Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Rigor Mortis (2)


Melangkah dari bayangan ke bayangan lainnya, aku pun menemukan sebuah gubuk yang telah dipenuhi oleh para manusia, begitu tegang dan beberapa menangis. Tentu, siapakah yang akan dapat menahan tangis ketika mendengar suara teriakan penderitaan seorang anak kecil? Lumina kemudian meminta semua orang terkecuali orang tua anak itu keluar dari rumah ini.


"Apa yang terjadi pada Dik Verrel?" tanya Lumina pada kedua orang tuanya yang sangat histeris.


Tapi, bukannya memberikan jawaban yang membantu, kedua orang tua itu justru dengan panik memegang tangan Lumina dan memohonnya untuk menyelamatkan anak itu. Menyelinap dalam kegelapan tanpa diketahui Lumina dan kedua orang tua itu, aku pun masuk ke bilik bed anak manusia itu dan menemukan pemandangan yang sangat familiar.


Kasur putih kini telah terlukiskan bercak merah, melingkupi tubuh seorang anak laki-laki yang tak berdaya. Retakan-retakan muncul di kulitnya, berakar tepat di jantungnya. Seperti menggantikan peran air mata, darah menetes dari tiap retakan kulit bersama dengan eluhan Verrel. Telingaku pun menempel di dadanya, mendengar detak jantungnya yang sudah seperti derap kaki kuda.


"Stadium tiga Wabah Nyght," gumamku yang kemudian meraba dahi anak itu dan merasakan demam yang sangat tinggi padanya.


Kukecup lembut dahinya, memunculkan lingkar sihir hitam disana sembari dan berbisik, "Zennitus."


Hawa gelap segera merasuk ke dalam tubuh anak itu, menutup paksa matanya untuk tenggelam dalam tidur yang dalam.


Telingaku kemudian mendengar Lumina dan kedua orang tua anak ini membuka tirai bilik itu, menatapku dengan mata terkejut. Kemarahan dan ketakutan tampak jelas dari wajah kedua orang tua Verrel.


"Dia cuma tertidur," kataku mencoba menenangkan mereka, "Dengan begini, Verrel tak perlu mati dengan penuh penderitaan," lanjutku menampar mereka dengan realita.


"Tuan Putri!" bentak Lumina marah.


"Sebentar lagi jantung anak ini akan hancur, Lumina. Tak ada yang bisa dilakukan untuk anak ini selain mengurangi penderitaannya," kataku yang kemudian menatap tajam Lumina, "Atau mungkin, kamu ingin mencoba menantang sang Dewi Kematian, Lumina?"


Mata Jingga itu tak berkedip sekalipun meskipun telah kutantang. Sepertinya tekad Lumina sudah bulat... dan disaat yang sama begitu bodoh dan nekat.


"Bila obat itu gagal, kamu akan jadi pembunuh yang tidak pantas lagi menjadi dokter. Apakah kamu siap menanggung resiko itu?" tanyaku sekali lagi.


"Aku siap," kata Lumina tanpa keraguan.


Wanita itu pun meminta ijin pada kedua orang tua Verrel, suatu kode kuno bernama Informed Consent yang menjustifikasi segala resiko tindakan medis yang akan dilakukan.


"Pak Nicholas, saya akan mencoba membantu Dik Verrel dengan obat baru bernama 'Lifebane'. Akan tetapi, masih ada kemungkinan obat ini gagal menyelamatkan Dik Verrel. Meskipun begitu saya akan mencoba sebaik mungkin untuk menyelamatkannya... apakah Bapak bersedia?" tanya Lumina.


"Apapun saya bersedia dok... tolong, apapun...! Selamatkan anak saya!" pinta kedua orang tua itu.


Sesungguhnya, alangkah lebih baik pernyataan itu ditulis hitam diatas putih. Sebab, aku takkan pernah percaya dengan kata-kata yang terucap dari bibir seorang manusia... apalagi dalam kondisi kritis seperti ini. Tapi bila Lumina telah memutuskannya demikian, siapakah aku untuk menghalangi. Aku bukanlah seorang dokter ataupun ahli medis, hanyalah seorang penyihir yang gemar membuat senyawa sihir.


Tetapi, setidaknya sedikit uluran tangan pasti membantu.


Kupanjangkan jemari belatiku dan taring-taringku, lalu menatap tajam kedua orang tua itu, "Kalian sudah tahu resikonya dan memilih untuk melanjutkan. Karena itu, bila obat itu gagal, kalian tak dapat menyalahkan dokter Oe, mengerti?" tanyaku yang jelas menunjukan niat membunuhku pada mereka.


"M-Mengerti... Putri Noctis," kata Nicholas ketakutan.


Lumina mengangguk kepadaku, seolah berkata 'cukup'. Dokter itu pun kemudian segera membuka koper kecilnya yang penuh dengan peralatan aneh yang tak pernah kutemui. Semua terbuat dari perak yang terjaga kebersihannya. Diambilnya sebuah kotak yang tersegel oleh sihir dan menyiapkan peralatannya dengan hati-hati. Setelah itu, dia pun mencuci tangannya dengan alkohol.


"Lumina uniqua: Credo," kata Lumina yang membakar kedua tangannya dengan api suci yang bersinar dengan terang.


Tunggu… Uniqua?


Terkejut diriku. Alasan awal mengapa aku mencurigai Lumina sebagai seorang Fenrir, ialah jubah sihir yang ia kenakan. Meskipun dia menutupinya dengan sihir ilusi, jubah itu memiliki rasi sihir yang sama seperti yang dikenakan seekor Fenrir. Tetapi tak pernah terbesit dipikiranku, bahwa wanita muda itu ternyata adalah seorang Magistrat sihir, penyihir dengan gelar tinggi yang berhasil menemukan sihir baru di dunia. Padahal untuk mewujudkan sihir baru, butuh 1 abad, tidak dua abad penelitian yang panjang.


