
—Arc II: Unwavering Faith—
Bulan merah menerangi lautan api seperti mata iblis yang melihat kehancuran dibawahnya. Sinar bintang pun berkilauan di langit, membentangkan sayap merah mereka. Bersamanya pedang-pedang api menghantam kota, melahap apapun yang disentuhnya.
“Asalkan kamu hidup… Kita akan menang,” kata seorang wanita berlari menggendongku. Terengah-engah nafasnya, dengan denyut jantung yang berdebar-debar berusaha mengkompensasi darah yang megnucur deras dari luka di perutnya.
Di tepian tebing, wanita berambut emas itu mengelus rambutku dengan lembut dan tersenyum kecut, menyembunyikan diriku diantara puing-puing bangunan. Sebelum meninggalkanku, wanita itu memberikanku sebuah kristal berwarna putih yang bersinar terang di hadapanku.
“Ingatlah … Sihir adalah kebohongan. Musuh dunia yang sesungguhnya—“ sebelum wanita itu dapat menyelesaikan kata-katanya, suara ledakan pun terdengar. Pucat wajah wanita itu yang kemudian dengan buru-buru memasang pelindung sihir padaku.
“Kita akan bertemu lagi, Chrysant. Aku janji,” kata wanita itu sebelum ombak api menjemputnya… dan mengubahnya menjadi bunga-bunga api.
—1—
Underworld, 19 Agustus 2278
Terbangun diriku oleh mimpi yang buruk. Nyeri segera menyerang kepala hingga aku harus meminum beberapa pil obat untuk meredakannya. Haah.. lagi, mimpi masa lalu yang menyebalkan. Mengapa dia selalu mengangguku, padahal aku sama sekali tak mengingatnya?
“Masih 1 jam sebelum misi dimulai,” gumamku yang pun berdiri dan mengambil dua pedang belatiku. Dibalik jendela gedung pencakar langit yang sudah ditinggalkan, aku memperhatikan seekor monster babirusa raksasa pun muncul dari saluran air bawah tanah— seekor Kirby. Kristal merah besar atau disebut Magicite tampak dibalik rusuk-rusuknya menjadi kontras dengan kegelapan yang menyelimuti tubuhnya. Melihat Magicite itu, aku pun tersenyum.
Mereka adalah Malice, monster yang lahir dari kebusukan hati manusia. Haus akan cahaya, para Malice menyerang apapun yang masih hidup. Dua abad lalu mereka tiba-tiba muncul dari bayangan dan merayap di enam kota angkasa, memporak-porandakan kota dan menghancurkan peradaban.
Saat manusia-manusia terakhir berdoa pada sang Dewi, sebuah keajaiban pun lahir. Kristal sihir pun hadir di tangan mereka sebagai tanda berkat dari sang Dewi, Ignition. Dari kristal itu kekuatan besar pun lahir menjadi kekuatan besar yang membebaskan manusia dari tirani para Malice.
Kekuatan itu adalah sihir.
“Hmm, dari ukuran Magicite Malice… Sepertinya dia Tipe C. Lumayanlah untuk duit jajan,” gumamku sembari mengenakan seragam hitam. Tak lupa aku memasang lencana elang yang menggenggam Ignition cahaya di dadaku lantas merakit dua belatiku menjadi busur panah.
“Code Ruin Hunter, Activate Ignition,” gumamku menarik panah cahaya dari busurku dan membidik buruanku. Satu panah cahayaku sudah lebih cukup untuk menghabisi menghabisi Malice tipe C.
Tapi tiba-tiba, aku menemukan seorang lak-laki melompat dari sebuah gedung dan menghantam tubuh monster itu dengan palu raksasanya. Kalung Ignition merah laki-laki itu menyala, menunjukan dirinya yang adalah seorang pemburu sepertiku. Tapi… gaya bertarungnya ceroboh sekali.
Dengan bodohnya dia menyerang monster itu dari depan, kewalahan menghindari dan menangkis serangan monster itu. Dari gayanya bertarungnya yang ceroboh, sepertinya dia masih seorang pemula. Paling-paling setingkat Chronicler, pemburu yang baru dilantik oleh Black Company.
