
“Jangan mencintai, jangan percaya pada siapapun dan terakhir… jangan pernah melupakan siapa dirimu sebenarnya,” gumamku sembari mencabuti mahkota bunga es, yang kuciptakan dari darahku. Satu persatu, berulang-ulang kali, sembari mengulang kata-kataku.
Kusir keretaku sampai merinding sendiri, mengintip dibalik jendela dengan takut. Mungkin karena ingin berpisah denganku cepat, kusir itu memacut kudanya untuk semakin cepat.
“Apakah aku semengerikan itu?” gumamku yang pun memandang keluar, menyaksikan gemuruh badai topan yang membuat hutan gemetar. Petir menyambar kesana kemari, ingin membelai tanah tapi menghilang sebelum dapat menjangkaunya.
… Sama seperti tanganku yang ingin meraih Mutter, tapi tak pernah sampai.
Kiiiitt!
“Aakkhh!!”
Sebuah pedang menghujam jantung kusir, menembus dinding kereta hingga ke hadapanku. Darah pun mengucur darinya menunjukan akhir mengenaskan dari kusir yang takut itu. Dan bersamaan itu, pintu keretaku pun diketuk dengan elegan.
“Putri Bulan, kami mohon keluar,” kata suara laki-laki itu.
Aku pun turun dari kereta dan menemukan diri telah dikepung oleh dua belas ksatria berjubah hitam. Semua dengan pedang hitam bersiap di tangan. Melihatnya saja, aku sudah tahu apa niatan dibalik mereka mengusik perjalananku. Mereka adalah Matrovska, ksatria kegelapan milik Ratu Kinje yang telah menumpas “Semua Pengganggu” dalam kedamaian Kinje.
“Oh… jadi, di mata Mutter. Aku sudah seperti itu,” kataku yang kemudian memberikan sang Ksatria di hadapanku sebuah bunga yang kurangkai dari darahku sendiri, “Hey, kalian membunuhku… bagaimana jika kita melakukan satu permainan?
Sederhana. Kalian hanya cukup menebak siapa di antara kita, adalah Putri Bulan. Nama permainan itu adalah… Juggernaut.”
Bunga darah itu pun pecah dan terpercik mengenai seluruh Matrovska. Bingung apa yang terjadi, salah satu Ksatria pun melompan ingin menebasku. Tetapi seorang Ksatria di hadapanku segera menangkisnya dan melindungiku. Tangis darah pun muncul dari Ksatria itu, bersama dengan panas membara yang mengeluarkan uap dari tubuhnya. Menggeram ksatria itu lantas menyerang lainnya, di saat aku duduk di tangga kereta… menikmati kaliodoskop kemanusiaan itu.
“Kapten! Sadarlah, target kita adalah orang itu!” kata seorang Ksatria yang menunjuk ksatria lainnya.
“Apa yang kamu bicarakan, bukankah kamulah Putri Bulan yang menyamar?!” teriak yang dituduh.
Pada akhirnya keduabelas ksatria itu pun saling bertukar tebasan satu sama lain. Tak ada yang mengalah dan tak ada yang sama sekali menyadari keberadaanku. Mereka saling melukai oleh karena ego tentang kebenaran diri. Kelemahan dalam diri manusia yang kueksploitasi dengan sihir ilusi sederhana yang bahkan bisa digunakan anak sekolah dasar.
“Noise Echo,” gumamku.
Sihir sederhana yang digunakan anak-anak untuk mengerjai kawannya, saat bermain petak umpet atau jerit malam. Sebab dengan sihir itu, kita bisa menciptakan ilusi suara yang terdengar nyata di telinga. Tapi, tidak seharusnya sihir sederhana itu mampu merekayasa kenyataan dan mengendalikan pikiran orang dewasa. Ada sedikit “improvisasi” yang kupraktekan, terinspirasi dari penemuan Mutterbeweisen… lebih tepatnya penemuanku akan senyawa yang dapat mengimitasi Magicite dan meresonansi sihir dalam skala kecil.
Darah seekor Daemon Malaakh… Dengan kata lain, darahku sendiri. Ada karakteristik unik yang kutemukan darinya. Meskipun sihir yang dapat dibubuhi dalam darahku sangatlah lemah, namun ketika bertemu dengan darah orang lain… sihir itu dapat beresonansi dengan Mana milik orang itu. Reaksi itu kemudian memperkuat sihir yang kububuhkan, menyebar ke seluruh tubuh korban dan meningkatkannya berkali-kali lipat.
Bila dipadukan dengan sihir penyembuh, maka darahku dapat menjadi obat paling paten di dunia. Tetapi bila dipadukan dengan sihir penghancur ataupun ilusi, ia adalah racun yang paling mematikan.
Sehingga sihir ilusi yang sangat lemah itu… Kini telah berubah menjadi parasit pikiran yang terus menerus mengulangkan bising di telinga mereka, “Orang itu adalah Putri Bulan.”
Api pun muncul dari tubuh masing-masing ksatria, membakar kulit dan organ-organ tubuh mereka. Suatu fenomena yang hanya terjadi pada seorang penyihir yang dengan gegabahnya, menggunakan sihir melebihi kapasitas tubuhnya. Overheat. Satu persatu dari ksatria itu pun tumbang, saat aku mendekati mereka dan memperhatikan fenomena menarik yang terjadi.
Kusayat karotis dari seorang dan melihat api magma mengalir darinya, “Ohapa yang terjadi disini? Apakah reaksi Overheat juga di amplifikasi darahku?” kataku yang kemudian melihat darah kesebelas lainnya, semua mengalirkan api yang terus menerus membakar tubuh mereka, “Hmm… jadi bila bukan sihir penyembuh yang kububuhkan dalam darah ini. Semua orang yang menerima darahku akan terbakar oleh sihir di tubuhnya sendiri?”
“hahahahahaahh!! Apa ini?! Menarik sekali!” tawaku yang melihat tanganku sendiri, “Benar, benar sekali! Monster seperti apa aku ini? Pantas saja.. pantas saja, Mutter ingin membunuhku!” lanjutku yang kemudian menjambak rambut panjangku.
“… Tapi, aku tidak dapat mati dulu Mutter.… Sebab, Bulan akan membuktikan kepadamu,” kataku yang kemudian memotong pendek rambutku dan memberikannya pada arang mayat di depan kakiku.
Ah, bilasaja aku tak menerima permintaan Ma Dame Krista, seberapa lama lagi aku masih dapat berpura-pura sebagai anak Mutter? Apakah hingga detik akhir aku bisa selalu berada disisinya, meski tak pernah dipandang? Sampai kapan aku dapat mempertahankannya, sihir ilusi yang mengikat takdir kita?
Bayanganku pun perlahan memelukku dari belakang. Dengan lembut bayangan itu mengelus kepalaku dengan tangannya yang dingin. Akar-akar hitam pun tumbuh menguasai tubuhku, memekarkan bunga hitam dengan mata merah yang menatapku dengan lembut. Kini semuanya pun terlihat jelas. Mengapa Mutter memperlakukanku dengan kasar dan dingin, tapi tak ingin melepaskanku dan selalu memonitorku di ekdiaman Noctis. Semua hanyalah ilusi besar yang mengikat takdir kami, Permainan Keluarga yang hanya menyakiti hati kami.
Ah, mengapa aku harus terbangun dari ilusi itu dan menyadari sosokku sebenarnya?
Mengapa meskipun ilusi menyakitkan itu menghilang, hatiku masih tersayat-sayat oleh beling harapan yang menyesakkan?
Bayangan itu pun mendekati telingaku dan berbisik padanya, “Meine Dotter… Mutterbeweisen.”
Kulepas gaunku dan menukarnya dengan salah satu arang mayat disana. Kuketatkan ikat pinggang dan menyarungkan sebilah pedang hitam padanya. Bersatu dengan bayanganku, aku pun melangkah masuk ke dalam hutan.
Dengan senyum sinis, aku pun bergumam, “Apakah wajah yang akan kamu tunjukan padaku, bila monster yang ingin engkau bunuh ini justru akan menyelamatkan dunia? Oh Mutter.”
————+————
Kota Bebas Pei Jin, Agustus 1647
Nao, sang peri telah menghabiskan sekotak tisu untuk menghapus air matanya. Tak jadi menikmati kopi, peri itu justru sangat menyimak ceritaku. Dengan air mata yang masih mengalir dia pun segera memeluk jari telunjukku dan menggangguku meminum teh.
“Ma Dame Claiiir! Maafkan aku, huee huee!! Nao tak pernah tahu Ma Dame punya masa lalu sekelam itu, huhuuu,” rengeknya.
“U-Uh, kayaknya ceritaku nggak sesedih itu deh,” kataku yang menyentil peri itu pergi agar dapat menyisip teh nikmatku,
“Intinya, itulah alasan kenapa aku berat sekali mengemban tugasku di Clariyastra. Kamu paham kan, memang tujuanku ingin menyelamatkan dunia ini… tapi bagi seseorang yang tak pernah mengenal cinta sepertiku, seekor monster yang mengerikan, mana bisa memberikan kehangatan bagi para pengungsi perang itu?”
