
Kepingan memori mendadak muncul di ingatan Alfaro. Pelukan hangat Anna memberikannya sekelebatan ingatan tentang Anna di kepalanya.
“Anna, aku seperti melihatmu di masa lalu,” kata Alfaro dengan raut bahagia. Dia sangat yakin, pelan-pelan ingatannya akan kembali dan semuanya akan baik-baik saja.
Anna yang mendengar pernyataan suaminya itu seperti diterpa angin segar. Apakah ini pertanda baik untuk ingatan Alfaro? “Kamu udah mulai ingat aku, Kak?”
Alfaro mengangguk dan Anna kembali memeluk suaminya itu. Setidaknya salah satu harapannya akan segera terwujud.
“Anna, bersabarlah. Semua ini ujian untuk keluarga kita. Tapi, aku akan berusaha untuk mengingat semua tentangmu.”
Anna kembali melepas pelukannya, dia ingin melihat tatapan suaminya yang dulu selalu menatapnya penuh cinta. “Kak Al, walaupun kamu tidak bisa mengingatku sepenuhnya. Ayo kita ciptakan kenangan baru yang bisa kamu ingat selamanya.”
Rindu yang sangat besar terukir jelas di mata Anna. Wanita itu sadar, dia belum sepenuhnya berusaha membuat ingatan Alfaro kembali dengan cintanya.
“Maaf, aku belum bisa membantumu,” ucapnya dengan lirih.
Tiba-tiba, Alfaro memberikan ciuman lembut di bibir Anna. Ciuman yang menjadi pelepas dahaga akan kerinduan yang Anna rasakan. Sedikit lagi, suaminya akan kembali seperti dulu. Mencintainya tanpa batas, dan tanpa lelah.
Dalam ciuman itu, Alfaro juga merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Kerinduan yang sangat dalam dan menuntut.
Namun, kemesraan itu hanya berlangsung sebentar karena tiba-tiba Mama Syana datang sambil menggendong Satria.
“Maaf, mama salah kamar,” kata Mama Syana lalu menutup pintu kamar itu.
Anna dan Alfaro jadi salah tingkah, tetapi itu tidak berlangsung lama. Alfaro kembali mendaratkan ciuman di bibir Anna dan bahkan kini ciuman itu berlangsung cukup lama. Pelan-pelan, Alfaro merebahkan tubuh Anna ke kasur dan Alfaro mulai mencuumbunya.
Meski begitu, Anna sadar, dirinya belum pulih paska melahirkan. Mereka masih harus menjalani puasa yang panjang.
****
****
“Shaka, jangan ganggu daddy. Daddy mau bangun siang hari ini,” kata Rafael saat tangan Shaka bergerak-gerak memukul wajahnya.
Alisha sengaja meletakkan bayi itu di samping suaminya yang sedang tertidur. Dia tertawa puas karena Shaka terus berceloteh dan tangannya terus memukul wajah daddynya dengan bahagia.
“Mas, bangun dong! Kita mau ke rumah Satria hari ini!” Alisha turut membangunkan suaminya dan Shaka menyahut dengan celotehan lucu khas bayi yang sudah berusia dua bulan itu.
Ya, sudah dua bulan dan Rafael belum buka puasa karena dia belum tega melakukannya pada Alisha setelah melahirkan Shaka.
“Nanti agak siang aja ya, aku ngantuk banget. Kerjaan makin banyak,” keluh Rafael dengan mata yang masih terpejam.
“Kalau kamu izinkan, aku mau kembali kerja, Mas. Biar perusahaan aku tangani sendiri. Kamu enggak perlu kerja keras kayak gini,” kata Alisha merasa bersalah.
Mendengar ucapan istrinya, Rafael langsung duduk dan memeluk Alisha. “Jangan, Al. Biar Shaka agak gede dulu. Enggak apa-apa kok aku capek demi kalian,” kata Rafael sembari mencium pipi Alisha.
“Nanti kalau Shaka agak gede, aku hamil lagi enggak jadi kerja dong, Mas.” Alisha balas mencium pipi Rafael.
“Eh iya. Aku masih mau kamu hamil lagi, kita program buat anak cewek ya, Sayang.” Rafael menaik turunkan alisnya, memberi kode pada istrinya.
“Mau punya anak cewek, tapi sampai sekarang aku belum disentuh juga. Emangnya enggak kangen sama irisan kiwi?” balas Alisha dengan lebih menggoda.
“Udah enggak sakit ya, Al? Nanti malam ya.”
****
Kembang kopinya dulu.. mau langsung shaka gede apa kasih adik dulu, jawab dikomen ya wkkkk