Credo... Hmm, kuperhatikan pola sihirnya rumit dan asing. Sebuah api suci yang membakar hal tertentu dan sangat spesifik. Apakah mungkin Lumina menggunakannya untuk membakar segala kotoran dan 'bakteri', menjaga alat dan tangannya tetap steril?


Di dunia penuh perang seperti ini, mungkin sihir Uniqua Lumina tergolong tidak berguna. Tapi, dua abad lagi, aku yakin ceritanya akan berbeda. Tapi hanya untuk sihir Uniqua seperti itu… tidak cukup alasan bagi para Fenrir untuk memburunya.


Ketenangan Lumina dalam situasi panik juga membuatku iri dari dulu. Meskipun dia cengeng, pemalu dan ceroboh, tapi ketika sedang bekerja, Lumina tampak seperti pribadi yang berbeda. Kalem, seperti sebuah daun yang mengikuti aliran sungai. Tajam dan akurat, layaknya penembak jitu yang berpengalaman.


Ah, apa yang kulewatkan dari wanita penuh tipu daya ini? Rasa penasaran mendorongku untuk berkata meskipun kutahu usahanya akan sia-sia.


"Ijinkan aku membantu.”


Mengambil sisi berlawanan dengan Lumina, aku pun memunculkan lingkar sihir biru di jariku, "Create Water," ucapku yang kemudian membersihkan tubuh anak itu dengan air sihir yang steril.


Setelahnya, aku pun menusuk jariku dan mengoleskan darah di sekujur tubuh anak itu. Dengan segera seluruh luka itu tertutup, tanpa menyisakan satu pun luka.


"... Itu sihir apa?" kata Lumina kaget.


“Bukan sihir. Darah Daemon Malaakh adalah obat yang dapat menyembuhkan luka seberat apapun. Darah terkutuk inilah yang membuat kaumku diburu dan akhirnya tinggal diriku seekor,” jawabku yang kemudian meng-augmentasi tubuh anak itu berbagai sihir, agar siap menerima Lifebane.


Aku melihat Lumina sudah memasang torniket di tangan kiri anak itu dan menemukan vena terbesarnya. Setelah membersihkan daerah tersebut dengan alkohol, Lumina menarik nafasnya dalam. Dia menatapku, seolah meminta penguatan dariku.


Aku mengangguk dan tersenyum tipis, "Lanjut, dokter Oe," kataku.


Lumina pun menusuk vena anak itu Jarum Rambut-nya dan melepas torniketnya ketika darah berhasil ia aspirasi. Dengan hati-hati, Lumina pun menghubungkan jarum itu dengan Syringe Lifebane. Perlahan, cairan merah di dalam syringe itu masuk ke dalam tubuh Verrel dengan Lumina yang terus telaten memeriksa denyut nadinya.


Dia menggengam sebuah ampul berisi cairan bening dan peralatan di sampingnya... adalah untuk menyelamatkan anak ini. Epinefrin, kutebak. Senjata utama seorang dokter di medan perang.


"Lumina, apakah kamu tahu kelemahan dari obat ini?” tanyaku yang kemudian meraba jantung Verrel dan mengawasi suhu tubuhnya.


Lumina dengan ragu menggelengkan kepalanya, "Kenapa Putri bertanya seperti itu sekarang?"


"Semua makhluk hidup ketika bertemu dengan pembunuhnya pasti melawan. Dan sepertinya perlawanan bakteri ini akan mempercepat kematiannya," kataku yang kemudian mendekatkan telingaku di dada Verrel.


Ah... Sudah kuduga. Panas mulai menyengat di tanganku. Jantung Verrel berdetak semakin lama semakin melemah. Nafasnya pun semakin dalam dan jarang, bersama dengan menurunnya kesadaran dari anak itu. Hingga tiba-tiba tangis darah mengucur dibalik kelopak mata Verrel diikuti batuk yang sangat keras... memuntahkan darah yang banyak.


Dan kemudian sunyi dan sepi, jantung Verrel telah berhenti berdetak.


"... Dia sudah mati," kataku kemudian yang disambut oleh ketidakpercayaan Lumina dan kedua orang tua anak itu. Tetapi seberapa pun mereka mencoba berharap bahwa anak itu hidup... dia sudah takkan lagi melihat musim semi.


Kucuci tanganku dengan air sihir lalu... "Oi, Nicholas dan juga istrinya," kataku yang memanggil kedua manusia itu dan memastikan mereka menatap mataku, tenggelam dalam ketakutan yang luar biasa, "Kalian akan menepati janji itu, bukan? Ini... bukan salah dokter Oe, tetapi pilihan yang kalian ambil sendiri."


"Putri Noctis!" teriak Lumina. Mengejutkan, baru kali ini aku melihatnya semarah itu.


Tersenyum tumpul aku pun berkata, "Apakah kamu sungguh ingin menyelamatkan anak ini?" yang kemudian melirikan mata iblisku padanya, yang dapat mengumbar segala topeng kebohongan seorang manusia, "Ataukah kamu hanya ingin memenuhi hasrat egois nan bodohmu itu untuk diampuni?"


"Kenapa aku tidak bisa memilih keduanya?" jawab Lumina tegas mengetatkan kepal tangannya hingga berdarah, "Aku adalah seorang Magistrat sihir... dan juga seorang dokter. Salahkah bagiku untuk menjadi orang yang sombong, yang ingin menyelamatkan orang meskipun memiliki dosa yang besar?"


Tersenyum tumpul, aku menepuk pundak Lumina dan berbisik di telinganya, “Tapi kini kamu juga adalah seorang pembunuh, Lumina.”