
Arya menatap wajah Alisha yang tetap tenang dengan jawaban yang tegas meskipun dia dalam penekanan. Laki-laki itu membuktikan omongan istrinya bahwa istri Rafael bukanlah wanita lemah.
"Bukankah waktu itu kamu bilang bahwa kamu menginginkan perceraian? Apa kamu sedang menjilat ludahmu sendiri?"
Syana menertawakan menantunya yang kini melotot setelah mendapat pertanyaan menyudutkan itu. Syana ingat betul, saat dia datang ke rumah ini, di saat kondisi Alisha yang masih memakai kursi roda. Menantunya itu dengan tegas membicarakan perceraian, bahkan mengajak kerja sama dengannya. Sekarang, bisa-bisanya wanita itu berubah pikiran.
"Pasti karena dulu belum sadar bahwa Rafael mengusai bisnis di negeri ini. Bisa apa sih wanita seperti dia tanpa Rafael," sahut Arya dengan tatapan menghina.
Darah Alisha terasa mendidih. Memang apa yang dikatakan ibu mertuanya itu adalah kebenaran. Dia dulu menginginkan perceraian, tapi sekarang lain. Alisha sudah berjanji pada hatinya untuk mencintai Rafael dan tidak akan menuntut perceraian lagi.
"Aku memang sangat ingin bercerai dengannya. Bagiku, menikahi laki-laki asing tanpa cinta. Tapi, cinta Mas Rafa berhasil membawaku semakin terikat. Wanita mana yang rela melepaskan laki-laki yang mencintai dengan hati. Bertahan atau tidaknya aku menjadi menantu di keluarga Hartono, itu tergantung suamiku."
Alisha lagi-lagi membuat orang tua Rafael kehilangan kata-kata untuk sejenak. Walaupun sebenarnya ia sangat takut karena menghadapi mertuanya sendirian tanpa suami.
Tiba-tiba, Rafael muncul dengan muka merah menahan amarah. Namun, dia sangat terkejut saat mendapati papa mama sudah ada di rumahnya.
"Mas Rafa," panggil Alisha. Dia cukup terkejut karena suaminya tiba-tiba sudah pulang, padahal tadi pagi dia bilang ada masalah besar.
"Papa sama Mama ngapain di sini?" tanya Rafael mengabaikan panggilan Alisha.
"Papa sama Mama ini orang tua kamu, wajar kalau kami berkunjung ke rumah anak kami. Kenapa kamu pulang? Bukankah kamu harus menyelesaikan masalah di pabrik biskuit?" tanya Papa dengan nada menyentak. Dia memang sengaja membuat kekacauan agar Rafael bisa pergi. Dengan begitu, Arya bisa mengintimidasi menantunya tanpa gangguan.
"Ada masalah penting," jawab Rafal. Kini tatapannya tertuju pada istrinya yang terlihat tegang. Lalu, Rafael kembali menatap papanya curiga. "Apa yang kalian lakukan pada istriku? Aku sudah bilang Papa sama Mama jangan mencampuri urusan rumah tanggaku."
Suara Rafael terdengar sangat emosi. Dia sudah kesal karena suatu hal, sekarang ditambah papanya yang membuat kepalanya semakin pusing.
"Dasar anak bodoh! Ke mana otakmu itu, Raf? Kamu sudah menyetujui pernikahan dengan Anna dari negara tetangga. Apa kamu lupa?" tanya Arya dengan emosi yang tak kalah tinggi.
"Aku tidak pernah mengatakan ya, aku hanya diam dan kalian seenaknya mengadakan kerja sama dengan jaminan pernikahan itu. Sekarang, kerja sama itu sudah sangat berkembang, dua perusahaan sudah sama-sama diuntungkan. Dengan atau tanpa pernikahan dengan wanita itu, kerja sama itu sudah berjalan dan akan tetap berjalan," jawab Rafael.
Alisha terkejut mendengar jawaban Rafael. Rahasia apa yang tidak Alisha ketahui tentang suaminya?
"Kamu yang bodoh Raf. Kamu menyepelekan mereka. Jangan sampai kehidupanmu hancur karena kebodohanmu sendiri. Sekarang, sebelum mereka mengetahui pernikahan kalian, lebih baik kalian berpisah saja. Untuk apa juga mempertahankan istri yang keras kepala dan tidak pernah menghargai kamu. Kamu laki-laki yang harus punya harga diri."
Kembang kopinya banyakin ya. Kiss dulu 💋💋