
Di antara buku-buku yang berserakan, Lumina membalut luka bakar di tanganku dengan salep. dan perban Tapi keheningan yang asing mengusik hatiku. Kedua mata Lumina yang menatap jauh menjadi cemrin pikirannya yang melalangbuana, mungkin, memikirkan pertanyaan tanpa sebuah jawaban.
“Kamu pasti bertanya-tanya apa maksud perkataan sang Puella Dragonica, bukan?” tanyaku memecah lamunan penyihir itu.
Tangan Lumina berhenti, matanya tak mampu menemui milikku. Menunduk dirinya saat menjawab, “Putri… Apakah aku bisa percaya padamu?”
“Kamu asistenku, bukan? Apakah ada alasan untukmu tidak percaya denganku?” tanyaku balik, yang kemudian mengangkat wajah penyihir itu dan menatapnya sangat,
“Bila apa yang dikatakan Quina benar, mengapa saat ini aku reepot-repot membantu peradaban manusia yang kuhancurkan dengan Wabah Nyght?”
“… Itu adalah pertanyaan yang selalu ingin kutanaya padamu, Putri,” katanya yang memegang tanganku, “Putri Noctis, apakah kamu musuh umat terbesar manusia ataukah satu-satunya penyelamat mereka?”
“Bukan keduanya, aku hanyalah… seorang penyihir yang melintasi takdir mereka,” jawabku yang berdiri dan mendekati jendela, melihat dibaliknya orang-orang merayakan lahirnya Yggdrasil baru dengan makan-makan besar.
“Bila para Matrovska adalah dalang dibalik Wabah Nyght ini, maka jawaban yang ingin kamu cari ada di tangan Arthur. Bukankah daripada bertanya padaku, kamu harusnya mencari anak itu?” tanyaku.
“Tidakkah kamu khawatir pada Arthur, Putri? Bila Puella Dragonica menemukannya lebih dulu, entah apa yang akan dia lakukan pada Arthur.”
“… Kenapa aku harus khawatir dengan anak yang sudah memilih jalannya?” kataku yang pun pergi dari rumah Lumina.
Sepanjang jalan distrik Clariyastra, aku melihat orang-orang mewarnai langit dengan kupu-kupu kristal cahaya. Kupu-kupu itu adalah kerajinan dari Bunga Lentera yang menjadi tanda datangny waktu damai. Setelah penerimaan mereka sebagai rakyat Pei Jin, wabah Nyght berhasil dihentikan dan kekhawatiran mereka akan salju superadikal kini telah dihapus oleh Yggdrasil, hanyalah senyuman yang muncul di bibir mereka. Berbeda dengan tatapan mati tanpa harapan yang kutemui empat bulan yang lalu.
Tapi kulihat dibalik dahan Yggdrasil, badai salju masih menanti dibaliknya. Ini belum berakhir, musuh sesungguhnya masih menantikanku dibalik sana.
“Putri Noctis!” sapa suara riang yang mendekatiku.
“Claudya dan…” kataku yang berusaha mengenali laki-laki disamping si merah Claudya, tapi percuma.
“Jun Majio,” kata laki-laki itu menunduk hormat padaku, “Saya adalah salah satu Matrovska yang Putri selamatkan sebulan yang lalu.”
“O-oh, kamu manusia rupanya,” kataku yang menjabat tangan itu dan melihat kedua pemuda itu saling bergandengan tangan, bersama bekas tato kutukan yang pernah mengikat hidup mereka.
“Aku tak tahu kalian berdua ternyata sangat dekat,” kataku tersenyum dan melipat tangan, “Apa mungkin alasan Claudya meminta tolong padaku dulu, adalah untuk menyelamatkan kekasihnya?” tanyaku menodong.
Wajah kedua pemuda itu langsung memerah dan tersenyum manyun. Claudya menepuk -nepuk pundakku dan berkata, “D-Dasar Tuan Putri ini, sukanya menggoda orang. Mana mungkin aku berani mengelabui putri, kan?”
Claudya pun memberikanku sebuah kupu-kupu kristal. Namun berbeda dari yang lain, ornamen kupu-kupu itu begitu indah. Warnanya yang hijau mengingatkanku akan indahnya amta seseorang. Kalau perkiraanku tepat, hmm, kupu-kupu kristal ini dibuat dari varian Bunga Lentera yang sangat langka bernama Lover’s Oath.
“Kamu telah menyelamatkan orang yang paling berarti di hidupku. mungkin benda ini tak bermakna apapun bagi Putri, tapi ini adalah ungkapan terima kasih dari kami,” kata Claudya yang menunjukan kupu-kupu kristal pasangannya,
“Tentu Putri tidak lupa akan tradisi Junon bukan? Ketika masa sulit berlalu, manusia akan mempersembahkan 3 harta karun mereka kepada sang Dewi. Kupu-kupu kristal itu mungkin, ehehe, bisa jadi harta karun yang Putri persembahkan!”
Tertegun diriku mendengarnya. Jujur, telah lama au meninggalkan kota manusia, aku sudah melupakannya. Padahal dahulu, Kakak sangat menyukainya.
“Ungkapan syukur akan berkat yang diberikan, doa untuk perlindungan diri dan keluarga dan harapan akan masa depan yang cerah. Itu simbol yang harus dipenuhi 3 persembahannya kan?” tanyaku yang kemudian mengelus kupu-kupu kristal itu dan tersenyum,
“Terima kasih, Dewi Nyghtingale pasti akan menyukai kupu-kupu indah darimu ini,” kataku yang membuat mata Claudya berlinang.
Sepasang kekasih itu pun pamit padaku melanjutkan perjalanannya menuju kuil Nyghtingale. Kuhela nafasku lega dan menatap tanganku. Sungguh aneh, tangan yang hanya tahu cara menghancurkan ini… dapat menyatukan kedua jiwa yang terpisah. Tapi apakah setetes putih dalam lumpur kegelapan mampu menghilangkan kelam warnanya? Aku ragu.
Melanjutkan perjalananku, aroma lezat menari-nari di hidungku. Berbeda dari aroma becek yang tak sedap kucium empat bulan lalu, di sepanjang jalanan batu yang rapi kini orang-orang memasak masakan terbaik mereka. Dengan senyum gemilang, mereka saling berbagi kepada tetangga mereka dan tertawa dalam kehangatan.
Aku pun berhenti di depan antrian panjang menuju rumah kepala desa, Paman Roger. Penasaran aku pun bertanya pada pemuda disana, apa gerangan yang mereka antrikan?
“Loh, Tuan Putri tidak tahu? Sebelum wajib militer, Paman Roger itu chef terkenal di Junon loh,” kata pemuda yang satu.
“Saking lezatnya, rasa masakan Paman Roger bisa membawamu hingga ke langit ketujuh!” sahut yang lain tak kalah semangat.
“Ho. Si botak kinclong itu ternyata punya sisi yang mengejutkan,” kataku.
Tiba-tiba seseorang mengetuk kepalaku, siapa lagi yang berani melakukannya selain si tidak sopan Paman Roger? Tercengir dirinya menatapku geli, “Heh, emangnya kamu kira aku ini cuma tahu bertarung doang?”
Roger tertawa keras hingga memekakkan telingaku. Dia pun menepuk keras punggungku dan berkata dengan lantang, “Kalau begitu, coba saja pesan! Khusus untuk penyelamat distrik ini, aku, Roger sang Chef bintang lima, akan memasak apapun untukmu.”
“Apapun? Serius? Hmm... Kalau begitu aku pesan hamburger satu.”
“H-Ha? C-Cuma itu? Kamu nggak mau mesan sesuatu yang sulit seperti sushi atau semacamnya?”
Aku mengangguk, “Ya, itu doang cukup kok. Kan seorang Chef hebat harus bisa membuat masakan simpel menjadi luar biasa, bukan?” tantangku.
Roger pun tertawa, “Baiklah! Kalau begitu, aku akan membuatkanmu hamburger yang takkan kamu lupakan selamanya!”
“Jangan kecewakan aku, Paman Roger,” kataku yang mengambil duduk di kursi spesial di restoran jadi-jadian itu.
Sembari menunggu, aku memperhatikan sebuah keluarga yang sedang menyantap lezat makan malam mereka. Anak-anak yang kurus dan kelaparan, kini telah bangkit penuh semangat. Lantang tertawa dan lebar senyuman mereka ketika mengobrol bersama orang tua mereka, membuatku ikut-ikutan tersenyum.
