
Begitu menakjubkan! Takdir sungguh berpihak pada keinginanku. Daripada harus mencari jauh-jauh, kini sosok yang memiliki kemiripan dengan Qrista telah hadir di depanku sendiri. Darah dagingnya sendiri!
Sepertinya aku dapat memulai percobaan sihirku lebih awal dari yang kukira.
“Kenapa kamu justru tersenyum?” tanya Quina.
Kuulurkan tanganku pada Quina, dan darinya, muncullah seekor kupu-kupu merah. Bersama dengan hembusan nafasku, kupu-kupu itu pun terbang dan melingkari Quina dengan riang. Namun, bukannya terhibur oleh kupu-kupu itu, Quina bersiap untuk menebasnya.
“Bila aku jadi kamu, aku tidak akan menebas ibuku sendiri,” kataku.
“I-Ibu? Apa yang kamu bicarakan?”
Saat kupu-kupu itu hinggap di jari Quina, puluhan ingatan yang kucuri dari Qrista pun mengalir padanya. Aku tidak tahu ingatan apa yang ditunjukan, tetapi itu cukup untuk menitikkan air mata Quina.
Saat kupu-kupu itu kembali padaku, Quina mencoba mencegahnya namun sia-sia. Warna kesedihan terlukis di wajahnya bercampur aduk dengan kerinduan yang menumpuk bertahun-tahun. Tetapi, warna itu telah tercemar oleh emosi dendam dan kekecewan. Mengapa, aku tak mengerti.
“Kamu pasti berpikir, bagaimana bisa? Padahal jawabannya sederhana. Aku telah membunuh ibumu,” kataku mengakhiri lamunan gadis itu.
"Dasar iblis!"
Amarah melontarkan Quina yang ingin menebasku. Luapan emosi menyerbu tubuhku bagaikan ombak ganas. Quina, yang kini telah meninggalkan kemanusiaannya, berubah menjadi monster haus darah yang mencabik-cabik tubuhku berkali-kali.
Tetapi menerima luapan emosi itu, aku hanya tersenyum dan mengagumi betapa indahnya warna perasaan Quina. Dan tentu saja, aku mengagumi saat luapan emosi itu berubah menjadi keputusasaan, setelah menyadari belati rapuhnya telah patah sia-sia. Tak ada satu pun luka yang timbul di tubuhku.
Kuambil kerah Quina dan mengangkat tubuhnya, “Hey, Quina. Kalau aku bilang, aku bisa membangkitkan ibumu, apa yang akan kamu berikan padaku?”
Bergeming mata Quina menunjukan keraguan di hatinya. Aku pun berpikir kembali, bila Quina benar-benar di pihak ibunya, mengapa dia repot-repot menyabotase tambang yang dimiliki oleh Black Company? Bukankah Qrista dan Prof. Oe merupakan bagian dari organisasi terkutuk itu?
“… Lebih baik dia tidak ada di dunia ini,” jawab Quina.
“Loh, kenapa?” tanyaku yang tidak dijawab Quina.
Tertegun aku yang menurunkan gadis itu. Tidak mungkin. Tak pernah terpikir olehku, seorang anak menginginkan orang tuanya tetap mati. Apalagi setelah luapan emosi yang barusan Quina tunjukan padaku.
Apakah gadis ini membohongiku?
Ugh, Kenapa keras kepala amat sih? Tatapan Quina yang teguh itu segera memberitahuku bahwa dia takkan berbicara dalam kondisi apapun.
Tapi, aku punya siksaan yang akan membuatnya berbicara!
Setelah mengikat Quina dengan akar hitam, aku memulai api unggun dan memasak sup disana. Kuambil cincin spasialku dan mengambil berbagai bahan makanan disana. Mulai dari berbagai rempah yang kudapatkan dari benua baru, hingga daging mammoth dengan kualitas tertinggi. Gemilang bahan-bahan itu membuat ilerku keluar, membayangkan masakan lezat yang menantikanku.
Tak perlu menceritakannya, baik aku dan gadis rubah itu tahu betapa lezatnya daging ini.
“… Kamu sudah gila? Mana ada orang memasak di depan musuhnya,” kata Quina.
Tertawa kecil aku sembari memotong-motong bawang putih dan menggorengnya di panci. Bersama dengan aroma wangi yang menggelitik hidungku dan Quina, aku pun tersenyum dan berakata,
“Di hadapanmu ada hidangan yang begitu enak, tetapi tak dapat kamu makan. Sebagai seekor Daemon lapar dengan penciuman yang tajam, bukankah ini siksaan paling pas untukmu?” kataku yang mulai memasukan daging eksotis itu ke panci, menekannya agar lemak-lemaknya keluar dan semakin menggoda Quina.
“Gimana, sekarang kamu sudah mau berbicara?” lanjutku menggoda gadis itu.
Gerumul perut Quina adalah jawaban yang kuinginkan. Tampak kesal, gadis itu menggertakkan mulutnya dengan malu. Tetapi mulutnya tak kunjung berkata.
“Hahaha, tak ada pilihan lain. Rasakan ini, jurus mautku!” kataku yang mengeluarkan sebuah anggur masak dan menyiramnya di panci.
Merah padam wajah Quina. Kakinya meronta-ronta ingin membebaskan diri, begitu pula kepalanya dia santukkan ke tanah berusaha mengendalikan dirinya. Tetapi, pada akhirnya, perut pun memenangkan godaan itu.
“A-A-Aku menyerah!!” teriak gadis itu dengan iler yang mengeces, “T-Tapi, sebelum itu, sa-satu saja, satu saja suapan daging itu…. aku sudah tidak makan seharian!”
Tertawa geli aku kemudian memotong daging itu dan menusukkannya di garpu. Tetapi sebelum gadis itu dapat melahapnya, aku segera menarik daging itu darinya dan memakannya. Sebal wajah Quina membuatku gemas, lantas aku pun menggodanya lagi. Kali ini kugerakkan sepotong daging itu dan melihat dengan geli, kepala Quina yang mengikutinya.
“Quina, kamu menginginkan daging ini?” godaku.
“M-M-Mau!!” teriaknya.
“Kalau begitu, berjanjilah, sebagai ganti daging ini, kamu…”
Aku berpikir kembali. Kalau aku hanya sekedar memintanya menceritakan apa yang terjadi, rasanya sia-sia bagiku mengorbankan daging bintang lima ini. Hmmm, bagaimana jika aku mengikatnya dalam suatu hubungan denganku?
Misalnya Quina menjadi budakku, aku tak berbeda dengan dewi kematian itu. Lalu bagaimana dengan sepasang kekasih? Cinta yang berakar dari perjanjian berat sebelah hanya melahirkan pengkhianatan seperti yang dimiliki Mutter. Saudara? Apa basis yang mengikat kami, darah saja tidak. Kalau begitu teman? Hubungan dangkal seperti itu mudah untuk diingkari. Kalau begitu…
“Jadilah sahabatku,” gumamku tak sadar.
… Uh, kayaknya aku mengatakan sesuatu yang sangat gila deh. B-Bagaimana bisa, seseorang yang telah membunuh ibu Quina, meminta gadis itu menjadi sahabatnya? Bodoh banget, saking bodohnya, aku sampai malu!
Disaat aku melamun, Quina segera melahap daging itu dan mengunyahnya. Pipinya segera merona setelah daging itu menerbangkannya ke kahyangan. Setelah beberapa detik terjebak dalam ilusi kebahagiaan, gadis itu tersadar dan berkata,
“Gak mau! Aku bukan cewek murahan yang bisa dibeli dengan sepotong daging,” tolak Quina dengan congkak. Dia tersenyum puas mematahkan kendali godaanku setelah puas merasakan nikmat daging itu.
Tapi tunggu dulu, apa aku tidak salah dengar ya? Barusan saja Quina menolakku? Diriku ini, Sang Daemon Bulan yang berhasil menumpas berbagai wabah di dunia? Clairysviel Adeola Noctis yang namanya sendiri sudah berarti mahkota gemilang penuh kekayaan?! A-A-Apaa?!
Kesal, akar-akar kegelapan pun bermunculan dari punggungku membentuk sayap malaikat yang mengerikan. Tersenyum dongkol diriku lantas memegang pipi Quina.
“B-Berani-beraninya kamu mencurangiku…!”
Tetapi Quina menatapku tepat di mata, tak bergeming sama sekali. Tatapannya seperti seseorang yang sudah berkali-kali melihat sang kematian.
Tiba-tiba terdengar suara familiar mencegahku, “Hentikan Daemon Bulan. Menyakiti gadis itu takkan membawamu kemana-mana,” katanya.
Kuhela nafasku dan mencubit gemas pipi Quina, “… Nyebelin.”
Hampir saja aku mengulanginya. Terjerat dalam kegelapan hatiku dan melakukan hal mengerikan. Bila aku melepaskan kegelapan hatiku, maka… kata-kata yang kuucapkan pada Nyghtingale hanya menjadi kebohongan belaka. Aku hanya akan menjadi monster yang sama persis dengannya.
“Lucu juga menemukanmu disini,” kataku yang menatap arah suara itu, “Danius?”
Di mulut gua, seekor kucing hitam dan anak-anak buahnya telah membidikku. Salah satu dari anak buah Danius adalah seorang botak yang kutemui di Benteng Villenburg sebulan yang lalu. Paman Roger.
“Gadis itu adalah anggota terbaikku, Danius ini mohon, Daemon Bulan, lepaskanlah dirinya,” kata Danius bersembah sujud di hadapanku. Bersama dengannya, seluruh anak buah Danius pun malkukan hal yang sama termasuk Paman Roger.
“J-jangan, Paman! Kita tidak boleh kalah dengan iblis inI!” teriak Quina.
“Dasar bodoh! Cepat tundukan kepalamu jika masih ingin hidup!” teriak Danius.
Quina tampa terpukul mendengarnya. Setelah kulepaskan wajahnya, gadis itu segera menunduk di depanku. Sebuah kalung emas pun keluar dari kerah baju Quina, menunjukan liontin pedang api dengan permata adamantium yang indah.
Setelah lama berkecimpung di dunia perdagangan, aku pun tahu kalung semewah itu tidak mungkin dimiliki seekor peranakan biasa.
“Kamu sebenarnya siapa, Quina Oedellia?” tanyaku penasaran.