Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Festival Matahari Terbit (1)


— 23 —


Suasana tenang kafe Janji Hati selalu meneduhkan hatiku. Ditemani dengan harum kopi yang merilekskan otot-ototku, musik rileks yang menenangkan riak pikiranku. Hmmm, hanya di kursiku, di pinggiran jendela yang menghadap keramaian markas besar Black Company, dapat sejenak diriku bersantai dan menata pikiran… Ditemani sebuah buku tebal yang dulu membuat bulu kudukku merinding.


Ensiklopedia Malice, buku yang memuat seluruh informasi tentang Malice yang harus dihafal seorang Pemburu. Setelah kejadian yang melibatkan Khanza dan Putri Emilia, aku pun menjadi penasaran dengan para Malice tipe S yang pernah mengarungi Underworld.


Sebelum Predator Telos lahir, mereka bilang ada enam Malice tipe S yang pernah tercatat dalam sejarah. Yang paling pertama adalah The Deception, Malice pertama yang lahir dan berhasil menelan seorang Dewi di dalam amukannya. Namun oleh kecerdikan Black Company dan Keluarga Noctis, sang Malice akhirnya terjebak dalam ruangan keabadian bernama Obsidian Theater. Sampai sekarang, rahasia tentang keberadaan Obsidian Theater dijaga ketat oleh para pewaris Noctis dalam sebuah kontrak yang mengikat nyawanya.


Hmm… Bila suatu hari, Liam ember dan seorang gila melepaskan segel Obsidian Theater, sepertinya kiamat akan tiba. Hihi, aku bisa membayangkan wajah Liam yang panik setelah keceplosan membongkar rahasia itu.


Malice tipe S kedua adalah The Endless. Hmm, aku tak menyangka Emilia akan setua itu, lahir 6 milenia sebelumnya. Tapi… itu artinya, Khanza juga setua itu?


“Tunggu dulu, bukankah itu artinya, Chrysant berumur 6 ribu tahun?” gumamku hampir tersedak, lantas menggeleng-gelengkan kepalaku, “Tidak, tidak, tidak. Aku masih muda! Ugh, banyak sekali hal yang tak bisa kujelaskan. Huh, andai saja Khanza mau berterus terang, aku tidak akan sepusing ini.”


Malice tipe S ketiga dan keempat adalah Malice kembar yang menyebabkan badai Salju Superadikal di Underworld. Mereka digambarkan sebagai sosok ular yang melilit dunia dan menancapkan taring bisanya di tanah, meracuni permukaan hingga tak satu pun dapat hidup. Bencana besar pun muncul dan hampir membawa kepunahan bagi dunia. Namun, Dewi Black Company menganugrahkan Pahlawannya ke dunia. Dipimpin oleh sang Pahlawan, kemanusiaan pun berhasil menghabisi kedua Malice kembar itu. Tapi, meskipun sudah lama mati… Salju beracun yang Malice itu lepaskan masih menguasai Underwold hingga saat ini.


Tapi, saat Khanza melepaskan Emilia pergi dan mengambil Quartz Bulan dari menara merah itu… badai itu menghilang di sekitaran kota Junon. Hmm, apa mungkin Quartz Bulan sebenarnya adalah bagian dari kedua Malice kembar itu?


“Menarik,” gumamku yang menulis di catatanku tentang hipotesisku itu.


Malice tipe S yang kelima adalah The Warden. Berbeda dari Malice lainnya, The Warden adalah seorang Penyihir. Dia mengganti jantungnya dengan Quartz Bulan dan mengubah dirinya menjadi seekor Malice. The Warden adalah pionir yang menginspirasi penelitian para Penyihir pengikutnya, White Order, yakni mengubah manusia menjadi Malice atau Malisifikasi. Semua demi mendapatkan kekuatan yang menandingi Dewa-Dewi dan mewujudkan Ideal White.


Jaman itu adalah masa kelam bagi kemanusiaan. Dibawah kepemimpinan The Warden, para White Order secara efektif menguasai enam benteng angkasa dan menjadikan penduduk jajahannya budak atau subyek penelitian. Ada hipotesis yang mengatakan bahwa para Malice yang saat ini merayap di Underworld adalah korban dari penelitian bengis itu.


“Tapi dalam pertempuran sengit di Alexandria, The Morning Star berhasil menghujam jantung The Warden dengan tombak apinya dan membinasakan makhluk kegelapan itu,” gumamku membaca kalimat dibawah lukisan epik yang menggambarkannya,


“Dengan Quartz Bulan kembali di tangan Black Company, hanya dalam waktu singkat, kemanusiaan berhasil mengusir para Penyihir dari Benteng Angkasa… sekarang dan selamanya. Setelah pertempuran itu, Quartz Bulan pun disimpan dalam brankas khusus di Junon.”


… Sejujurnya, aku tak bisa membayangkan bahwa masa kegelapan itu baru terjadi beberapa tahun belakang. Saat kutanya pun, Seraphina selalu mengelak dan berkata, sejarah bisa ditulis siapapun. Orang-orang yang hidup di masa itu pun enggan membicarakannya… kecuali kebencian mereka yang sangat pekat terhadap kaum Penyihir.


Penyihir—kaum yang dapat menggunakan sihir tanpa berkat Black Company, Ignition. Secara kolektif mereka disebut sebagai White Order… namun hingga saat ini aku tak pernah melihat seorang Penyihir. Bahkan dalam misi barusan.


Terkecuali… Khanza. Kemampuannya menggunakan sihir tanpa Ignition dan mantra itu menunjukan identitasnya. Tapi bagaimana bisa seorang Penyihir menjadi Pathfinder terkuat dan tertua di Black Company?


“Atau mungkin Khanza menyembunyikannya?” gumamku teringat Khanza berpura-pura mati dalam misi sebelumnya, agar dapat bergerak leluasa menghabisi The Endless dan Predator.


Kubuka halaman berikutnya dan menemukan Malice yang paling mengerikan dari semuanya. Lahir sepuluh tahun yang lalu, amukan The Reaper menelan korban yang begitu banyak dan mengakhiri masa keemasan Black Company. Ribuan Pemburu dan Ksatria mengorbankan nyawanya demi menyegel sang Malice, termasuk di antaranya ratusan Pathfinder berpengalaman.


“The Reaper lahir dari Malice Aberrant yang melahap sesamanya. Awalnya, Black Company membiarkan monster itu karena menganggapnya menguntungkan… dan seringkali The Reaper membantu para Pemburu dalam ekspedisinya,” gumamku membaca kalimat yang melukiskan monster mengerikan itu,


“Namun ternyata keputusan itu adalah kesalahan fatal. Amukan The Reaper muncul seperti ****** beliung berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, sebelum ia membanting Junon ke tanah. Bila tanpa dedikasi dari The Morning Star, adalah mustahil bagi Black Company menyegel Malice tersebut.”


Morning Star? Aku baru tahu ternyata Kakak berperan penting dalam pertempuran itu.


Tapi, ada sesuatu yang masih tak kumengerti.


Malice yang disegel di Junon adalah Emilia Fairchild, The Endless. Setelah kecurigaanku terhadap Khanza runtuh saat Pangeran Liam memberikan penghargaan bagi sang Desert Lion dan kota Junon hancur tanpa tersia, aku semakin yakin… The Reaper tidak disegel disana.


Dari ingatan Predator Telos, aku tahu bahwa The Warden sudah ada sebelum Emilia menjadi Malice. Hmmm, dan melihat Malice ternyata lahir dari Quartz Bulan membuatku bertanya-tanya… Apa mungkin cara kami memandang Malice selama ini sama sekali salah?


“Atau mungkin kamu berpikir terlalu jauh,” kata Liam yang sudah duduk di depanku.


“H-HWAAAHH!” sentakku kaget hampir melempar cangkir kopiku ke sang Pangeran, “Issh, kamu ni kayak hantu aja. Ngagetin. Pernah gak sih kamu diajarin di istana, ehem, kalau ketemu seorang Lady, Liam harus menyapanya dengan sopan?” omelku.


Liam tertawa geli, “Aku sudah disini hampir sepuluh menit, mengamati Pemburu favoritku tampak lucu sekali saat berpikir terlalu serius,” katanya yang meregangkan badannya dengan santai, “Aah, tak ada yang lebih santai daripada melihat Chrysant di Alexandria.”


“Kalau begitu, jangan sering-sering kirim aku berekspedisi, pangeranku,” cibirku.


“Mustahil, kamu Pathfinder termuda yang kami miliki, tentu Pangeran Arthur harus mengirimmu ke berbagai medan tersulit supaya kamu makin banyak belajar.”


“Sialan.”


“Tapi yang terpenting, aku sangat lega kamu bisa pulang, Chrysant.”


“N-nyebelin banget, jangan tiba-tiba ngomong manis gitu dong… Aku kan jadi bingung balasnya gimana,” balasku yang menyembunyikan wajahku di balik buku catatan.


Liam tertawa kecil.


Aku memperhatikan sihir ilusi disekitar sang Pangeran, yang membuat orang lain takkan mengenalinya. Rambut putihnya kini berubah menjadi coklat dengan iris mata biru yang senada dengan warna langit. Saat melihatnya seperti ini, aku teringat akan Liam yang santai dan down-to-earth, berbeda dengan persona Pangeran Arthur yang menjadi topengnya.


“Hey, Chrysant, kamu tahu, sekarang waktunya Festival Mentari Terbit loh. Mereka bilang tahun ini festival itu diadakan lebih besar dari biasanya karena hasil panen sedang berlimpah,” kata Liam.


Tersentak aku, “Astaga, sudah tanggal segitu? Duh, gara-gara terjebak di Time Dysplasia, orientasi waktu Chrysant kacau balau,” kataku yang pun menopang dagu dengan kedua tangan membayangkan makanan lezat yang bisa kucicipi disana,


“Takoyaki, telur lilit, wedang jahe, pizza….. uuuwwwhh, membayangkannya aja udah bikin Chrysant lapar!”


Arthur tertawa geli, “Ya ampun, makanan itu bisa kamu beli kapan pun. Kenapa enggak nyoba hidangan khas festival panen itu. Hmm, seperti, sate cicak, lotek mandragora, atau geprek Kirby?” tawar sang Pangeran.


“Iuuh, semuanya kedengaran menjijikan. Lagipula, meskipun bisa dibeli kapanpun, tapi momen festivalnya itu loh, yang bikin rasanya berbeda,” kataku yang memandang keramaian di luar jendela, “Momen lebih berharga daripada rasa,” lanjutku.


“Kalau begitu, ayo kita kesana sekarang!” kata Liam.


“Ogah ah, natni tiba-tiba kamu pasti—“


Liam menaruh jarinya di bibirku dan mendesis, “Hari ini, aku adalah William, bukan Pangeran Arthur. Lady Chrysant, maukah kamu pergi bersamaku ke Festival Mentari Terbit?”


Seperti tersihir oleh tatapan mata liam, kepalaku telah mengangguk tanpa berkata-kata. Sang Pangeran pun tersenyum lebar, menunjukan senyuman yang seringkali kulihat ketika saat kecil bermain bersama.


“Kamu… tidak akan php di tengah jalan dan meninggalkanku lagi kan… kayak tahun lalu?” tanyaku.


Arthur melingkarkan jari kelingkingnya dengan milikku, “Tentu saja. Kalau ada ksatria yang menjemputku lagi, kita hajar aja bersama. Hihihi.”


Tersenyum geli aku pun menjawab, “Dengan senang hati!”