Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Lepas dari mulut harimau, masuk kedalam mulut buaya


— 42 —


Langit yang gelap kinit erang benderang oleh sayap para malaikat. Bising mesin terdengar seperti suara jet yang dinyalakan, berderu menggetarkan hutan. Begitu pula jantungku berdegup kencang bersiap mencabut Mysteltine. Namun saat jariku menyentuhnya, terdengar suara bisikan,


“Lari. Kamu yang saat ini tak mampu mengalahkannya, Chrysant.”


Hah? Berbeda dari masa depan, suara Mystelteine terdengar lebih jelas di telingaku. Namun, lari? Kenapa? Bukankah sebelumnya kami bisa membajak The Immortal dengan mudah?


“Memang bisa, tapi apa kamu ingin ketiga rekanmu mati sia-sia disini? Lagipula, kamu saat ini belum terinfeksi oleh selku. Aku tak dapat meminjamkan kekutanku padamu.”


Seperti membaca pikiranku, Mystelteine menjawab pertanyaanku. Tetapi, tidak dapat fokus pada jawabannya, salah sepuluh boneka melesat ke tanah. Nuwa dengan lincah memanggil ombak air yang membuat mereka kehilangan keseimbangan, disambut oleh laser Cyana yang menembus dada mereka. Tapi, apra Homunculus itu masih dapat bergerak dan menyerangku.


TRING!!


Saber melindungiku di saat genting dan berteriak, “Bosku, kenapa melamun?! Sekarang bukan saatnya galau woi!” Laki-laki kuat itu mampu menghempas tiga serangan Homunculus, tetapi kewalahan menepis serangan dari yang lainnya.


Aku pun mencabut Mystelteine dan membantunya. Namun tiap ayunan pedangku terasa berat, seolah pedang ini menolak keinganku. Ugh, baiklah, aku akan mendengarmu. Tapi kemana kami harus pergi?


“Rumahku. Tempat kita pertama kali bertemu. Disana, Luciel tidak akan mendekatimu… Mungkin.”


Mungkin? Astaga, aku hanya punya waktu untuk suatu yang pasti. Tapi bukannya menjawab, hanya suara cekikikan kudengar dari pedang bodo ini. Hah… Baiklah, daripada mati konyol disini, mending mempertaruhkan hidupku untuk hal mungkin itu.


“Saber, lindungi aku,” teriakku memanggil Saber. Tanpa emnunggu lama, Saber segera membentuk perisai dari palunya dan melindungi sementara melesat menuju Nuwa yang terdesak.


“Nuwa!” ku berteriak memanggil rekan Pathfinderku dan melindunginya dari tombak petir yang dahsyat.


Nuwa mendelik kaget, “H-hei, kamu lupa embel-embel Putri-!”


Kugelengkan kepalaku, “Kamu penyihir elemen air, kan? Bisa bikin cermin dari es, gak?”


Nuwa menghempaskan meria, air raksasa yang menghamburkan formasi The Immortal. Dengan kening berkerut, gadis itu menjawab, “Tentu aja, emang kamu pikir aku ini siapa?”


“Kalo gitu, aku perlu seratus, lalu disebar di segala penjuru, oke? Saber, kamu tetap disini, lindungi Tuan Putri,” perintahku yang langsung melesat menuju Cyana.


“Oke, bos,” jawab Saber, tetapi si Putri justru terbelalak kaget.


“H-Hey! Siapa kamu nyuruh-nyuruh… astaga, dasar cebol tengik,” Nuwa menghela nafasnya dan mulai mengumpulkan sihir di tangannya selagi Saber melindunginya.


Mataku melihat Cyana mengeluarkan satelit di atasnya, Providence Eye. Dengan mata itu, gerakan Cyana semakin gesit mengejar salah satu malaikat. Tetapi, Homunculus itu tak menyadari bahwa ia dipancing tepat di bawah sihir tingkat tinggi yang disiapkan The Immortal.


“Deception, turuti perintahku,” gumamku yang kemudian meluncur tepat di depan Cyana, lengkap dengan kuda-kuda. Kutarik nafas yang dalam mengumpulkan seluruh kekuatanku di tangan. Hingga tiba-tiba keheningan pun merasuki kalbu dan waktu seakan terhenti.


Saat sebuah titik fokus muncul di beanku, ketika mataku terbuka lebar, “Raven Style 07: Zetsubou Dove!” teriakku mengayunkan tebasan telak menuju bola petir raksasa yang ingin melahap kami.


Ringan tanganku mengayunkan 7 tebasan dalam satu detik, melepaskan tumpuan angin kuat yang menahan bola petir raksasa itu.


“Giga Anguish.”


Namun, Mystelteine tidak tinggal diam. Dengan akar-akar kegelapannya, dia memperkuat hempasan anginku, mewarnainya dengan darah kegelapan yang mengerikan. Meski begitu, kekautannya yang dahsyat mampu menghempas kemabli bola petir itu pada serangkaian The Immortal di langit.


“Nice,” gumamku pada pedangku yang seolah menatapku dengan congkak. Formasi The Immortal yang kacau memberikan kami waktu sebentar.


“Onee-chan. Assistance not required. Cyana strong,” Cyana protes sembari berkacak pinggang.


“Ya, aku tahu. Kamu kuat banget sampe bikin aku merinding. Tapi, kita tak bisa keluar dari situasi ini hidup-hidup hanya bertumpu pada kekuatan,” omelku yang kemudian menunjuk mata mesin di atas kami, “Kamu bisa matikan Automachina itu? Aku gak bisa make senjataku karenanya.”


Tunggu dulu, kayaknya tadi robot satu ini bisa ngomong normal? Kugelengkan kepalaku, sekarang bukan saatnya.


“Omong-omong, lasermu bisa kepantul cermin gak?” tanyaku.


Cyana mengangguk, “XR-Lewy S can be modified to that extend. Cyana implored, why?”


Aku mengguncang pundak Cyana dengan gemas, “K-Keren banget! Kalau gitu, Cyana, ikuti aba-abaku lalu tembakkan laser itu, oke?”


Cyana menekuk kepalanya bingung, tapi sebelum dia bisa bertanya Nuwa sudah berteriak, “Hey, cebol tengik, cerminnya dah siap!”


“Oke,” kataku yang mencabut belati kembarku dan menyusunnya menjadi busur panah. Dari kocekku, kuambil sebuah prisma yang diberikan oleh Dagger untukku, Diamond Tears, namanya.


Kulempar prisma itu kelangit sembari berteriak, “Sekarang, Nuwa!”


Cermin es pun melesat membentuk sebuah kubah raksasa  yang melingkupi baik The Immortal dan kami. Kubidik Prisma di langit itu, sembari menarik sebuah panah cahaya. Cyana, yang sepertinya sudah paham dengan rencanaku, pun turut berdiri disampingku dan membidikkan lasernya.


“Activate: Caged Butterfly,” gumamku melesatkan panah cahayaku berpadu dengan laser dari Cyana.


Saat peluru cahaya kami menembus Diamond Tears, alat itu pun berpendar dan menyebarkannya ke segala arah. Pantulan cahaya itu menghabisi beberapa malaikat, namun dia tak berhenti disana. Cermin yang dibuat Nuwa memantulkan kembali cahaya itu mengelilingi kubahnya hingga terbentuklah jaringan cahaya yang kompleks dan rumit, menjebak semua orang di dalamnya.


Saat The Immortal panik dan berhamburan menghindari serangan laser kami, kutarik panah dari busurku. Himpunan sihir dahsyat memunculkan medan gravitasi yang menarik para malaikat. Bila yang mengendalikan mereka adalah benar Kakakku, maka dia pastinya tahu apa yang akan terjadi.


Lantas dengan terburu-buru, para malaikat itu berpencar dan membentuk pelindung masing-masing. Namun, justru karenanya, mereka menjadi tidak teliti memperhatikanku.


Tersenyum, aku pun memalingkan wajahku dan melesatkan panah itu, “GREEAAT…. Pretender!”


Kulesatkan panah cahaya dahsyat yang kemudian menembus Diamond Tears. Lantas bukannya meledak energi sihir yang dahsyat, panah cahaya itu justru berpendar terang benderang layaknya sang Matahari. Saat semua malaikat buta sesaat, kutarik lengan rekan-rekanku dan kabur masuk ke dalam hutan.


Kami pun berlari seperti nyawa dipertaruhkan, menuju sebuah kubangan raksasa di tengah hutan.


“W-Woi, bosku, kamu seriusan?” teriak Saber.


Melompat disana, aku pun menancapkan belatiku pada dinding tanah dan melesatkan kemabrannya pada dinding rumah terbalik disana.


“Activate: Bed Instant.”


Saat kujentikkan jariku, medan sihir terbentuk di antara kedua belati itu, membentuk sebuah jaring besar yang menangkap rekan-rekanku, yang dengan polosnya mengikutiku melompat. Lega diriku ketika tak satu pun dari mereka terluka, tetapi mataku kemudian melihat ke langit dan menemukan para malaikat mengejar kami.


“Shadow Edge.”


Terndegar bisikan dari Mystelteine. Dan disaat yang sama, akar-akar kegelapan menjalar dari kubangan itu, membentuk sebuah tangan-tangan raksasa yang berusaha menelan para malaikat kembali ke lubang itu. Beberapa tak sempat menghindar dan berakhir dalam kegelapan tiada akhir, yang selamat kemudian memegang telinganya dan menyuruh The Immortal lainnya untuk melarikan diri.


“Alert, alert. Deception detected. Canceling mission!”


Pada akhirnya, akar-akar kegelapan itu pun hilang, menyisakan seorang wanita yang duduk di teras rumahnya. Dia tersenyum padaku dengan taring-taringnya yang tajam dan mata iblisnya yang mengerikan, sebelum menghilang seperti debu.


Kuhela nafasku lega. Meskipun ditolong oleh makhluk paling mengerikan di dunia… Setidaknya, Nuwa dan Saber masih hidup.


“Lepas dari mulut harimau, masuk kedalam mulut buaya,” gumamku.


Character design: