Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Triad Megistus (3)


—54—


“Bagaimana kamu bisa mengerti cinta bila hidup tanpa melihat langit yang biru?”


Kata-kata Mentari beresonansi di hatiku. Kugenggam erat kalung Kakak, menyerap energi sihir di dalamnya untuk memanggil pedang hitam dari ruang dimensi. Pedang katalis pemberian Mama kepada Mentari, hadiah yang sangat tidak cocok bagi seorang Putri yang menyukai bunga daripada bertarung.


Artemisia.


“Lumina, ceritakan padaku... sejauh mana kamu mengertiku,” kataku yang menebas pedang itu dan mengaktifkan zonaku.


Di hadapanku, Lumina mencabut tongkat sihirnya dan memanggil kedua belas mayat hidupnya. Setelah mengetahui kebenaran dibalik pohon Yggdrasil ini, aku mengerti, Lumina tidak akan pernah memaafkanku.


“Pohon yang kamu bawa ke dunia ini… Pelindung berbagai kota dari Badai Salju Superadikal adalah seekor Anima,” kata Lumina yang menggambar diagram sihir dan memanggil petir yang menyambarku.


Sihir sederhana seperti itu tidak akan menyentuhku, apalgi dengan Artemisia di tanganku. Pedang yang dapat mengembalikan segala ujud sihir kembali ke wujud aslinya, Mana yang tak memiliki kekuatan.


Lumina pun melesat bersama seekor mayat raksasa yang melindunginya dari akar-akar kegelapan yang kupanggil dari tanah. Raksasa itu melindunginya dengan sangat, tak memberikan celah sedikitpun untukku menyentuhnya.


“Secara kebetulan, Tuan putri menumbuhkan pohon itu pada mata air utama yang digunakan semua orang untuk bertahan hidup. Sungai Arisia, danau Edmond dan berbagai tempat lainnya. Tapi untuk apa?” lanjut Lumina yang melesatkan serangan berikutnya.


Satu mayat menyemburkan bola-bola api yang berpadu dengan pusaran tornado yang diciptakan lainnya. Tornado api pun muncul, membumi hanguskan segala yang ia lewati. Dengan mudah aku menebas sihir itu, tetapi dua mayat melesat ingin menebasku dibalik sihir itu.


Kubuka lebar mataku, memperlambat waktu dan menebas habis kedua mayat itu tanpa tersisa. Darah pun terciprat membasahi tubuhku. H-Huh, ini… Sial, penyihir itu menaruh racun asam di darah mayatnya. Hahahha, kulitku terbakar olehnya hingga tak dapat bergerak. Hebat juga, tinggal menunggu waktu sebelum—


BUK!!!


Lengah, sang mayat raksasa berhasil melesatkan pukulan telak yang menghempaskan tubuhku hingga terpaku di batang Ygdrassil. Nyeri tajam menikam paru-paruku setiap kali kuhirup nafas, hahaha… sepertinya keduabelas rusukku patah dan menusuk paru-paruku.


“Bukankah itu cuma kebetulan saja, Lumina asistenku?” kataku yang kemudian batuk mengeluarkan darah. Akar-akar kegelapan pun perlahan menyusun kembali tubuhku seperti semula.


Pemandangan yang membuat Lumina tertawa kecut menyadari serangannya yang sia-sia.


“Bila aku hanya penyihir biasa, tentu aku akan menganggap semua itu kebetulan. Tetapi aku adalh seorang dokter sekaligus Homunculus yang mengabdi pada mendiang Putri Mentari,” katanya yang kemudian memerintahkan keenam mayat hidupnya mundur dan memanggil lingkar sihir longinus yang mengarah padaku.


Keringat dingin pun mengucur di dahiku, astaga, ternyata selama ini aku telah menyimpan monster disisku. Penyihir baisa takkan mampu memanggil sihir tinggi Longinus seorang diri, apalagi tiga buah dengan mudahnya. Tak heran, lumina menjadi seorang Magistrat sihir di usianya yang muda.


