
— 34 —
Bila kucocokkan dengan peta sejarah, lokasi markas besar White Order berada di kota kelahiran para Penyihir, Pei Jin. Kota itu telah lama runtuh karena menolak kebajikan dari Dewi Black Company, saat mengangkatnya ke angkasa. Ribuan tahun berlalu, kini tinggalah tersisa hutan yang begitu lebat, melebur bersama puing-puing kota hingga tak dapat dibedakan.
Tak terjamah oleh teknologi kuno dan jarangnya aktivitas Malice disana, Black Company pun menutup sebelah mata pada Pei Jin. Tetapi, bagaimana kami bisa melewatkan petunjuk sejelas itu. Tidak adanya Malice di tempat ini… artinya ada kelompok menghabisi Malice itu secara rutin. Apalagi selain White Order.
Tapi, kemunculan fenomena Time Dysplasia menyuguhkan pemandangan sureal di mataku. Tanah melayang di angkasa dengan akar pohon yang menembusnya ke langit. Dinding besar mencuat tak karuan bagaikan rusuk-rusuk seekor raksasa yang mati, rumah-rumah dan bangunan kayu tumbuh bagaikan jamur di banyak sungai yang saling bersilangan satu sama lain. Belum lagi, fauna dan flora aneh yang tumbuh bersarang di hutan itu.
Dan salah satunya mengaung begitu keras sambil menyeruduk pepohonan dengan ganas, mengikuti sebuah panci di depan matanya. Tyrannosaur, seekor Malice tipe B dengan sebuah tombak menancap di kepalanya dan tali baja mengikat kuat panci berisi makanan lezat di ujungnya.
“U-Uwaaaah!” teriakku menyambak jambul dinosarus besar itu dengan sekuat tenaga, menjaga tubuhku tidak jatuh.
Astaga, bisa-bisanya aku setuju dengan rencana bodoh Saber!
Bagaikan tokoh utama dalam komik-komik, dengan gagah Saber tertawa lancang dan menapaki kepala dinosaurus itu. Dengan senyum percaya diri, laki-laki itu pun berteriak,
“Oi-oi, White Order, tunjukan dirimu sekarang! Masa dengan tantangan sejelas ini, kalian bersembunyi bagai pengecut sih?”
Setelah perlahan memanjati malice raksasa itu, aku pun meringkuk di sebelah Saber dan menyahut, “Oi! Misi kita itu cuma survey, bukan cari gara-gara dengan White Order. Kalau mereka tahu kita mengincar mereka, bisa-bisa mereka kabur. Percuma dong ekspedisi kita.”
Saber melongo dengan bloon, “Kalau pun itu terjadi, bukannya Senpai tinggal bilang saja, maaf kami cuma numpang lewat aja, kan?”
Urat kesalku pun muncul dan segera kujitak cowok ngawur itu, “Ngawur, mana mereka percaya!”
Haaahhh…. Tapi, ada benarnya juga ide Saber. Kalau dengan provokasi sejelas ini White Order belum menunjukan batang hidungnya, itu artinya informasi yang kami dapatkan itu bodong. Ekspedisi kami tidak sepenuhnya sia-sia. Hanya saja… sampai sejauh apa T-rex ini berlari mengejar panci di depan matanya itu?
Tiba-tiba terdengar…
“Target Confirmed. Fire!”
Merasakan sihir yang sangat kuat, aku segera menarik kerah Saber dan melompat, tepat sebelum laser putih menghancurkan separuh kepala Tyranosaur. Berguling di tanah, kami pun segera mencabut senjata kami ke arah tembakan itu.
“Sihir sekuat ini, White Order!” gumamku melihat sang dinosaurus mengaung kesakitan dan menyerap salju superadikal disekitarnya, menyembuhkan luka di kepalanya.
Tiga sinar laser biru bersinar, menembus dan memotong-motong tubuh Tyranosaur dengan mudah. Dari balik bayangan hutan, muncul tangan-tangan mesin raksasa yang menghantam Malice itu ke tanah dan menahannya disana… Sebelum terang malaikat turun dari langit dan bersama dengan roket-roket menghancurkan pertahanan jantung Malice itu.
Di antara kobaran api biru, sosok malaikat itu pun bangkit dengan kristal Magicite di tangannya. Putih kebiruan rambutnya yang sebahu, terurai oleh angin kehancuran. Tetapi topeng tengkoraknya yang penuh dengan corak cairan hitam dari Malice itu, tersenyum dengan sinis. Angka VII bersinar kebiruan di topengnya, saat sinar putih muncul dari mata topeng itu menatapku lekat.
S-Sial… dari smeua penyihir White Order, kenapa kami harus memancing The Seventh Lector, Asmodeus?
“Chyrsant-senpai, k-kok kayaknya kita bakal mampus ya?” kata Saber yang sudah gemetaran.
“G-Gara-gara idemu sih,” kataku.
“Astaga, kok malah main nyalah-nyalahin sih,” keluh Saber.
Kugelengkan kepalaku, ini bukan waktunya bertengkar. Aku pun mengambil pedang merah panjang di punggungku. Ragnarok, prototipe tiruan buatan Dagger dari senjata yang digunakan Saber dari lini waktu yang lain. Dia sengaja menitipkannya apdaku untuk mengetes pedang itu di lapangan.
