Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Oedellia Shadow (2)


Kota Tambang Hilfheim, Oktober 1654.


Malam menyambutku dengan dingin belaiannya. Tiap tumpukan daun yang kutinjak membuatku sadar musim gugur telah tiba. Bunga-bunga api yang berdansa dengan kepulan asap, terbit dari kota tambang yang menantiku.


“Sebelum tahun berganti, kami berharap kamu dapat menyelesaikan tugasmu,” kata Lyra di dampingi Luna.


“Yah, asalkan kalian segera mengirimkan ‘asisten’ itu, aku bisa bekerja dengan cepat,” lanjutku.


Tanpa menunduk hormat, kedua Homunculus itu pun menghilang dalam gelapnya malam. Terpikir olehku, benar juga, satu bulan sudah berlalu. Sekarang aku tidak berpura-pura menjadi Eclair. Aku adalah seekor Daemon yang berbekal sebuah lentera. Dengan langkah penuh ragu, aku memasuki ke kota yang asing itu.


Aroma minyak bercampur dengan besi yang kuat menyambutku. Bunyi pemanas batu tambang terdengar di seluruh sudut kota. Dari deretan pabrik yang mengepulkan asap, keluarlah satu kereta penuh kristal warna-warni. Kristal itu adalah Magicite, komoditas termahal dari kota tambang Hilfheim.


“Cepat geraknya! Kalian kan Daemon Centaur, kok lelet amat sih!” teriak seorang tuan gendut, mencambuk kawanan manusia setengah kuda di depannya.


Sepanjang mataku memandang, aku melihat kawanan Daemon dirantai oleh tuan manusianya. Tuan-tuan itu mencambuk Daemon, menggiring mereka untuk masuk ke dalam liang tambang. Tubuh para budak itu penuh dengan luka dan kurus akibat kelaparan yang sangat. Tatapan mata mereka telah dipenuhi oleh keputusasaan yang dalam.


Para daemon itu adalah korban perang sebenarnya. Mereka dirampas dari tanah kelahirannya untuk dibawa ke kota tambang ini dan menjadi budak tambang. Mereka bekerja siang dan malam menambang Magicite, hanya untuk menggemukkan kantong dari taun-tuan mereka yang lalim.


Sebagai seorang ahli alkimia sihir, aku tahu betapa berbahayanya menambang Magicite.  Sebelum diolah, Magicite menghasilkan radiasi superadikal yang beracun. Bila seorang manusia dan Daemon terpapar oleh radiasi itu, suhu tubuh mereka akan meningkat perlahan. Jika beruntung mereka akan mati seketika, tapi seringkali mereka akan mengamuk dan melukai orang-orang disekitarnya.


BRAKK!!


“GraaaakkhHHH!!!!” teriak seekor Daemon gajah, memberontak para kusir yang berusaha mengendalikannya. Dengan belalainya yang kuat, Daemon itu memporak-porandakan kereta tambang dan bangunan di sekitarnya.


Dengan cepat, para serdadu Kinje membidikan senapan mereka ke Gajah itu dan menembak. DOR! DOR! DOR! Dalam tiga tembakan yang tepat mengenai kepala, Daemon itu pun tumbang dan mati.


“Haduh, gimana ini. Sudah banyak pencurian terjadi, sekarang binatang itu merusak mesin uangku? Haaah!! Kalau Ratu Noctis sampai tahu ada kekacauan semacam ini, bisa mati aku,” keluh seorang pejabat yang segera meneriaki anak-naka buahnya, “Hey, kau! Cepat urus mayat itu. Dan mana suplai budak yang kupesan kemarin, hah?!”


“M-Maaf, Tuan Oedellia! Katanya ada longsor yang menyergap karavan baru. M-Mereka bilang, sebagian besar dari budak itu melarikan diri!”


Tiba-tiba pejabat itu menjambak rambut anak buah tiu dan meneriakinya tepat di kuping, “HAAA?! Kau bilang apa? Melarikan diri?! Gini ya, aku tak peduli omong kosongmu itu, yang kutahu, minggu depan aku mau semua babu itu datang ke kota ini. Kalau tidak, kamu dan seluruh keluargamu menggantikan mereka!”


Kupadamkan lenteraku dan berbaur dengan kerumunan. Sebisa mungkin aku menghindari lirikan dari laki-laki berambut cokelat itu dan pergi. Soalnya, apa yang seorang suami akan lakukan jika bertemu dengan pembunuh istrinya?


Terheran-heran aku. Jadi ini wajah sebenarnya dari laki-laki yang telah menjebakku dulu. Professor Oedellia. Sama seperti Qrista, dia juga adalah seorang penyihir busuk yang menari-nari di atas penderitaan orang lain. Pantas saja, gaji sebagai seorang guru takkan dapat membuatnya mampu membeli sebuah relik dari masa lalu.


