Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Untukmu Dunia ini akan Kuhancurkan


Mengapa aku ingin menyelamatkan dunia ini? Apakah hanya karena aku menginginkan perhatian dari Mutter?


Tidak… Bukan itu. Hatiku menolaknya. Bila aku sungguh ingin menyelamatkan dunia, harusnya aku langsung menyebarkan Mutterbeweisen secara cuma-cuma. Tetapi yang kulakukan adalah menjual obat itu, mengais keuntungan yang sangat banyak dan terus berkelana dari satu kota ke lainnya. Puluhan wabah kuhempaskan, bukan dengan Mutterbeweisen, aku menyembuhkannya dengan obat-obatanku sendiri.


Bila begitu apakah yang kucari? Apakah kekosongan yang selama ini menghantui hatiku? Apakah… kekosongan itu bernama Cinta? Apakah aku menolong banyak orang, berharap salah satu dari mereka mengisi kekosongan itu?


Apakah sama dengan Nygthingale, aku pun juga mencari cinta sejati?


Tapi, apa itu cinta sejati?


Apakah demi Cinta, seseorang boleh  untuk melukai orang lain? Apakah dengan Cinta, segala dosa yang kulakukan, segala hidup yang telah kuambil dapat kembali seperti semula? Apakah sungguh yang kuinginkan di dunia ini adalah Cinta… Hingga dia mendorongku untuk membunuh Qrista?


Bukan, bukan itu!


Saat akan mengambil pedang Artemisia itu, aku pun mengepalkan tanganku dan menariknya. Kugelengkan kepalaku dan menjawab,


“Tidak, bukan ini yang kuinginkan. Cinta sejati yang kamu inginkan, tidak akan terwujud dengan pertumpahan darah seseorang. Bukankah dari akhir hidupmu, kamu paling paham tentang itu?”


Nyghtingale dengan handal memainkan pedang itu lalu dengan lembut dia menyentuh pedang itu dari pangkal hingga keujung,


“… Kamu sangat benar. Yang ada di depanmu adalah seorang penyihir yang telah melukai terlalu banyak orang yang ia sayangi untuk kembali ke titik kosong awal. Tetapi, kamu pun sudah terlanjur jatuh ke jalan yang sama, sepertiku. Setelah seorang Malaikat sepertimu merasakan manisnya darah, hasrat akan menuntunmu untuk mencari mangsa lebih. ” katanya yang terlihat lega,


“Kamu tidak akan dapat menikmati makanan manusia lagi, kamu tidak akan bisa berdiri di siang hari lagi, dan kamu tak akan merasakan kehangatan lagi. Pada akhirnya kamu hanyalah cawan kosong yang bocor, ingin diisi oleh cinta dan ambisi hampa… hingga kamu sendiri akan melukai orang yang kamu sayangi.


Itu adalah kutukan yang kita terima oleh ketamakan akan kekuatan. Kutukan yang mengalir di darah seorang Noctis.”


Saat aku memberanikan diri menatap wajah dari kegelapan itu, barulah aku tersadar. Betapa kesepian dan menyedihkannya wanita itu. Dia telah mendapatkan kekuatan absolut, menjadi seorang dewi. Dia adalah segalanya, tapi disaat yang sama dia bukanlah kehilangan segalanya.


Aku… tak ingin berakhir seperti Nyghtingale.


“Apakah kamu tahu arti dari Cinta Sejati itu… I-.. Nyghtingale?”


Nyghtingale tertawa kecil, “Berbeda darimu, aku tidak dibesarkan oleh sepasang manusia. Lebih tepatnya, aku diciptakan memalui penelitian demi penelitian sihir. Sejak detik aku bisa berdiri di dunia ini, takdirku telah ditetapkan… untuk menjadi Dewi Kematian yang dibenci dan ditakuti oleh semua orang,” katanya yang melipat tangannya menahan amarah,


“Aku telah merasakan berbagai ekspresi menyakitkan yang dinamakan ‘Cinta’.. dan sebagai seorang anak tanpa pengarahan, aku telah mencapai kesimpulan tentang definisi cinta. Yakni untuk mencintai, ialah untuk menyakiti dan dalam penderitaan, ialah keselamatan.


Sebab kita semua di hidup ini bukanlah mencari kebahagiaan, melainkan penderitaan yang familiar. Yang kita cintai adalah rasa aman dari familiaritas itu.”


Arus lautan gelap itu tiba-tiba berderu dengan kencang. Ombak besar pun hadir mengguncang perahu kami, bersama guntur dan badai yang mengamuk. Namun di tengah kekacauan itu, Nyghtingale berdiri dengan tegap, sekalipun tak bergeming. Seolah telah terbiasa dengan kekacauan itu.


Melihatnya… sekali lagi membuatku merasa, seolah menatap diriku sendiri di masa depan. jika aku memilih jalan kebencian yang sama dengan Nyghtingale, apakah aku juga akan berakhir di tempat gelap ini snedirian? Tersiksa oleh dosa dan penyesalan, dan selamanya takkan pernah merasakan hangatnya hidup?


Aku… menolaknya. Aku… tidak ingin hidup seperti itu!


“Mari bertaruh!” teriakku, mencoba menyeimbangkan diri di perahu yang terombang ambing itu.


Petir menyambar, sekilas menyibak kegelapan yang menyelimuti utbuh Nyghtingale. Sekejap aku dapat melihat matanya melotot dan tersenyum menyeringai, melihatku.