“Jadi, sejak awal kamu tahu sihirku yang sesungguhnya?” tanya yang menjentikan jari memanggil akar-akar kegelapan untuk melindungiku.


“Ya, kamu mampu mengendalikan Anima, monster yang bisa menggunakan sihir dahsyat, dengan mudah. Kemampuan mengerikan itulah yang menjadi alasan mengapa Keluarga Noctis membenci dan mengucilkanmu,” kata Lumina yang berusaha menepis akar-akar kegelapan itu, mengikis pertahananku,


“Kebohongan yang Noctis sebarkan ke dunia untuk menutupi bahwa Clairysviel Adeola Noctis adalah penyihir terhebat di masa ini.”


Lumina mengayunkan tongkat sihirnya dan melesatkan tombak-tombak petir raksasa itu padaku. Ledakan hebat pun menghancurkan tiap selku hingga tak tersisa, menciptakan gintar besar yang mencakar langit dan sementara mengibaskan awan kemelut yang menutupi langit. Tetapi kekuatan dahsyat itu tak mampu membebaskan langit biru dari awan hitam itu.


Bintang paling terang adalah sinar yang paling cepat mati, setelah ledakan itu menghilang, akar-akar kegelapan raksasa pun muncul dari tanah. Dia memporak-porandakan tanah, menjungkirbaliknya hingga menciptakan gempa yang hebat. Mayat raksasa yang melindungi Lumina pun tumbang ketika terhujam oleh akar kegelapan itu, terbelenggu olehnya dan tak dapat bergerak.


Di hadapan pohon Yggdrasil, aku duduk di singgasanaku, menyilangkan kaki dan bertopang pipi melihat Lumina, hebatnya selamat dari serangan balikku. Meskipun sepertinya, dia terluka cukup parah.


“Terus katakan asistenku, apa korelasi antara Pohon Yggdrasil ini, kemampuanku, dan kebenaran bahwa aku adalah musuh dunia ini yang sesungguhnya?” tanyaku.


Lumina menggenggam tangannya yang patah, menahan sakit yang sangat. Nafasnya terengah-engah, ketika ia berkata,


“…Kata-kata La Puella Dragonica… memberikan kunci yang menyadarkanku. Rumor tentang Daemon Bulan menyebarkan wabah Nyght… Betapa bodohnya aku tak menyadarinya lebih cepat.”


“Anima, monster yang dapat mengendalikan sihir… Dan Bakteri pengendali sihir yang menyebabkan wabah Nyght, bakteri itu tiada lain adalah seekor Anima. Keanehan mengapa bakteri itu hanya menyerang manusia… semua jadi jelas sekarang,” katanya yang pun mengayunkan tongkat sihirnya padaku tetapi tak mampu lagi memanggil sihir. Mana di dalam darahnya sudah habis.


“Putri Noctis, dengan kekuatanmu, kamu… sejak awal mampu memnghentikan Wabah Nyght itu. Tapi kamu tak melakukan apa-apa dan membiarkan orang-orang itu mati!”


U-Ugh! Sebuah pedang tiba-tiba menikamku. Tanpa kusadari, penyihir itu mengayunkan tongkat sihirnya bukan untuk menyerangku dengan sihir, tetapi memerintahkan mayat hidupnya diam-diam menikamku dari belakang!


Cairan ungu yang mengalir di pedang itu segera membuka mataku. Penyihir sialan itu... dia—


“Bahkan penyihir terhebat pun hanyalah seorang gadis biasa tanpa sihir. Obat wabah Nyght yang kita ciptakan bersama, Antilivia, sesungguhnya adalah jamur Magebane yang merenggut sihir seseorang, bukan?” katanya yang mencabut belatinya dan mendekatiku,


“Memang teknologi masa kini takkan mampu membedakan jamur mikroskopik livebane dan Magebane. Tapi, kamu terlalu meremehkan diriku yang telah mendedikasikan seluruh hidupku untuk menemukannya.”


Aku pun tertawa dengan darah mengalir dari mulutku, “Araraa… Lantas, apa yang kamu raih dengan membunuhku, Lumina? Balas dendam? Apakah balas dendam akan mengembalikan kelaurgamu yang telah ‘kubunuh’ itu?


Atau mungkin pembenaran diri akan kebodohanmu yang selama ini membantu rencana busukku, hmm?”


“Kenapa kata-kata itu harus terucap dari wajah yang sama dari Putri yang kusayangi?”


Tatapan benci lumina membuatku tersenyum tipis. Padahal baru beberapa hari yang lalu, matanya yang indah itu menatapku dengan penuh kehangatan. Tapi sama seperti kolam putih yang dengan mudah ternodai oleh setitik noda hitam, begitu pula kasih yang Lumina berikan padaku… kini menghilang tanpa tersisa.


Betapa mudah perasaan manusia berubah oleh realita yang menyakitkan. Janji manis akan kesetiaannya padaku, kini hanyalah melodi sumbang dalam sanubari. Semua, segalanya, hanyalah kebohongan belaka.


Aku pun kini mengerti mengapa hingga saat ini hanya diriku saja yang tak dapat mengerti cinta. Sebab bagaimana mungkin aku dapat merasakannya, bila tiada tempat di dunia ini yang akan menerima monster jahat sepertiku?


… Bila aku dapat mewujudkan langit biru, apakah akhirnya dunia akan menerimaku?


“Lumina, sedikit lagi kamu hampir mengetahui segalanya. Tetapi kamu melewatkan satu hal. Kesalahan itu membuatmu harus membayarnya dengan nyawamu,” kataku yang  menikam jantung Lumina dan merebut Quartz Megistus yang menjadi inti Homunculus itu.


Penyihir itu terkejut ketika menyadari bahwa disekitarnya tak hanya ada satu Daemon Bulan, melainkan tak terhitung jumlahnya.


“Mama.. hehe, tidak, Esmeralda jika atak salah namanya, tiga puluh tahun dia hanya melahirkan seorang anak. Tetapi sayang, kesibukannya membuat gadis kecil itu kesepian. Dalam kesedihannya, bocah lima tahun itu pun berdoa akan seorang sahabat yang akan menemaninya seumur hidup,” kataku yang mengelus wajah Lumina yang terkejut,


“Dan sahabat itu adalah kami… Black Company, Anima yang lahir dari doa Sang Mentari. Kamilah sang Pohon Yggdrasil yang melindungi peradaban ini… sekaligus yang akan mengakhirinya. Racun Magebane itu hanya mengenai satu tubuhku, dari ribuan lain yang kumiliki.”


Kulepas tikaman tanganku dan membiarkan tubuh Lumina tergulai lemas di depan kakiku. Mengacak pingangku, aku pun tertawa dan berkata pada penyihir malang itu,


“Harusnya kamu mengikuti kataku tadi, carilah Arthur, maka kamu akan menemui Quina. Dia akan dengan senang hati memberitahumu segalanya. Setidaknya, ada kesempatan tipis untuk menang, bila kalian bertiga bersekutu melawanku,” kataku yang memandangi indahnya Quartz Megistus milik Lumina.


“Ideal White hanya dapat diwujudkan bila hanya tersisa satu perwakilan dari tiga bangsa, Triad Megistus, yang tersisa. Triad itu tiada lain adalah Sang Pahlawan yang mewakili bangsa manusia, La puella Dragonica yang mewakili bangsa Daemon dan, bisa kamu tebak bukan…


Ratu Iblis yang mewakili para Anima.”


Aku pun menunjukan segala Mana yang telah kuserap dari dunia. Dari mayat-mayat manusia dan Daemon yang mati konyol oleh perang ataupun termakan oleh Wabah Nyght, Semua yang dikubur akan menjadi kekuatanku… dan menjadikanku makhluk yang setara dengan seorang Dewi.


Lumina tertawa hampa menyadari kebodohannya, “… Putri, apa yang kamu inginkan dengan seluruh kekuatan itu?”


Aku menggapai tanganku ke kemelut gelap awan di langit dan berkata,


“Sejak awal, tujuanku adalah sama. Kami, Black Company, akan mencapai langit biru.”