“Hah, dasar pemula… Dia meremehkan seekor Malice. Padahal kesalahan kecil dapat berakhir dengan maut,” gumamku yang masih membidik monster itu, “Haram sih mengganggu perburuan orang lain, tapi kebetulan kuota amalku hari ini masih belum terpenuhi. Berterima kasihlah, pemula.”
Tersenyum meringis dibalik tudung mantel beruangnya, laki-laki itu pun berteriak, “Activate Skill: Provoke!”
Zirah sihir laki-laki pun aktif, mengobarkan sinar merah yang membuat babirusa itu marah. Monster itu pun melesat ingin menyeruduk pemula itu telak. Tapi bukannya takut dan menghindar, sang petarung justru menerima langsung serudukan sang babirusa. Dengan otot-ototnya yang kekar, laki-laki itu melempar babirusa itu ke langit dan mengekspos kirstal merah monster itu pada bidikanku.
“Angel Touch,” gumamku melepas panah cahayaku yang bagai kilat menembus kulit baja monster itu, mengoyak-koyakkan pelindung jantung Malice itu dihadapan sang pemburu.
“Kiiiikkhh!” teriak monster itu.
Meski bingung apa yang terjadi, laki-laki itu segera mengambil kesempatan. Dia pun melompat dan… dengan brutal, merebut Magicite sang Malice dengan kedua tangannya. Sesaat terlepas Magicite dari tubuhnya, tubuh Babirusa itu pun teronggok tak bernyawa di tanah dan perlahan hancur menjadi debu.
Tersenyum lebar laki-laki itu lantas melompat-lompat seolah merayakan kemenangannya yang pertama. Yah, aku dapat mengerti manisnya kemenangan pertama, tapi harusnya dia segera lari dari tempat itu. Sebab, suara mengundang para Malice lainnya. Aku pun melompat turun dari persembunyianku dan menemui pemula itu.
“Oi, pemula. Kamu stupid ya? Kalau mau cari mati mending jangan disini. Area ini hanya boleh dimasuki Pemburu tingkat Ruinminer ke atas tahu,” tegurku yang membuat laki-laki itu terkejut. Ingin tertawa diriku melihat muka bodoh laki-laki berambut pirang itu.
“S-S-S-Stupid, aku, si Saber yang hebat ini?” kata laki-laki itu yang pun memamerkan Magicitenya di hadapanku dengan bangga, “Heh, liat ini, padahal aku masih seorang Chronicler, tapi sudah mampu mengalahkan seekor Kirby, tipe C yang dua level di atasku! Bukankah ini menunjukan bakatku sebagai pemburu?”
Aku hanya tersenyum meladeni ego pemula itu, “Ya,ya, ya, sekarang cepat menyingkir dari tempat ini, sebelum aku menendang bokongmu, bocah.”
“B-B-Bocah, aku ini udah delapan belas tahun loh. Lelaki tulen,” katanya yang memicingkan mata dan membandingkan tinggi badannya denganku, “Bukannya yang bocah itu kamu ya? Masih sebahuku aja belum, hihi,” lanjutnya.
U-Ugh… Dia menyerang titik *insecure-*ku\, sial. Lagipula nyebelinnya\, aku memang masih lebih muda dari Saber.
“Setidaknya, aku udah lebih lama di industri ini darimu,” kataku yang memamerkan lencanaku.
“P-P-Pathfinder?! Tingkat pemburu tertinggi di Black Company? Orang yang katanya memiliki kekuatan seribu pemburu dalam dirinya?” kata Saber tak percaya.
Tapi Saber memicingkan matanya “Hrrmmm, kayaknya ini imitasi doang deh. Tak mungkin bocah sepertimu menjadi Pathfinder. Lagipula, saat janji pemburu yang dihadiri tujuh Pathfinder Black Company, tak ada yang secebol kamu.”
“U-Ugh… i-itu… karena… Uuuhhh—”
Tak mungkinkan aku bilang, karena aku kurang pede dengan tinggi badanku, aku meminta asistenku menggantikanku dalam seremoni formal?
