Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Nameless Troubles (1)


—6—


Restoran Guizhong, 22 Agustus 1647


Para kelinci pelayan satu persatu datang membawakan kudapan demi kudapan. Hingga dalam sekejap, sebuah meja bundar telah penuh dengan berbagai kulineran khas Pei Jin. Mulai dari sup Gargantua lunak hingga hakau berisi kuda laut, segala makanan dari penjuru dunia hadir dihadapanku. W-Wow, pantas saja mereka mengatakan Restoran Guizhong termahal dan termegah di dunia.


“Arara, harusnya kan penyihir itu tepat waktu, tapi ini sudah hidangan keberapa, tak satu pun datang,“ keluhku yang melahap bakpao paus putih dengan nikmat.


Seekor kelinci dengan pakaian rapi menghampiriku dan menunduk dalam, "Mohon maaf, Ma Dame Clair. B-Bukannya keenam Ma Dame lain yang terlambat, tapi Ma Dame sendiri yang datang terlalu cepat dan makan terlalu banyak?“


“Eh? Jadi kamu bilang aku rakus?” kataku menatap kelinci itu dengan dingin.


Kelinci itu tampak bersalah sekali dan menunduk berkali-kali, “M-M-Mohon maaf Ma Dame Clair, h-h-hamba pantas untuk mati.”


Aku pun mengelus kepala kelinci yang imut itu. Tetapi sepertinya senyumanku terlalu lebar hingga menunjukan taring-taringku yang menyeramkan. Alhasil, kelinci itu justru semakin ketakutan.


“Boleh pesan sate kelinci satu?”


“H-Hiiiii!” teriak kelinci pelayan itu lalu lari terbirit-birit.


Astaga, kenapa harus lari begitu? Padahal kalau dilihat benar-benar, aku ini hitungannya cantik. Hanya saja mata iblis dan taring-taringku yang tajam membuat semua manusia atau Daemon takut mengundang amarahku. Padahal, aku belum melakukan apa-apa.


Aku bersandar di kursi empuk itu, menatap langit-langit yang penuh ornamen naga emas. Bisnis yang mengundangku kemari adalah pertemuan tahunan Penyihir Tinggi di Pei Jin. Normalnya, seorang biasa sepertiku takkan mungkin berharap bertemu dengan seorang penyihir tinggi, tapi… takdir sepertinya berkata lain.


“Atau mungkin, seseorang sedang mempermainkan takdir untuk meleset dari ingatanku?” gumamku tersenyum jenaka.


Pintu pun terbuka dan karpet segera digelar. Pelan terdengar suara tapak sepatu nan elegan, melangkah masuk dengan pasti. Semerbak melati tercium oleh hidungku, parfum khas yang sangat disukai nenek tua itu. Cocok sekali, pikirku, mewarnai penyihir yang terlalu tua untuk hidup.


Ma Dame Fan, sang pemimpin Penyihir Tinggi kota Pei Jin.


“Kamu tidak berdiri untuk menyambutku?” tanya Ma Dame Fan dengan angkuh.


Sebenarnya, jauh dari kata tua bangka, Ma Dame Fan masih tampak seperti gadis berusia dua puluhan. Tahi lalat di ujung mata kirinya menjadi penyempurna manis wajahnya. Air mukanya tenang, mencerminkan ribuan hal yang telah ia lalui dalam hidupnya. Dia menggunakan kebaya hitam yang dihiasi oleh bordir bunga emas nan indah yang berpadu sempurna dengan helai rambut hitamnya yang halus.


“A-Ah, iya, maaf, saya hanya tertegun melihat keanggunan Ma Dame,” kataku dengan canggung berdiri dan memberi hormat pada sang Penyihir, “Terima kasih telah mengijinkanku bertemu denganmu, Ma Dame Fan.”


Ma Dame Fan adalah penyihir terkuat di dunia sekaligus paling kaya. Dengan kekayaannya, Ma Dame Fan memegang berbagai monopoli sumber daya esensial, terutama energi dan air… Hal itu menjadikannya secara de facto orang paling berpengaruh di dunia. Mencari gara-gara dengannya sama halnya dengan mencari mati.


Tapi, aku tak pernah mengerti, mengapa seorang sehebat itu menaruh matanya pada penyihir sederhana sepertiku?


“Kamu seorang Noctis, tapi kenapa mudah seali kamu menundukan kepalamu itu?” tegur Ma Dame Fan yang pun duduk di seberangku dan menyilangkan kakinya,


“Clairysviel Adeola Noctis,” lanjutnya.


Tertawa canggung aku pun menggaruk-garuk leherku dan menjawab, “A-Anu, saya kurang paham maksud Ma Dame. Saya hanyalah pedagang biasa bernama Clair yang membuka toko bahan kimia bunga Lentera.”


Ma Dame Fan menekuk alisnya sejenak memperhatikanku, lantas menghela nafasnya panjang, “Hmm, kamu tak salah. Anak tanpa sihir sepertinya hanya membawa malu untuk keluarga Noctis. Untung saja, dua puluh tahun lalu, dia mati sebelum membawa aib yang lebih besar.”


