
Es krim yang berasal dari Singapura itu semakin mengakrabkan dua ibu hamil. Mereka saling tertawa sambil menikmati dinginnya es krim yang meleleh di lidah mereka.
Sementara itu, dua suami yang sama-sama belum tahu tentang kedekatan istri-istrinya, terlihat senang dan menghampiri keduanya.
“Wah, sepertinya ada yang lagi akur nih,” kata Alfaro. Dia duduk di samping Anna yang masih menikmati es krim pesanannya.
“Aku, Alisha sama Mama rencananya mau liburan ke pantai, hari Sabtu besok. Kita udah janji mau foto maternity, jadi, kamu harus bisa juga, Kak.” Anna memberikan penekanan seolah sedang memaksa Alfaro untuk menuruti keinginannya.
Alfaro melirik Rafael yang menghela napas berat. Dia tahu, adiknya itu pasti sudah dibuat tidak berdaya oleh rayuan istrinya juga.
“Kamu juga bisa, El?” tanya Alfaro.
Dengan cepat Alisha mengangguk dengan raut bahagia. Sementara Rafael juga mengangguk dengan lemas.
Terbukti, laki-laki yang dulunya arogan dan pemarah itu kini tidak dapat berkutik di depan istrinya. Alisha sudah membuat Rafael bertekuk lutut di hadapannya.
“El saja setuju, Kakak juga harus setuju,” kata Anna tanpa mau dibantah lagi.
“Ya, terserah kalian sajalah.”
Alfaro pun sama dengan Rafael yang tidak bisa menolak keinginan istri mereka. Bukan karena rasa takut, tapi karena mereka tidak mau berurusan dengan istri-istri mereka yang sangat sensitif.
...****************...
Hari yang dinanti akhirnya tiba, Rafael memimpin rombongan kakak dan orang tuanya yang berada di belakang dengan membawa mobil masing-masing.
Garis lengkung yang sangat cantik di wajah Alisha membuat hati Rafael berdesir merasakan bahagia. Laki-laki itu berharap, dia bisa melihat kebahagiaan di wajah Alisha, selamanya.
“Mau aku bukakan atap mobilnya?” tanya Rafael, berharap istrinya bisa menikmati semilir angin laut yang sudah mulai terasa.
“Mau dong, tapi kayaknya aku enggak mungkin bisa berdiri, Mas.” Alisha mengusap perut buncitnya.
Benar, karena kehamilannya Alisha tidak bisa bertindak sesuka hati, apalagi sampai membahayakan janin yang dikandungnya.
Alisha menurut dan mulai melakukan apa yang suaminya itu perintahkan. Dia sangat menikmati semilir angin yang menerpa kulitnya. Rasa damai yang Alisha rasakan, bahkan membawa kebahagiaan juga untuk anak mereka.
Bayi dalam kandungan Alisha itu ikut menendang keras seolah dia ikut merasakan kebahagiaan ibunya.
“Mas, dia juga happy deh kayaknya,” kata Alisha sambil merasakan gerakan dalam perutnya.
Rafael ikut meletakkan tangannya di perut sang istri untuk merasakan gerakan bayi itu. “Iya, wah dia kayaknya happy banget ya bisa ke pantai.” Rafael mengusap sayang perut Alisha.
“Makanya, sering-sering ajak kita jalan, Mas.”
“Iya-iya, Sayang.”
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka sampai di pantai yang dituju. Lalu, para wanita itu turun untuk menikmati keindahan pantai yang cukup sepi, karena pantai ini memang dikhususkan untuk orang-orang kaya yang ingin menyewa villa dengan pemandangan pantainya.
Para suami mengekor di belakang para istri yang sudah heboh sendiri.
“Besok pagi pas matahari terbit, kita mulai pemotretannya,” kata Anna mengintruksi.
“Aku enggak mau ya kalau bajunya se.ksi gitu. Jangan pamer perut loh!” sahut Rafael yang mulai ribut.
“Loh, justru kan kita foto emang mau pamer perut buncit, El. Namanya juga orang hamil,” balas Anna.
“Ya pakai yang sopan aja, jangan keliatan perutnya nerawang-nerawang gitu. Aku enggak izinin Alisha pakai kayak gitu.”
“Padahal rencananya kita mau pakai biki.ni loh,” ucap Alisha dengan lirih.
Sontak saja Rafael dan Alfaro sama-sama melotot tidak rela.
Kalau di kamar kan baru boleh ya, Mas.