“Heh, kamu mau menipuku ya? Aku ini punya IQ 300, mustahil untuk menipuku dengan trik murahanmu,” kata bocah itu yang dengan tidak sopannya mengacak-acak rambutku, “Tenang saja, Abang paham kok. Semua pemburu pemula pasti ingin membuktikan dirinya di hadapan Black Company bukan? Setidaknya, kamu punya ambisi yang gede ingin menjadi Pathfinder.”
“Kubilang aku ini memang udah jadi Path—“
“Namaku Saber Aivelstadt, namamu?” tanya Saber mengulurkan tangannya padaku.
“Haaahh… Ruin Hunter,” jawabku menjabat tangan itu.
“Ruin Hunter? Nama yang aneh. Ya sudah, Hunter, terima kasih ya, sudah membantuku tadi. Kalau tak ada kamu, legenda Saber yang hebat akan berakhir hari ini,” katanya yang tersenyum meringis.
Kuhela nafasku dan melirik Saber. entah mengapa, melihat tingkahnya itu… mengusik hatiku. Dimana ya aku pernah melihat orang semenyebalkan itu? … Hmm, ah, paling-paling perasaanku saja.
Sekejap, mataku menangkap silhuet raksasa keluar dari sebuah gang. Hening langkah kakinya, bahkan nafas pun tidak terdengar. Tetapi ketika saat Sang Rasasa mengambil tubuh babirusa itu, tampaklah jelas gigi-giginya yang tajam saat memakan Malice itu.
Hanya sedetik saja aku tahu, Malice itu berbeda dari yang kuhadapi sebelumnya. Tubuhnya setinggi pepohonan yang merambat dari gedung-ke gedung, dengan tiga pasang tangan berotot dan cakar yang menakutkan. Mulutnya robek menjadi tiga, melahap dengan rakus tubuh Kirby hingga tak tersisa satupun.
Malice Aberrant yang memangsa sesamanya untuk menjadi lebih kuat.. Kode namanya adalah Judgement, target perburuanku saat ini.
… Gawat. Aku pun membekap mulut bocah itu dan menariknya bersembunyi di puing-puing bangunan.
Warna-warni jamur dan bunga penuh cahaya menerangi gelapnya kota. Tetapi mata Malice yang merah telah kehilangan kemampuannya untuk melihat dengan baik. Hanyalah telinganya yang tajam menjadi penuntun jalan mereka. Untungnya karena itu, Malice itu belum menyadari keberadaanku dan Saber.
“Al..bert… dimana… kamu?” gumam sang Malice.
Malice yang bisa berbicara? Keringat dingin mengucur di peluhku. Sialan, mereka bilang Judgement memiliki kekuatan setara dengan tipe B. Darimana? Setidaknya dia harus setingkat A ke atas untuk dapat berbicara!
Bila aku harus melindungi pemulai ini, aku tak bisa bergerak leluasa. Sepertinya, aku harus kabur.
Gruwuulllllwulwul!!
“M-Maaf, aku belum makan dari tadi pagi,” gumam bocah itu.
… Astaga, sial banget! Kenapa disaat begini, perut Saber berbunyi sih?!
“Hush, kalau kamu mau hidup, diam disini dan jangan bertingkah,” kataku yang pun keluar dari persembunyianku dengan kedua belati di tanganku.
Mata merah Judgement pun menangkap diriku. Dengan mulutnya yang lebar, Malice itu pun bergumam,
“T-T-T-The… Re-re-reaper? H…HHHHHaaa!!”
Meraung keras Malice itu menggetarkan hutan. Bersama dengan burung-burung yang berterbangan oleh horror, ratusan mata merah bersinar dalam kegelapan. Dalam sekejap, aku menemukan diri mereka dikepung oleh ratusan Malice yang haus darah.
… Gawat, adrenalinku mengucur deras.
“Saber, tadi kamu bilang lencana ini cuma imitasi bukan,” kataku yang tersenyum lebar menatap banyak duit menanti untuk ditambang, “Lihat benar-benar, inilah kekuatan seorang Pathfinder!”
Writer Notes: