
Setelah acara tujuh bulanan, Anna memutuskan untuk tinggal bersama di rumah kediaman Hartono. Karena jarak dari Singapura tidak terlalu jauh, Alfaro pun menyetujui ide istrinya itu walau dia harus bolak-balik ke Singapura setiap hari, tapi demi istrinya Alfaro rela melakukannya.
Syana dengan senang hati menerima kehadiran Anna di rumah mereka, meskipun dia dan suaminya harus siap jika Alisha datang mereka akan saling iri seperti beberapa waktu lalu. Padahal, Rafael dan Alfaro sudah menasihati istri-istri mereka agar tidak saling bertengkar lagi.
Saat ini, Mama Syana sedang mengajak dua menantunya untuk berbelanja beberapa keperluan bayi. Walaupun mereka mendapat banyak hadiah saat acara tujuh bulanan kemarin.
“Pokoknya, hari ini mama traktir, kalian boleh beli apa saja yang kalian mau,” kata Mama Syana saat mereka sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan. “Ingat, jangan rebutan, karena di sini stoknya banyak. Mama mau kalian bisa akur dan jangan saling iri,” jelas Mam Syana.
Dua wanita hamil itu saling pandang sebelum akhirnya sama-sama tersenyum dan saling merangkul satu sama lain.
“Ayo kita habiskan uang Mama, Al.”
“Aku jago dalam belanja, Kak Anna,” balas Alisha.
Anna dan Mama Syana sampai terperangah karena ini pertama kalinya Alisha memanggil Anna dengan sebutan kakak.
“Kamu panggil aku apa?” tanya Anna memastikan pendengarannya tidak salah.
“Kak Anna. Karena kamu istrinya Kak Al. Apa kamu keberatan?”
“Sama sekali tidak. Aku juga ingin merasakan punya adik,” jawab Anna yang kini kembali memeluk Alisha.
Mama Syana ikut merangkul kedua menantunya. Dia sangat bersyukur karena Alisha dan Anna bisa saling menyayangi dan apa yang dia takutkan tidak akan terjadi.
Anna dan Alisha sangat menikmati acara belanja-belanja mereka. Banyak sekali yang mereka beli, mulai dari kereta dorong, tempat tidur bayi, dan juga beberapa pernak-pernik bayi yang akan mereka perlukan.
“Alisha. Kamu sudah pernah photo maternity belum?” tanya Anna saat mereka selesai berbelanja. Mereka bertiga sedang makan siang di restoran.
“Iya tapi menurutku kayak begitu terlalu biasa, Al. Bagaimana kalau kita bikin fotonya di pantai gitu? Jadi nanti konsepnya kita sama pasangan kita masing-masing di depan mobil masing-masing. Pasti seru enggak sih?” jelas Anna.
“Hem, mama rasa itu ide bagus. Belum tentu anak kedua nanti kalian bisa hamil bareng lagi, ‘kan?”
“Boleh sih. Jadi, sekalian liburan bareng ya, ‘kan? Tapi, Mama sama Papa harus ikut sekalian,” balas Alisha.
“Mama enggak hamil, Sayang. Kalian berempat saja yang pergi.” Mama Syana menolak.
“Mama ‘kan mama aku, mama kita semua. Jadi, mama juga harus ada dong.” Alisha meraih tangan ibu mertuanya dan berharap mereka bisa pergi bersama.
“Oke, karena anak perempuan mama yang minta, mama akan ikut.” Mama Syana memeluk kedua menantunya dan mencium kening mereka bergantian. “Sekarang kita harus pikirkan bagaimana caranya bujuk para suami itu supaya mau ikut. Mereka pasti akan bilang kalau di kantor banyak pekerjaan.”
“Kalau Mas Rafa sih gampang aja, Ma. Tinggal bilang saja, enggak akan dikasih makan naganya, pasti bakalan menurut,” jawab Alisha tanpa ragu.
“Naga?” Anna dan Mama Syana kompak menyahut. Sama-sama tidak paham apa yang sedang dibicarakan oleh Alisha.
“Memang Rafael punya naga?” tanya Anna bingung.
Alisha hanya cengar-cengir bingung bagaimana menjelaskan pada mertua dan iparnya itu.
Hayo, gimana ngomongnya..
kembang kopinya dong, banyakin, sama vote juga boleh 💋💋💋