
Apakah resep membuat seorang manusia?
Jika pikiran itu terbesit di pikiran seseorang, tentu hati orang itu sudah jatuh dalam kegilaan. Sebab bukankah hanya seorang Dewi yagn dapat menciptakan? Namun melihat sistem Nyghtingale Ereshkigal, dan bagaimana peradaban di masa lalu berhasil menciptakan “Seorang Dewi”… Sepertinya menciptakan manusia dari awal bukanlah hal yang sulit.
Apalagi dengan bukti nyata di hadapanku, seorang Asisten setia yang membantuku membagikan obat pada prajurit Benteng Villenburg. Meski memiliki tubuh boneka, Luna memiliki pikiran seorang manusia. Suatu keajaiban yang diciptakan oleh Mutter.
Sebuah keisenganpun kulakukan. Melihat efek darahku pada burung gagak itu, aku pun mencobanya ke organ lain… lebih tepatnya, pada jantung Qrista Oedellia. Dengan manipulasi darah, aku dapat menciptakan replika jantung penyihir itu. Tapi, aku tak berhenti disana. Berbekal ingatanku akan anatomi dan komposisi jantung Anima, aku pun mengimitasi jantung itu menggunakan sel Qrista Oedellia dan menggunakannya sebagai bahan pembuat obat imunostimulant.
Imitasi itu bekerja dengan sangat baik. Kini seminggu setelah pengobatan, seluruh prajurit di Benteng Villenburg pun telah sembuh. Semua… tanpa mengetahui bahwa mereka telah mengkonsumsi jantung seorang Daemon.
Tanganku gemetar, bibirku selalu berusaha menahan senyuman sinis. Di balik kegelapan aku melihat kedua tanganku dan bergumam,
“Inikah… kekuatan Daemon Malaakh yang sesungguhnya?”
Hanya dengan melahap seekor Penyihir Tinggi… kekuatan yang kudapatkan sudah sebesar ini. Bagaimana jika, aku melahap keenam Penyihir Tinggi lainnya? Wajah Nyghtingale pun terbesit di pikiranku. Segera kugelengkan kepalaku menepis pikiran jahat itu. Aku… tidak akan menjadi seekor monster sepertinya.
Bila Mutter dapat mengimitasi “Pikiran” dengan homunculusnya, dan darahku dapat menciptakan “Tubuh”, tinggalah satu misteri yang tersisa untuk membangkitkan Qrista. Namun sekarang pertanyaannya, bagaimana aku bisa membujuk mutter untuk membagikan rahasianya padaku?
“Dalam negosiasi, disaat kamu menguasai apa yang diinginkan lawanmu, maka sejak awal kamu sudah memenangkan negosiasi itu,” gumamku menggigit jari, mengingat nasihat yang Mutter berikan padaku.
Tapi, apa yang Mutter inginkan? Dia telah menjadi Ratu dari negara adidaya, memiliki harta yang tiada batas dan pula Black Company yang menguasai kegelapan dunia. Bila cerita Nygthingale benar adanya, maka di dalam tubuh Mutter berdiam jiwa seorang Dewi yang sempurna. Dengan akta lain, kekuatan sihir Mutter sendiri setara atau bahkan melebihi Nyghtingale.
Bila begitu, mengapa Qrista mengatakan bahwa perang tanpa akhir ini sangat megnuntungkan Mutter?
“Arara, disaat aku pontang panting mengurusi orang yang sakit, Putriku ternyata nongki cantik di dapur dengan segelas teh,” tegur Luna yang bersandar di pintu, “Asal kamu tahu ya, aku bukan pesuruhmu atau semacamnya. Aku disini karena perintah Ratu Noctis untuk mengawasimu, Daemon Bulan.”
Mendengus geli aku, kemudian mengambil secangkir teh dan menyisipnya, “Serem banget. Padahal kemarin seseorang baru saja mendapat 3 keping emas.”
Luna tersenyum tipis, “Aku kan tidak 24 jam jadi pelayan noctis. Adalah 4 jam kusisakan untuk kerjaan sampingan, menolong Start-up malang yang kekurangan dana,” katanya yang dengan tidak sopan menyerobot kue brownies favoritku dan mencicipinya. Tapi seperti biasa, tersirat kekecewaan di wajahnya.
Bukan karena brownies buatanku itu tidak enak, -malah menurutku kue buatanku adalah yang terenak di dunia-, tapi karena Luna tak dapat merasakannya. Kelemahan fatal dari Homunculus yang di desain Mutter, boneka yang tak dapat merasakan apapun.
Karena itu ketika mendengar rencanaku, dengan senang hati Luna menerimanya. Dia menginginkan tubuh baru yang dapat merasakan kebahagiaan dunia ini. Dan untuk mendapatkannya… dia membutuhkanku untuk membebaskannya dari Algoritma Noctis.
“Sebenarnya, ada berapa unit Homunculus yang dibuat Mutter?” tanyaku.
Luna menutup matanya dan menjawab, “Kepo amat. Kan sudah kubilang, kamu tidak punya cukup otoritas untuk mendapatkan informasi itu, nona Clair.”
“Ara, padahal kamu sudah kubayar mahal!”
“Maaf ya. Membeberkan rahasia Noctis adalah pelanggaran berat yang dapat membuat Algoritma Noctis mematikan sistemku.”
“Tapi pengkhianatan kecil yang kamu lakukan ini, tidak apa-apa?” tanyaku yang sebenarnya masih kurang paham, apa itu Algoritma Noctis. Tapi kecurigaanku megnarah pada suatu sistem sihir yang mengendalikan para Homunculus.
Luna tertawa cekikikan, “Lebih asik begini, bukan? Menjadi double agent dengan resiko ketahuan seperti ini membuatku merasa hidup!”
Hidup… hmmm. Mengatakan sebuah boneka seperti Luna ‘hidup’ terasa ganjil di dadaku. Mengapa ada orang sepertiku yang merasa mati, disaat ia sendiri hidup? Mengapa ada yang mati seperti Qrista Oedellia, tetapi memiliki bagian tubuh yang ‘hidup’ sampai sekarang? Apa garis yang membedakan sesuatu yang hidup dan mati?
Sembari menyisip teh nikmat buatanku, aku pun berpikir. entah mengapa ada persaan yang mengusik dadaku. Firasat yang mengatakan adanya elemen lain yang menyusun makhluk hidup. Bukan hanya tubuh dan pikiran saja, namun sesuatu yang lebih mendasar.
Apakah elemen mendasar itu adalah yang disebut Nyghtingale sebagai jiwa?
“Omong-omong, aku melaporkan penelitian gilamu disini kepada Ratu,” kata Luna yang kemudian dengan santai melanjutkan, “Dalam tiga minggu lagi, Ratu Noctis akan menemuimu di Hilfheim.”
Kusemburkan tehku dan segera batuk karena tersedak,
———— +————
Bukan sebuah istana ataupun restoran mewah yang menyambutku, melainkan katedral kuno yang telah lama ditinggalkan. Berada di puncak gunung, tersembunyi diantara lebatnya hutan, berdiri relik dari peradaban masa lalu. Tempat yang dahulu digunakan oleh umat manusia untuk memuja seorang Dewi misterius, yang kini tak lagi terdengar namanya.
Melangkah bersamaku, ialah Luna dengan seragam pelayannya. Semakin dekat dengan katedral itu, semakin masam wajahnya. Mungkin karena lelah tiga minggu perjalanan kami ke Hilfheim. Mungkin saja, karena setuatu yang ia sembunyikan.
“Kita sudah sampai, Nona Clair,” kata Luna yang membuka gerbang katedral yang rapuh.
Terang bulan menyisip di antara mozaik kaca yang buram, menyinari sebuah altar yang dikelilingi kursi panjang yang sudah rusak. Disana seorang pelayan yang memiliki rupa persis seperti Luna, telah menungguku… bersama sebuah mayat yang terbungkus kain kafan, terbaring di atas altar.
Berbeda dengan Luna, pelayan itu membungkuk hormat padaku dan berkata dengan nada yang datar, “Adalah kehormatan dapat bertemu dengan Sang Daemon Bulan. Saya, Homunculus Magister-Type, Code LYRA, ditugaskan untuk mewakili Ratu Noctis menemui anda disini.”
Mata Lyra telah sirna kehidupan, tubuhnya dingin seperti porselain. Ekspresi awajahnya datar seperti suaranya yang dingin dan jauh. Meskipun memiliki rupa yang sama dengan Luna, yang ada di depanku adalah boneka yang sesungguhnya. Makhluk antara yang tak memiliki kesadaran diri… Boneka yang mati.
“Aku percaya, Sitter Luna sudah menjelaskan maksud kami memanggilmu kemari, Daemon Bulan,” katanya yang kemudian membuka kain kafan yang menutupi mayat di altar itu.
Tampaklah di depanku, sebuah mayat dari laki-laki dengan rambut pirang yang halus. Ketampanan di wajahnya masih tersisa, meskipun telah pucat tanpa rona darah. Sebuah tato aneh kutemukan di seluruh tubuhnya, melukiskan bahasa sihir kuno yang tak kumengerti. Tapi, aku curiga, tato itulah yang telah mengawetkan tubuh laki-laki itu.
… Laki-laki yang menghalangiku memenangkan Lomba Apel Pertama, dua bulan yang lalu.
“Dari laporan Sitter Luna, kami cukup tertarik dengan idemu mengimitasi tubuh manusia melalui rekayasa sel. Bila kamu berhasil menciptakan tubuh yang ideal untuk laki-laki ini, Ratu Noctis akan membayarmu dengan sangat mahal, Daemon Bulan,” kata Lyra melemparkan sebuah kontrak sihir padaku.
Aku pun membaca kontrak itu dengan cepat. Disana tertanda oleh darah Mutter, bahwa dalam perjanjian itu sebagai ganti satu juta keping emas, dalam 2 bulan purnama, aku akan menciptakan tubuh ideal laki-laki itu. Perjanjian ini adalah sebuah rahasia, yang sampai mati pun, tiada seorang yang dapat mengetahuinya. Bila salah satu dari kami melanggar perjanjian ini… kematian akan menanti kami.
“Siapa laki-laki ini hingga kalian berani membayarku semahal ini?” tanyaku.
“Tentang itu, kamu tak perlu tahu.”
“Seharusnya kalian tahu bahwa aku telah membunuh seorang petinggi Black Company. Mengapa, kamu justru ingin menyewaku?” tanyaku lagi.
“Tentang itu, kamu tak perlu tahu.”
U-Ugh… menyebalkan. Aku melihat tanda penyembuhan di tiap tato laki-laki, masih merah dengan tanda penyembuhan. Hmm, tanda itu dipatrikan di tubuhnya saat dia masih hidup. Sebab kematiannya, tidak kuketahui, tapi melihat berbagai luka di sekujur tubuhnya… aku yakin laki-laki ini tidak “sukarela” menjadi kelinci percobaan Black Company.
Dengan kata lain, laki-laki ini memegang peranan kunci bagi Mutter. Dan dengan menjadikan laki-laki ini sebuah Boneka dengan daging sangat menguntungkan dirinya.
Tubuh yang ideal… laki-laki yang memerankan kunci… Black Company… Perang tanpa akhir.
Ah… Hahaha! Pantas saja. Telah seminggu aku di Benteng Villenburg, tetapi sosok itu tak kunjung datang. Hanyalah bekas keretanya yang kudapatkan, dan bersama itu keberadaan Qrista Oedellia disana. Laki-laki ini tiadalain adalah Pangeran Axel, Sang Pahlawan.
Aku tak menyangka Black Company berani melakukan skandal seperti ini. Segitu haus akan kekuatankah mereka, hingga mengubah figur yang sangat dikagumi oleh Rakyat Kinje, menjadi boneka yang mudah dikendalikan?
Kini… aku mengerti apa maksud Eclair. Aku memang tidak tahu sampai mana Mutter tega melakukan sesuatu demi ambisinya.
Tapi, apakah ambisnya itu? … Aku ingin mengetahuinya, tetapi saat ini aku tak memiliki cukup kekuatan untuk memaksa Homunculus di depanku membocorkan hal itu. Sebab berbeda dengan manusia yang memiliki pikiran yang dapat dimanipulasi sihir ilusi, dia sepertinya tidak bekerja pada Homunculus.
Belum Bulan... saat ini, belum saatnya.
Dan layaknya seorang hamba, yang diam-diam menyembunyikan belati di punggungnya, aku pun menandatangani kontrak itu. Aku belum melupakan tujuanku untuk menyelamatkan dunia ini. Tapi sepertinya takdir menuntunku kemari untuk sebuah makna.
Aku harus menghentikan kegilaan Mutter.