
— 20 —
“Ayo, kemari Chrysant, hihihi.”
Suara lembut membuka mataku. Kabur pandanganku hanya memperlihatkan silhuet dari seorang wanita berambut coklat yang berlutut dengan tangan terlentang di hadapanku. Manis suara itu penuh dengan kasih sayang dan kehangatan, mengundangku untuk mendekatinya. Canggung dan kikuk, dengan kaki-kaki kecil itu aku berusaha mendekati silhuet itu… Hingga akhirnya mataku dapat melihat jelas wajahnya.
“Ma… Ma…” ucapku tanpa kusadari, memandangi permata biru lazuardi yang dimiliki mata dari wanita cantik itu. Mata yang sama sepertiku.
Dipeluknya diriku dengan erat dan gemas sembari wanita itu berkata,” Yup, benar, ini Mama sayang hihi. Chrysant rindu sama Mama? Aahh, Chrysant-ku, kamu manis sekali siihh. Maaf yaa, beberapa hari ini Lady Luciel bikin Mama sibuk kerja mulu sampai tak bisa menemanimu!”
Ini aneh sekali. Aku… tak pernah mengingat wanita ini. Tapi melihatnya, mataku langsung berkaca-kaca. Entah mengapa… aku merasa sangat merindukannya.
Tapi…
“Pergi dari kota ini! Penyihir busuk!” terdengar teriakan yang memecah hangat momen itu dan membawaku di dalam kereta, memeluk wanita itu dengan gemetaran.
PRANG!!!
Sebuah batu menembus kaca kereta kami, refleks membuat mataku tertutup. Tapi ada cairan hangat yang menyentuh pipiku, saat kubuka mata kulihat darah menetes dari beling-beling yang menancap tubuh wanita itu. Namun ia tersenyum dan menutup mataku dalam dekapannya,
“Chrysant takut? Tenang, semua ini hanyalah mimpi buruk. Setelah Chrysant terbangun, puff, semua akan berlalu. Mama pasti akan melindungi Chrysant.”
Bersama dengan bisikan kebohongannya itu, asap punt erciup di hidungku. Api melahap tubuhku, saat mencoba merayap keluar dari puing-puing yang menimpa tubuhku. Dari kejauhan aku dapat melihat sosok wanita itu meronta-ronta melawan kumpulan pelayan yang menahannya. Menangis dirinya saat berteriak,
“Lepaskan! A-A-Anakku masih disana! Lepaskan! AKu mohon!”
“Putri Emilia, hentikan. Keselamatanmu lebih utama!”
“Tidak!! Chrysant… Chrysant… Siapapun… tolong putriku—!”
“Putri, maaf. Ini demi kebaikanmu… Seseorang bawa Putri ke tempat aman.”
Dan pun tirai kegelapan menutupi teater panas itu. Api pun digantikan oleh air yang dingin, membekukan kulitku hingga ke tulang-tulangnya. Saat membuka mata, tersadar aku telah berada di dalam tabung penuh cairan berwarna kuning. Di luar tabung kaca itu berdiri dua wanita, sosok yang kusebut sebagai Mama dan juga… Lady Luciel.
“Bukankah sejak jaman primordial, kita, para Penyihir telah melindungi para Sapiens dari berbagai kepunahan? Tapi… mengapa mereka kini berbalik menyerang kita?” tanya wanita berambut coklat itu.
Lady Luciel sibuk mengetik dalam komputernya dan menjawab, “Berbeda dengan kita yang memiliki Ideal White sebagai tujuan hidup, Sapiens membutuhkan suatu alasan untuk dapat bertahan dengan dunia yang kejam ini. Seperti kata seorang filsuf kuno… dia yang memiliki alasan untuk hidup, mampu melewati segala cobaan,” katanya yang pun selesai mengetik dan melanjutkan,
“Dan apalagi alasan yang lebih kuat daripada musuh yang ‘menyebabkan’ penderitaan mereka? Setelah Dewi Primordial menghabisi para Anima, hanya menunggu waktu… sebelum Sapiens menjadikan kita kambing hitam kesengsaraan mereka.
Karena itulah, kita membutuhkan Ideal White. Sihir paling sempurna yang dapat mengabulkan segala permintaan. Dengan sihir itu… kita dapat melenyapkan para Sapiens dan membebaskan kaum penyihir dari tirani mereka.”
Wanita berambut coklat itu mengepalkan tangannya dan berkata, “… Aku tidak peduli tentang Ideal White… Asalkan dapat mewujudkan dunia dimana Chrysant dapat hidup bahagia, aku… akan melakukan segalanya.”
Cairan kuning itu perlahan habis, pintu kaca tabung itu pun perlahan terbuka. Wanita berambut coklat itu segera berlari memelukku dengan erat. Punggungnya gemetar saat ia terisak-isak berkata,
“M-Maafkan Mama, sayang. Kali ini.. Mama pasti akan melindungimu. Apapun yang terjadi. Mama janji takkan meninggalkanmu lagi!”
Tetapi dihadapan luapan emosi itu, kata-kata yang terucap di bibirku hanyalah,
“Support-type Homunculus, Code CH001, OS installation complete. Please input my name to proceed—”
Pelukan itu semakin erat hingga menghentikan perkataanku. Lady Luciel pun menekati kami dan melipat tangannya,
“… Kenapa kamu terkejut seperti itu, Putri Emilia? Bukankah kamu seharusnya sudah tahu kebenaran pahit ini? Mereka yang sudah mati, tidak dapat kembali ke dunia ini.”
Hangat dan lembut pelukan itu pun berganti menjadi es yang mengupas kulitku. Mataku pun kini melihat wanita berambut coklat itu menciptakan lagi dan lagi boneka yang memberikan jawaban yang sama denganku. Matanya yang dahulu penuh dengan cahaya harapan, kini redup oleh kekecewaan yang menumpulkan hatinya. Pelukan hangat yang selalu ia berikan kepada para boneka itu…Setelah yang keseratus kalinya, tak pernah lagi ia berikan. Melainkan… dingin dan gelap tabung kacalah yang menyambut kehidupan baru yang dia ciptakan.
Bersama hantaman keras dan tangisan putus asa wanita itu, “G-Ggal… Gagal lagi….! Kenapa… Kenapa aku tak dapat mengembalikanmu lagi di dunia? Chrysant… Chrysant…!” teriaknya menghantam meja komputernya berkali-kali hingga tangannya berdarah.
Khawatir, aku yang mengintip dibalik pintu ingin mendekati wanita itu sebelum dihentikan oleh Lady Luciel.
“CH001, apa yang mau kamu lakukan? Menghibur penyihir itu? Dengan wajah dan suara itu, kamu justru akan melukai hatinya,” kata wanita itu.
Namun aku menjawab, “Kenapa? Apakah ada cacat dalam Unit pertama sehingga tidak memuaskan Master? haruskah Unit 001 menginstal ulang dirinya menjadi sosok yang berbeda?”
Lady Luciel mendengus geli, “… Kenapa Homunculus sepertimu peduli dengan tuan yang bahkan tak sudi melihatmu lagi?” katanya yang mengelus rambutku.
“Error. Unit CH001 tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Error… Er—” katkau yang merasakan percikan listrik di kepalaku, bersamaan dengan itu air amta pun emgnalir di pipiku, “Error… Error… Error… Unit CH001… i-i-ingin M-M-aster B-B-Bahagia. E-Error.. E-E—”
Wanita anggun itu tertegun mendengar jawabanku, “Makhluk tanpa jiwa sepertimu… secara tulus ingin tuanmu bahagia? Sepertinya dalam programmu… terdapat mutasi yang menarik. Bolehkan aku memeriksamu bila ada waktu, CH001,” katanya yang kemudian tersenyum lebar,
“Tapi sayang sekali, seberapapun tulus keinginanmu itu… Dia takkan mencapai hati Emilia. Wanita itu telah terlalu dalam tenggelam dalam kegelapan… dan telah melupakan alasan hidupnya. Tak ada siapapun lagi yang dapat menyelamatkannya.
Yang bisa kamu lakukan… hanyalah berada disisinya hingga di titik terakhir.”
Angin pun membuyarkan ingatan itu dan membawaku, dengan kain hangat di tangan menyelimuti wanita berambut coklat itu. Tetapi wanita itu tiba-tiba terbangun dan tersentak kaget. Melotot marah matanya saat membentakku,
“Kenapa kamu menggangguku? Pergi!”
Tanganku gemetar, memegang dadaku yang sesak. Tapi melihat wanita itu tampak sedih dan kelelahan, aku pun menelan ludahku dan melawan perintahnya,
“Sudah cukup, Master! Jika seperti ini terus, kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri!” teriakku.
“Apa kau bilang? Berani-beraninya, boneka palsu sepertimu…” kata wanita berambut coklat itu mengangkat tangannya. Meski ketakutan, aku tetap memandang mata wanita itu… Bersama keinginan mantab di hatiku. Aku tak ingin melihat wanita itu tersiksa lagi.
“Beratus-ratus Malice pun Master ciptakan, Chrysant takkan hidup lagi,” kataku menampar wanita itu dengan kenyataan.
“Tapi haruskah aku menerima bahwa sebagai ibu... aku telah meninggalkan Chrysant… Aku telah membiarkannya mati dalam kobaran api itu… Aku… Aku telah gagal melindunginya!”
“Bila Chrysant ada disini, dia pasti tidak ingin melihatmu seperti ini, Master,” kataku yang pun memeluk tuanku, “Sudah cukup, Master…. Kenangan akan Chrysant yang Master pegang terlalu erat itu… Aku mohon, lepaskan. Chrysant juga pasti tak ingin melukai ibunya seperti ini.”
Tiba-tiba aku merasakan pelukan wanita itu. Rasa hangat pun menghampiriku, menyadarkan hatiku, setelah milenia berlalu… betapa aku merindukan kehangatan itu. Tersenyum dalam kebahagiaan, aku bersyukur. Apakah mungkin… makhluk tak berjiwa sepertiku berhasil menyelamatkan penciptanya?
… Aneh sekali, semua ini hanyalah mimpi, tetapi aku merasa dia adalah bagian dari diriku.
Setelah itu aku pun hadir di sebuah padang bunga yang luas. Bersama semilir angin, terdengar riang suara anak-anak bermain di padang bunga itu. Mereka semua memiliki wajah yang sama, tetapi pribadi yang berbeda-beda… bermain dengan bebasnya, penuh dengan kebahagiaan. Dan dibawah teduhnya pohon kristal, aku duduk bersimpuh di samping Putri Emilia, dengan kue manis dan teh nikmat, menikmati hari yang hangat itu.
Tiba-tiba burung gagak datang dan berubah wujud menjadi sosok Lady Luciel. Tersenyum dirinya pada Putri Emilia dan berkata, “Sepertinya, rantai dalam hatimu kini telah melonggar, Putri Emilia. Aku turut senang melihatnya.”
Putri Emilia menyisip tehnya dan memandangi anak-anak yang bermain di padang bunga itu. Tapi dari tatapan matanya… kesedihan masih terpancar darinya.
“… Bila surga itu benar ada, aku tak ingin Chrysant melihat ibunya hidup menderita,” kata Putri Emilia.
Lady Luciel menekuk alisnya dan meminum teh yang kutuangkan, “Kamu sudah menyerah dan tak ingin mencoba merealisasikan mimpimu lagi? Kamu menyerah untuk bertemu Chrysant kembali?” tanya penyihir itu yang kemudian menyodorkan sebuah syringe merah pada Putri,
“Bagaimana bila aku berkata, White Order sudah menemukan cara untuk membawa Chrysant kembali ke dunia ini?”
… Ha? A-Apa yang penyihir itu katakan?
“Ideal White. Dengan sihir sempurna itu… kamu bisa membawa Chrysant ke dunia ini. Syringe itu berisikan sel The Warden, Malice yang dapat membelah dirinya tanpa batas,” kata Lady Luciel yang pun berdiri setelah menghabiskan tehnya,
“Penyihir jenius sepertimu pasti paham… Implikasi dari kemampuan sel itu, bukan?”
Tiba-tiba ingatan itu pun retak dan pecah bagaikan kaca. Saat aku tersadar, punggungku telah dihujam oleh kabel-kabel. Cairan kuning membelengguku, tabung kaca memenjarakanku dari dunia. Dan dihadapan mataku, dengan jas putihnya Putri Emilia menatapku kemabli… seperti boneka yang tak berharga.
“Kenapa? Bukankah Master sudah merelakan Chrysant pergi?” pikirku yang berusaha menggapai Putri.
“… Persiapan sudah selesai. Proses Malifikasi dapat segera dimulai. Perintahmu, Putri Emilia?” tanya Lady Luciel di kursi komputernya.
“Lakukan,” kata Emilia.
Nyeri hebat kurasakan dari punggungku. Seperti magma yang megnalir, panas menyergap sekujur tubuhku. Ingin aku berteriak tetapi cairan kuning membekap mulutku. Tanganku memberontak, berusaha membebaskan diri dari siksaan itu… Tetapi kusadari saat ingin menggapai Wanita berambut coklat itu, kegelapan perlahan menggerogoti tanganku.
“Master..! Master…!! Tolong hentikan…!”
“Tahap dua, injeksi sel Warden. Setelah melewati tahap ini, Homunculus itu akan menjadi Malice yang sempurna. Tak ada lagi cara untuk mengembalikannya. Apakah kamu yakin akan meneruskan prosedur ini, Putri Emilia?”
Tanpa keraguan, Putri Emilia berkata, “Lanjutkan.”
“As you wish, Princess. Sebagai protokol, aku menuliskan hukum ini untukmu, calon Malice artifisal pertama kami. Sebagai kelinci percobaan, kamu tidak boleh membunuh baik manusia ataupun Penyihir.
Serahkanlah hidupmu demi Ideal White, CH001.”
Bersama dengan hancurnya tubuhku, kekecewaan mencengkram hatiku. Aku pun tersadar bahwa kehangatan yang kurasakan dari wanita itu hanyalah ilusi belaka. Harapan palsu yang takkan pernah kuraih. Sebab dari awal, kehangatan itu tak pernah tertuju padaku.
“Mengapa semua berakhir seperti ini?”
Krek…
“Apakah waktu kita bersama sama sekali tak memiliki arti bagimu?”
Kretek…
“Master… mengapa kamu membawaku ke dunia ini… hanya untuk menderita?”
TRING!!
“Tidak bisa kumaafkan… Mata dibalas mata, darah di balas darah! … Bila hidupku tak bermakna sekalipun di matamu… Maka semua mimpimu akan kuhancurkan, Master… tidak, Ibu!
Dengan tangan ini… Aku akan menghancurkan mimpimu! Aku akan menghancurkan Chrysant yang amat kamu sayangi itu!”
Amarah menguasai diriku saat ingatan itu terbakar oleh api dengki. Saat kusadar, mataku telah melihat seorang Pemburu melesatkan panah tiga kepala naga yang gemilang padaku.… Mimpi Ibu yang selama ini ia nantikan… telah datang.
Ah… Saat gemilang cahaya itu menghancurkan tubuhku, aku pun tersadar. Betapa sia-sianya hidupku. Pada akhirnya, meskipun aku telah berubah menjadi monster menjijikan ini… aku hanya membawa penderitaan bagi Ibu. Aku gagal menghasilkan Ideal White untuknya. Aku gagal melindunginya dari rencana jahat Lady Luciel…. Dan aku gagal membuatnya bahagia.
Hingga detik terakhir, aku… adalah anak yang gagal memenuhi keinginan Ibu.
Kubuka mataku dan terbangun di atas puing-puing bangunan. Sebuah lentera biru menyala disana, bersama Khanza yang sedang memperbaiki belatiku. Dia pun menoleh padaku dan berkata,
“Kamu pasti memimpikan ingatan dari anak malang itu,” kata Khanza yang mencoba panahku.
“… Anak malang, maksudmu… Semua ini ingatan Predator Telos?” kataku setelah merangkai kecurigaanku. Melihat subyek 893 membuatku saar bahwa semua Predator… dulunya adalah manusia. Itu alasannya, mengapa mereka masih memiliki darah.
“Yup. Ironi sungguh, anak yang menginginkan kasih sayang dari penciptanya, justru mati di tangan mimpi sang pencipta,” kata Khanza yang melemparkan busur itu padaku.
Aku… tidak mengerti sama sekali apa maksud Malice itu. Namun, setelah melihat ingatan Predator… keraguan muncul di benakku. Kosongnya ingatan di masa kecilku.. dan bagaimana para Predator mengenalku. Apakah mungkin aku adalah Chrysant, anak Putri Emilia yang memulai kegilaan ini?
“… Katakan padaku sebenarnya, Khanza. Aku ini sebenarnya siapa?” tanyaku.
Khanza tersenyum dan menutup wajahnya dengan topeng tengkorak, “Well, gimana kalau kamu langsung melihatnya saja? Akhir dari mimpi Penyihir gila itu.”