“Bulan ingin bertaruh dengan sang Langit malam?” tanya Nyghtingale, dia pun memegang perutnya dan tertawa terbahak-bahak, “Menarik sekali! Di tengah kekosongan ini, suatu kebodohan kecil darimu menjadi penghiburku. Apa yang kamu ingin pertaruhkan padaku?”


“Bila aku dapat menyelamatkan dunia ini, tanpa harus mengorbankan seorang pun yang aku sayangi, maka kamu harus berhenti menjadi Dewi Kematian dan bekerja untukku!” kataku, yang mungkin saja sudah gila.


Aku ingin menunjukan padanya, dan juga pada diriku sendiri, bahwa monster seperti kami pun bisa menemukan Cinta! Kami pun, dapat terbang bebas di udara, terbebas dari rantai yang menahan kami.


“Mengapa?” tanya Nyghtingale.


Aku mengepalkan tanganku dan berteriak, “Definisi cinta yang menyakitkan seperti itu, sampai mati pun aku akan menolaknya!”


“Meskipun kamu sendiri tak mengerti apa arti cinta itu sebenarnya?”


“Bodo amat! Yang kutahu hanya satu, bahwa definisimu itu salah,” teriakku layaknya bocah keras kepala, yang menolak nasehat ibunya. mungkin hal itu yang membuat Nyghtingale tertawa geli padaku.


“Oh Bulan, Bulan. Kamu mengajak kelahi orang yang salah. Aku adalah Nyghtingale Ereshkigal, sang Penyihir tekruat yang pernah hidup di muka dunia. Bila aku yang memenangkan pertaruhan ini, kamu akan kurantai dan selamanya hidup bersamaku dalam kekosongan ini,” kata Nygthingale yang mengulurkan tangannya padaku,


“Bulan, untukmu dunia ini akan kuhancurkan. Aku akan menunjukan padamu bahwa definisi cintaku adalah benar.”


Saat menyalami tangan Nyghtingale, bukan ketakutan yang memenuhi hatiku, melainkan keinginan menggebu-gebu. Rasa semangat asing yang selama ini tak pernah kurasakan. Eforia menentukan takdirku sendiri, dan mengendalikannya. Kini aku bukanlah Putri Bulan yang dikendalikan oleh Mutter, dengan harapan yang tak pernah kudapatkan.


Aku telah menjadi Daemon Bulan, gadis yang menulis takdir dengan tangannya sendiri.


———— + ————


Telah lama hujan mengguyur tubuhku. Di tanganku aku membawa yang tersisa dari tubuh Qrista, menuju Benteng Villenburg. Sesampainya disana, Luna tersentak kaget hampir jantungan, dan menunjuk gumpalan daging di tanganku dan juga noda darah yang membasahi gaunku.


“K-K-K-Kamu memang g-g-gila ya! R-Rambut putih itu, kulit pucat itu… Bukannya menjadi Body double putriku, k-k-kamu malah-” teriaknya.


Aku mengangguk, “Iya, aku sudah gila. Karena itu, aku memiliki sebuah permintaan gila padamu, Luna. Bantu aku membangkitkan orang ini,” kataku.


“Mustahil! Tak ada sihir yang dapat membangkitkan orang yang sudah mati, bahkan dengan obat seribujuta penyakit pun dari Sang Daemon Bulan pun, mustahil!”


Kusentuh dahiku dan bersamanya sebuah kristal hitam pun muncul. Dari dalam kristal itu terdengar sebagian ingatan yang kucuri dari Qrista, meski sebagian lainnya terbakar habis.


“Seorang Noctis selalu berhasil melakukan hal yang mustahil bukan? Apalagi… jika kamu memiliki seorang alkemis jenius sepertiku… Dan mekanik jenius seperti Mutter,” kataku yang menunjukan kristal itu pada Luna, “Orang yang barusan kubunuh ini pun, adalah asset yagn sangat berharga bagi Black Company yang dimiliki oleh Mutter. Dia adalah Qrista oedellia.”


“Oh begitu rupanya ya. Lagi-lagi, putri sontoloyo itu menjebakku, hiiish! Tak ada yang mem-briefingku tentang tugas seberat ini… hah! Aku harus meminta bayaran lebih,” kata Luka membekap wajahnya, “Kamu… adalah Daemon Bulan, penyihir yang telah mengganggu rencana Ratu Noctis selama dua tahun ini,” lanjutnya.


Memotong air hujan ygn jatuh, Luna mencabut pedangnya dan menghentikannya tepat saat menyentuh leherku,


“Nona Clair, mengapa aku harus menuruti permintaan musuhku?”


Kuperhatikan Luna dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Walaupun seorang pelayan, Luna mengenakan gaun dan perhiasan trendi, seperti anak-anak muda pada umumnya. Tingkahnya yang pemalas dan suka mengeluh, memberikan kunci penting tentang dirinya. Walaupun dia seorang boneka yang diciptakan Keluarga Noctis, Luna sangat membenci pekerjaannya.


“Aku bisa membayarmu lebih baik. Tiga keping emas sebulan, dengan kerja hanya empat jam selama 4 hari. Dan lebih baik lagi, pekerjaan ini akan memberikan nilai, yang membuatmu semangat untuk bangun tiap paginya,” kataku.


Luna menekuk alisnya, sepertinya dia memakan umpanku, “Terlalu manis untuk jadi kenyataan. T-Tapi, p-pekerjaan seperti apa maksudmu?”


Aku pun tersenyum professional, “Start-up yang akan mengguncang dunia ini. Satu-satunya agensi yang dapat membangkitkan orang yang sudah mati. Hmm, bagaimana jika kita menyebutnya sebagai…


Bunga Lentera.”