
—14—
“Ma Dame… Uh, karena aku sudah menjadi Asistenmu, apakah aku boleh memanggilmu, Putri Noctis?” tanya Lumina saat kami keluar dari laboratoriumnya.
Hmmm, kenapa ya semua orang di distrik ini suka sekali memanggilku Putri Noctis? Padahal itukan sebutan yang mereka berikan pada Kakakku. Bodo amatlah.
“Semua orang sudah terlanjur memanggilku begitu,” jawabku.
Lumina tertawa kecil, “Soalnya Putri Mahkota telah lama memimpin kami. Melihat seseorang yang mirip sekali dengannya, lidah kami latah memanggilmu Putri Noctis.”
“Mirip darimana? Kakak jauh lebih cantik dariku,” candaku yang pun membuka pintu keluar.
Lautan buku pun menyambutku. Buku-buku tersusun asal-asalan, melingkari tembok menara itu hingga di puncak. Di dasarnya, bagaikan barusan diterjang badai topan, kertas-kertas dan buku berceceran dimana-mana. Bahkan, tempat tidur sang dokter itu pun hanyalah tumpukan buku yang dibalut seprai. Tapi di satu sisi menara itu, ada beberapa bed putih yang bersih dan peralatan medis yang lengkap.
Sungguh berbeda dengan Luciel yang rapi dan teliti, Lumina adalah Homunculus yang jorok dan teledor!
"H-Hadeuuh, maaf ya Putri Noctis. K-kalau tahu anda akan datang, aku sudah membereskan rumahku lebih baik. Sebelum pulang, Putri mau teh? Akan segera saya bua--aaahh!!" katanya yang kemudian terjatuh karena tersandung buku dan matanya berkaca-kaca menahan sakit.
Astaga, ceroboh sekali Homunculus ini. Dia tidak sadar tubuhnya itu dibangun dengan bahan-bahan langka yang harganya sampai seribu keping emas?
"Uh... tenanglah, aku udah mau pulang kok. Kalau Luciel tak melihatku bekerja pagi ini, bisa-bisa perang dunia keempat pecah di toko,” kataku menawarkan tanganku.
Lumina menggelengkan kepalanya, "Tidak-tidak-tidak. Sebagai tuan rumah yang baik aku harus menyediakan kudapan untuk Putri!" katanya keras kepala mencoba berdiri sendiri.
“Eeeh, seriusan, nda usah repot-repot. Aku—,” kataku yang tiba-tiba mengendus aroma familiar di Klinik itu.
Bau besi dan anyir darah berpadu dengan campuran sebum yang dihasilkan kulit manusia. Tidak aneh mencium bau anyir darah di klinik seorang dokter, apa mungkin Lumina sedang melakukan otopsi?
Mengikuti aroma itu, aku pun menemukan sebuah jendela terbuka lebar disana. Tapi aroma itu belum pergi dari ruangan ini, dia ada di—
“Tuan Putri!” teriak Lumina yang segera melindungiku dari tebasan pedang sabit seorang Matrovska. Tajam pedang itu merobek kulit sintetis tangan Lumina, menunjukan besi dan kabel-kabel rumit yang menyusun tangannya.
Mata Lumina pun menyala saat dia berucap, “Lightning Burst.”
… Elemen listrik?
Bagaikan kilat, gadis itu bergerak cepat ke belakang sang Matrovska. Cekatan dia mengambil lengan sosok gelap itu dan membantingnya ke lantai, lantas menguncinya dalam satu tempo yang cepat. Terpukau diriku, tak percaya seorang dokter mahir bela diri seperti Lumina.
“Araraa, pantas saja Arthur berani berkelana sendirian, ternyata dia punya pelindung yang sangat handal,” kataku yang melirik tato jeruji besi yang melingkari tangan sang Matrovska. Hmm familiar sekali, dimana aku pernah melihat tato itu ya?
Lumina membuka roknya dan mengambil sebuah belati disana. Tanpa babibu, gadis itu segera menarik kepala Matrovska itu dan membelih arteri karotisnya. Tak ada sekalipun keraguan dan penyesalan mewarnai mata gadis itu, meskipun darah mewarnai tangan dan wajahnya.
