Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Si Ular Putih Gremory (End)


— 32 —


Di suatu tempat di waktu yang lain…


Belasan boneka mengerumuni seorang gadis berambut biru pucat, yang terbaring di tempat tidurnya yang empat. Gelisah pikirannya mengacaukan ngantuknya. Gadis itu pun membuka matanya dan meraih tangan dari sebuah boneka beruang, lantas duduk dan memainkannya.


“Kenapa jadi seperti ini?” gumam Nuwa.


Dua malam sebelumnya, Nuwa mendapatkan sebuah perintah spesifik dari Pangeran Arthur. Perintah itu begitu detil, berbeda dari kebebasan yang selama ini diberikan pada seorang Pathfinder dalam menjalankan misi.


Bawa Chrysanthemum ke Menara Biru di malam Festival Mentari Terbit.


Saat itu Nuwa dengan senang hati melakukannya. Di matanya, Chrysant selalu menjadi duri dalam daging. Dia, seorang anak tengik dengan latar belakang tak jelas, berani-beraninya terus menempel di sisi Arthur. Padahal Nuwa sendiri, yang sejak kecil sudah dijodohkan dengan Arthur, hanya pernah berbicara sepatah dua kata dengan sang Pangeran.


Lagipula… dari investigasi Nuwa, dia pun ingin menguji hipotesisnya tentang racun yang ‘meningkatkan’ kekuatan sihir—yang ternyata adalah ekstrak tomat itu, kepada Menara Biru, segel dari Malice The Warden. Kalau terjadi sesuatu, dengan mudah Nuwa dapat melimpahkan seluruh kesalahan itu pada Chrysant dan menyingkirkannya.


Sekali dayung dua pulau terlewati, pikirnya.


Tapi tanpa sepengetahuannya, malam itu Menara Biru diserang oleh dua Lector White Order. Awalnya Nuwa mengambil kesimpulan bahwa kebetulan saja kedua Lector itu mengincar Menara Biru dan Chrysant ada disana. Tapi pagi tadi, setelah memeriksa kondisi Chrysant, gadis itu pun mengerti.


“Sampai sejauh mana dia merencanakan semuanya?” gumam Nuwa melihat cincin pertunangannya.


Arthur Arpeggio Noctis… tidak, sebelum menggunakan nama itu dia dikenal dengan nama William Diamandia, buyut dari The First Lector, Luciel Diamandia. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa, di usianya yang kecil, William menjual rahasia keluarganya sendiri kepada kelompok pemberontak yang kelak akan mengobarkan api yang meruntuhkan White Order dan melahirkan organisasi bernama Black Company — Keluarga Noctis dan Gremory. Melalui kontrak demi kontrak, William menyelamatkan hidupnya dari pembantaian keluarganya dan mengubah namanya menjadi William Megistus.


… Darah penyihir dan manusia yang bercampur dalam dirinya, ditambah bakat naturalnya dalam dunia sihir, melejtikan karir William hingga menjadi seorang Pathfinder di usianya yang sangat muda. Dan kemudian, kejeniusannya membawa banyak sekali perubahan radikal dalam kehidupan manusia. Salah satunya adalah kontrasepsi bernama Menara Biru, yang menekan proses Malifikasi hingga ke titik minimal. Jasanya yang luar biasa itu menarik perhatian Keluarga Noctis yang tak memiliki penerus, untuk memahkotainya sebagai Arthur Arpeggio Noctis yang keseratus. Dalam semalam, William yang memiliki darah musuh kemanusiaan naik daun menjadi bangsawan manusia.


Dan sekarang… Pemimpin dari Black Company.


“… Laki-laki yang bermuka dua sialan. Tapi dia… sangat berbahaya,” gumam Nuwa memeluk boneka beruangnya.


Tentu banyak sekali orang yang skeptis dan tidak setuju dengan keputusan Keluarga Noctis. Tetapi satu demi satu pihak oposisi itu secara misterius mengalami musibah yang melemahkan mereka. Entah bagaimana, kasus korupsi dan penggelapan terbongkar dengan mudah, secara kebetulan melibatkan orang-orang yang melawan Arthur. Nama Arthur pun kian hari semakin melambung hingga detik ini tak ada satu pun yang berani menantangnya… Bahkan Nuwa sekalipun, yang adalah bangsawan Gremory.


Apalagi setelah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Arthur bekerja dua malam lalu. Dengan lihai, Arthur menuntun para detektif menemukan bukti skandal yang mengarahkan hubungan seorang politikus dengan White Order. Bahkan menemkan bukti jelas disana… Kembang api yang diduga diselundupkan oleh politikus itu untuk mengalihkan perhatian para Pathfinder, selagi White Order menyabotase Menara biru.


… Meski semua bukti itu kuat, firasat di dalam hati Nuwa berkata hal yang lain. Apalagi setelah mendapatkan perintah Arthur dan mengetahui identitas asli Chrysant.


“Battle-type Homunculus CH003. Satu-satunya Homunculus  Emilia yang selamat dari musibah The Reaper,” gumam Nuwa yang melirik pada salinan profil Chrysant yang dia curi dari databse Black Company.


“The Ultimate Vessel…” lanjut Nuwa.


