
Aku mengira telah melihat segala hal di dunia ini. Tetapi malam ini telah membuktikan kesalahanku. Saat Arthur pergi, dia sempat mengarahkan sihir tinggi Longinus ke arahku. Tetapi tepat sihir itu membakar tubuhku habis bersama kelima Matrovska lainnya, Lumina melompat menuju tombak api itu. Dari tubuhnya muncul kepala-kepala naga berwarna biru berpendar, melingkupi sihir itu dari ujung ke ujung… lantas menelannya masuk ke dalam tubuhnya yang langsing itu.
Wanita itu pun mendarat dan menatapku dengan mata jingganya, sembari menjilat jemarinya itu. Pemandangan itu sungguh begitu familiar bagiku. Sebab sosok Lumina saat itu… mengingatkanku pada wujud Mutter Yggdrasil yang sesungguhnya. Naga kristal yang melahat segala sihir dunia dan mengutuk dunia ini dengan salju superadikal. Setelah sekian tahun tak pernah merasakannya, rasa takut pun menguasai dadaku.
Seolah-olah aku sedang menyaksikan seorang Dewi berwujud di hadapanku. Dewi yang tersenyum begitu manis padaku dan berkata,
“Putri Noctiiis, kalau tidak bangun, kamu kubuat zombie looh!”
Terperanjak kaget diriku mendapati diri duduk di tempat tidur Lumina. Tubuhku kini telah terbungkus oleh perban basah oleh minyak harum. Melihat pisau bedah dan peralatan medis lainnya, terpajang rapi di sampingku membuatku bergidik ngeri. Apalagi setelah melihat senyuman mencurigakan dari Lumina yang duduk disampingku, sudah siap dengan gaun bedahnya.
“Lumina, bukankah semua ini peralatan pengawetan mayat?” tanyaku.
Lumina mengangguk antusias, “Yup! Pengetahuan Putri Noctis beneran luas banget ya!”
Kupijit keningku, “Jangan bilang… aku baru saja menghindari dari operasi sintingmu itu?”
“Habis udah seminggu Putri gak bangun-bangun. Jadi kukira, itu pertanda ‘lanjut’ untukku! Ini aku baru saja mengasah pisau bedahku, biar bisa ‘memproses’ tubuh Putri menjadi Zombie dengan mulus. Kan meskipun mati, tetap harus tampil cantik dan menarik!”
Astaga, mau di mimpi maupun di dunia nyata, sepertinya sudah tak ada tempat aman bagiku, hmm? Segera kucubit hidung Lumina dan menegur dokter gila itu, “Araraaa, kamu ini pingin dipecat ya, Asistenku yang nakal? Kalau sekali lagi aku mendapatimu mencoba mengubahku jadi Zombie, silahkan hengkang dari Clariyastra ya!”
“W-W-Wampuun, Puyiii!” pinta Lumina menyesal.
“Kamu kan dokter, harusnya pahamlah apa yang terjadi padaku. Pada malam itu, aku menggunakan sihir terlalu banyak hingga membuat tubuhku keracunan Mala. Itulah sebabnya, aku nggak bangun-bangun selama seminggu,” tegurku.
“Y-Yapi, Puyi idur kayak orang mati aya! Begeyak aya nggak!”
“Emang orang tidur harus bergerak-gerak?”
Melihat Lumina hampir menangis dengan lucu itu, membuat ingatanku tentang malam itu seperti mimpi saja. Sungguh benarkah penyihir kikuk ini menelan sihir tinggi itu dan menyelamatkan kami semua? Tidak, tidak, seperitnya tidak mungkin. Longinus hanya dapat terwujud oleh sembilan penyihir tingkat sedang mengucurkan sleuruh mana untuknya. Pada malam itu, sesaat setelah ketiga Matrovska mengkhianati Arthur… sihir tinggi itu pun tidak stabil dan memencarkan energi sihirnya ke langit. Karena itulah, kami berdua masih selamat dan bertemu disini.
Ya, dengan kata lain… ingatan itu hanyalah mimpi ilusi yang mengacaukan kepalaku. Sebab, mana mungkin Asistenku yang kurang ajar ini adalah perwujudan Mutter Yggdrasil, kan?
Setelah puas merundung asistenku itu, aku pun bangkit berdiri dan merentangkant anganku, sebuah kode bagi Lumina untuk membantu mengenakan pakaian di tubuhku. Tapi… tubuhku rasanya ringan sekali, bila saja Lumina tak menangkapku aku sudah terjatuh. Melihat kamar Lumina yang masih berantakan dan penuh dengan buku berserakan, aku pun menghela nafas panjang. Astaga… kok bisa ada dokter sejorok ini sih? Makin yakin aku semua itu hanya mimpi!
