
Tangan menyentuh pipiku, namun jauh dari lembut, tangan itu membakar kulitku. Tiap sentuhannya membuat sirkuit sihirku seolah ingin meledak. Saat kubuka paksa mataku, aku pun tersadar. Itu bukan sebuah tangan… melainkan rantai yang penuh karat.
Rantai yang lahir dari sosok kegelapan, duduk bersilang kaki di hadapanku. Rantai membelnggu tubuhnya, tangannya, kakinya, lehernya… dengan sebuah kunci gembok mengunci segalanya. Dan di tanganku kini ialah kunci untuk membuka kunci itu.
Tetapi lengkung senyuman yang ditunjukan sosok kegelapanku segera menyadarkanku. Bahwa makhluk yang dikurung di hadapanku itu… bukanlah sesuatu yang boleh dibebaskan di dunia. Entah mengapa aku emrasa, jika aku melakukannya… aku akan membawa kehancuran pada dunia ini.
“Mengapa kamu ragu? Bukankah… kamu yang mengatakan ingin menyelamatkan dunia ini, Bulan?” tanya sosok kegelapan itu dengan suara yang sangat familiar bagiku. Tapi disaat yang sama asing.
Sosok gelap itu pun membuka kedua matanya yang kosong, “Kamu memiliki amtaku. Kamu memiliki wujudku. Kamu memiliki segala aspek dariku. Mengapa lama sekali bagimu untuk menyadarinya?” tanya sosok gelap itu.
“Apa maksudmu?” tanyaku balik, menggenggam erat kunciku.
Tangan-tangan kegelapan segera menghujam tubuhku, menarik gaunku degan ganasnya. Aku berusaha melarikan diri, tetapi tangan kegelapan itu terlalu kuat dan menjatuhkanku. Dia menyeretku semakin mendekat pada sosok kegelapan itu, hingga dia dapat berbisik di telingaku,
“Lepaskan aku… Maka dunia ini akan kuselamatkan… dan keinginanmu akan terkabulkan, Meine Dotter.”
Tersentak diriku, terbangun dalam ranjang besar dengan selimut putih yang tebal. Akar-akar kegelapan tumbuh menjalar di kedua tanganku, perlahan rapuh dan menghilang. Tubuhku basah dengan keringat dingin, bersama dengan jantungku yang berdegup terlalu kencang. Tetapi herannya pikiranku begitu tenang dan damai. Entah mengapa aku merasa baru saja, aku bertemu dengan sang kematian.
Terdengar pintu terbuka, bersama dengan terang biru lentera yang dibawa seseorang dibaliknya. Dia pun duduk di bangku sebelah kasurku dan bertanya,
“Kamu sudah bangun, Bulan?”
“Mentari…?” gumamku.
Aroma yang manis dan menyegarkan, seakan membawaku ke sebuah padang bunga kecil nan indah. Keheningan tanpa sedikit pun suara yang dahulu membuatku merasa tenang, gorden berwarna ungu tua yang berhias embroidi emas nan indah, dan pula segala furnitur yang terbuat dari kayu jati yang mahal. Aku pun tersadar bahwa saat ini… aku kembali ke Kediaman Noctis, Istana Glasglow.
Tetapi yang paling membuatku terkejut adalah sosok eclair. Berbeda dengan gadis ceria dan penuh senyum yang kuingat, sosok gadis yang ada di hadapanku menatapu dengan mata yang mati. Dingin wajahnya mengalir bersama rambutnya yang indah dan terurus, menghadirkan suasana malam yang mencekam.
Hanya saja.. mengapa aku selalu mendapatkan aroma anyir darah, tertutup dibalik sarung tangan hitam Kakakku? Apakah aku hanya berimajinasi saja?
“Kesembuhan Ayahanda adalah perbuatanmu bukan?” tanya Eclair dingin.
Aku mengangguk ragu, merasa tak dapat menjawab lain.
“Mengapa?” tanya Eclair lagi.
Aku memegang dadaku, menahan sesak di hatiku dan tidak menjawab.
“Haah… Tidak menjawab saat ditanya, pasti menyenangkan menjadi burung yang bebas di langit, huh,” kata Eclair yang kemudian mengambil daguku dan memaksaku memandangi matanya. Matanya memperhatikan tiap detil wajahku dengan seksama sebelum melepaskannya dan pergi ke depan jendela, menatap Bulan purnama sempurna di malam itu.
“Kamu sudah bosan hidup? Ceroboh sekali kamu menggunakan Judas Anguish. Untuk apa? Meyelamatkan orang yang tak berterima kasih padamu? Hah. Jika aku tidak menghentikan aliran sihir kutukan itu, kemungkinan besar kamu sudah mati sekarang,” kata Eclair tanpa menoleh padaku.
Judas Anguish membuka segel kemampuan sel-selku, memaksimalkannya sehingga memberikanku kekuatan yang sangat besar. Tetapi kekuatan yang besar itu akan memakan tubuhku, menghancurkannya dengan rakus. Dalam literatur, tidak semua Daemon Malaakh dapat menggunakan kemampuan itu.. apalagi mereka yang belum mencapai maturitasnya di usia keduapuluh satu. Banyak yang akhirnya mati sia-sia mencoba, hancur menjadi gumpalan darah yang mengerikan.
Aku terkejut mendengar Eclair mengetahuinya. Memang informasi tentang Daemon Malaakh dapat dibaca di perpustakaan Noctis yang sangat lengkap. Tapi, bukankah Eclair adalah orang paling pemalas, yang paling enggan untuk membaca? Lagipula… menghentikan aliran sihir, apa maksud Kakakku itu?
"Aku ingin... menyelamatkan dunia ini," kataku.
Eclair mengerutkan alisnya, "Menyelamatkan dunia yang sudah hancur ini? Kamu pasti bercanda bukan? untuk apa? Agar Mutter dapat melihatmu dan memberikanmu kasih sayang, seperti seorang anak seharusnya?" tanya gadis itu yang kemudian tertawa kecil,
"Sungguh dua tahun, kamu tak pernah berubah. Tetap seperti gadis naif yang tak dapat melihat kebenaran," kata Eclair yang kemudia melihat lukisan keluarga yang baru dipajang di kamar itu. Lukisan yang menggambarkan dirinya dan Mutter, berdampingan seperti ibu dan anak.
"Apa yang kamu inginkan tidaklah semanis yang kamu bayangkan, Bulan," kata Eclair.
... "Apa yang kamu tahu..."
"Apa? Bicara lebih lantang!"
Kugertakkan rahangku dan memaksakan diri untuk berdiri. Tetapi kakiku mengkhianati niatanku. AKu pun terjatuh dan tersungkur di hadapan Eclair. Meski begitu... aku tetap menatapnya tepat di mata dan membentaknya,
"Orang yang hanya merasakan kehangatan sepertimu takkan mengerti apa yang kurasakan!"
Awalnya Eclair tertegun saat mendengarku berkata demikian, tetapi kemudian ia pun tertawa terbahak-bahak. Gadis itu pun menunduk dan mengambil daguku, "Kalau begitu, mengapa kamu tak merasakannya sendiri?"
“Hingga purnama berikutnya, nama Eclair Cadenza Noctis adalah milikmu dan aku akan menjadi sang Daemon Bulan. Aku berjanji, dalam satu bulan ini... kamu pasti akan menemukan yang kamu cari selama ini. Adikku yang bodoh."
—————+—————
Setelah pagi datang dan keheningan menghampiri, aku pun tersadar bahwa sekarang, aku sedang tak bermimpi. Tak ada burung pun berkicau, tak ada serangga pun mengepakkan sayapnya, tak terdengar dentingan piring ataupun suara sibuk dapur, tetapi semua telah disiapkan dengan sempurna.
Sebuah salad yang kaya dengan serat dan gizi, tampak menggoda dengan warnanya yang cerah, tersedia di meja panjang perjamuan. Lengkap dengan perlatan makan yang mengkilap tanpa noda, sama seperti lantai maupun dinding di istana itu… bersih tanpa noda sekalipun. Namun, pemandangan kosong tanpa siapapun di pelupuk mata menyadarkanku penuh… bahwa aku benar-benar berada di Kediaman Noctis.
“Ini… terlalu hening,” gumamku yang melihat cerminan diriku dalam sendok.
Rambut hitam yang kumiliki sekarang, telah diwarnai oleh esens Death Flower dan akar Yor.. campuran sempurna yang menciptakan noda gelap yang sulit dihilangkan. Bahkan dalam Satu Bulan. Dengan mataku yang berwarna giok dan kulitku yang cukup mencoklat setelah perjalanan panjang… kini, aku seperti cermintan dari Putri Mentari.
Tak ada seorang pun yang akan percaya bahwa aku bukanlah Eclair Cadenza Noctis. Terkecuali rambutku yang pendek ini… itu pun bisa dengan mudah kudalih dengan megnikuti fesyen terbaru.
“Apa yang Eclair rencanakan?” gumamku memakan salad itu, walau sebenarnya hidup berkelana membuatku terbiasa melewati sarapan.
Apakah dia bosan menjadi Putri Mahkota dan ingin merasakan kebebasan? Alasan yang bodoh. Jika benar seperti itu, maka aku pun tak punya obligasi untuk berperan seperti Eclair. Aku akan memanfaatkan kesempatan ini, tentu saja, untuk membuka koneksi dan menekan Mutter.
“Hihihihi, kesempatan emas apa ini? Aku beruntung sekali,” gumamku.
Hanya saja…
Sarapan sendirian ini… mengingatkanku saat masa kecilku. Benar juga, hampir tak pernah di rumah ini kami bertiga makan di meja yang sama. Mutter terlalu sibuk dengan tugasnya sebagai Ratu sehingga jarang pulang ke Istana Glasglow. Kalaupun pulang, pasti terlalu malam. Malah… pertemuan kami bisa dihitung jari dalam satu bulan.
Meski begitu, terbesit di pikiranku, apakah dengan menjadi Eclair, ingatan dingin itu dapat berubah menjadi hangat?
“Araraa, kamu pasti bukan Putri Eclair, jika bangun sepagi ini,” terdengar suara asing di sampingku.
Terperanjat kaget diriku hampir terjatuh dari kursi. Seorang wanita dengan rambut gelap pun menatapku dengan senyum penasaran. Ia mengenakan seragam pelayan, penuh dengan renda-renda yang sangat tidak cocok dengan gaya Noctis yang elegant. Lebih dari itu, garis-garis sendi yang telrihat di sekujur tubuhnya membuatku bertanya-tanya… Mengapa dia lebih mirip boneka daripada manusia?
Boneka itu mengelus dagunya, “Ho, muka terkejutmu itu menjadi jawabanku. Apa kamu body double yang disiapkan Putriku kemarin? Arara, kalau begitu sungguh tak sopan bagiku tak mengenalkan diri,” katanya yang kemudian berdehem dan menunduk,
“Ciptaan paling sempurna Ratu Noctis. Homunculus Battlemaiden-type IV, Code LUNA. Siap menjadi asistenmu mulai hari ini. Bolehkah aku memiliki nama Nona baruku hari ini?”
“U-Uuh, panggil aku Clair,” jawabku gugup.
H-Homunculus, jadi orang ini beneran sebuah boneka? Aku pernah membaca tentang boneka sihir yang baru-baru ini berhasil ditemukan, membantu pekerjaan kasar seperti megnangkut barang dan pekerjaan sepele lainnya… Tapi, G-Gila ya! Ekspresi wajahnya, gerakannya yang luwes dan kepribadiannya yang terlalu percaya diri itu! Seolah-olah aku sedang berbicara dengan seorang manusia.
K-K-Kalau aku menculiknya dan menjualnya di pasar gelap… berapa banyak uang yang dapat kuhasilkan ya? Eh, kalau aku bisa membongkar rahasianya dan menciptakan Homunculus secara massal, bukankah aku akan emndapatkan lebih banyak uang? Hehehehehe.
“A-Anu, boleh aku meminta Nona Clair untuk tidak menatapku dengan iler ngeces begitu?” kata Luna yang segera mengelap bibirku dengan sapu tangan.
“J-jadi kamu bisa apa aja?” tanyaku penuh semangat.
“Banyak hal daripada dirimu,” jawab Luna blak-blakan.
“W-W-Whoaaa, sebuah boneka mengejekku! K-Keren banget. B-Bolehkah aku membongkar tubuhmu dan mempelajarinya?”
“Tidak boleh!” tolak Luna yang menjitak kepalaku dengan keras. Ia pun menghela nafas panjang dan membuka buku catatannya sambil berkata,
“Yang lebih genting, hari ini Putri Eclair berpesan kepadaku, selagi dia berlibur ke pulau Hamaii dan bersantai disana sebulan, kamu harus menggantikan Putri dalam jadwalnya yang padat!”
“T-Tunggu, berlibur?” tanyaku heran. J-Jadi Kakak ingin aku menggantikan posisinya sebagai Putri Mahkota, sedang dia enak-enakan berlibur? S-Sialan! Aku kira dia punya alasan yang lebih menark dari itu.
“Fokus! Astaga, Body Double satu ini, menyebalkan sekali. Wajah mungkin persis Putri Eclair, tapi sifatnya ini… Haaah, kalau ketahuan Ratu Noctis bisa berabe,” tegur Luna mengetuk kepalaku dengan buku sakunya.
Tertawa kecil aku, “Aman, aman. Aku pandai kok bersandiawara. Terus, apa tugas pertamaku hari ini, asistenku?” kataku yang menyisip teh nikmatku. Yah, kalau pun kepepet, aku akan menggunakan sihir ilusi untuk mencuci otak tiap orang yang menemuiku hari ini.
Luna berdehem dan menjawab, “Bagaimana kita memulai hari ini dengan sarapan ringan bersama Pangeran Axel, tunanganmu?”
Kusemburkan tehku tak percaya, “T-T-Tunangan?!”