
Rafael dan Alisha sampai di rumah. Tidak ada tanda-tanda kejutan di rumah mereka, semua terlihat normal dan biasa saja. Namun, Rafael tetap terlihat tenang sambil sesekali melempar senyum pada istrinya yang kebingungan. Kejutan apa sih sebenarnya?
Mereka menaiki anak tangga satu per satu dengan saling senyum salah tingkah. Lalu, mereka sampai di depan pintu kamar berwarna putih polos yang kini menjadi ruangan pribadi mereka.
"Biar aku saja yang buka pintu." Rafael mencegah Alisha saat istrinya itu sudah hampir menyentuh gagang pintu kamar.
Alisha tersenyum sekilas dan mengangguk. Detik berikutnya, Rafael membuka kedua daun pintu dengan dua tangannya.
Puluhan lilin berjajar rapi di kamar mereka yang sengaja dimatikan lampunya. Lilin-lilin itu membawa mereka pada lingkaran besar berbentuk hati, yang di tengah-tengahnya sudah ada karpet lembut dengan taburan kelopak bunga. Sama halnya dengan ranjang mereka yang juga dihias layaknya ranjang pengantin.
"Mas, iniβ" Alisha tidak sanggup berkata-kata lagi. Semua yang ada di hadapannya itu terlalu indah.
Pelukan hangat diterimanya dari suami yang sedari tadi berdebar menunggu reaksi istrinya. "Suka?" Tangan kekar itu melilit sempurna di perut Alisha.
"Suka sekali, Mas. Terima kasih." Alisha mengecup pipi kanan Rafael yang tepat berada di sampingnya. Laki-laki itu lalu mendorong pelan tubuhnya dan membawa mereka duduk di karpet yang dikelilingi lilin-lilin.
"Al, aku ingin pernikahan kita selamanya. Bisakah kamu mengurungkan niat untuk bercerai dariku? Jujur, aku sangat tidak rela kehilangan kamu." Rafael menundukkan kepala. Sebenarnya dia sangat sulit mengakui perasaannya, tetapi rasa takut kehilangan itu jauh lebih besar dari gengsi.
Alisha meletakkan bunganya di karpet, lalu di menangkup wajah Rafael yang tertunduk. Wanita mana pun pasti tidak akan sanggup jika melihat ekspresi wajah suaminya seperti itu.
"Mas, pelan tapi pasti, aku akan mencintaimu. Perasaanku bukan batu yang sulit dipecahkan. Melihat ketulusanmu, hatiku bergetar dan aku yakin, aku tidak akan meninggalkanmu." Alisha memberanikan diri untuk memeluk Rafael. Hingga laki-laki itu membalas pelukannya dan menjatuhkan tubuh Alisha di karpet.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" Alisha tersipu malu. Meski posisi itu sudah sangat sering mereka lakukan, tetapi kali ini sangat berbeda. Jantungnya berdebar keras membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Aku ingin kamu hamil untuk memastikan kamu tidak akan lari dariku," jawab Rafael lalu mengisap leher Alisha untuk membuat tanda merah di sana.
Raut wajah Alisha mulai berubah. Rasa bersalah tiba-tiba memasuki relung hatinya yang terdalam. Bagaimana dia bisa hamil jika dia selalu meminum pil itu?
Apa aku harus jujur pada Mas Rafa sekarang? Ah, tidak. Aku tidak ingin merusak suasana romantis ini. Mas Rafael baru saja mengatakan perasaannya, aku tidak ingin membuatnya kecewa sekarang. Biar saja nanti aku cerita, sekarang yang terpenting aku tidak akan meminum pil itu lagi.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu merindukan irisan kiwi kesukaanmu?"
Rafael tersipu. Lalu, dengan cepat dia mengangguk.
Karena rasa bersalahnya, Alisha ingin membuat suaminya bahagia dan menuruti segala permintaannya. Dia teringat saat Rafael ingin sekali digoda. Lalu, Alisha pun berinisiatif untuk memulai terlebih dahulu.
Dengan gerakan sennsual, Alisha membuka satu per satu kancing kemeja Rafael, dia lalu membuka gesper Rafael yang membuat jantung laki-laki itu berdebar kencang. Kemudian, Alisha menarik turun celana Rafael dan mengusap tonjolan besar. Dia tertawa kecil saat melihat naga sakti Rafael yang menyembul di balik celana itu.
"Kenapa ketawa?" tanya Rafael sambil mengusap wajah Alisha yang terlihat menggemaskan dari posisinya.
"Lucu aja, Mas. Dia gendut banget kebanyakan makan kiwi sampek celananya nggak muat," jawab Alisha sambil menahan tawanya.
"Itu belum terlalu bangun, coba deh kamu manjain dia, pasti lebih gendut lagi," balas Rafael.
Alisha menaikkan satu alisnya, bingung dengan maksud sang suami karena selama ini memang dia hanya pasrah menikmati semua perlakuan Rafael.
Rafael paham Alisha bingung dengan apa yang harus dilakukan. Lalu, dia menurunkan celananya sendiri dan berkata, "Buka mulutmu dan mandikan dengan lidahmu." Rafael menuntun tangan Alisha untuk menyentuh naga saktinya.
"A-aku harus memasukkannya ke mulut?"
Rafael mengangguk mantap.
Percintaan kita baru dimulai istriku. Aku ingin kita sama-sama menikmatinya dan akhirnya kita bahagia. Aku tidak akan membiarkan apa pun dan siapa pun menghalangi hubungan kita, meskipun itu orang tuaku.
Hua, maafkan otakku yang selalu mengarah ke anu-anu. Oke gapapalah ya, kan momennya pas romantis ππ
Kembang kopinya dong, buat aku yang udah jaga lilin sama nabur-nabur kembang tuh ππ