Apakah sebagai dokter dia terbiasa melihat kematian atau sebagai pelindung Arthur, dia terbiasa menghabisi musuhnya?
Homunculus yang sangat menarik… tapi sangat gegabah. Sekalipun musuh, Matrovska lebih berharga hidup daripada mati. Soalnya, seonggok mayat tidak dapat memberikan informasi yang kuinginkan.
“Seorang dokter tapi tak segan-segan mencabut nyawa seseorang. Apakah tanganmu yang penuh darah itu pantas menolong orang lain?” kataku memperhatikan dokter itu memandangi musuhnya mati perlahan.
“Ada nyawa yang pantas untuk diselamatkan, tapi juga ada yang pantas untuk dicabut,” kata Lumina yang berdiri dan membersihkan belati dengan sapu tangannya dengan handal.
Aku melipat tanganku terkejut dengan jawaban dokter itu, “Hohoo, jadi kamu punya kuasa untuk menentukan hidup dan mati seseorang?” tanyaku yang pun tersenyum meringis,
“Seperti si Ereshkigal saja.”
Lumina menekuk alisnya, “Lumina tidak sesombong itu menyamakan dirinya dengan sang Dewi. Kalau Tuan Putri berani menyebut nama sang Dewi tidak hormat begitu, apakah Putri tidak percaya pada Dewi Nyghtingale?” tanya balik dokter itu.
Hmm, tidak ada yang tahu nama panjang sang Dewi kematian adalah Nyghtingale Ereshkigal. Kecuali… seseorang yang sudah bertemu dengannya.
“Oh, aku orang yang paling percaya pada Dewa-Dewi. Aku pernah melawan mereka,” kataku.
“Putri ada-ada saja, mana ada orang yang pernah bertemu dengan sang Dewi?” balas Lumina.
Penasaran, aku pun membuka pakaian mayat itu dan terkejut melihat seorang perempuan dibaliknya. Dingin tubuh gadis itu dengan lebam merah cerah di punggung dan paha belakangnya. Tanpa aliran sihir, tubuhnya kini menjadi kaku layaknya seperti patung.
“Lebam mayat? Dia sudah lama mati. Dan bau dari mulutnya, almond… apakah perempuan ini seorang tahanan yang dihukum mati dengan sianida?” komentar Lumina yang ikut memeriksa mayat itu,
“Ssh… tato-tato di sekujur tubuhnya ini maish berwarna kemerahan, tanda penyembuhan. Kejam sekali, mereka membubuhi tato ini saat gadis ini masih hidup. Tapi, apa maknanya ya Putri?” lanjutnya.
Aku memicingkan mataku membaca huruf kuno yang menyusun jeruji hitam di sekujur tubuh perempuan itu. Huruf kuno itu ditulis kaku dan jelek sekali, seolah ditoreh oleh penyihir amatir sambil membaca manual. Yah, sihirnya bekerja sih, tapi tak sekuat seharusnya. Bila dia bekerja sepenuhnya, mungkin Lumina dan diriku akan kesulitan menghentikan Matrovska itu.
“Heemm, imitas Homunculus yang murahan, Soul Prison. Kamu tahu tiga komponen yang menyusun tubuh manusia? Pikiran, tubuh dan jiwa. Ketika tubuh dan pikiran mati, jiwa meninggalkan tubuh untuk kembali ke sungai kehidupan, ” jawabku yang membuka tasku dan mencari-cari alatku,
“Jiwa pada dasarnya adalah sebuah energi, bila seseorang menutup jalannya keluar dari sebuah tubuh, energi itu dapat dimanfaatkan seorang penyihir untuk menjadikannya boneka yang setia,” lanjutku menyiapkan reagen-reagen lalu mengambil darah Matrovska itu.
“Putri mau bilang… gadis ini dibangkitkan dengan sihir Necromancy? Tapi, bukankah Asosiasi Sihir sudah lama melarang praktek sihir itu? Penyihir yang berani melakukannya kan bisa dihukum mati?”
