? Aku hanya ingin milikku kembali," pekik Anna. Dia sangat kesal dan marah saat ini sehingga apa pun yang dikatakan Alfaro itu menyinggung perasaannya.
Air mata Anna semakin mengalir deras. Anna maskh tidak rela melepaskan Rafael, karena dia sangat mencintai laki-laki itu sejak lama.
"Aku tidak apa-apa menjadi yang kedua. Kalau Rafael mencintai Alisha dan mereka menikah, maka aku juga punya hak yang sama melewati jalan yang sama. Aku mencintai Rafael."
"Kamu bertingkah seperti tidak ada pria lain saja Anna. Kamu sangat cantik, kamu bisa mendapat pria mana pun asal jangan suami orang."
"Aku tidak peduli dengan harkat dan martabat. Yang aku tahu, aku mencintai Rafael dan aku rela menjadi yang kedua," kata Anna dengan sangat yakin.
Tepat pada saat Anna mengatakan itu, Rafael membuka pintu kamarnya.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Rafael. Dia hanya memakai celana pendek yang longgar di atas lutut. Keringat yang bercucuran di tubuhnya sudah menjelaskan bahwa pertempurannya dengan Alisha sangat menghabiskan tenaga.
"Beb, jadikan aku istrimu juga."
Rafael langsung melotot mendengar permintaan Anna itu.
"Kenapa harus menjadi yang kedua kalau kamu bisa menjadi yang pertama? Bukankah menikah dengan Kak Al juga sama saja, Anna?"
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