Semua Homunculus ciptaan Emilia memiliki satu tujuan… Menjadi wadah saat White Order berhasil memanggil Ideal White ke dunia. Demi tujuan itu, Emilia dan Luciel Diamandia sengaja menginjeksikan sel The Warden dan mengubah para homunculus itu menjadi Malice, makhluk yang memiliki daya tahan dan regenerasi melebihi manusia. Tapi seluruh percobaan itu berakhir kekacauan, dimana Emilia gagal menciptakan Malice yang dapat dikontrol secara sempurna dan cukup kuat secara teoritis untuk mengemban Ideal White.


Tetapi, hanya satu percobaan yang menunjukan prognosis yang baik. CH003… Keajaiban yang muncul secara kebetulan. Setelah melewati Malifikasi yang menyakitkan, CH003 adalah satu-satunya Homunculus yang kembali ke wujud manusianya dan menyimpan kewarasannya. Dia telah menjadi Malice yang sempurna atau yang Black Company kini sebut Malice tipe S. Namun, secara misterius CH003 menghilang tanpa jejak.


… Dan tiba-tiba muncul kembali, menggantikan tubuh The Reaper saat sihir terkuat Khanza menelannya. Nuwa masih ingat saat dia menguping pembicaraan Khanza dengan Abangnya dahulu di kediaman Gremory.


“… Dia adalah The Reaper sebelum kehilangan kemanusiaannya. It was then obvious, we should dispose that doll immediately,” lanjut Khanza.


Namun Pathfinder Seraphina dengan teguh melindungi CH003 dan megnatakannya tidak bersalah.


“Jika dia belum menjadi The Reaper, maka anak ini tidak bersalah. Dia hanyalah korban sama dengan kita semua. Chrysant sama seperti kita, dia adalah manusia!” kata Seraphina yang tertulis dalam logbook Abang Nuwa dalam rapat parlemen pertama Black Company.


Berkat keteguhan dan jasa Seraphina dalam perang, Black Company pun mengabulkan permintaannya dengan syarat. Nuwa tak mengerti syarat itu, tetapi saat melihat beberapa hari kemudian The Morning Star diturunkan menjadi tenaga administratif — seorang Chronicler, maka jelas baginya apa pengorbanan Seraphina.


“Hidup yang lebih menyakitkan daripada mati,” gumam Nuwa yang mengingat betapa kosongnya mata Seraphina saat bekerja ditumpukan dokumen yang sengaja dilimpahkan padanya.


Dan sekarang, setelah melihat parameter tubuh Chrysant, Nuwa pun menjadi yakin. Black Company… sengaja mempercepat progresi Malisifikasi Chrysant dan menjadikannya mesin penghancur yang ideal, yang semakin kuat setelah menyelesaikan banyak misi yang mustahil. Chrysant… terlalu polos dan naif, hatinya sebagai gadis sangat mudah dipermainkan oleh Arthur. Apalagi ketika laki-laki laknat itu memegang kelemahan terbesar Chrysant.


Seraphina.


“Haruskah aku menutup mata dan membiarkannya terjadi?” gumam Nuwa yang kembali berbaring dan menutup mata dengan lengannya.


Samar, tetapi setelah bertemu dengan banyak kematian pasiennya, perasaan Nuwa berkata… Kalau kondisi ini berlanjut, sbentar lagi Chrysant akan mati. Progresi Malifikasinya akan sempurna dan dia akan menjadi… The Reaper, puncak dari kehancuran yang akan melahap dunia.


Tapi, apa mungkin itu yang Black Company rencanakan? Apakah mereka sengaja menekan Chrysant untuk menjadi bom waktu demi menghancurkan White Order? Dan sesudahnya, memutar balikkan waktu dan menjebak Chrysant dalam siklus kelahiran dan kehancuran untuk menjadi senjata terkuat Black Company.


Entah kenapa Nuwa ingin menangis melihatnya. Bagaimana gadis dengan senyum bodoh itu… harus mengemban takdir yang begitu pahit.


Tiba-tiba Nuwa teringat akan kata-kata terakhir Abangnya sebelum pergi dalam Ekspedisi terakhirnya.


“Untuk membebaskan dunia ini dari belenggu keputusasaan, itu adalah alasanku menjadi Pathfinder.”


Dan itupun… adalah ambisi Nuwa yang mendorongnya untuk mencapai Ideal White. Jika dia membiarkan Chrysant mengalir pada takdirnya yang pahit itu, dia telah gagal sebagai Ellen Lunaris Noctis dan sebagai dokter. Semua tekatnya akan menjadi ambisi kosong, jika dia tidak menepati kata-katanya sendiri. Apalagi yang harus dia ragukan?


Mengepalkan tangannya, gadis itu pun bergumam,


“Zarashtri, kemari.”


Air pun muncul dari atap kamarnya dan membentuk diri sebagai kembaran Nuwa. Bayangan itu pun berlutut padanya dan berkata,


“Hadir, Tuan Putri.”


Nuwa pun bangkit duduk dan menatap lukisan portret keluarganya yang terpajang di dinding kamar.


“Aku akan pergi dalam waktu lama. Karena itu, kupercayakan peran Putri Nuwa padamu.”


“Jika saya boleh tahu… kemanakah Tuan Putri akan pergi?”


Nuwa tersenyum, “Ke neraka hidup, untuk menyelamatkan pasienku.”