Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Predator Telos (1)


— 18 —


Bergantung pada tali besi, aku memasang kristal Repeater di kelima sisi lubang besar. Dalam lubang itu, membuatku bergidik ngeri membayangkan kalau-kalau tali besi ini putus dan aku terjatuh. Karena itu setelah memasang Repeater sesuai rencana, cepat-cepat aku pun naik ke permukaan. Tetapi, duduk di atas tiang listrik yang jatuh, Khanza melihatku dengan topeng tengkoraknya.


“Pagi-pagi betul, aku lihat semua tim ekspedisi itu sudah sampai di perifer kota. Kamu tidak ikut dengan mereka, Chrysant?” tanya Khanza.


“Sebagian Predator sudah kuhabisi kemarin, satu-satunya yang menghalangi mereka pergi hanyalah The Repaer. Tapi ternyata, Malice itu menepati kata-katanya ya,” cibirku sembari mengemaskan peralatanku.


“Hmph, kan sudah kubilang, Khanza selalu menepati kata-katanya. Lagipula, apa untungnya aku menyerang mereka. Sasaranku sejak awal ialah Emillia,” kata Khanza yang melompat turun dan memperhatikan perangkap yang kubuat,


“Let see, kalau tak salah… alat itu pernah Dagger gunakan untuk melawan Predator. Repeater? Automachina yang meniru irama kristal sihir di sekitarnya. Hmm, Lima repeater disusun secara konsentris, menopang sebuah dua Magicite kelas Adamantium yang terimbuh sihir angin dan air…


Ah, apa mungkin Chrysant mau meruntuhkan satu kota ini dengan menghancurkan fondasi kota?”


“Itu rencananya,” jawabku yang pun mencabut belatiku dan melihat kondisinya. Ah, sial, aku lupa meminta Dagger memperbaiki retakan pada Twin Princess yang kudapat dari pertarunganku dengan Khanza.


Khanza tertawa hingga mengacak perutnya, “Astaga, Chrysant, kamu tak pernah membuatku bosan dengan ide-ide kreatifmu.  Bukan hanya menghabisi seluruh Predator, tapi kamu bisa melukai Emilia sekaligus. Brilliant!” pujinya.


Uuuhh… bingung aku, haruskah aku senang saat dipuji musuhku sendiri? Kuhela nafasku dan berkata,” Asalkan kamu tidak menghalangi rencanaku, Predator bukan masalah.”


“Hahahaha! Chrysant percaya diri banget. Tapi apakah karena kepercayaan diri itukah kamu memutuskan untuk memilih melindung Dagger dari misi bunuh diri ini?” tanya Khanza.


“Setelah melawan seekor Predator, menurutku mereka cuma menang jumlah doang. Lagipula, Ruin Hunter bekerja paling baik sendirian. Dengan begitu, aku tidak perlu khawatir seseorang terkena imbas dari sihirku,” kataku yang mengingat pil tidur yang kuselipkan dalam ration Dagger. Kalau tahu aku akan pergi melakukan misi berbahaya ini sendirian, tentu si kepala batu itu pasti akan ngotot ikut… dan membahayakan dirinya.


… Melihat orang-orang yang kusayangi tersakiti adalah hal terakhir yang kuinginkan.


Menyarungkan kedua belatiku, aku pun mengaktifkan Magicite yang melayang di tengah lubang itu. Topan badai pun muncul menghamburkan deras air yang menghujam seluruh lubang itu. mungkin dalam satu menit ada kali sepuluh ribu galon air mengalir disana.


“Ini bukan misi bunuh diri, aku harus pulang. Seseorang menantikanku,” kataku.


“Khanza suka jawabanmu, Chrysant. Bagaimana kalau kita membuat satu lagi janji? Kalau kita berhasil melewati pertarungan ini hidup-hidup, Chrysant harus mentraktirku ramen!” kata Khanza menepuk pundakku.


“H-Ha? Ngapain aku harus—“


“Sudah diputuskan ya! Uuuuuwww, aku usdah tak sabar merasakan ramenku, hihihi,” kata Khanza yang pun menghilang bagai angin ribut seperti biasanya.


Kuhela nafasku, “Cih, dasar Malice nyebelin. Awas aja kalau ternyata dia kalah, hmph!”