Nenek tua yang tidak menyenangkan.


Sembari duduk, aku pun mengalihkan topik, “Bila Ma Dame sudah datang, bolehkan saya memahami bahwa penyihir tinggi lainnya tidak akan datang?” tanyaku.


Ma Dame Fan pun mendorong gulungan emas itu padaku dan mengisyaratkanku untuk membukanya. Gulungan itu adalah sebuah kontrak yang mengikat sang Penyihir Putih untuk menjadi gubernur distrik baru kota Pei Jin. Sebagai harga dari pengabdianku, Ma Dame Fan menjanjikan sebuah Quartz Megistus padaku.


Quartz Megistus, batu sihir yang diciptakan oleh Penyihir pertama di Bumi. Rumornya, kekuatan batu sihir itu setara dengan kekuatan inti Mars hingga mampu mengubah dunia. Namun kekuatan sebesar itu tak sebanding dengan Ideal White.


“… Ini hadiah yang terlalu besar untuk pedagang sederhana sepertiku,” kataku.


“Apakah kamu meragukan penilaianku padamu? Hanya kamu dari tujuh penyihir tinggi yang mampu menjalankan tugas ini. Sebab aku tahu, sebelum menjadi Daemon Vampir, kamu adalah seorang manusia,” kata Ma Dame Fan yang menopang dagu dan mengujiku,


“Kamu dapat mewujudkan utopia yang kuinginkan, peradaban dimana manusia dan daemon dapat hidup berdampingan. Sama seperti di jaman Dewa-Dewi masih berjalan bersama kita.”


Tersenyum diriku, mimpi yang bodoh. Manusia dan Daemon tidak mungkin hidup bersama.


“Maaf bila saya lancang, tetapi apa yang akan terjadi bila saya menolak?” tanyaku.


Terdengar suara senapan disiapkan disekeliling ruangan itu. Para pelayan kelinci tanpa kusadari telah berganti menjadi pasukan Hwarang dengan senapan sihirnya. Sedang Ma Dame Fan hanya menatapku dengans enyuman seribu maknanya, menancapkan pesannya padaku tanpa kata-kata.


Ma Dame Fan tidak menerima kata “Tidak.”


—+—


Keluar dari Restoran Guizhong, aku pun turun ke lantai dasar dari sebuah hotel mewah. Semerbak parfum mahal menghampiri hidungku bersama para nona muda dan kekasihnya melewatiku. Terang lampu kaca di langit menyilaukan mataku bersama dengan kemilauan hiasan dari berbagai permata mahal di lobi hotel itu.


Tetapi sosok berambut hitam menjadi kontras yang menggait mataku. Dengan elegan, laki-laki tampan itu membaca buku. Matanya yang biru bagaikan angkasa dalam buku dongeng, tenggelam dalam kata-kata. Seolah terjebak dalam dunianya sendiri, laki-laki itu tak mempedulikan para gadis muda yang terpesona olehnya.


Tapi berbeda dari orang-orang yang mengaguminya, dengan cepat-cepat aku menutup wajah dengan tas dan kabur sebelum ketahuan.


“… Lama tak berjumpa, Bulan,” sapanya.


Melonjak kaget aku yang lalu dengan canggung menjawab, “Ya… bye!” kataku kabur seperti angin.


Astaga, kenapa aku kaget? Bila Arthur ada di kota ini, tentu saja laki-laki itu juga!


Keluarnya dari hotel mewah itu, aku pun disambut oleh kesibukan Distrik Chandrayastra, pusat perdagangan di kota Pei Jin.


Di sepanjang mataku memandang, para pedagang dari mancanegara meynajikan berbagai barang dagangannya yang menarik di mata. Dari bahan kerajinan hingga batu sihir yang langka, aku bisa menemukannya. Begitu pula berbagai bangsa yang menjadi pelengkap lukisan kota tanpa mati itu.


Mulai seorang tikus yang kecil yang mencari keju untuk keluarga, kucing gendut yang sedang menagih hutang, musang yang sedang berunding dengan para sukubi, hingga badak dan gajah yang membuat macet jalanan. Ada yang berlari memanggul barang di punggungnya, ada pula menarik gerobak dan tentu saja ada yang sedang sibuk tawar-menawar. Penuh dengan hidup, para Daemon tersebut berjuang tiap harinya demi mendapat sesuap nasi.


Tapi, tak bisa menikmati pemandangan itu, aku pun berhenti di depan tokoku dan memutar balik. Kutemukan laki-laki tampan itu ternyata mengikutiku dengan senyum jenakannya.


“Duh, Jun, adik iparku yang menyebalkan… haruskah aku melaporkanmu ke polisi agar tidak menguntitku lagi?” cibirku.


Jun mendengus sombong, “Heh, emangnya aku senang harus bertemu denganmu lagi, Bulan, adik iparku yang kurang ajar?”


-- Character Design 05--