Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Time Dysplasia (2)


— 11 —


Suara melengking mengoyak langit, sebuah petir mengejarku dan Subyek 893 yang berlari sambil menggendong manusia serigala yang sekarat. Seumur hidupku, baru kali ini rasa takut menguasai diriku saat menapat langit gelap. Tiap degup jantungku menyesakkan dada, hatiku terus menerus berteriak.


Apa yang kamu lakukan Chrysant? Mengapa kamu malah mencari gara-gara dengan Penyihir sekuat Khanza? Dasar gila.


Tetapi, melihat kekejian yang dilakukan Khanza, aku tak dapat tinggal diam saja. Ya, mungkin Subyek 893 baru saling mengenal, tapi mereka kemungkinan sama seperti Chrysant dulu… Kelinci percobaan dari White Order.


“Kalau begini terus, Khanza akan mengejar kita. Seseorang harus mengalihkan perhatiannya,” kata Chrysant yang mengaktifkan perisai sihir dalam baju betarungku,


“Oi cowok, kamu fokus lari saja, mengerti?” perintah Chrysant.


“T-Tunggu dulu, kamu mau melawan monster itu? Gila ya kamu? Vandal, petarung terhebat kami saja babak belur begini, kamu bisa mati Subyek 3! Monster itu mengincar anak-anak Malice, termasuk dirimu!” bentak Albert.


Anak Malice… baru kali ini aku mendengar sebutan itu. Sebutan yang sangat familir di telingaku.


Chrysant menggelengkan kepalanya, “Seorang Pathfinder tidak mudah mati,” kataku yang melihat daging mulai tumbuh di sekitar dada Vandal. Hmm sepertinya benar perkiraanku, manusia serigala memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa sepertiku.


Aku pun bertolak menuju gedung tinggi. Dengan sihir angin, Chrysant melangkah menaiki dinding penuh karat itu, sementara Subyek 893, meski tidak setuju, akhirnya mengalah dan pergi meninggalkanku.


“Kamu mau menghalangiku, hmmm?” kata Khanza yang tiba-tiba muncul di sisi Chrysant.


Terkejut diirku, langsung refleks menendang Khanza, tetapi hanya bayang kegelapan yang ia tendang. Hilang keseimbangan, segera kutancapkan belati pada dinding dan bergantung disana. Matanku sibuk melirik ke kanan dan kiri, mencari kemana perginya Khanza.


“Hmm, hmm, hmm, kapan terakhir kali Khanza melawan Pathfinder, ya? Ini bakal menarik,” kata Khanza yang duduk di tepian jendela di samping Chrysant.


“Thunderbolt!” teriak Chrysant memangil peluru petir yang melesat ke arah Khanza, tetapi dengan mudah penyihir itu menepisnya.


“Tapi Khanza mungkin terlalu kuat untuk Chrysant. Ah, bagaimana kalau begini? Bila kamu bisa bertahan lima menit, maka kamu menang dan Khanza akan melepas mangsanya hari ini. Tawaran yang menarik bukan? Bagaimana?” tawar Khanza.


Sial, aku bisa membayangkan senyum congkak dibalik topeng tengkorak itu, meremehkanku. Akupun melompat jatuh dan membidik Khanza dengan panah cahaya, “Itu lebih dari cukup.”


Khanza tertawa begitu keras, energi sihir yang begitu dahsyat dalam tubuhnya kini ia lepaskan. G-Gila! Hentakan udara yang maha dahsyat menggetarkan kota, bahkan meruntuhkan beberapa bangunan yang sudah ringkih. Begitu besar kekuatan sihir penyihir itu bahkan hampir membuatku mutnah tertekan olehnya!


Dengan mata merah menyala, Khanza pun berdiri dan mengulurkan tangannya dengan anggun,


“Mari kita berdansa, Chrysant,” katanya yang menghilang tepat sebelum anak panah Chrysant menyentuhnya.


Mendarat dengan mulus di halaman parkir yang luas, mata Chrysant kini menatap mengintai pada penyihir yang hadir lima puluh meter di depanku. Aku bukanlah seorang Ksatria yang pandai konfrontasi langsugn dengan musuh, jadi tak buru-buru aku menyerang… melainkan mengawasi penyihir itu dengan seksama.


Khanza memiliki berlian yang menutupi tangan dan kakinya, mustahil abgi belatiku mampu menembus pertahan itu. Lagipula, aku amsih ingat jelas penyihir itu dengan satu tangan menahan hantaman Judgement tanpa beban sekalipun, dengan kata lain pertarungan fisik jelas harus kuhindari. Tapi tak kusangka juga, energi sihir dari tubuh Khanza menyeruak seperti ombak yang ganas… Kekutan Khanza dalam segi apapun mengalahkanku.


Lima menit… Aku ragu bisa bertahan selama itu!


“Kalau Chrysant tak memulai, maka Khanza duluan,” kata penyihir itu yang melesat mendekatiku. Dengan dua belati es di tangannya, Khanza menyerangku dengn dua belati, persis mengikuti caraku bertarung. Dia mengejekku.


Tapi tiap dentuman serangan Khanza, membuat seluruh tulangku berteriak ketakutan. Retakan kecil muncul dari belatiku saat menepis serangan itu. Astaga, bila hantaman ini berlanjut, senajtku akan patah.


Tetapi teknik bertarung Khanza sangat kasar. Jelas terlihat Khanza tidaklah mahir dalam ilmu beladiri. Memanfaatkan itu, saat Khanza melancarkan tusukan yang kuat, Aku pun menghindari dan langsung menangkap tangan Khanza, lalu membantingnya di tanah dengan kera. Secepat kilat kulempar enam kristal di enam penjuru dan menjentikkan jariku,


“Activate: Shield Trimegistus!” teriak Chrysant yang lalu melompat sebelum terperangkap bersama Khanza dalam pelindung sihir yang tebal.


Saat dirinya terkurung, Khanza justru terlihat terkagum-kagum, “Hahahaha! Black Company dan mainan sihirnya yang menarik. Automachina, jika tak salah salah satu Pemburu dari tim ekspedisi itu juga senang sekali bermain dengan Automachina” katanya yang kemudian memanggil pilar-pilar es hitam yang menghujam pelindung sihir itu dengan ganasnya.


“Pemburu… K-Kamu, D-Dagger—“


“Jadi, tujuanmu datang kemari untuk menyelamatkan tim ekspedisi itu ya? Aaaah, Khanza kecewa. Kukira Chyrsant datang kemari karena merindukanku, tapi sayang sekali Chrysant…,” kata Khanza yang mematangkan rahang topengnya dan menunjukkan senyum palign sinis yang pernah kulihat,


“Mereka sudah jadi snek lezat untuk Khanza.”


….!!


J-Jangan Chrysant, jangan terpancing olehnya. Bila emosi menguasaiku, sudah pasti Khanza akan memanfaatkan celah itu dan membunuhku. Aku harus fokus.


Seperti air yang tenang, pikiranku pun dapat jelas melihat masalah yang kuhadapi. Terutama kunci untuk kemenanganku. Hmm, dari cara Khanza berbicara, dia sepertinya kurang familiar dengan Automachina yang kugunakan. Celah yang dapat kueksploitasi sebelum pelindung sihirku pecah. Secepat kilat aku pun sibuk menebarkan cermin-cermin sihir di sekitar lapangan parkir itu, membentuk pola heksagonal berlapis yang kompleks. Berharap jebakanku bisa membeli waktu lima menit.


Namun, saat hampir selesai menyiapkan jebakanku, Khanza sudah melepaskan dirinya dengan mudah.


“Tiga menit lagi, hahahah!” kata Khanza membuka tangannya dan memunculkan es hitam disana. Kecil, tetapi di dalamnya terkandung sihir yang begitu dahsyat.


“Menarilah, burung kecil,” kata Khanza melempar es itu ke Chrysant, diikuti ledakan kristal es raksasa yang menghempasku.


Akan tetapi mimpi buruk tak berakhir disitu. Sebuah lingkaran sihir merah muncul dari dalam kristal raksasa, meluas dan mengejar Chrysant.


“Sensor..?” gumamku terkejut. Setengah mati aku mencoba menghindari sensor sihir itu, tapi dia masih menyentuh ujung kakiku. Dan sesaat setelahnya—


BOOM!!!


“Ahh, Chrysant, kamu lumayan juga ya,” gumam Khanza menepuk tangannya mengejekku.


Chrysant bangkit berdiri dari pusat ledakan. Ingin diriku menangis, menahan nyeri dari es hitam yang menancap kaki kiriku. Pelindung sihirku sudah jadi sejarah, rusak dengan seragam hitamku koyak disana-sini. Sial… bagaimana Chrysant bisa seceroboh ini?


“Bonus time! Karena kamu bisa selamat, maka ijinkan Khanza memberikanmu satu menit gratis,” kata Khanza yang kagum melihatku masih ingin bertarung dalam kondisi mengenaskan seperti itu.


Khanza pun mengacak pinggang dan bertanya, “Chrysant, mengapa kamu menolong anak-anak Malice itu? Bukankah kalau mereka hidup, mereka hanya akan ditolak oleh dunia dan menderita kemudian? Kematian… adalah hadiah paling manis untuk mereka.”


Chrysant mencabut satu serpihan es di kakiku dan menjawab, “Aku lihat orang yang butuh bantuan, maka Chrysant akan menolongnya. Masalah?"


Khanza mendengus geli, “Masalah? Banyak! Seorang bidak Black Company sepertimu sungguh berpikir telah membantu mereka? Tentu, bermain peran sebagai pahlawan mengangkat derajat dirimu. Mereka akan berterima kasih dan memujimu, membuatmu merasa lebih daripada mereka,” katanya yang menyiapkan es hitam lagi di tangannya,


“Tapi jujurlah, sesungguhnya, orang sepertimu hanya memandang rendah mereka, bukan? Orang terpilih sepertimu takkan pernah mengerti perasaan orang-orang yang dibuang seperti mereka!” lanjutnya tampak kesal.


“Terserah,” jawab Chrysant acuh tak acuh. Hidup dipandang sebelah mata dan dihina, Chrysant sejak kecil sudah belajar untuk bodo amat terhadap pendapat orang. Lagipula… aku juga merasakan penolakan namun pada akhirnya ada orang-orang baik yang akan menolongku.


Masa depan tidak seburuk di benak penyihir gila itu.


Satu persatu serangan Khanza berhasil Chrysant hindari. Meskipun mematikan, motif serangan itu semakin sederhana karena kemarahan Khanza. Chrysant dengan mudah memprediksi arah serangannya dan memasang cermin sihir terakhirnya, sambil terus menghindari sensor bom es yang tersebar di lapangan parkir itu.


Chrysant pun mengangkat tangannya dan bersamaan itu bangkitlah seratus cermin cahaya yang membentuk sudut diagram sihir raksasa.


“Activate: Chrysanthemum Garden!” kataku mengaktifkan teknik sihir original yang kuciptakan. Sihir yang membuktikanku pantas menjadi seorang Pathfinder.


Tiba-tiba Khanza melesat dengan kecepatan tinggi, siap menebas Chrysant dengan tombak pedangnya, “Cermin ilusi seperti ini tak mempan bagi mata Khanza!” teriaknya.


Tetapi justru Chrysant tersenyum menyeringai, “Kita lihat saja, Penyihir tua yang kurang update,” kataku yang melangkah masuk ke dalam cermin itu dan menghilang.


Sia-sia tebasan Khanza, sebab hanyalah cemrin yang ia tebas. Hancur sesaat, bola-bola cahaya merangkai kembali cermin itu. Khanza tertawa menyadari dirinya telah terjebak.


“Anggota ekspedisi itu juga memiliki banyak sekali peralatan aneh, tapi mereka tak menggunakannya selincah kamu,” komentar Khanza kagum sembari mencari-cari Chrysant dari seratus cermin cahaya itu.


BZZTT!


Panah petir menghantam tubuh Khanza. Tak hanya satu tetapi berkali-kali hingga penyihir itu tampak kesal. Mereka muncul dari cermin-cermin sihir itu, semakin lama semakin cepat dan kuat. Seperti pemburu yang lincah, Chrysant melompat dari satu cermin ke lainnya menghindari serangan Khanza yang membabi buta.


“Kamu membunuh anggota ekspedisi itu?” tanya Chrysant melempar granat sihir ke Khanza sebelum melompat masuk ke cermin lainnya. Tetapi dengan mudah Khanza menepis ledakan besar itu dan menancapkan tongkat sihirnya ke tanah, memanggil akar-akar pohon yang menjalar memburu Chrysant.


“Sayang sekali, bukan Khanza yang mengakhiri mereka. Saat bertemu, kumpulan orang bodoh itu telah menjadi Malice. Tak ada pilihan lain selain Khanza makan, bukan?”


Makan para Malice? Tunggu dulu. Ini hanya firasatku saja, tapi apa mungkin, Khanza adalah seekor Malice Aberrant yang memakan sesamanya untuk menjadi kuat? Jika dia memiliki kemampuan berpikir kompleks seperti, bukankah artinya... Khanza adalah seekor Malice tipe S?


Hanya satu hal yang membuat Chrysant bingung. Mengapa Liam yang tahu tentang keberadaan Khanza, membiarkan Malice itu tak tercatat di logbook Black Company? Dia adalah Malice tipe S yang harusnya diburu apapun yang terjadi!


“Khanza, siapa kamu sebenarnya?” tanya Chrysant melesatkan panah petirnya yang ke seratus, menghindari akar pohon yang ganas.


“Kenapa aku mesti menjawab pertanyaanmu?” kata Khanza yang berhasil menangkap Chrysant, tetapi ternyata sosok itu hanyalah tipuan ilusi murahan.


Melihat kesempatan, Chrysant pun muncul di belakang Khanza dan menendang kakinya. Saat penyihir itu kehilangan keseimbangan, aku pun mencengkram wajahnya dan membanting Khanza di tanah. Segera aku meninjakan kaki di dada sang Malice dan membidik panah kepadanya,


“Sudah.. lima menit,” kataku terengah-engah.


Seperti kejut listrik yang menjalar di seluruh tubuhku, sirkuit sihirku telah melampaui batasnya. Panas dan nyeri menguasai tubuhku, bersama uap darah yang muncul dari sela-sela kulitku. Bersamaan itu, seluruh kaca sihir pun pecah menjadi debu angin yang berkilauan. Sepertinya… menggunakan Chrysanthemum Garden telah mendorongku ke ambang batas.


“Aku menang. Tepati janjimu, Khanza,” kata Chrysant.


Khanza tertawa dan meletakkan tongkat sihirnya, “Hahahahah! Siapa yang mengira aku, The Reaper, bisa dikalahkan oleh boneka palsu sepertimu?” kata Khanza.


T-T-The Reaper?!


Kegelapan menelan diri Khanza, melepaskannya dari cengkraman Chrysant. Lantas tampak tak tersentuh sama sekali, Khanza muncul di depanku mengacak pinggangnya sebelah.


Setelah mengeluarkan sihir sebesar itu, Khanza tak tampak lelah sama sekali. Padahal dia telah menerima seratus panah petir berkali-kali! Terjatuh aku tak percaya, betapa kuatnya Malice itu. Dia adalah The Reaper, Malice yang dahulu dengan tangannya sendiri menghempaskan Junon ke Underworld dan membantai ratusan Pathfinder dengan mudahnya.


Melepas topeng tengkoraknya, Khanza tersenyum padaku. Tapi dia tak mengerti horror yang ia tunjukan padaku. Aku seperti melihat cerminan diriku, tetapi dengan rambut ungu yang panjang terurai oleh angin.


“Menolong karena ada orang yang membutuhkan bantuan. Bukankah itu pendirian yang terlalu utopis? Pada akhirnya, boneka palsu yang lemah sepertimu hanya akan melukai orang-orang yang ingin kamu lindungi.”


Angin kelam perlahan melahap tubuh Khanza hingga ia hilang tanpa jejak. Keheningan pun segera menyerang dan tekanan menyesakkan pun sirna. Dan bersamanya aku terkulai lemas di tanah, tak berdaya menyadari Malice-Malice kecil perlahan muncul dari bayangan dan mendekatiku.


“… Sial,” gumam Chrysant sebelum tak sadarkan diri.


Monster Design