Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Cintai Aku ~ Bab 32


Anna dan Alfaro sudah selesai dengan urusan peluncuran produk. Mereka sedang bersiap menuju rumah sakit untuk menengok kondisi Alisha. Sebelum itu, mereka melakukan panggilan video untuk mengabari mereka akan ke rumah sakit.


“Al, kamu mau lahiran saja kelihatan cantik banget loh,” puji Anna saat melihat wajah Alisha yang sedang menahan sakit.


“Nanti Kak Anna juga merasakan yang sama, kamu pasti juga cantik, Kak,” balas Alisha yang sudah mulai kesulitan mengatur napas. Rasa sakit yang menderanya membuat wanita itu berusaha kuat saat membalas kata-kata Anna.


“Ya, itu pasti. Aku akan ke sana. Jangan merindukanku,” kata Anna sambil tertawa sebelum mengakhiri panggilannya.


Sebenarnya, Mama Syana menyuruh mereka untuk menunggu di rumah sampai bayi Alisha lahir, tetapi Anna dan Alfaro bersikeras untuk datang. Mereka ingin melihat langsung keponakan mereka dan Anna juga ingin mengetahui bagaimana proses melahirkan bukan hanya dari cerita.


“Aku sudah enggak sabar melihat bayi mereka,” kata Anna.


“Aku juga enggak sabar. Aku yakin anak mereka akan lebih tampan dari Rafael,” balas Alfaro yakin.


“Atau mungkin secantik Alisha,” sahut Anna. Mereka berdua sangat menyayangi adik-adiknya itu dan berharap agar kelahirannya bisa lancar dan akan segera menggendong keponakan mereka, padahal Anna sendiri juga sudah mendekati waktu melahirkan.


Saat hampir sampai di rumah sakit, tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan terlihat oleng dan dengan cepat menabrak mobil Alfaro tanpa bisa menghindar. Mobil mereka terbalik, dan keduanya tidak sadarkan diri.


Beberapa saat kemudian, Anna dan Alfaro dilarikan ke rumah sakit dan para medis langsung mengenali Alfaro yang merupakan putra pertama pemilik rumah sakit itu. Dengan sigap seorang perawat mengabarkan pada Rafael tentang keadaan kakaknya.


Laki-laki yang sedang menunggu istrinya melahirkan itu melihat langsung keadaan Alfaro dan Anna yang sangat parah. Luka mereka tampaknya sangat serius dan dokter sedang menghubungi beberapa dokter lain untuk operasi mereka.


“Kita harus cepat menyelamatkan nyawa Nyonya Anna, tapi kita harus mengeluarkan bayinya terlebih dahulu, Tuan. Dan kemungkinan hanya salah satu yang selamat,” kata seorang dokter UGD yang menemani Rafael melihat keadaan kakaknya.


“Lakukan dengan cepat! Jangan banyak menunggu, tidak usah prosedur-prosedur, kalian tidak mengerti mereka siapa!” teriak Rafael dengan arogan. Kepalanya sudah hampir pecah saat mendengar kabar bahwa kakaknya mengalami kecelakaan. “Kalian bukan Tuhan yang bisa mengambil nyawa, selamatkan keduanya. Apa pun yang terjadi!”


Aku harap ini hanya mimpi buruk, Kak Al, Anna cepatlah sadar.


“Baik, Tuan.” Dokter dan semua yang ada di sana merasa ketakutan karena suara lantang Rafael.


Rafael kembali ke ruangan Alisha dengan kalut. Dia berbisik pada mamanya dan akhirnya Rafael menemani sang istri menuju ruangan yang dingin itu. Mama Syana menunggu dengan perasaan yang sangat kacau. Ketiga anaknya sedang berjuang hidup di ruangan yang berbeda, dan itu menjadikan pukulan yang sangat berat.


“Pegang tanganku ya, Al. Jangan dilepas sedikit pun. Aku ada di sini buat kamu,” kata Rafael sembari mencium kening Alisha. Dia sangat takut dan kacau saat memikirkan musibah yang tiba-tiba datang menghampiri keluarganya.


“Kamu kenapa, Mas? Kenapa sangat khawatir, kamu takut?” tanya Alisha yang bisa membaca kepanikan di wajah suaminya.


“Enggak apa-apa, Al. Wajar kok, kamu ‘kan sedang berjuang untuk anak kita. Bayangkan saja setelah ini kita akan bertemu dengan dia,” jawab Rafael. Dia tidak ingin istrinya merasa khawatir dan tertekan jika tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Alisha tersenyum meski ia merasakan ada sesuatu yang janggal.


***


Beberapa saat berlalu, Alisha akhirnya melahirkan seorang bayi yang sehat, dan tangis Rafael mendadak pecah saat melihat wajah tampan putranya yang sedang mencari sumber makanan di dada Alisha.


Beberapa saat kemudian, Alisha sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Dia masih belum diberitahu tentang keadaan Anna dan Alfaro yang sebenarnya.


Hingga setelah dipindahkan di ruang VVIP itu, tiba-tiba Mama Syana datang dengan seorang suster yang membawa bayi.


“Loh, kok cepat sekali, Ma dibawanya.”


Alisha pikir itu adalah bayinya sendiri.


“Ini anaknya Anna dan Alfaro, Al.” Mama Syana tidak kuasa lagi menahan tangisnya. Air mata itu jatuh begitu saja saat mengatakannya.


“Anna dan Alfaro masih dioperasi, dan dokter berhasil menyelamatkan bayinya. Bolehkan dia ada di sini, supaya dia tidak merasa kesepian.” Mama Syana menatap cucunya yang sedang tertidur setelah perjuangan panjang untuk bisa dilahirkan.


Kembang kopinya jangan lupa 💋