
— 17 —
Hujan menyentuh pipiku, membangunkan sayu mataku. Dingin merayap dari jemariku menuju jantungku, saat cairan hangat perlahan keluar dari hidung dan mulutku. Kabur amtaku dapat melihat seseorang menggendongku. Seorang penyihir dengan rambut ungu yang indah, tetapi mengenakan topeng tengkorak untuk menyembunyikan wajahnya.
“Aku mohon, tolonglah anak ini. Aku akan memberimu segalanya, Dok!” pinta Khanza kepada kumpulan orang dengan jas terlalu putih.
“Kau buta? Liat, mana ada bed untuk anak itu disini. Cari tempat lain,” bentak seorang laki-laki besar pada Khanza. Padahal meski sayu… aku dapat melihat masih ada beberapa bed kosong tersembunyi di belakang.
“Gemetar Khanza menggertakkan rahangnya, “Aku sudah kesana kemari.. dan tak ada rumah sakit yang menerimanya,” lantas Khanza menjawab dan mendekati laki-laki berbadan besar itu, “Apakah karena aku… kalian tak ingin menolongnya? Chrysant bukanlah aku… Chrysant adalah manusia!”
“Kalau mau cari ribut jangan disini, Penyihir!”
Tetapi laki-laki berbadan besar itu mendorong Khanza hingga ia terjatuh. Sempat penyihir itu melindungiku dari kasarnya aspal. Pintu dihantam di depan wajahnya hingga membuat Khanza terisak, “Bila saja… aku mengerti obat manusia. Aku pasti akan menolongmu. Tapi... aku bukan manusia.”
Tapi, penyihir itu menggelengkan kepalanya.Dia pun bangkit dan menemukan jalan yang ramai. Meski membawa anak gadis dengan darah mengucur, keramaian itu hanya bergidik ngeri menatapnya. Tak ada satu pun yang memiliki niat untuk menolongnya… bahkan sekedar bertanya. Semua pintu tertutup, bahkan teras untuk berteduh pun menolaknya dengan sumpah serapah yang ia terima dengan pahit.
Pada akhirnya di bawah rindang pohon beringin, Khanza memelukku dengan erat. Gemetar tubuhnya sambil terus menerus berucap,
“Maafkan aku… maafkan aku Chrysant. Setelah segala yang kamu beri padaku… aku bahkan tak dapat menolongmu.”
Lemah tanganku menyentuh topeng tengkorak itu dan membukanya. Dibalik topeng itu, tersembunyi wajah yang akan membuat semua orang meringis ngeri menatapnya. Luka bakar menghabiskan separuh wajah Khanza, dengan berbagai bekas luka lama menjamahnya. Hanyalah ungu matanya yang tersisa, menitikkan air mata penyesalan.
Ada kata-kata yang ingin kuucapkan, tetapi saat sampai di ujung lidah, kata-kata itu menghilang. Pandangan mataku kian redup dan telingaku pun berdenging. Tetapi sebelum mataku tertutup, aku pun mendengar suara tapak kaki samar-samar dan bibir Khanza berucap,
“Lady Luciel…?”
Terbangun diriku dengan keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku. U-uughh… Seperti kapak menghantam kepalaku, nyeri kepala menyergap. Mimpi aneh ini semakin lama semakin menyebalkan.
Aku tak megnerti sama sekali, mimpi itu terasa seperti sebuah ingatan dalam diriku. Apakah mungkin aku mengenal Khanza sebelumnya? Tapi, Khanza dalam impi itu tampak sangat menyayangi sosok Chrysant…. beda jauh dengan Malice jahat yang kutemui disini. Tidak, tidak mungkin. Mimpi itu mungkin saja hanya ilusi yang alhir oleh distorsi waktu yang tercipta di kota aneh ini. Jangan terpengaruh, Chrysant!
“… Saber… jangan pergi…”
Terdengar igauan Dagger yang tertidur disampingku. Garis air mata mengisahkan saat gadis itu menangis tersedu-sedu, ketiksa Saber memarahinya habis-habisan setelah kami kembali ke tempat persembunyian. Mereka berdua pun bertengkar hebat hingga saling membentak satu sama lain. Pada akhirnya, Dagger yang tak tahan pun lari ke biliknya dan menangis disana hingga tertidur.
Kuelus rambut emas Dagger dengan lembut dan menenangkan gadis itu. Tiba-tiba telingaku mendengar suara langkah kaki yang keluar di halaman gedung. Kuintip di balik jendela, melihat Saber pergi diam-diam.