Tetapi kata-kata roger mengusik hatiku. Penyelamat, huh? Apakah solusi plester sementara ini bisa kusebut menyelamatkan mereka? Apakah yang kulakukan sudah cukup untuk menyelesaikan masalah distrik ini? Tidak mungkin. Adalah terlalu sombong bagiku, seorang penyihir munafik ini, untuk menerima sebutan “penyelamat”.
“Ini dia, Hamburger signature Chef Roger,” kata paman Roger yang menyajikanku seuah hamburger besar dengan keju yang meleleh-leleh. Aromanya membuat perutku bergejolak ingin menyantapnya, kilau daging berlapis-lapis itu membuat liurku banjir.
Sebelum kalah oleh godaan, aku pun membungkus hamburger itu.
“L-Loh, Tuan Putri tidak langsung memakannya?”
Aku menggelengkan kepalaku, “Aku ingin mempersembahkannya kepada Dewi Nyghtingale,” kataku yang pun bangkit berdiri.
“H-Ha?! Kok gitu, kan aku bikinnya susah-susah untuk Tuan Putri!”
Tertawa diriku dan menepuk pundak Roger, “Tahu nggak, Paman? Hamburger adalah makanan favorit sang Dewi loh. Pasti, mendapatkan burger selezat ini, Dewi Nyghtingale akan memberkatimu dan usahamu ini.”
Setelah mengucap perpisahan dengan Paman Roger, aku pun melanjutkan perjalanananku. Kini menuju perhentian terakhirku, Pohon Yggdrasil yang baru saja kupanggil di dunia ini. Di bawah dahannya yang rindang, aku pun duduk disana, memandangi gersang halaman yang terhampar di depanku.
Tak ada seorang pun, tak ada seekor serangga pun disana. Hanyalah aku sendiri dan dirimu di tengah keheningan ini.
Kulepas kupu-kupu kristal pemberian Claudya dan membiarkannya terbang di dahan-dahan Yggdrasil. Terang warna hijaunya menjadi kontras putih terang pohon kristal itu. Ia menari dengan lincah, sama sepertimu yang dahulu ada disiku.
Masih teringat aku, di dalam palunganku, tubuhmu yang mulai dingin itu menyentuh wajahku. Dengan senyuman bodoh yang selalu ingin menghapus kekhawatrianku, kamu pun berkata,
“Aaaah, ingin sekali aku… makan hamburger buatan Mama lagi.”
Kini, seolah menggantikan peranmu, aku pun menggigit hamburger itu. Gurih yang epcah di lidahku menari-nari bersama bumbu pedas yang memanjakan perasaku. Begitu lezat hamburger itu, perlahan menghapus rasa yang dahulu menjadi kehangatan keluarga kita.
Aku pun semakin menyadari, masa-masa itu telah jauh dari jangkauanku sekarang. Kepolosan masa kecil yang kini terganti oleh relatia dewasa yang sinis. Pohon ini adalah simbol dari dusta yang menutupi kebenaran tentangmu. Sebuah perjuangan sia-sia bagiku yang tak ingin melepaskanmu.
Apakah mungkin, seperti kata Arthur, bila aku melepaskan obsesiku akan dirimu, hidupku akan menjadi lebih baik? Akankah aku dapat mengerti kebahagiaan dan cinta bila aku kehialngan dirimu?
Tapi, disatu sisi bila aku kehilangan ingatan terakhirku akan dirimu, maka apalagi yang kumiliki, Mentari?
“Mengapa Putri menangis?” kata Lumina yang muncul di depanku.
Terkejut diriku segera menghapus air mata dengan lengan bajuku, sebelum wanita lembut itu menghapusnya dengan sapu tangan.
“Bukankah harusnya kamu mencari Arthur, Lumina?”
Lumina tersenyum lembut dan duduk disampingku. Dia pun melihat canti kupu-kupu kristal yang kulepas dan berkata,
“Untuk apa aku repot-repot mencari jawaban, ketika ia akan datang dengan sendirinya?”
“… Sepertinya kamu sudah mengerti.”
Lumina mengangguk, “Putri Bulan… Kamu adalah musuh dunia yang sebenarnya.”