— + —


“Chrysant… Chrysant… dimana kamu?” panggil para Predator yang menyusuri sepanjang jalan kota. Dengan teliti mereka mengintip dibalik jendela-jendela gedung tinggi seperti mencari mainan yang hilang.


Tetapi kemudian, bayangan pun melesat. Ketika salah satu Predator sedang memanjat gedung, angin ribut pun menggelegar. Tanpa monster itu sadar, tubuhnya telah ditembus oleh hujaman panah yang dahsyat. Terjatuh monster itu ke tanah, mengerang kesakitan sebelum berhenti bernapas.


“… Ada yang dibunuh… Ada yang dibunuh!” kata Predator lainnya mengerumuni sang korban. Seperti anjing yang marah, mereka menggeram dengan taring-taring mencuat di tubuh mereka, bergetar dan menyuarakan sisik yang menyerukan derum kematian.


“Ibu bilang… Jangan bunuh… sebelum dibunuh… Sapiens … Sapiens itu… bunuhh!!” teriak salah seekor Predator yang memekarkan kelopak tanduknya, disambut seruan Predator lainnya. Mata merah monster-monster itu pun tertuju pada Chrysant, yang berdiri dengan busurnya di gedung tertinggi.


Tersenyum diriku memancing monster itu, “Sini kamu, burung kecil.”


ZUUSHHH!!


Seekor Predator melesatkan energi sihir yang pekat, merubuhkan gedung tempat Chrysant berpijak. Tetapi kumekarkan sayap sihirku dan terbang menikuk, menebas kumpulan Predator dengan satu tarian belati yang mematikan. Lantas berdiri di atas mangsanya yang tumbang, dengan sombong Chrysant menantang para monster di depannya,


“The Hunt Begins!”


Mengaung para predator menggetarkan tanah. Beberapa menembakan laser hitam yang merbuhkan berbagai bangunan disana, menimpa beberapa predator karena kecerobohannya. Dengan membabi buta, para Malice itu berlari mengejarku yang melesat bagaikan angin, sesekali berbalik dan menembakkan panah petir yang menghujam jantung mereka.


Sampailah aku di sebuah jemabtan aspal yang panjang. Terbentuk dari sinkhile yang dalam, tempat itu penuh dengan gedung runtuh tertelan dalam lubang itu. Dalam peta yang dibuat Dagger, lokasi ini adlaah titik tengah saat kota ini runtuh dalamr encana kami. Kutelan ludahku, kukira Predator yang tersisa paling cuma belasan… Tetapi astaga betapa aku salah! Di depanku telah berkerumun ratusan Predator yang ingin mencabik-cabik tubuhku.


“GRAAAHHHH!” erang para Predator yang melompat ingin menerkamku, tetapi aku meghindari sembari menembak belasan panah yang mengenai arteri mereka yang mencuat keluar.. Darah yang tak henti mengucur dari luka mereka itu pun perlahan membuat gerakan mereka melamban.


Tak berhenti, Chrysant pun melompat dan menikam seekor Predator tepat di keningnya. Sinar terang pun muncul dari ujung belatiku saat aku mengucapkan mantra,


“Black Company, acahaya utama dunia ini. Bangkitkan api pemberontakan cahayamu dalam belatiku. Blazing Strike!”


Cahaya panas pun membakar tubuh Malice itu dari dalam. Tersiksa dengan sangat, sang Predator meronta-ronta hingga akhirnya terjatuh dalam sinkhole dan mati.


".... Kekuatan ini... Warden? Bagaimana bisa... Bagaimana bisa?!" teriak seekor Predator murka.


“Warden? Hah, aku tak megnerti satu pun omong kosong kalian. Ini adalah kekuatanku, yang diberikan oleh Dewi Black Company. Ingatlah nama Ruin Hunter, sang Pathfinder termuda yang sepanjang sejarah,” kataku.


BUMM!!!


Terdengar suara ledakan dari bawah jurang disekitarku. Tangan-tangan raksasa pun muncul dari sana, berkali-kali lipat besarnya dibandingkan Predator yang kulawan.


“Mundur, adik-adikku…”


Berbeda dari suara melengking predator lainnya, monster yang perlahan muncul di permukaan itu memiliki suara berat yang menggelegar. Terkejut diriku, melihat semua Predator sudah menunduk ketakutan… namun kejutan lebih besar telah menantiku.


Setinggi sebuah gedung, seekor daging Naga merayap keluar bagaikan kelabang. Darah mengucur dari kepalanya yang penuh tanduk, menatapku dengan satu mata merahnya yang besar seperti ular. Tapi berbeda dengan Malice pada umumnya, sang Naga tidak menyembunyikan lokasi jantungnya. Kristal Magicite raksasa itu jelas mencuat di kepalanya. S-S-Sial… j-jangan-jangan monster mengerikan ini adlaah sang Predator sesungguhnya?


“Kenapa… kamu menyakiti kami? Apakah… kami pernah mengganggumu? Kami hanya ingin bermain dengan Chrysant… ” tanya Predator raksasa itu.


“Bermain? Omong kosong apa itu. Bagaimana aku bisa membiarkan Malice seperti kalian hidup dan mengancam manusia?.


Menekuk kepalanya bingung, monster kepala raksasa itu pun bertanya, “Ada hukum yang ditulis ibu kami… Kami hanya dapat membunuh… jika satu dari kami dibunuh… Bila kami menyerang manusia… pasti  manusiamembunuh salah satu dari kami… Ibu selalu mengajarkan itu pada kami. Maafkan Sapiens, tetapi bencilah perbuatan kejam mereka… Keadilan harus selalu ditegakkan….


Mata dibalas mata… Darah dibalas darah.”


Sejak tadi aku penasaran siapa sosok ibu yang dimaksud para Predator itu? Namun hatiku lebih terusik dengan omong kosong munafik yang dia katakan. Keadilan, bagi monster yang memakan manusia demi bertahan hidup? Mendengarnya, rasa mualku mengalahkan ketakutanku.


“Memaafkan? Itu kata-kata terakhir yang ingin kudengar dari Malice busuk sepertimu!” bentakku yang pun membidik jantung dan melesatkan sebuah panah kesana. Terpukul mundur Malice itu, tetapi tentu saja serangan selemah itu takkan cukup menghancurkan Magicite yang besar itu.


“… Kenapa… Sapiens… selalu menyakiti kami… ? Kenapa.. Ibu… selalu melindungi Sapiens? KENAPA… KENAPA, KENAPA, KENAPA?!.. Padahal… kami hanya ingin… hidup dengna tentram…” teriak sang monster dengan tubuh bergetar.


Duri-duri daging yang tajam pun melesat dari tubuhnya, menelan seluruh Predator kecil di sekitar monster itu. Lantas tumbuh tak terkendali, dalam sekejap monster itu pun berubah menjadi gumpalan daging yang menjijikan. Darah segar dan kental mengalir membasahi seluruh tanah. Perlahan tumbuh dari daging itu, sembilan kepala naga ular yang menatapku penuh amarah. Mereka pun membuka mulut mereka dan melesatkan energi sihir bertubi-tubi kepadaku


“… Sudah… cukup!! Tak.. .terima, tak terima, tak terima, tak terima! Semua… harus berubah… Perbudakan Sapiens ini..!” teriak sang Predator.


Nyaris, Chrysant menghindari seluruh kilat sihir itu. Berlari dirinya mendekati sang monster ular dan melihat kesempatan emas untuk menikamnya. Tetapi, ternyata itu hanya jebakan. Dari dalam tanah muncul kepala ular yang kesepuluh, menerkam tubuhku dengan rahangnya yang kuat. Segera tanpa ampun, monster itu menghantamku berkali-kali di tanah dan ingin menghabisiku dengan lesatan energi sihir.


BUM!!!


Terlempar diriku hingga menghantang ping-ping bangunan. Perisai pelindungku pun pecah, bersama dengan meledaknya kristal pelindung di seragamku. K-Kukh…! Andai saja, aku tidak meminjam pelindung sihir Dagger, pasti tubuhku udah remuk barusan.


Tersenyum masam diriku, menatap monster naga itu dengan penuh keringat dingin,


“… Dagger, tiga puluh menit masih terlalu lama!”


Monster Design