Hmm, kemana laki-laki itu pergi? Penasaran, aku pun mengenakan seragamku dan mengikutinya.
Mustahil untuk membedakan malam dan pagi ketika Chrysant berada di Underworld. Kelam awan hitam menutupi matahari dan rembulan, tiada listrik yang menyalakan lampu-lampu jalanan. Tapi karena jantung Malice di dadaku, aku dapat melihat malam sejelas siang dan dapat melangkah tanpa sebuah lentera, mengikuti Saber. Namun… Chrysant tak percaya, pemandangan miris yang akan kutemukan.
Bila ada rembulan bersinar, apakah Chrysant akan memandang lukisan itu sebagai ironi yang mengiris hati ataukah sebuah yang penuh dengan keindahan? Hanya ditemani lentera birunya, seorang laki-laki berjubah hitam duduk bersimpuh di depan dua kuburan temannya yang gugur. Pelan ia mengangkat cangkirnya, menawarkan tuak manis untuk mengantar jiwa mereka kembali ke palungan Sang Dewi. Gemuruh badai abu yang terdengar berderum namun tak ada tangisan, tak ada canda tawa, hanyalah seorang yang melepas temannya pergi.
“Mengapa membahayakan diri untuk melakukan ritual yang sia-sia? Mereka yang mati takkan dapat mendengar dan merasakan apa yang kamu katakan,“ tanyaku yang kemudian dipotong oleh beling angin yang mengusik mata.
Dengan matanya yang garang, mengancam dengan biru irisnya, laki-laki itu melirik Chrysant. Air muka saber yang dewasa dan serius, mengingatkanku pada pesona pangeran pendendam dalam Manhwa kolosal kesukaanku. Apalagi, dengan rambut emas panjang yang diikat kucir kuda itu! Bikin jantung Chrysant berdebar saja, eh, tunggu… A-aku nomong apa sih?! Argh.
“Apa urusanmu?” cibir laki-laki itu.
Heh, pria sombong itu. Kuambil seonggok Magicite yang kuambil dari pertarunganku melawan Predator dan melemparkannya ke Saber.
“Aku rasa itu bukti yang lebih dari cukup untuk menunjukan pangkatku padamu, Lightbearer,” kataku yang memasang lencana cadanganku di seragamku dan menunjukannya dengan senyum bangga.
“Dan, ada Malice tipe S lain bersemayam di perut kota ini,” tambalku yang pun duduk disamping Saber, “Menurutku rencana yang Dagger ajukan adalah kesempatan terbaik kita untuk keluar dari lubang setan ini,” lanjutku.
“Kamu tak bisa membohongi mataku. Ada sesuatu yang kamu sembunyikan,” kata Saber.
Aku tertawa hampa, “… Saber yang kukenal bukan pria tajam sepertimu,” kataku yang kemudian menceritakan perjanjianku dengan Khanza. Lagipula, aku tak menemukan alasan untuk merahasiakannya dari Saber.
Sempat kehabisan kata-kata, Saber membekap wajahnya sejenak lantas berkata, “Bagaimana kamu bisa memastikan, Malice itu takkan berbalik menyerang kita?”
“Aku tahu… Khanza bukan seseorang yang mengingkari perkataannya,” kataku berdasar dari keyakinan yang di akal sehatku sendiri, tidak masuk akal. Tapi hatiku berkata yang lain.
“Serius? Kamu akan menyeret banyak orang dalam situasi beresiko, hanya berdasar perasaanmu saja?” tanya Saber lagi.
“Untuk menyelamatkan Dagger dari tempat ini, meskipun aku harus menjual jiwaku pada sang iblis, aku akan melakukannya,” kataku mengeratkan kepal tanganku. Lagipula, dengan kekuatanku sekarang ini, mustahil untukku membawa pulang Quartz Bulan tanpa bantuan Khanza.
Saber pun menghela nafasnya panjang dan menyisip tuaknya. Lama dia terdiam memperhatikan pusaran badai di langit, yang senada dengan air wajahnya saat itu.
“… Kamu paham perasaan yang muncul saat melihat seseorang yang kamu sayangi mati di dekapanmu… Tapi kini dia hadir kembali di hidupmu?” kata Saber.
Mungkin alkohol atau mungkin sendu malam itu membuka hati Saber untukku. Tak kusanga, Saber pun menceritakan apa yang terjadi di lini waktunya.
Dnia yang sama sekali berbeda dari yang kutahu. Dunia yang penuh dengan ketidakadilan dan keserakahan. Di lini waktu Saber, tidak semua penduduk Black Company dilahirkan setara. Mereka yang tidak dapat menggunakan sihir selamanya terkutuk menjadi kasta terbawah, yang diinjak oleh tirani para pengguna sihir. Termasuk Saber dan Dagger. Berada pada margin terbawah tidak punya pilihan lain selain mencoba mengais segala kesempatan yang ada untuk tetap hidup di sistem kapitalisme yang kejam. Yatim piatu, kedua anak itu nekat hingga mencuri dan berkelahi di jalanan, hanya demi sesuap nasi.
Namun suatu hari, sebuah organisasi hadir memberikan cahaya harapan bagi mereka, White Order. Organisasi itu memberikan kesempatan orang-orang terbuang dan tak dapat menggunakan sihir, bangkit meningkatkan taraf hidup mereka… Dengan menginjeksikan Sel Malice Tipe S, The Warden di dalam tubuh mereka. Ingin hidup lebih baik, kedua kakak beradik itu pun setuju mengikuti penelitian itu.
Sel The Warden yang disuntik ke dalam tubuh mereka, dengan ganas bermutasi dalam sel sirkuit sihir menjadikan mereka makhluk setengah Malice dan setengah manusia yang disebut Daemon. Kekuatan besar pun mereka raih, mungkin hampir setara dengan Penyihir kelas tinggi. Namun, … White Order tak pernah mengatakan tujuan utama mereka ternyata untuk menciptakan penyihir terkuat yang pernah ada. Dan demi tujuan itu, mereka mengadudomba para subyek penelitiannya dalam pertarungan hidup dan mati.
Mungkin dewa-dewi menyukai drama tragedi, ektika takdir mempertemukan Saber dan Dagger dalam pertarungan itu. Menolak menyakiti satu sama lain, para Penyihir White Order pun menyuntikkan senyawa yang mencuri akal sehat mereka. Adrenalin pun emgnucur dan dalam sekejap gelap mata Saber.
Yang ia tahu.. saat tersadar, Saber telah membunuh Dagger.
“Bagiku, dunia ini adalah keajaiban yang diberikan Black Company. Hidupku yang selama ini hanyalah senjata yang diperalat untuk menghancurkan segala sesuatu, kini melihat mimpi untuk pertama kalinya. Adikku… masih hidup dan tumbuh menjadi sosok yang ceria meski aneh,” kata Saber yang menyalakan rokoknya dan menghisapnya nikmat.
Setelah menghembuskan asap rokok itu Saber pun melanjutkan, “Atau mungkin… ini adalah hukuman sang Dewi untukku kehilangan Dagger sekali lagi. Aku… Takut hanya untuk membayangkannya saja.”
Hmm… Jadi itulah alasannya mengapa Saber begitu overprotektif pada Dagger. Dia hanya ingin memperpanjang waktunya bersama dengan adiknya itu, meskipun mengorbankan orang lain. Egois sekali… tapi, aku dapat mengerti perasaannya.
Kutepuk pelan pundak laki-laki itu, “Atau mungkin, ini adalah kesempatan bagimu untuk menebus kesalahanmu di masa lalu, Saber. Di dunia ini, di distorsi waktu ini, mungkin Black Company ingin melihatmu, kali ini… berhasil melindungi adikmu,” kataku yang kemudian meminjam kata-kata dari seseorang yang nyebelin,
“... Saat kamu akan memilih untuk melindungi orang yang kamu sayangi atau menyelamatkan dunia ini… Kamu takkan menyesal bila memilih kata hatimu. Saber, serahkan semua ini padaku. Kamu fokus saja membawa Dagger dan lainnya pergi dari kota ini.”
"Tunggu, kamu ingin mengorbankan dirimu demi kami?” tanya Saber bingung.
Chrysant pun tersenyum, “Nggak dong. Kamu tak pernah dengar ya? Aku, adalah Ruin Hunter, penyihir yang dijuluki punya sembilan nyawa. Apapun yang terjadi, sesulit apapun misi itu, pasti aku akan selamat dan membawa hasil yang memuaskan!” kataku yang menepuk dadaku dengan bangga.
Saber mengacak-acak rambutnya dan setelah berpikir sejenak, dia pun berkata, “… Maaf.”
Mengertii keputusan laki-laki itu, aku pun berdiri dan menunjuk kepalku di langit, “Sudah menjadi tugas Pathfinder untuk menemukan jalan untukmu, Lightbearer!.”