Tapi, siapa aku menghakimi Prof. Oedellia? Aku pun telah berbuat banyak tindakan tak terpuji. Bahkan aku sekarang berusaha melanggar tabu dan mencoba membangkitkan seseorang.


Setengah berlari, aku memasuki sebuah jalan sempit di antara dua kandang besar. Gelapnya malam membuatku menabrak sosok berjubah hitam dan terjatuh.


“M-maaf, aku tak sengaja,” kataku yang segera bangkit berdiri, tetapi bukannya marah, sosok berjubah hitam itu justru berlari.


Kutekuk alisku heran, apakah aku semengerikan itu sampai membuatnya lari terbirit-birit ? Tapi, kulihat tanganku saat ingin mencegah sosok itu… Aku pun tersadar bahwa cincin spasialku hilang.


“Hahahahahaha! B-bagaimana bisa, seorang petualang veteran sepertiku, dirampok?” tawaku terbahak-bahak.


Aku pun tersadar betapa gentingnya masalahku saat ini. Sebab dalam cincin spasial itu, bukan hanya seluruh hartaku disana tapi juga tubuh Pangeran Axel. Bila sosok berjubah hitam itu mengutak-atik cincinku dan menemukan Pangeran disana, kontrak sihir itu akan membunuhku!


“Hey!! Kembalikan cincinku!” teriakku yang kemudian membawa tombak si pencuri dan mengejarnya.


Mengoyak angin, melintasi atap demi atap, kami berdua bermain kucing-kucingan di kota para babu. Heran aku, cepat amat sosok itu berlari? Padahal secara fisik, tak ada manusia yang dapat mengalahkan kecepatanku. Terkecuali… sosok itu adalah seekor Daemon dengan kaki yang lincah.


Tiba-tiba di persimpangan gang, sebuah tombak terayun padaku. Refleks aku menangkap tombak itu dan mengayunkan pelakunya hingga menghantam dinding. Namun saat aku ingin memukul perutnya, Daemon itu dengan sigap berjongkok dan menendang kaki dan menjatuhkanku. Cekatan, sosok gelap itu tak menyia-nyiakan kesempatan dan segera mendudukiku, lengkap dengan belati mencium leherku.


“T-Tunggu, kamu… iblis malam itu!”


Muncul perlahan dari bayangan daemon itu, aku pun membakar ilusi yang ia terkam dan berkata, “Iblis, maafkan ketidaksopananku Dame, tapi bolehkan aku bertanya kapan kita pernah bertemu?” tanyaku.


Saat Daemon itu membalikkan badannya, sebuah pedang telah kuhunuskan tepat di depan matanya.


“Cincinku atau nyawamu, Dame,” tanyaku dengan sopan.


Menggeram kesal, Daemon itu pun meronggoh koceknya. Tiba-tiba dia melempar isi koceknya itu ke depan mataku. Sebuah vial kaca yang refleks kutebas. Namun menyadari aroma tajam dari cairan dalam vial itu, mataku pun terbuka lebar. Cairan itu adalah Judgelight.


Terang cahaya membutakan mataku. Denging menguasai telingaku. Sebalnya, Daemon itu memanfaatkan situasi dan segera kabur bagai angin. Tetapi dia terlalu meremehkanku. Bila dia berusaha kabur dariku, harusnya dia menggunakan bom bau menyengat yang mematikan indera penciumanku.


Sungguh, dari semua tempat yang kukunjungi, Hilfheim memberikan sambutan “terhangat” untukku.


Setelah emndapatkan aroma Daemon itu aku pun mengikutinya. Anehnya, Daemon itu mengambil jalan mengitar, menghindari para tentara Kinje yang sedang berpatroli. Aku rasa selain mencuri dariku, daemon itu sudah melakukannya apda tuan-tuan manusia lain hingga dia menjadi buronan. Tapi kemampuannya melarikan diri boleh juga.


Keluar dari dinding kota, Daemon itu masuk ke gua yang tersembunyi di hutan. Aroma pekat metal dan Magicite kucium dari mulut gua itu. Hmm, perkiraanku, ada sekitar seratus kilogram Magicite atau metal lain di dalamnya. Diam-diam, aku menyelinap dibalik kegelapan dan memperhatikan Daemon itu.


Lega, Daemon itu menghela nafasnya dan membuka tudung jubahnya. Sejenak dia memperhatikan cincin spasialku dan tersenyum,


“Tak kusangka, bisa menemukan harta karun seperti ini di Hiflheim. Beruntung sekali,” katanya yang segera menghisap seluruh Magicite itu dalam cincinku, “Dengan begini, transaksiku dengan Danius akan lebih mudah.”


“Maksudmu Danius si pedagang gelap?” tanyaku.