“T-Tapi, tapi sekali Ma Dame Fan sudah bertitah, tidak ada satupun yang dapat menolaknya. bahkan penyihir sekuat Dame pun!” kata Nao yang kemudian terbang dan duduk di pundakku, “Tapi, tapi, bukankah ini kesempatan bagi Dame?”
“Kesempatan?” tanyaku yang dijawab dengan anggukan peri ceria itu.
“Penelitian berkata bahwa berbeda dengan Daemon yang dapat hidup sendiri selama ratusan tahun, seorang manusia akan mati jika hidup sendiri selama beberapa tahun. Karena itulah mereka selalu hidup dalam berkelompok dan mempersatukan kekuatan mereka,” jelas Nao memamerkan pengetahuannya yang luas sebagai penjaga perpustakaan ini selama seratus tahun,
“Keunikan itulah yang mendorong manusia awalnya unggul saat perang dan menjadi penguasa de facto benua ini… sebelum kalah mengenaskan satu tahun yang lalu.”
Kulipat tanganku dan mengerutkan alis, “Terus?”
“Nao selalu penasaran. Apa sebenarnya kekuatan yang memungkinkan manusia dari berbagai suku itu, dapat bersatu. mungkin saja salah satu kekuatan itu adalah Cinta yang Dame maksud, meski tak pernah mengertinya,” kata Nao yang pun melompat dan mencampur gula batu pada kopinya,
“Dengan kata lain, kalau Dame ingin merasakan dan mempelajari cinta. Tak ada tempat paling ideal daripada di antara manusia. Sebab Daemon hanya tahu tentang empati dan harmoni, tapi perasaan menggebu-gebu seperti cinta bahkan tak ada di kamus bahasa. Kami punya cara sendiri untuk memaknai perasaan cinta itu yang jauh berbeda dengan manusia.”
“U-Uh… tidakkan kamu mendengar ceritaku? Kan sudah kubilang, dulu aku juga seorang putri manusia,” kataku.
“Saat itu dan mungkin saja sampai saat ini, Ma Dame terlalu berfokus untuk mendapatkan cinta dari ibunda. Tapi harusnya sebagai penyihir terpelajar seperti Dame, harusnya nada mengerti. Percuma berharap mendapatkan cinta dari seorang yang bahkan tak menganggap Dame,” kata Nao yang langsung meneguk habis kopinya hingga perutnya buncit sekali,
“Nao ingin Ma Dame membuka mata untuk melihat dan menerima cinta dari dunia disekitar anda,” lanjutnya yang mengacungkan jempol dan tersenyum meringis padaku.
Kuhela nafasku panjang dan menyentil peri sotoy itu, “Dasar, jangan sok bijak dihadapanku, Ma Dame Nao… sang Penyihir Hijau yang bijaksana."
Mengelus kepalanya dengan kesal, peri yang adalah satu dari penyihir tinggi Pei Jin itu pun menegurku, “Ih, sok bijak darimana? Gini-gini, aku udah hidup jauh lebih lama dari Ma Dame ya! Dasar anak muda jaman sekarang, tak punya rasa hormat pada tetuanya.”
Tertawa diriku yang kemudian menaruh pipi pada tanganku. Hmm, membuka mata dan menerima cinta dari dunia sekitar? Apakah cinta yang kuharapkan dari Arthur juga termasuk…? Sepertinya maksud Nao sang bijaksana bukanlah itu. mungkin saja ada trauma masa lalu yang menjadi rantai bagiku untuk dapat melihatnya.
Bahwa mungkin saja… dunia yang kupandang dinin dan abu-abu ini, lebih indah.
“Omong-omong, asisten yang dijanjikan Nyonya besar sudah dari tadi datang nih. Lewat telepati dia tadi memberitahuku urusannya dengan pasien sudah selesai,” kata Nao yang pun terbang ke depan pintu, “Perkenalkan, mulai hari ini, penyihir berbakat ini akan menjadi asisten Ma Dame menjalankan perutusan di Clariyastra! Mohon jangan dibully ya, Dame!”
Kulirik mataku ke arah pintu dan menemukan sosok yang sangat familiar dibaliknya. Kuhela nafasku panjang, mengenal nenek tua bangka itu harusnya aku sadar. Tersenyum canggung aku pun berkata pada wanita yang dahulu pernah ‘kubunuh’,
“Lama tak berjumpa, Lumina Aivelstadt… atau lebih tepatnya, sekarang kamu disebut Lumina Oedellia?”
Setelah membungkuk dalam padaku, Lumina pun berdiri tegak tersenyum ceria dan berkata, “Mohon bimbingannya mulai hari ini, Putri Noctis!”