Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Cintai Aku ~ Bab 31


Saat Anna merasa canggung dan malu menyampaikan nasihat dokter kandungan pada suaminya, Alisha justru terlihat santai dan tanpa canggung saat mengatakannya pada Rafael. Dia hanya sedikit beraksi saja dan laki-laki itu langsung paham.


Rafael sangat menyukai saran yang dokter berikan itu. Karena saran itu juga, dia jadi tidak begitu tegang menghadapi persalinan Alisha.


***


***


Alisha terbangun dan merasakan punggungnya yang nyeri dan sakit. Dia sampai merintih kesakitan hingga membuat suaminya terbangun.


“Sayang, kamu kenapa? Sakit ya?” tanya Rafael yang mulai panik. Menurut perkiraan dokter memang Alisha akan segera melahirkan dalam beberapa hari ini.


“Sakit dikit, Mas. Rasanya kayak pegel banget. Tolong pijitin ya,” jawab Alisha.


Dengan sigap Rafael mengusap-usap punggung wanita hamil itu hingga perlahan sakitnya terasa hilan dan Alisha bisa ke kamar mandi seperti biasa.


Rafael kembali berdebar menanti kelahiran anak mereka dan sekaligus khawatir dengan keadaan sang istri. Sepertinya, waktunya Alisha berjuang telah tiba.


Rafael memutuskan untuk tidak datang ke kantor demi menemani Alisha yang mungkin bisa melahirkan sewaktu-waktu. Dia menghubungi ibunya agar bisa menemani Alisha ke rumah sakit.


Tidak berapa lama, Mama Syana datang mengunjungi rumah putra keduanya. Dengan wajah panik yang berusaha terlihat tenang, mama menemui Alisha.


“Gimana, Sayang? Ke rumah sakit sekarang aja ya?” tanya Mama Syana khawatir.


Sang menantu sedang berjalan mondar-mandir seperti yang pernah dokter sarankan.


“Nanti aja, Ma. Aku takut semakin tegang kalau ke sana,” jawab Alisha ragu-ragu.


“Kalau sudah di sana, nanti kalau kamu ada keluhan mau melahirkan, jadi mudah penanganannya, Al.” Mama Syana berusaha membujuk menantunya.


Wajah Alisha semakin tegang, dia merasakan gugup luar biasa. Ini pertama kalinya bagi Alisha melahirkan sebuah kehidupan yang menjadi bukti cintanya dan Rafael.


Rafael juga tak kalah tegang. Membayangkan istrinya kesakitan seolah mengingat kembali masa lalu saat dia membawa Alisha ke rumah sakit dalam keadaan luka parah. Dia merutuki kebodohannya saat itu yang menyebabkan Alisha koma.


Mengingat masa lalu itu, Rafael semakin gugup, membayangkan jika sesuatu terjadi pada Alisha. Dia tidak rela.


“Al, kalau kamu takut, kita operasi sesar saja ya,” kata Rafael.


Mama Syana langsung melotot. Putranya itu bukannya memberi suport malah membuat Alisha semakin takut.


“Aku takut enggak bisa bangun kalau operasi, Mas. Kalau normal kita kan tetap sadar ya, Ma.” Alisha menatap mertuanya, berharap mertuanya akan mendukung keinginannya untuk melahirkan secara normal.


“Iya, Sayang. Sama saja kok mau sesar atau normal, cuma kalau sesar lebih lama proses penyembuhannya. Bisa-bisa kamu puasa lebih lama daripada Alisha lahiran normal. Kamu mau?” tanya Mama Syana sembari melayangkan tatapan kesal pada putranya. Jika saja mulut putranya itu bisa diam saja, pasti akan lebih baik.


“Nanti Mama sama Mas Rafa ikut menemani aku ‘kan?”


“Pasti, Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang ya, di sana ada dokter yang lebih paham daripada kita di rumah kayak gini, semakin bingung nantinya.”


Meski Rafael dan Alisha masih gugup. Mereka akhirnya memutuskan pergi ke rumah sakit lebih awal.


Alisha dan Mama Syana duduk di kursi penumpang belakang, sedangkan Rafael menemani Felix menyetir di depan.


“Kalau Alisha belum terlalu kesakitan gini, di mobil juga enggak terlalu panik. Yang nyetir juga lebih tenang.” Mama Syana sedang mengusap-usap punggung Alisha yang sesekali meringis kesakitan.


“Belum kesakitan gimana, Ma. Itu Al pasti sakit banget,” sahut Rafael.


“Iya, tapi mama dulu pas lahirin kamu lebih parah. Udah mau brojol di mobil, mana malam-malam sama papa aja, di Singapura nggak punya sopir waktu itu.”


Mendengar itu, Alisha jadi membayangkan dan entah kenapa dia jadi tersenyum.


“Padahal aku pengennya lahiran di luar negeri loh, Ma. Mas Rafa kayaknya lupa deh,” celetuk Alisha.


Rafael membeku. Dia terlalu sibuk, sampai lupa mengabulkan permintaan Alisha. Dia pikir, Alisha sudah melupakannya, apalagi sejak ada Anna, ternyata tidak segampang itu dia lupa.


“Maaf ya, Sayang. Aku beneran lupa.”


***


***


Sementara di tempat lain, Anna sedang menyaipkan pakaian suaminya yang harus menggantikan Rafael untuk menghadiri peluncuran produk baru mereka. Karena Alisha mau melahirkan, Rafael meminta tolong pada kakaknya itu agar menggantikannya meresmikan produk baru mereka.


“Kamu ikut aja ya, Ann. Aku rasanya enggak tega jauh dari kamu,” kata Alfaro dengan manja.


“Kalau sebentar aja sih enggak apa-apa. Tapi, setelah itu kita ke rumah sakit ya, aku penasaran gimana Alisha lahiran,” balas Anna.


“Iya, Sayang. Kamu pasti lebih kuat. Jangan takut ya kalau nanti waktunya lahiran juga.”


“Selama kamu ada di sampingku, aku enggak akan takut, aku ingin bersama kamu selamanya, Kak Al.” Anna memeluk suaminya dengan sangat erat.


“Aku janji, enggak akan ninggalin kamu sendirian lagi. Kita enggak akan terpisah, Sayang.”


Kembang kopinya jangan lupa..💋💋 udah bulan baru gaess 🤗🤗