
Arjuna seperti terhempas dari langit ketujuh saat Rafael memperkenalkan diri sebagai suami Alisha. Laki-laki itu hanya bisa menatap Alisha dengan sendu karena harapannya memiliki gadis itu harus layu sebelum berkembang.
"Arjuna, dari Pandu Digital Creative. Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Rafael." Arjuna menjabat tangan Rafael.
Rafael senang melihat wajah sendu Arjuna yang gagal mendapatkan istrinya. Dia sangat tidak rela jika ada laki-laki yang merebut Alisha darinya.
"Kak Juna diundang juga 'kan ke pesta perusahaan, Mas?" tanya Alisha.
"Tentu saja. Felix sudah mengaturnya karena Pandu Digital juga bagian dari rekan bisnis Hartono," jawab Rafael.
***
Setelah basa basi singkat itu, Rafael mengajak Alisha untuk mencari gaun dan perhiasan terbaru yang akan dipakai di acara tahunan itu. Selanjutnya, mereka pulang ke rumah dengan banyak pertanyaan di kepala Rafael yang ingin segera ia luapkan.
Alisha membersihkan riasannya dan bersiap untuk mandi saat tiba-tiba Rafael memeluknya dari belakang. Alisha bisa melihat wajah suaminya yang kesal dari pantulan cermin yang ada di depannya.
"Apa hubungan kamu dengan laki-laki tadi?" tanya Rafael. Sorot mata elang itu membuat Alisha menyimpulkan satu hal. Suaminya sedang marah saat ini.
"Oh, Kak Juna. Dia itu kakak tingkat aku di kampus. Orangnya baik banget, perhatian, lembut, dan selalu bisa bikin aku bahagia," jawab Alisha dengan santai. Dia seakan lupa bahwa suaminya memiliki temperamen tinggi yang bisa meledak kapan saja.
"Kamu memuji laki-laki lain di hadapan suamimu sendiri?" tanya Rafael dengan kesal. Tangannya yang memeluk Alisha sudah terlepas dan kini mulai terkepal menahan amarah.
"Ya, memangnya kenapa?" Alisha bertanya balik. "Apa aku tidak boleh bahagia? Apa aku tidak boleh tertawa? Lagi pula, aku yakin Kak Juna masih memiliki perasaan sama aku, jika dilihat dari tatapannya juga perhatiannya selama kami bertemu. Ya, wajar sih, karena dulu dia pernah menyatakan cinta sama aku walau aku nggak mau pacaran dulu waktu itu." Alisha bangun dari duduknya dan berjalan pelan sambil mengingat masa kuliahnya bersama Arjuna.
Darah Rafael terasa mendidih. Dia sama sekali tidak menyangka jika istrinya berani mengatakan itu setelah semua yang dilakukannya.
"Apa kamu juga mencintainya?" Mata Rafael sudah merah, dia bisa merasakan irama jantungnya yang berpacu dengan keras.
"Ya, seiring waktu mungkin bisa. Setelah kita bercerai mungkin," jawab Alisha yang kini membelakangi Rafael. Wanita itu tidak tahu betapa marahnya Rafael mendengar apa yang dia ucapkan.
"Mas, apa yang kamu ... emmp." Secara tiba-tiba Rafael membalik tubuh Alisha dan menciumnya. Laki-laki itu membawa sang istri ke arah ranjang dan membantingnya.
Tubuh Alisha terpental di kasur sedangkan Rafael melepaskan kancing kemejanya sendiri saat merasakan emosi yang luar biasa.
"Kamu mau apa, Mas?" tanya Alisha yang mulai ketakutan.
"Aku akan membuatmu berhenti memikirkan kata cerai," jawab Rafael yang kini merobek pakaian Alisha hingga koyak tak beraturan. "Tidak akan ada laki-laki yang bisa memilikimu, Alisha." Rafael seperti kesetanan.
Alisha mulai menangis karena ketakutan, meskipun itu suaminya sendiri, bukankah laki-laki pemarah itu terlihat seperti monster.
"Mas, kamu keterlaluan," pekik Alisha sambil berusaha melindungi tubuhnya dari sang suami.
"Aku tidak peduli. Kamu adalah milikku." Rafael ikut berteriak. Dia sudah berhasil membuat pakaian Alisha terlepas. Lalu dengan paksa dia mencium bibir Alisha.
Alisha mendorong kuat tubuh Rafael, dan semakin menangis.
"Aku benci kamu, Mas. Aku benci sama kamu. Apa kesalahanku sampai aku tidak berhak bahagia dengan orang yang mencintaiku dengan tulus?" jerit Alisha yang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya.
"Kamu membenciku, Al? Setelah semua yang kita lakukan ini, kamu tetap membenciku?" tanya Rafael masih tetap emosi.
"Ya, Mas. Bagimu, aku hanya pemuas naapsumu saja. Aku hanya boneka mainanmu, itu sebabnya aku membencimu," jawab Alisha. Nada bicaranya tidak lagi tinggi, tapi setiap kata yang diucapkannya penuh dengan penekanan.
"Alisha. Apa kamu menganggapku seperti itu?" Rafael kini terduduk lemas. Dia memikirkan setiap ucapan istrinya itu.
"Pada akhirnya, kamu akan bosan denganku dan mencari mainan baru." Alisha bergegas turun dari ranjang. Dia lari ke kamar mandi dengan pakaian yang sudah robek di mana-mana.
Sabar gaes, nikmati prosesnya. Apa udah gak seru lagi, pengen cepet-cepet tamat kah wkkkkk