“Omong-omong, selama aku tertidur, apa yang terjadi?” tanyaku yang kemudian melangkahi lautan buku itu, dituntun oleh asistenku itu.
Lumina tersenyum dan membuka pintu. Terang matahari menyilaukan mataku, tapi dibalik kilau cahayanya suara keramaian pun terdengar di telinga. Perlahan amtaku dapat melihat betapa sibuknya distrik Clariyastra dengan para pekerja yang membangun dan merenovasi distrik itu. Halaman luas klinik Oe pun kini telah berganti menjadi dapur massal, dimana para ibu-ibu berkumpul dan mempersiapkan makanan bagi para suami yang sedang membangun kotanya. Mereka semua pun melihatku keluar dari menara itu dan tersenyum menunduk hormat padaku.
“Selamat pagi, Putri Noctis,” sambut mereka.
Beberapa anak bahkan mendatangiku. Dengan senyum cerah, mereka memberikanku sarapan roti yang baru saja keluar dari oven. Harum bau roti itu menggoda perutku yang sudah seminggu tak terisi.
“Hmm, aku, Ma Dame Clair, si Penyihir Putih yang menguasai sihir ilusi tertinggi di muka dunia… kini terjebak dalam sihir ilusi. Kira-kira siapakah penyihir yang menjebakku? Si Nenek bau tanah itu? Atau mungkin Arthur? Atau jangan-jangan, Dewi Nyghtingale sendiri?” gumamku melipat tangan terkesan.
Lumina menyikutku, “Ih, Putri, sembarangan! Semua ini kenyataan loh, bukan ilusi,” katanya yang kemudian berkacak pinggang dan menyeloteh, “Kan sudah aku bilang, Putri ini terlalu memandang diri dalam kacamata negatif. Padahal sebenarnya banyak orang yang mengagumi dan menghormati Putri Noctis.”
“Aku, sang Daemon Bulan, dikagumi dan dihormati? U-Uhh, omong kosong apa itu?”
Lumina menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ampun, Putri! Begini, mungkin Putri menganggap dunia ini membenci Putri karena dahulu, selama menjadi Putri Pertama Kinje, kamu dikelilingi oleh orang-orang jahat yang ingin mengambil takhta,” katanya yang kemudian melangkah maju meintaku mengikutinya. Sembari aku melihat keramaian kota itu, aku pun mendengarkan celoteh Asistenku itu,
“Selama tujuh tahun ke pemerintahan Putri, kamu dengan berani memodernisasi pemerintahan, melemahkan hak para bangsawan atas tanah yang telah menimbulkan ketidakadilan dan korupsi pajak yang menindas rakyat jelata selama berabad-abad. Kebijakan pendidikan terbuka dan gratis Tuan Putri, membantu orang-orang banyak meningkatkan taraf hidup mereka. Karena Putri, banyak orang dengan latar sepertiku yang dapat bersekolah tinggi.”
“Kayaknya… tidak segemilang yang kamu ceritakan deh. Aku hanya ingin meningkatkan aliran kas negara. Jadi kupikir dalam jangka panjang, itu kebijakan yang baik. Lagipula, keputusanku itu menjadikanku musuh para bangsawan,” bantahku yang melompati becek tanah, menghindari aroma dahsyatnya menodai gaun putihku.
“Aku hanya seorang anak haram yang lagi sial, ditunjuk menggantikan posisi Putri Kerajaan Pertama,” lanjutku.
“Sebab anak haram yang tertindas menjadi Penguasa tertinggi Kinje, menjadikan Putri sosok idola yang menginspirasi rakyat untuk terus berjuang. Sejak kematian putri, kegelapan yang kelam menyelimuti Kinje. Semua penindasan itu pun kembali, membuat mereka semakin merindukan sosok putri kembali lagi. Karena itulah… Rumor tentang Daemon Bulan pun berkobar seperti cerita legenda,” kata Lumina seolah sedang bersyair,
“Seminggu yang lalu, menyaksikan Putri masih hidup di depan mata mereka, mendengarkan keluh kesah mereka, dan memberikan solusi bagi masalah mereka, adalah pemantik semangat bagi hati mereka yang putus asa.”
Aku pun berhenti di depan sebuah fondasi bangunan besar, di tanah yang Paman Roger janjikan padaku. Sebuah tanah subur di pesisir sungai Arisia, tempatku berencana membangun pabrik obatku dan juga Arboretum tanaman sihirku. Disana aku melihat Paman Roger dan para preman yang dalam mimpiku menodongku dengan senapan, kini dengan giat mengangkut kayu dan bahan bagnunan lainnya untuk mendirikan tempat itu.