“Asistenku yang manis, kamu sedang berada di Pei Jin bukan Kinje,” kataku yang menuangkan darah Matrovska dalam sebuah cawan conway dan hati-hati meneteskan reagen Evermemoria di dalamnya. Partikel-partikel biru pun bersinar dalam darah itu, kusebarkan hingga merata dengan memiring-miringkan cawan conway itu perlahan.
“… Maksud Putri—“
“Ssst, di Pei Jin, bayangan punya telinga. Bagaimana jika dengan mata kita sendiri, kita melihat apa yang terjadi pada perempuan ini?” kataku yang memperhatikan kabut biru perlahan muncul memenuhi cawan conway itu, yang kemudian kulepas hingga mengepul di udara.
Mata lumina bersinar-sinar penuh kagum melihat kilat-kilat sihir muncul dari kabut biru itu, perlahan membentuk gambar-gambar ingatan seperti sebuah film.
“Ini… ingatan perempuan itu?” tanya Lumina.
Tatapan mata Lumina tulus baru pertama kali melihat teknik itu. Aneh sih, kukira dia adalah pengelana dunia yang kucari. Tapi sepertinya kecurigaanku salah total. Teknik ini kutemukan saat menjelajah dunia keseribu satuku. Bila Lumina tak pernah melihat teknik ini, berarti dia belum pernah ke dunia yang telah kuhancurkan sebelumnya.
Hmm, Lumina mengenali nama Dewi Kematian itu cuma kebetulan saja? Atau mungkin… seseorang memberitahunya?
“Lumina, sama seperti Pikiran, Jiwa juga merekam ingatan, meskipun hanya momen yang sangat membekas bagi orang itu. dengan reagen Evermemoria, seorang ahli Alkimia sihir mampu mengakses ingatan itu,” kataku yang menaruh cawan conway itu di lantai dan berdiri,
“Yah, meskipun maksimalnya cuma tiga detik sih, apalagi dengan sampel udah agak busuk begini… Semoga saja ya, kita dapat melihat siapa dalang yang mengubah perempuan malang ini menjadi zombie,” lanjutku.
“O-Oh, aku hampir lupa, Tuan Putri adalah ahli alkimia sihir yang lebih jago dariku,” celetuk Lumina.
“Kurang ajar. Emangnya kamu kira aku dilantik menjadi Penyihir Putih karena apa?”
“Pintu belakang?”
Y-Yaaa… benar juga siiihhhh. Kalau saja Ma Dame Fan tidak punya agenda khusus untukku, aku takkan berada di radar matanya. Tapi mendengarnya langsung, hatiku cukup tergelitik.
“Kenapa… Kamu sudah berjanji—“ tiba-tiba terdengar suara.
Gambar dari kabut biru pun telah sempurna. Disana aku melihat tangan yang memegang sebuah pedang hingga berdarah, menahannya untuk tak menikam jantung perempuan itu.
Sebelum menyelesaikan perkataannya, pedang itu pun ditarik paksa dari genggaman tangan perempuan itu lantas menghujam dadanya. Sebelum gambar kabut biru itu menghilang, aku dapat menangkap warna pedang itu, merah dengan huruf kuno yang menyala terang menjadi namanya.
Orion, pedang haus darah dengan kutukan yang mencegah penyembuhan luka di setiap tebasannya.
Lumina menggaruk-garuk canggung, “S-Sepertinya… teknik Evermemoria tidak berguna ya. Dari sekilas gambar itu, kita bahkan tak bisa melihat wajah pelaku pembunuhnya, apalagi penyihir yang membangkitkan perempuan ini,” katanya.
“… Tidak juga. Ini informasi yang sangat penting,” kataku membekap mulutku berpikir keras dan menutup mataku.
Kenapa pedang Kakak ada di dunia ini?
Kubuka mataku dan berkata, “Lumina, sebarkan ini ke seluruh warga distrik tanpa nama. Siapapun yang dapat menyerahkan sosok yang mereka curigai sebagai Matrovska, akan dihadiahkan 1 keping emas.”
Lumina terhenyak, “S-S-S-Serius? T-Tunggu Putri, coba pikirkan baik-baik. Itu bukan cara yang efisien untuk melacak para Matrovska!“
“Tenang saja, aku punya rencana, Asistenku.”