Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Misteri menghilangnya seorang Pathfinder (1)


—4—


Alexandria, 1 September 2278


Anak-anak bermain dengan riang di taman kanak-kanak yang cerah. Suara semangat mereka terdengar hingga ke dalam panti asuhan dimana diriku sedang berpangku dagu memperhatikan mereka.


Hanya terpisah oleh jendela kaca yang tipis, keceriaan anak-anak itu berhasil mewarnai ruang tamu panti itu. Dan seperti virus yang menular, senyuman merekah di bibirku.


“Waduh, kenapa Nona Pathfinder-ku senyum-senyum sendiri? Haruskah Chronicler ini mem-booking jadwal pertemuan dengan psikolog?” tanya Seraphina yang baru saja selesai mengurusi donasiku.


“Kurang ajar. Aku belum gila tahu.”


“Chrysant, ketemu psikolog bukan berarti kamu sudah gila loh. Pertemuan rutin dengan psikolog sama dengan minum supplemen tiap hari. Mereka sama-sama menjagamu tetap sehat,” kata Seraphina yang duduk disampingku.


Mata biru Sera pun menangkap belasan anak panti asuhan sedang bermain riangnya di luar.


“Kamu yakin tak ingin bermain dengan anak-anak itu sejenak? Sebagai donatur terbesar di panti ini, tentu, mereka pasti mengijinkanmu. Lagipula, anak-anak pasti senang bisa bermain dengan seorang Kakak,” tanya Seraphina dengan nada khawatir.


 “Tidak usah. Aku hanya akan membuat mereka menangis,” jawabku yang meneguk habis tehku dan bertanya, “Tapi bagaimana menurutmu, Sera? Apakah anak-anak itu sudah bahagia?”


Seraphina tersenyum, “Tentu saja. Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi sejak kamu menjadi Pathfinder, kondisi anak-anak Yatim Piatu di kota Alexandria membaik. Mereka yang sebelumnya sulit bersekolah, sekarang bahkan ada yang bisa lulus SMA,” jawab si Kakak.


“…Yang kulakukan hanya ngasih duit ke mereka. Benda seperti itu tidaklah cukup untuk membuat seseorang bahagia,” kataku yang berkemas dan berdiri.


“Lalu, menurutmu apa yang mereka butuhkan?” tanya Seraphina yang mengikuti Pathfindernya.


“Kasih sayang, sesuatu yang tangan ini tak dapat berikan,” jawabku yang pun melangkah pergi, menuju jadwal padat yang sudah menanti.


—+—


Hari berlalu, kulepas topeng rubah hitamku saat berada di taman markas besar dan mengipas-kipaskan kerahku melepas penat. Peresmian perpustakaan kota, makan siang dengan Pangeran dari Benteng Angkasa Vanguard, dan acara formalitas yang rumit dan kaku, uugh… meskipun aku Pathfinder paling junior, itu bukan berarti mereka boleh melemparkan pekerjaan menyebalkan padaku.


“Aku mau ngopi di Kafe Janji Hati, Kakak mau ikut?” tanyaku pada Seraphina yang baru selesai mengurus administrasiku.


Seraphina tertawa canggung dan meremas tangannya, “E-Ehh, Kakak… ada janji niih. Kalau kamu sendiri, nggak apa-apa, kan?” tanya Sera.


“J-Janji?” tanyaku heran.


Tampak tersipu-sipu malu, Seraphina menggaruk-garuk pipinya, “Gimana ya, hihihi. Anu, kan selama 3 bulan Chrysant pergi… Aku jadi punya banyak waktu luang. Dan di waktu luang itu… aku punya pacar.”


“H-Ha?” gumamku yang mengagetkan seluruh penyihir muda di markas. Segera aku berdehem dan melirik ke lainnya, “K-Kalau mau pergi, ya, silahkan,” jawabku.


Seraphina tersenyum lebar dan hormat kepada atasannya, “Kalau begitu, Chronicler Seraphina, ijin ngedate dulu, Pathfinder!”


"... Nyebelin. Udah sana, pergi bersenang-senanglah!" kata Chrysant memberikan ijin.


Aku pun memperhatikan Kakak pergi. Tampak riang sekali gadis itu sampai melangkah setengah melompat, apakah mungkin sekarang Seraphina sudah bahagia?


“… Benar juga, Kakak bisa bahagia tanpa diriku,” gumamku yang sedikit merasakan sesak di dadaku. namun segera kutepis perasaan tidak nyaman itu dan menatap menara putih tinggi yang tumbuh di tengah Benteng Angkasa Alexandria yang sudah menanti di hadapaku.


Markas Besar Black Company.


Jauh dari kata kantor, Mabes Black Company seperti perpustakaan yang sangat besar dan lengkap. Buku-buku tersusun dalam rak-rak yang melingkar bagaikan menara, terhubung satu sama lainnya dengan jembatan sihir yang begitu rumit seperti labirin. Ramai penyihir terbang dari satu sisi ke lainnya, sekedar mengakses pengetahuan yang begitu berlimpah, mungkin mencari bahan untuk riset sihir terbaru atau sekedar numpang wifi gratis yang super kenceng.


Aku pun teringat hari pertamaku di Mabes, seharian penuh aku tersesat disana. Disaat panik dan bingung, aku menemukannya. Sebuah tempat persembunyian yang tenang dan asri di sudut lorong ketujuh. Sudut terpencil yang membawaku ke dalam suasana klasik yang menenangkan hatiku.


Kafe Janji Hati.


“Cappuccino ya Bang,” kataku kepada barista muda yang dengan semangat menerima pesanannya.


Ah, untung banget, tempat favoritku lagi kosong! Di pojok ruangan, menghadap jendela yang memperlihatkan pemandangan perpustakaan sihir itu sepenuhnya, aku pun duduk dan membaca komik romantis, melepaskan kejenuhan hariku.


Tiba-tiba…


Hmm? Kulihat dua perempuan dengan seragam putih, sedang bercengkrama dengan asiknya. Para Apprentice, murid-murid akademi sihir yang menjalani masa magangnya di Black Company.


“Rumornya, dalam perburuannya kali ini, Lady Nadja mengirim pesan SOS.”


“SOS? Bukannya pesan itu hanya dikirim penyihir dalam keadaan genting? Mana mungkin Pathfinder paling senior itu mengirimnya!”


“Ssshh, jangan kenceng-kenceng omongnya. Itutu, yang duduk menjomblo disana, kamu gak tahu? Feeling-ku, dia seorang Pathfinder.”


“Emang ada Pathfinder sekecil itu? Salah kali kamu, dia kayaknya cuma anak SMP yang lagi cosplay.”


Aku tersenyum kecil. Ada-ada saja Apprentice itu, mereka meremehkan telinga tajamku? Yah, aku pura-pura sibuk membaca komik aja sambil dengerin gossip mereka.


“By the way, kamu tahu yang lagi panas? Katanya rumor ya, Pathfinder Nadja tu dikirim ke Junon!” bisik si penggosip.


Teman penggosip itu pun menghentakkan meja kaget, “Junon? Zona hitam yang tak pernah disentuh selama 1 abad itu? Bukannya hanya penyihir yang ingin bunuh diri saja kesana?”


Junon…


Jika aku tak salah ingat, sebelum Black Company mengangkat tujuh kota terakhir di dunia, umat manusia hidup di berbagai kota daratan. Junon adalah kota di daratan yang dahulu menjadi pusat sihir di seluruh dunia kala itu. Bisa dibilang pada masanya, kota itu adalah Alexandria saat ini.


Namun dalam satu malam, Junon hancur oleh serangan Malice tipe S terkuat yang tercatat dalam sejarah.


The Reaper.


Malice yang mengambil wujud sebagai gadis kecil yang tak berbahaya, namun menyimpan kekuatan sihir yang dahsyat. Dengan sekali kibasan tangan, Malice itu mampu menghancurkan gunung tertinggi di Mars, Mons Olympus. Tak ada senjata ataupun sihir yang mampu melukai dirinya. kekuatan regenerasi tubuhnya yang luar biasa membuat Malice itu mampu menciptakan replika dirinya sendiri untuk membantunya bertarung.


… Untung saja, para Pathfinder terdahulu berhasil menyegel Malice itu di Junon dan menjatuhkannya ke Underworld. Ngeri diriku membayangkan suatu hari harus melawan The Reaper.


Namun, energi sihir yang besar dalam diri The Reaper menguundang para Malice untuk bersarang di sekitarnya. Hal inilah yang menyebabkan Black Company melabel Junon sebagai Zona Hitam dan tak pernah menyentuhnya selama satu abad.


Lantas, apa alasan Nadja pergi ke tempat berbahaya seperti itu?


Sebelum aku dapat menguping lagi, aroma parfum yang khas menggelitik hidungnya. Manis dan elegan aroma parfum itu, seolah menjadi cermin akan siapa yang sedang mendekatiku. Segera aku menutupi wajahku dengan komik romantis, menghindari pandang mata dari laki-laki tampan di depanku.


Duh, jangan liat aku, jangan liat aku. Aku lagi pingin liburan!


Dengan suara lembut yang memanjakan telinga, Laki-laki tampan itu menyapaku, “Lama tak berjumpa, Lady Chrysant.”


Aku pun berdehem dan membuat suaranya lebih berat, “O-Ohohoho, sepertinya anda salah orang, Yang Mulia. Saya bukan sang Ruin Hunter, tapi hanyalah wanita biasa yang sedang menikmati Cappuccino hangatnya.”


Laki-laki itu mendengus geli, “Wanita biasa ya? Aneh, kok bisa ya seorang biasa seperti Nona mengenakan lencana Pathfinder?”


“S-S-Sial!” gumamku keceplosan.


Dengan pelan, laki-laki itu mengambil komik romantis dari tanganku.


“Apa yang kamu inginkan, Pangeran Arthur?” tanyaku memalingkan wajahnya. Tetapi begitu manis di mata wajah pangeran itu, memancing mataku untuk terus mencuri pandang.


Arthur Arpeggio Noctis adalah nama laki-laki itu. Dia adalah kepala Keluarga Noctis yang memiliki organisasi yang menguasai dunia, Black Company. Harusnya kedua Apprentice itu mengenali Arthur bukan? Tapi sayangnya, Pangeran menggunakan sihir ilusi kompleks yang menyamarkan identitasnya. Tapi aroma parfumnya yang khas membuatku dapat melihat tembus ilusi itu.


Pangeran berambut perak itu melengkungkan senyumnya. Matanya yang lentik ikut menghiasi tampan wajahnya, dengan tahi lalat di ujung mata kanan menjadi pemanis tiada tara. Sudah berapa banyak hati seorang Putri yang luluh oleh iris gioknya yang menawan itu?


Dan sudah berapa banyak hati yang kecewa tak mendapatkan cinta dari sang Pangeran? Kalau dihitung dari waktu mereka masih bersekolah bersama di Akademi Sihir, Chrysant tak bisa menghitungnya lagi. Setidaknya… salah satu korban itu sang Pangeran ada di cafe itu.


Arthur membaca sejenak komik di tangannya dan tertawa kecil. Lantas memperagakan sang protagonis dalam komik itu, Arhtur mengangkat daguku dengan telunjuknya dan membisikan kata manis,


“Aku menginginkanmu, Tuan Putri.”


“… I-iiihh, creepy. Jangan dekat-dekat aku!” kataku yang langsung melompat kabur dari gapaian sang Pangeran.


Kubekap telingaku, berharap sang Pangeran tak melihatnya yang sudah merah seperti tomat.