“Jadi maksudmu… aku adalah alasan mereka bersemangat lagi sekarang?” tanyaku ragu.
“Daemon Bulan adalah simbol dari pemberontakan kaum lemah. Burung Phoenix yang bangkit dari abu kehancuran untuk membentangkan sayap kegemilangannya lagi. Sebesar itulah pengaruh kehadiran Putri bagi rakyat Clariyastra ini,” jelas Lumina.
“Padahal yang kulakukan hanya mendengar keluh kesah mereka dan memberi sekeping koin emas,” gumamku heran.
“Hal sesederhana itu justru memiliki makna yang besar. Sebab selama pemerintahan Ratu Arielle, tak ada satu pun penguasa mendengarkan mereka,” kata Lumina.
Aku pun melipat tanganku, memandangi distrik yang penuh riuh itu. Terlalu manis untukku kudengar, tetapi pemandangan yang ada di depan mataku bukanlah sesuatu yang dapat kutolak. Berbeda dari dunia simulasi, tatapan penuh putus asa itu kini telah berganti menjadi harapan yang berbinar-binar.
Aku… tak percaya hidupku dapat membawa makna yang besar bagi banyak orang.
Tapi…
Aku pun menghela nafas dan tersenyum lega, “Baguslah. Kalau begini, aku bisa menarik pajak untuk menggendutkan kantongku.”
“Ih Putri, pikirannya duit mulu!” tegur Lumina menghadiahku cubitan di pipiku.
Setelah melepas cubitan itu, aku pun tertawa lepas, “Duit adalah cinta, harapan dan kekuatan! Itu adalah motivasi dalam hidupku.”
Lumina menatapku lucu, “Heish, dasar Noctis tulen. Oya, ngomong-ngomong soal duit,” cibirnya yang kemudian memberikanku sebuah catatan.
Saat membaca catatan itu, terbelalaklah mataku.
“Astaga, ini sungguhan? Semua biaya pembangunan ini.. totalnya satu juta keping emas?!” teriakku histeris hingga tanganku gemetar sendiri, “D-D-D-Darimana uang sebanyak itu, Lumina? J-Jangan bilang, kamu ngerampok bank?”
“Ih, mana mungkinlah. Putri ini ada-ada saja. Cincin tunangan yang Putri berikan padaku, ternyata setelah kujual dengan embel-embel Daemon Bulan, laku satu juta keping emas di pasar gelap,” katanya mengedipkan mata kanannya padaku, “Untung aja, aku ini anaknya Papa Danius. Jadi dengan cepat, uang itu cair dan kualirkan semua kesini!”
“Siapa orang yang punya uang sebanyak itu?”
“Heemm, yang kutahu dia raja judi di Siphon Dragonica,” kata Lumina yang kemudian menepuk tangannya dengan riang, “Lebih dari itu! Gimana putri, kerja Asistenmu ini hebat banget kan? Aku gak bakal dipecat kaaannn?”
Tertawa geli aku, “Iya, iya. Kamu luar biasa, Lumina. Dari pertama kali kita bertemu, sampai detik ini, bagiku, kamu adalah wanita paling hebat yang kutemui,” pujiku dengan tulus.
Lumina menatapku penuh haru. Tiba-tiba ia pun memeluk tubuhku dengan erat. Dingin tubuhnya senada denganku, namun tiada detak jantung dapat terdengar dari dadanya. Meskipun begitu erat pelukan dan gemetar pundaknya saat menangis memelukku, membuatku… ingin membalas kebaikan hatinya itu. Aku pun mendekap dan membelai lembut rambutnya.
“… Putri telah memberikanku kesempatan kedua dalam hidup ini. Aku, Lumina Oedellia berjanji, hingga detik terakhir akan setia mengikuti Putri.”
“U-Uhh, asal aku nggak dijadiin zombie, aku sih, oke-oke aja,” cibirku.
Lumina tertawa geli, “Nah, itu aku nggak bisa janji!”
Kami berdua pun tertawa. Perasaan hangat yang memenuhi dadaku ini memancing nostalgia dalam hidupku. Sebuah janji manis yang terucap di bibir, yang membuat diriku menjadi perempuan paling bahagia di dunia. Ingatan yang merupakan harta karun hidupku… meskipun pada akhirnya, aku tahu bahwa janji itu hanyalah tipuan untuk menjebakku.
Jangan mencintai, jangan percaya dan jangan lupakan siapa dirimu yang sesungguhnya. Hanya ada satu momen dalam hidupku yang membuatku meragukan prinsip hidup Noctis.
Apakah kamu juga mengingatnya, Eclair?