“Tapi, Kouhai-kun, selama ada Pathfinder disini, kamu tidak perlu khawatir,” kataku tersenyum seru dan mulai mengaktifkan energi pedang sihir itu, “Pasti selalu ada jalan di setiap tantangan!” lanjutku berlaga keren.
Saber menepuk tangannya, “Wow, entah kenapa, kamu jadi keren banget sekarang, Chrysant!”
“Heh, aku kan selalu keren!”
Selagi punya pedang segede ini, ada sebuah jurus yang ingin kucoba. Teknik pedang termutakhir yang Kak Seraphina gunakan saat pertarungan terakhir melawan The Reaper. Saat melatihku dulu, dari semua Raven Style yang Kakak ajarkan, hanya jurus terakhir itu yang tak mampu kukuasai. Sebab setelah sihirnya disegel, Seraphina tidak dapat menunjukan jurus maut itu padaku.
Tapi, semenjak melihat mimpi itu… aku ingin mencobanya. Apalagi pada musuh yang pantas menerimanya, seorang Lector!
Hingga tiba-tiba sunyi senyap, kubuka mataku dan menebaskan pedang itu sembari berteriak,” Raven Style Finale: Dimension Crusher!!”
…
…
“Uuhh, senpai, kok nggak terjadi apapun ya?” tanya Saber bingung padaku yang tak kalah bingung.
A-A-Anjiiir, malu banget! Setelah berlagak keren gitu, ternyata aku malah gagal melakukan jurus pamungkas itu. Uuhhh! Aduh, apa ya yang salah? Mantranya? Atau mungkin fokusku masih kurang?
Tetapi mataku pun kemudian melihat pada inti magicite dalam Ragnarok, yang tidak bersinar. Bingung, aku pun mencoba menyalakannya lagi tetapi percuma. Defek? Uh, padahal barusaja aku bisa menggunakannya tanpa masalah?
“Hostility detected. Engaging Self-Defense module. Target: Onee-chan,” kata Asmodeus yang menyerap energi dari Magicite di tangannya dan mendekati kami. Dua tangan raksasa mengikutinya dari belakang, bersama sebuah robot mata yang terbang di langit. Sirkuit dalam battlesuit futuristiknya pun menyala biru saat dia melesat di depan wajahku tiba-tiba.
“…!”
Refleks aku menghindari tebasan pedang cahaya yang tumbuh dari tangannya, lantas mengangkat tubuhku dengan tangan dan melesatkan tendangan telak pada Penyihir itu sembari melompat menjauh darinya…. dan melesatkan tendangan maut di leher penyihir itu.
U-ugh, keras sekali! Rasanya, aku baru saja menendang dinding! Rasa sakit segera menyergap kakiku, tetapi kutahan agar tak menunjukan kelemahanku di hadapan Asmodeus.
Meski menerima semua serangan itu, Asmodeus sama sekali tidak bergeming. Senyuman di tengkoraknya… semakin membuat bulu kudukku merinding.
“Assesment Complete. Preparing Countermeasure.”
“Hyaahh!!” teriak Saber mengayunkan palu raksasanya, tetapi dengan mudah ditahan oleh tangan robot Asmodeus. Tetapi laki-laki itu berhasil mengalihkan perhatian penyihir itu sejenak untukku melesatkan hujaman pedang kilat.
“Raven style 01: Dragon’s Thrust!” teriakku.
Menembus pelindung sihir berlapis Penyihir itu, pedangku hampir menghujam jantungnya. Tetapi dengan lihai, Asmodeus nyaris menghindari hujaman itu dengan tangannya. Dan saat itu mataku pun tak percaya apa yang kulihat. Percikan api, saat Ragnarok patah saat menghantam tulang tangan Asmodeus. Denting pedang itu menjalar hingga ke tulang-tulangku, rasanya seperti menghantam berlian yang sangat keras!
“A-Aaakkh!” terdengar teriakan Saber saat terlontar oleh pukulan telak tangan robot Asmodeus. Sekarang giliran aku yang perhatiannya teralihkan, nyaris menyadari Asmodeus mengarahkan tangannya padaku dan menembakkan sinar biru yang menyilaukan.
S-sial, aku tak sempat menghindar. Panik, aku pun perangkat pelindungku, tapi percuma. Entah kenapa kristal sihir di seragamku itu tak ingin menyala!
Kulihat sinar itu mendekatiku bersama dengan keringat dingin di benakku,
“G-Gawat,” gumamku.
BOOMM!!
“… Anomaly detected. Malice confirmed. Self Defence Protocol disbanded…” kata Asmoudeus yang memanggil lebih banyak tangan robot dari punggungnya, “Initiating Malice Annihilation Module. Assesment: Type S.”
Kuatur nafasku yang terengah-engah. Berlian telah tumbuh menutupi tangan dan kakiku. Luka di wajahku pun tertutupi oleh berlian yang mencuat dengan ganas. Petir ungu pun menyambar di sekujur tubuhku, bersama dengan nyeri luar biasa yang kurasakan. Aku pun tersenyum, meskipun Khanza melarangnya… aku tak punya pilihan lain.
Kuhela nafasku dan berteriak, “Ignition Berserk--”
“Jangan gegabah!” teriak Nuwa yang turun dari langit dan menghantam tanah dengan tombak airnya. Dia pun mengacungkan jari ke langit dan berteriak,
“Ethereal Mist!”
Character Design: