Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Deadly Encounter with White Order


— 28 —


“Sejarah ditulis oleh para pemenang dan kebenaran akan selamanya terkubur dibawah puing-puing harapan,” kata Khanza yang tersenyum pahit melihat menara itu, “Saat kamu sungguh ingin mengubah dunia, barulah kamu sadar betapa lemahnya dirimu. Meski begitu, masih saja ada anak naif yang percaya dapat melakukannya.


Haahh…


At least, inside this cage… Her soul could rest in peace.”


“…sebenarnya apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu?” tanyaku.


“Maafkan, bukannya Khanza tak ingin memberitahu Chrysant. Tapi aku telah berjanji untuk tidak menceritakannya kepadamu. Dan Khanza selalu menepati janjinya,” kata penyihir itu yang tiba-tiba melesatkan belati es ke sebuah bayangan yang meresap ke selokan,


“Cih, White Order. Chrysant, mundur.”


Aku menggelengkan kepalaku, “Bila Desert Lion bilang Menara ini sangat penting bagi Black Company,” kataku yang mencabut pedang cadanganku dari ruang penyimpanan. Kuaktifkan pedang itu dan mengambil kuda-kuda,


“Maka aku, Ruin Hunter, akan melindunginya dengan segenap kekuatanku.”


Khanza mendengus geli,” Pfftt, disaat kamu tak bisa menggunakan sihir? Nyalimu boleh juga, Chrysant. Very well, please don’t slow me down, ‘kay?” katanya yang memanggil tombak pedang es dan melepaskan aura dingin yang membekukan besi-besi di ruangan itu.


Dari bayangan muncul seorang laki-laki dengan battlesuit moderen, lengkap dengan topeng tengkorak yang menakutkan. Angka IV ditorehkan di dahi topeng itu, menyala kemerahan. Laki-laki itu pun membuka kitab besarnya, memanggil tiga pedang yang melayang di punggungnya.


Khanza tertawa sebelum menutupi wajahnya dengan topeng tengkorak dari berlian, “Oh, seorang Penyihir Tinggi yang selalu menjadi pengecut kini hadir di medan perang? How do you do…


The Fourth Lector of White Order, Adrammalech?”


“Kamu mengenalnya?” tanyaku yang bersiaga, sihir yang terpancar dari laki-laki itu begitu besar hingga membuatku merinding. Dia… sekuat Predator Telos, tidak, mungkin lebih kuat.


Khanza mengangguk, “Yup, dia laki-laki malang yang Khanza tolak berkali-kali!” katanya yang pun melesat menghantam laki-laki itu dengan tombak esnya. Dengan tarian anggun, Khanza menarikan tarian kematian yang kewalahan di tepis Adrammalech.


Tapi, Khanza tak menyadari bahwa sebuah pedang perutar dengan kencang dari lantai dan melesat menujunya—


TRINGG!!


Kutepis pedang itu hingga projeksinya meleset, menghujam dinding dan meledak disana. Kuat serangan itu hingga menembus lapisan terdalam dinding beton itu.


“Waah, Alech, kamu sungguh ingin menghujam Khanza dengan pedangmu? Nakal ya kamu ternyata,” kata Khanza yang memperlakukan pertarungan itu seperti permainan.


Adrammalech menepuk dahinya dan menghela nafas panjang, “Sapaan yang ramah sekali untuk teman lamamu. Tapi, Khanza, kamu yakin mau melawanku setengah-setengah begitu?” katanya terbata-bata. Sinar merah pun muncul dari seluruh tubuhnya, memunculkan aura kegelapan yang mencekam,


“Kamu bisa mati, tahu?”


Tiba-tiba Adrammalech menghilang dan muncul di balik Khanza. Kepal tangannya melingkar belati-belati merah yang berputar dengan cepat, dan dengan pukulan kuat dia pun menghantam Khanza ke tanah hingga membuat seluruh lantai ruangan itu retak dan hancur.


C-Cepat sekali, bahkan tubuhku tak sempat melihat pergerakannya!


Tiba-tiba es hitam pun muncul dari tanah, membentuk akar yang meliuk-liuk mengejar Adrammalech. Dengan lincah, Penyihir itu menghindari es itu, bahkan menggunakannya sebagai tapakan untuknya melesat dan melayangkan pukulan di perut Khanza yang menghempasnya ke langit.


Adrammalech pun menyatukan kedua tangannya, memanggil 12 pedang raksasa di punggungnya dan mengarahkannya pada Khanza. Api pun muncul dari gagang pedang itu, melesatkannya seperti roket ingin menghujam Khanza, tetapi segera aku pun menepis serangan itu dengan tebasan pedang berutar dan mengembalikannya kepada Adrammalech.


“Raven Style 05: Reversal Talon!” teriakku.


Dua belas pedang itu pun menghujam tubuh laki-laki itu dengan ganas, sementara aku menangkap Khanza dan mendarat dengan pelan. Khanza memeluk leherku dan terlihat terkejut, “Waah, Chrysant, tanpa sihir, kamu ternyata hebat juga ya.”


“U-Ugh, kan aku seorang Pathfinder. Meski tanpa sihir, Chrysant harus menemukan jalan harapan bagi umat manusia,” kataku yang pun menurunkan Khanza dari gendonganku, lantas mengambil kembali pedang cadangan keduaku dari penyimpanan virtual.


Kejut listrik merah terlihat dari balik debu. Bangkit dari puing-puing lantai, Adrammalech berdiri dengan tubuh penuh luka yang mengucurkan darah. Topengnya pecah dan menunjukan sosok laki-laki berambut putih dengan mata merah menyala, menatap Khanza dan diriku sambil tertawa.


“Benar-benar, hokiku hancur banget… bertemu dengan Pengkhianat busuk dan seorang Pathfinder sialan yang menghalangi misiku,” kata Adrammalech yang menutup kitabnya saat seluruh lukanya terbakar dan sembuh seketika,


“Tapi, untungnya, aku tidak kesini sendiri—“


Dengan es hitamnya, Khanza melindungiku dari sebuah peluru yang mengincar jantungku. Tapi serangan itu hanyalah permulaan. Dari langit, muncul robot-robot besar yang melayang dengan sayap birunya yang menyilaukan mata. Mereka semua membawa senapan sihir di tangan mereka, yang membidik Khanza dan diriku, mengumpulkan energi sihir besar di ujung senjatanya. Dan ditengah pasukan robot itu, duduk seorang perempuan dengan rambut putih panjang, lengkap dengan topeng tengkoraknya yang terukirkan angka VII.


“The Seventh Lector, Asmodeus… Gawat nih Chrysant, kalau menghadapi dua Lector, Khanza tidak bisa melindungimu,” kata Khanza yang memanggil tombak esnya yang kedua.


Aku pun memasang kuda-kudaku, “Ha? Kata seseorang yang baru seminggu lalu menghajarku. Astaga, jangan khawatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri,” kataku.


“Sebagai Pathfinder tertinggi di medan ini, aku, Desert Lion, dengan ini mengusulkan misi emergensi. Pathfinder Nadja, Pathfinder Chrysant… Usir White Order dari tanah kita!” peringat Khanza yang melepaskan kekuatan sihirnya hingga membuat seisi ruangan itu membeku.


“The Hunt begins!” teriakku yang pun melesat ke Adrammelech.


Tebasan demi tebasan kulesatkan pada Adrammelech, tetapi dengan lincah laki-laki itu menghindari seranganku dan menepisnya dengan tujuh pedang melayangnya. Diam-diam, kulesatkan kristal cerminku di berbagai sudut Adremmelech. Aku pun melompat menghindari kombinasi serangannya yang mematikan, sebelum menggunakannya sebagai pijakan untuk melesat dan menghujam Penyihir itu.


Nyaris Adrammelech menghindari seranganku, namun pedangku sempat mengiris lehernya. Darah mengucur hebat hingga membuat Adrammelech melompat mundur. Tetapi dengan sihirnya, dia dapat menyembuhkan lukanya dengan instan.


“Kemampuanmu lumayan juga, Gadis kecil. Mirip sekali dengan gaya bertarung Pathfinder sial yang mengalahkanku sepuluh tahun lalu. The Morning Star,” kata laki-laki itu yang melipat tangannya dengan kesal, “Tapi, apa kamu juga meremehkanku? Kamu kira tanpa sihir yang kalian curi dari White Order, manusia rendahan sepertimu mampu mengalahkan Adrammelech, The Devoring Darkness!?”


Keren juga julukannya— Tidak, Chrysant jangan gagal fokus!


