Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Kesombongan Sang Ksatria Kuda (2)


Bunyi langkah kaki panik terdengar bergema di lorong bawah tanah menara Lumina. Diriku yang sedang duduk memperhatikan mesin rumit di lab sang penyihir, pun menoleh ke arah suara itu.


“Putri Noctis! Gawat, semua pengungsi Kinje berbondong-bondong datang berdemo di depan menara,” kata Lumina yang mendobrak pintu dan menemukanku sedang mengotak-atik mesin rumit buatannya. Melihatku kotor oleh oli dan debu, segera wanita itu mengangkat alisnya heran.


“Astaga Tuan Putriku, kenapa kamu malah ngotak-ngatik Leviathan di saat genting begini sih?” tegurnya.


“Aku mau menjadikannya Gruhningen ala-ala,” kataku yang kemudian memotong-motong kotak besi raksasa itu dengan jemari belatiku bersama dengan nyanyian histeris sang penyihir.


“T-T-Tak bisakah Putri make alat dari lab anda di rumah? Kenapa harus make Levi-tan ku? Alat itu menghabiskan sebagian besar tabunganku!” kata Lumina menangis histeris.


“Bagaimana bisa aku keluar? Kan menara ini dikepung?”


Lumina pun tersadar, “Oh iya, bener juga ya. Heheh… Eh, Tunggu, tapi itu bukan berarti Tuan Putri bisa mengobrak-abrik labku sesukanya ya?!”


Menghela nafas yang panjang, aku melepas cincin berlian darah di jari manisku dan melemparnya pada penyihir itu. “Cincin itu bernilai setidaknya seratus kali lipat dari seluruh total assetmu,” kataku yang kemudian menciptakan sirkuit energi sihir yang melingkari Magicite kelas Adamantium yang kuhubungkan dengan tiga kotak besi lainnya.


“Ini kan… cincin tunangan Putri dengan Pangeran Axel?” kata Lumina sebelum menggelengkan kepalanya dan menegurku dengan secarik koran hangat pagi itu,


“S-Sekarang bukan saatnya membuat mesin, Putri! Tidakkah kamu dengar, diluar orang-orang pada marah dan ingin membakar menara ini. Semua karena tuduhan yang Putri tujukan ke mereka!”


Sembari tanganku mengutak-atik inti Magicite mesin itu, aku pun menjelaskan, “Tuduhan? Apa yang kamu bicarakan? Aku hanya melapor pada media massa bahwa Pembunuhan itu di Keluarga Verrel kemarin dilakukan bukan oleh Daemon tapi seorang manusia. Bahkan, ada bukti konkritnya. Perihal ada yang suka dan tidak suka, apa urusannya denganku?”


“Banyak!” kata Lumina yang mendekatiku dan menggeprak kotak besinya yang tebal, lantas menyesal kemudian karena sakit tangannya,


“Aduh, Putri Noctis, tak sadarkah bahwa Putri sama sekali belum memperkenalkan diri ke warga sekitar sini? Nongolin wajah saja tidak, tapi justru membuat masalah besar seperti ini. Tentu saja orang-orang takkan menerima dan menolak dong, gimana sih? Semua itu ada proses dan langkah-langkahnya, apalagi perihal hubungan antar manusia seperti ini!” tegurnya panjang lebar.


Tertawa aku mendengarnya, “Emang setelah para manusia itu melihat wajahku, Sang Daemon Bulan, mereka mau menerimaku sebagai penguasa mereka?” kataku yang kemudian mengambil kursi di depan mesin Gruhningen ala-ala ku dan menjentikan jari, memastikan aliran energi sihir yang sempurna pada ketiga kotak besi itu.


“Fokus Lumina, jangan terperangkap dalam permainan musuh kita. Cepat atau lambat Arthur akan memercikan api kegaduhan ini untuk mengacaukan rencanaku. Daripada menunggu langkahnya, aku memberikan anak itu sedikit ‘kejutan’ dengan melangkahinya,” tegurku yang kemudian melompat ke inti Magicite itu dan memeriksa kebocoran yang terjadi,


“Apapun yang terjadi kita harus menyelesaikan obat Lifebane dan mengalahkan Dewi Nyghtingale. Dengan begitu, ktia akan punya cukup uang untuk mengangkat kota Pei Jin ini ke angkasa. Bukankah, Nenek tua itu sudah memberitahukannya padamu?”


“Ih, Tuan Putri sukanya ngobrol ngalur ngidul! Pertanyaan awalku gak pernah dijawab," kata Lumina yang menarik pundakku dan memaksaku menatap matanya yang cantik itu, "Aku ini adalah Asistenmu, jangan main rahasiaan dong. Cepet katakan, apa rencanamu untuk mengatasi masalah genting ini, Putri Noctis?”


"U-Uhh... boleh jaga jarak sedikit?"


"Tidak! Kalau tidak agresif seperti ini, pasti Putri mau menghindar lagi dari pertanyaanku! Emang kebiasaan buruk dari dulu gak pernah berubah ya."


U-Ugh, aku kesulitan membaca Lumina. Padahal dulu dia sangat pemalu dan introvert, tetapi kini mengapa dia jadi gadis pemaksa seperti ini? Darimana ia mendapatkan kepercayaan diri dan semangatnya itu, padahal bukankah dia baru saja kehilangan keluarga barunya? Dan pula, sejak awal aku tak pernah mengerti. Padahal pertemuan pertama kami jauh dari kata 'damai', tetapi mengapa... dia sangat mempercayaiku?


Aku pun menulis sebuah surat selebaran dan mengecapnya dengan lambang bunga, yang adalah cap otoritasku sebagai Penyihir Tinggi Pei Jin. Lantas memberikan selebaran itu pada Lumina, aku pun berkata,


“Seekor Penyihir Tinggi mengatakan hipotesis yang menarik.  Berbeda dengan Daemon, kunci yang mempersatukan berbagai ras manusia adalah perasaan bernama Cinta. Bagaimana jika kita mengujinya sekarang?Lumina aku ingin kamu mengabarkan selebaran ini pada seluruh warga Distrik-ku.”


Lumina melotot membaca surat itu, “Hadiah senilai sepuluh ribu keping emas, bagi mereka yang dapat menangkap pembunuh Keluarga Verrel? Putri, sungguh ingin aku menyebarkan selebaran ini?”


Tersenyum diriku yang keudian menantang wanita itu, “Lumina, apakah kamu sungguh asistenku ataukah seorang Dokter yang ingin menyelamatkan hidup pasiennya? Ini adalah ujianku untukmu, bila kamu berhasil melaksanakan tugas ini, maka aku akan mempercayaimu sepenuhnya.”


Sembari menyibukkan diri lagi dengan Gruhningen, aku pun menutupnya dengan kata, “Pilihlah Lumina, berpihak pada siapa kamu sekarang.”


Kepercayaan adalah tali yang mengikat hubungan. Darinya akan tumbuh berbagai hal manis di dunia. Cinta, harapan, kekayaan dan hubungan lainnya. Tetapi, kepercayaan bukanlah kawat yang kuat melainkan benang tipis yang mudah terlilit dan putus. Sebab di depan kekuatan yang lebih besar, yaitu Ego, dengan mudah mereka akan dengan senang hati memutus ikatan itu tanpa rasa bersalah.


Aku… terlalu terbiasa dikhianati untuk tak melihat kebenaran ini.


Aku adalah anti thesis  dari nilai-nilai kemanusiaan. Dalam diriku tak ada rasa percaya yang dapat menumbuhkan segala sesuatu, temasuk cinta. Elemen ireguler sepertiku takkan dapat bersatu dalam komunitas solid yang dimiliki oleh distrik Clariyastra ini. Terkecuali… jika aku menghancurkannya sama sekali. Selebaran ini adalah bom yang akan menghancurkan segala kebohongan munafik para manusia itu dan menunjukan seutuhnya, iblis hati mereka.


Satu persatu akan menggunakan selebaran ini untuk keuntungannya sendiri dan menuduh satu sama lain. Terserah apakah itu tetangga, keluarga jauh bahkan orang tua sendiri. Semua akan hancur dihadapan jumlah uang sebesar itu.


Dan pun… Sekali Lumina menyebarkan selebaran ini, maka dia telah membunuh sosoknya sebagai dokter yang dipercaya di distrik ini. Persis seperti yang Nao katakan, manusia yang gandrung akan cinta sepertinya, takkan mampu hidup sendirian… karena itu setelah dunia menolaknya, ia akan begitu tergantung padaku untuk mendapatkan “Cinta” itu. Addiksi itu kian lama akan menjeratnya menjadi bonekaku yang manis, yang bergerak selalu sesuai keinginanku.


Bila Ma Dame Fan mempercayakan distrik ini padaku… Maka aku akan menguasainya sesuai dengan hatiku. Aku akan menghancurkannya tanpa tersisa. Entah itu rencana Arthur ataupun kegelapan palsu yang menguasai Clariyastra ini.


“Jangan mencintai, jangan mempercayai dan jangan melupakan siapa dirimu sebenarnya. Tuan Putri… sungguh tidak pernah berubah. Dan karenanya, Tuan Putri takkan pernah mengerti,” kata Lumina yang merobek kertas itu, “Cara Putri berpikir seperti seorang anak yang takut disakiti.”


“… Haaah, aku berharap lebih padamu,” kataku yang kemudian menembak kepala Lumina dengan sihir kegelapan bercampur dengan darahku, "Solemn Nightmare."


Haha… sudah kukira. Tentu saja segala rencanaku takkan semudah itu berjalan. Tak ada orang waras akan dengan senang hati membunuh dirinya sendiri ketika diminta. Tetapi, penolakan Lumina juga berarti… ia pun menolakku juga. Sama sepertu Arthur dan Mutter… dan semua orang yang dahulu kukasihi.


Sepertinya aku harus menjalankan rencana cadanganku… yaitu mencuci otak Lumina dengan sihir ilusi.


Tetapi justru Lumina tertawa. Wanita itu pun membuka atasan gaunnya dan menunjukan bilah luka yang membelah dadanya. Dari sana tumbuh kristal bunga yang gemilang dengan sinar familiar. I-Itu, kan, adalah Cordia Golmi, jantung artifisial berinti Magicite yang mirip dengan milik Luna, homunculusku.


"Duh, Solemn Nightmare. Tuan Putri berencana untuk mencuci otakku?" katanya yang kemudian mengangkat daugku dan tersenyum geli, "Sayang sekali... Sihir seperti itu takkan bekerja pada makhluk antara sepertiku."


... Aku pun ikut tertawa. Penyihir gila itu telah mengubah dirinya sendiri menjadi sebuah Homunculus.