
Rafael dan Alisha sama-sama membisu mendengar ucapan Alfaro yang terdengar menyedihkan. Entah kenapa ucapan Alfaro terdengar seperti pesan yang menyedihkan. Namun, Rafael berpikir positif, mungkin kata-kata itu artinya mereka bisa bersama-sama membesarkan anak-anak mereka.
“Muka kalian kenapa jadi melow begitu? Kita ke sini mau senang-senang, ‘kan?” Alfaro membuyarkan lamunan Alisha dan Rafael. Dia sendiri tidak sadar dengan apa yang sedang dikatakannya.
“Kak, apa pun yang terjadi, anakmu adalah anakku. Anakku juga anakmu. Kita akan membesarkan mereka sama-sama, dan tentunya mereka akan bergantian mengunjungi kita, benar ‘kan?” tanya Rafael untuk menghilangkan kegundahan hatinya.
“Ya, benar. Aku yakin aku harus menyiapkan banyak makanan jika anakmu datang ke rumah kami,” jawab Alfaro sambil memasukkan pasir ke celana pendek Rafael.
Detik berikutnya sang adik yang tidak terima langsung membalas kejahilan kakaknya dengan lebih banyak pasir. Yang terjadi selanjutnya adalah perkelahian sengit antara kakak beradik yang sampai berguling-guling di pasir. Sungguh kekanak-kanakan.
Dua ibu hamil yang melihat suaminya berguling-guling itu, memilih pergi dan berjalan menuju vila untuk menyusul mertua mereka yang sedang berduaan.
***
***
Alisha dan Anna sedang melihat hasil foto mereka tadi pagi. Alisha dan Rafael memiliki lebih banyak foto dengan berbagai gaya. Maklum saja, dia yang paling manja dan yang paling banyak mau. Ditambah suaminya yang siap membayar lebih jika fotografer yang mereka siap mau menuruti semua keinginan istrinya.
“Lihatlah, ini kalau semua kita cetak dipasang pigora, pasti satu dinding penuh foto kamu saja,” kata Rafael yang sampai geleng-geleng kepala karena tingkah istrinya.
“Aku sudah bilang, akan menghabiskan semua uangmu selama hamil,” balas Alisha. “Lagi pula ini kesempatan emas karena kamu mau diajak pose sesukaku. Aku ‘kan punya banyak imajinasi, Mas.”
“Kalau ngomong sama Bumil kita enggak akan bisa menang, El.” Alfaro menepuk pundak adiknya karena sekuat apa pun dia di mata rival bisnisnya, pasti akan selalu kalah jika sudah berdebat dengan istrinya.
“Enggak dong, Pa. Perkiraan dokter sih aku lahiran duluan, beda dua mingguan kayaknya sama Kak Anna,” jawab Alisha, melirik kakak perempuannya dan mengedipkan mata.
“Bagus deh, Papa enggak bisa bayangin kalau lahiran bareng. Panik dan deg-degannya bisa doble-doble nanti,” balas Papa Arya.
“Waktu mama melahirkan Alfaro, papamu sampai nangis-nangis.” Mama Syana melirik suaminya dengan senyum mengejek.
“Eh, namanya anak pertama wajar, Ma. Al sama El nanti juga pasti merasakan itu kok.” Papa Arya membela diri.
Alfaro dan Rafael saling lirik. Susah payah Rafael menelan ludahnya. Dia sendiri masih takut membayangkan proses melahirkan yang sangat mendebarkan. Membayangkan istrinya merasakan kesakitan luar biasa, sampai saat ini dia belum sanggup.
“Mas, kamu melamunin apa?” tanya Alisha yang melihat suaminya diam dengan tatapan kosong.
“Enggak kok, cuma deg-degan aja bayangin kamu lahiran.”
Keringat dingin sudah keluar dari kening laki-laki itu. Dia takut jika Alisha akan mengalami koma seperti saat beberapa bulan lalu dia menabrak wanita yang kini menjadi istrinya itu.
“Aku belum lahiran saja kamu udah deg-degan, Mas. Gimana nanti kalau kamu temani aku di ruang bersalin.” Alisha mengusap kening suaminya yang dibalas tatapan memelas.
“Boleh nggak aku tunggu di luar saja?”
Jangan lupa, like, komen, vote dan hadiahnya ya gaess..