Pedang melesat dari tanah nyaris kutepis, tetapi belasan pedang lainnya menyusul membuatku kewalahan. U-Ugh, satu pedang berhasil menggores pingganggku, meninggalkan luka yang cukup dalam. Memanfaatkan kelengahanku, Adrammelech menancapkan banyak pedang di sekitarku, lantas membatasi ruang gerakku dengan efektif.


“Selamat tinggal, gadis kecil yang malang,” katanya yang memanggil dua tombak keemasan raksasa yang berputar dengan cepat, melesat padaku.


“Activate: Chrysanthemum Garden!” teriakku yang pun memasuk cermin dan menghindari serangan maut itu, lantas melesat dari belakang sang Penyihir dan menebas punggungnya berkali-kali.


“T-Tikus sialan!!” teriak Adrammelech kesal, mengambil pedang imajinernya dan menebasku, hanya untuk menemukan diriku telah lenyap dalam dunia kaca.


Tanpa ampun, aku pun menebas laki-laki itu berkali-kali, dari berbagai sudut, memotong-motong tendonnya hingga dia tak sempat menyembuhkan diri. Hingga saat laki-laki itu tersungkur tak berdaya, aku pun mengerahkan seluruh kekuatanku … lantas dalam satu tebasan memenggal kepala Penyihir itu.


“The Hunt… ended,” gumamku menghempas darah laki-laki itu dari pedangku. Tubuh Adrammelech pun jatuh tak bernyawa di lantai, bersama jatuhnya Robot-robot dari langit dan meledak di sekitarku.


Sepertinya pertarungan Khanza pun sudah selesai. Dengan sangarnya, Khanza duduk nangkring di atas Menara Biru, mencengkram kepala Asmodeus, di sekitar api yang berkobar dengan ganasnya.


“Sebagai teman lama, aku akan melepaskan kalian sekali ini saja. Namun, bila kalian berani mengganggu Chrysanthemum lagi… Khanza akan mencabut nyawa kalian,” kata Khanza yang melepas Asmodeus jatuh ke lantai.


Aku kehabisan akta-kata. Seluruh pasukan robot yang kuat itu mampu Khanza hancurkan tanpa sedikit pun mengucurkan keringat. Kekuatan Penyihir itu diluar imajinasiku. Bersyukur diriku saat ini… aku berada di pihak yang sama dengan Khanza.


Asmodeus pun memanggil portal dengan Automachinanya. Dan bersamaan itu, tiba-tiba tubuh Adrammelech pun berdiri memungut kepalanya dan memasangnya ke tubuhnya dengan santai. A-Astaga, jantungku rasanya mau lepas melihatnya.


“Pertarungan tadi menyenangkan sekali, gadis kecil. Tak kusangka seorang Penyihir Tinggi sepertiku akan terjebak oleh tipuan anak-anak dan kehilangan satu nyawaku,” kata Adrammelech yang sembuh sediakala.


Laki-laki itu pun menunduk hormat pada Khanza dan berkata, “Hari ini… kami akan mundur. Tapi ingatlah ini, Khanza. Kami akan kembali menyelamatkan Yang Mulia dari genggaman jahat Black Company.”


Bersama kedua Penyihir itu pun menghilang dibalik portal yang kemudian tertutup. Khanza pun melompat turun dari menaranya dan menghembuskan es yang memadamkan seluruh api yang membara disana.


“… Kamu yakin melepas kedua Lector itu? Mereka akan kembali lagi,” tanyaku.


Khanza melepas tengkoraknya dan tersenyum, “Misi kita adalah megnusir White Order dari kota ini, tapi bukan membunuh mereka,” katanya yang memandang menara biru itu dan melanjutkan,


“Dan pula, di hadapan The Warden… Khanza tak ingin memperlihatkan bagaimana orang-orang yang ia sayangi … kini saling membunuh satu sama lain.”


… Lagi, aku tak bisa memahami Khanza. Pertemuanku dengan White Order kini memastikan dugaanku. Khanza… dahulu adalah seorang Lector, Penyihir Tinggi yang memimpin White Order. Tapi mengapa kini dia berpihak pada Black Company?


"Apakah kamu sekutu kemanusiaan atau musuh terbesarnya, Khanza?" tanyaku.


Khanza mengacak-acak rambutku dengan gemas, "Ih, serius banget pertanyaannya, jadi serem Khanza. Hihihi. Tapi, Khanza bukan keduanya. Khanza hanya ingin menjaga menara ini dari orang yang akan menyalahgunakannya.


Itulah... Janji terakhir Khanza kepada The Warden."