Terkejut Daemon itu hingga melompat mundur. Dia menyalakan sebuah obor dan menerangi diriku. Dia pun menggeram kesal memamerkan taringnya yang tumpul.


"K-Kamu, kenapa bisa disini?!" teriaknya.


"Untuk mengembalikan benda ini," kataku melemparkan tombak itu kembali ke tuannya.


Gadis Daemon itu pendek seperti seorang manusia dengan kulit cokelat dan struktur otot yang lemah. Ia memiliki telinga musang yang pendek dan tak sempurna, dengan warna yang sama dengan rambut cokelatnya yang diikat kucir kuda. Tetapi sama seperti Daemon musang, dia memiliki muka yang cantik jelita.


Pencuri itu adalah seekor peranakan Daemon musang dengan manusia. Tabu yang menghasilkan makhluk dengan fisik yang lemah dan tidak mampu menggunakan sihir.


“Gini loh, geraman seekor Daemon yang sesungguhnya,” kataku yang menggertakkan rahangku dan sekejap menunjukan wujud asliku pada gadis Daemon itu. Setelah puas melihat tatapan takutnya, aku pun kembali ke wujud manusiaku.


Gadis Daemon itu ternganga melihatku, “K-Kamu bukan m-manusia? T-T-tapi, kamu bisa menggunakan sihir!”


“Emang gak boleh ya?” kataku dengan santai melihat peta kota Hilfheim yang terbentang di sudut gua itu. Detil peta itu menggambarkan jalur tambang dan nadi Magicite yang belum habis. Tanda silang merah yang menodai beberapa situs tambang membongkar identitas gadis Daemon itu.


Dia adalah pencuri yang dimaksud Professor Oe.


“A-Apakah kamu ingin membunuhku?” tanya gadis itu.


Aku mengelus daguku, “Hmm, kamu terlihat cukup lezat,” kataku setengah bercanda. Sesungguhnya, semenjak aku melahap Qrista, bau darah menggoda instingku. Apalagi darah ketika gadis itu memiliki aroma yang sangat manis.


“Tenang saja. Aku sudah pantang makan manusia dan Daemon, apalagi campuran keduanya,” kataku terus terang.


“B-Berarti dulu, kamu pernah?”


Aku tak menjawab dan kembali memeriksa gua itu. Beberapa kantung tidur di gua itu menunjukan dia tak bekerja sendirian. Deretan peralatan dan senjata membuatku curiga pencurian ini merupakan kejahatan yang terorganisir. Pertanyaannya, siapa orang gila yang berani membiayai orang-orang yang berani mencuri dari Mutter?


Danius? Hmm, masuk akal. Soalnya aku masih ingat danius pernah emngatakan ia bergabung dengan black Company demi tujuannya sendiri. Tentu saja sosok seperti itu tak dapat dikendalikan.


Gadis itu menghunuskan tombaknya padaku, “Daemon yang dapat berpura-pura menjadi manusia, meskipun wujud aslinya merupakan monster mengerikan. Satu-satunya ras yang dapat menggunakan sihir meskipun lemah dan memiliki tendensi kanibalisme yang tinggi," katanya yang berjalan mundur ingin melarikan diri, tetapi segera kucegah dengan menumbuhkan akar kegelapan di mulut gua.


“Kamu adalah Daemon Malaakh, anak-anak dari Dewi Nyghtingale!” kata gadis itu.


“Terus?” tanyaku yang kemudian duduk bersilang kaki dihadapan gadis itu.


“Kamu sudah lupa dengan semua yang kamu lakukan padaku?!” teriak gadis itu.


“Apa maksudmu? Bukankah ini pertemuan pertama kita?” tanyaku.


Api amarah muncul dari ujung tombaknya. Sirkuit sihirnya berpendar merah bersama dengan rambutnya yang berkobar seperti api.


“Sihir itu... Ifrit Rage, kan? Salah satu dari sihir penghancur yang menukar Mana sang penyihir untuk peningkatan kekuatan. Araraa... kamu juga bisa pake sihir tuh. tapi kenapa tadi masih kaget melihatku?” tanyaku menumpu dagu.


“Semua ini karena salahmu!” teriak gadis itu dengan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya, “Bila saja, malam itu kamu tak menyuntikan darahmu ke tubuhku, hidupku takkan berubah seperti ini!”


Menyuntikan… darah? Kata-kata itu pun mengingatkanku pada malam dua tahun yang lalu. Rambut cokelatnya sangat mirip dengan wanita itu, begitu pula mata merahnya yang merupakan cerminan dari laki-laki itu. Seekor peranakan yang lahir dari tabu yang dilanggar seorang Professor dan Penyihir Tinggi Kinje.


Aku pun teringat. Gadis itu adalah pasien pertamaku, Quina Oedellia.