
—5—
Kuhela nafasku panjang. Harapanku melambung tinggi saat Pangeran memegang wajahku dan membisikkan kata-kata manis itu. Tapi, bagaimana bisa aku lupa bahwa pekerjaan adalah nomor satu di benak bosku itu.
Namun, kantor Pangeran sederhana sekali. Tiada lukisan mahal atau patung estetis yang tidak berguna, hanyalah rak-rak tinggi penuh dokumen dan peri-peri kecil terbang merapikan ruangan. Di salah satu dinding ialah deretan foto-foto sosok kepala keluarga Noctis sebelumnya. Semua memiliki nama yang sama. Arthur Arpeggio Noctis jika laki-laki dan Ellen Lunaris Noctis jika perempuan.
Kenapa begitu ya? Tradisi keluarga yang aneh.
“Pangeran memanggilku kemari, pasti tentang Pathfinder Nadja?” tembakku.
Arthur yang duduk dengan elegan di sofa depanku pun tersenyum, “Kalau kamu sudah tau, pembicaraan kita jadi singkat,” kata sang Pangeran menyerahkan sebuah dokumen dengan cap emas padaku.
Aku tertegun melihatnya. Cap emas menandakan misi tingkat tertinggi yang hanya diketahui oleh Pangeran dan orang yang ditunjuknya. Bau-baunya, misi ini akan menyusahkan. Hmm, apa ya isinya.
“Jadi Nadja-senpai benar-benar hilang setelah misinya di Junon dua minggu lalu,” kataku yang menutup surat itu dan menghirup nafasku dalam,
“Kamu ingin diriku menyelamatkan Nadja-senpai? Bukan para Seeker, penyihir spesialis menyelamatkan penyihir yang hilang dalam misi?”
“Kamu salah paham Chrysant. Ini bukan misi untuk menyelamatkan Nadja, tapi untuk memburunya. Pekerjaan yang sangat kamu kuasai bukan? Ruin Hunter?” kata sang Pangeran yang berdiri dan mendekati meja kerjanya. Disana ia pun memutar bola dunia disana dan melanjutkan,
”Dua minggu yang lalu, para peneliti berhasil memecahkan dokumen kuno tetang Harta Karun Nasional di reruntuhan kota Junon. Sebuah tim ekspedisi pun dikirim kesana di bawah pimpinan Pathfinder Nadja.”
“Harta karun apa maksudmu?”
Pangeran menghentikan globe itu dan menjawab, “Quartz Bulan.”
Quartz Bulan? Aku pernah membacanya saat di akademi sihir dulu. Quartz Bulan adalah inti jantung dari Malice Pertama yang lahir 6 abad yang lalu. Magicite itu memiliki energi sihir yang sangat luar biasa, bahkan melebih dari inti dunia. Dengan kekuatan sebesar itu, seorang Penyihir mampu melakukan apapun. Bahkan melenyapkan seluruh Malice di muka dunia.
Selama 4 abad, Quartz Bulan disimpan dalam brankas sihir Keluarga Noctis di Junon. Namun sepuluh tahun yang lalu, sejak The Reaper menjatuhkan Benteng Angkasa junon ke permukaan… Quartz Bulan pun menghilang.
“Chrysant, Benteng Angkasa hanya dapat melayang di langit berkat Magicite yang didapatkan dari perburuan Malice. Bila kita bisa mendapatkan Quartz Bulan, kekuatannya mampu mempertahankan Benteng Sihir ini selamanya,” jelas Pangeran Arthur.
Sang Pangeran pun memberiku sebuah dokumen otopsi.
“Mengetahui itu, Nadja segera melacak Quartz Bulan. Tetapi setelah 2 minggu, tak ada kabar yang kembali darinya. Terkecuali… sebuah mayat,” katanya.
Kubaca laporan otopsi itu, melihat foto-foto mengerikan dari korban. Luka sayatan membuat wajahnya tak lagi dapat dikenali. Di sekujur tubuhnya terdapat luka cakaran yang dalam, terbakar dan hangus oleh panas yang tinggi. Bekas serangan Lionmaw, senjata sihir yang hanya dapat digunakan oleh Nadja-senpai.
Salah satu dokumen menunjukan identitas mayat itu sebagai seorang peneliti yang ikut dalam ekspedisi Nadja. Dan bersamanya sebuah surat terakhir yang ditemukan di tangannya, saat para Seeker menemukan mayatnya.
White Order menciptakan Malice Tipe S.
“Tidak ada bukti yang mengatakan Nadja berkhianat, jadi untuk apa aku turun?” kataku berusaha menghindari pekerjaan yang sulit itu.
Luka-luka dari ekspedisiku sebelumnya belum sembuh total. Lagipula, aku baru aja seminggu pulang, masa disuruh pergi lagi? Capai tahu.
“Aku kira mendengar nama White Order akan membuatmu tertarik dengan misi ini. Sebab, bukankah kamu juga salah satu kelinci percobaan organisasi jahat itu, Chrysant?” tanya Pangeran yang melipat tangannya dan bersandar di meja,
“Sejujurnya, Malice tipe S yang dimaksud surat itu bukan masalah utamanya. Tapi, membayangkan apa yang akan dilakukan White Order dengan Quartz Bulan… itulah yang ingin kucegah.
Aku ingin kamu mencuri Quartz Bulan dari tangan mereka, Chrysant,” lanjutnya.
Dengan hormat aku menaruh surat emas itu di atas meja. Sudah jelas misi ini terlalu merepotkan. Lebih baik aku pulang dan menikmati waktu lepas ekspedisiku saja.
“Hormat pada Matahari Black Company, tapi bagi Chrysant, misi ini terlalu berat bagiku. Lebih baik Pangeran bertanya pada Pathfinder yang lebih senior dari Chrysant,” kataku menolak permintaan itu dengan sopan.
Namun saat aku hampir membuka pintu, Pangeran pun berkata,
“Bahkan jika hadiah yang kutawarkan adalah Ignition dari seorang Pathfinder?”
Jantungku berdegup kencang mendengarnya. Segera aku pun berbalik dan menyudutkan Pangeran itu di mejanya dan bertanya,
“Liam, kamu seriusan? Ini bukan jebakanmu atau manuver politikmu yang nyebelin itu kan? Kamu akan menepati kata-katamu kan?”
Sang Pangeran mengangguk, “A-Ah, i-iya, kamu bisa memegang perkataanku. Tapi, Chrysant. Ehem, tolong, jaga jarak dong. Dan pun, namaku sekarang Arthur, bukan William lagi!” katanya.
Aku pun melihat Liam dengan sangat, memastikan teman masa kecilku itu tidak berbohong. Tetapi, tiada niat buruk yang dapat kurasakan. Laki-laki itu... benar-benar akan menepati kata-katanya.
Meskipun ketakutan, aku mengepalkan tanganku dengan erat dan menjawab Liam,
“Aku… akan melakukannya.”
Melompat dari satu genteng ke lainnya, aku melintasi jalanan kota yang padat dengan mudah. Meskipun banyak ibu-ibu yang berteriak mengomelinya setiap kali diriku hampir menjatuhkan pot bunga di kompleks kos-kosan itu, tapi ini adalah jalan tercepat sekaligus olahraga yang mengasyikan bagiku.
"Ah, itu dia, Bengkel AutoGirl!" gumamku yang mengayunkan tubuhku pada tiang lampu, sebelum berputar turun dan mendarat dengan mulus di depan pintu teralis besi bengkel itu. Para tukang dan makinis di kawasan bengkel itu sudah terbiasa dengan kedatanganku yang berisik itu.
"Kok belum buka? Kan sudah jam delapan?" gumamku mengecek jam lagi.
"Neng Chrysant nyari dik Dagger? Belom pulang dia," kata laki-laki brewok yang sedang memperbaiki sebuah motor gede. Dia adalah Van, pemilik bengkel yang bersebelahan dengan Bengkel Autogirl milik Dagger, sahabatku.
"Loh, Om, Dagger emangnya kemana?" tanyaku sambil mengamati pekerjaan Om Van. Gagah mesin itu, dengan rodanya yang besar bergerigi, dan bodi sangar yang dapat membuat Malice pun takut. Seperti Kuda hitam yang garang, siap menaklukan medan apapun.
Motor gede itu merupakan sebuah Automachina, Relik dari peradaban masa lalu yang berhasil ditiru oleh manusia jaman sekarang. Bertenaga inti jantung dari Malice atau disebut Magicite, mesin-mesin sihir itu menjadi pompa kuat yang mendorong kehidupan manusia semaju saat ini. Bahkan, belati busurku pun merupakan Automachina yang didesain Dagger sebagai hadiah sweet seventeen-ku. Twin Princess, namanya.
"Udah temenan sejak masih ngompol, tapi Neng Chrysant lupa dik Dagger maniak Automachina?" canda Om Van, yang adalah ayah angkat bagi Dagger yang yatim piatu, "Anak itu baru saja menemukan kota tua penuh relik kuno, tentu, tak ingin dia cepet-cepet pulang. Karenanya, Om sekarang sibuk, order bejibun!" lanjutnya sambil mengosongkan oli motor gede itu.
“Duh, dia lagi turun ekspedisi? Aaah, padahal aku ingin maintenance senjataku,” tanyaku.
"Emang Neng Chrysant gak punya kenalan makinis selain Dagger, apa?" tembak Om Van yang membuatku tersipu-sipu.
Tersenyum diriku mengingat masa lalu yang dekil itu, ”Teman? Gimana sih O-om nih. T-Tentu ada dong. Banyak malah! Kan, Chrysant sang Pathfinder termuda sepanjang masa.”
“Hah, masa sih? Dari dulu kamu suka bual orangnya, Chrysant. Kalau banyak teman, kenapa nyari dik Dagger terus?" tembak Om Van lagi.
"S-S-Soalnya senjata sihir kan lebih baik dibenerin sama pembuatnya, Om!”
Om Van segera tertawa terpingkal-pingkal. Astaga pasti, Om ini pasti sudah tahu yang sebenarnya. Tetapi kemudian, Om Van berdiri dan mengangkat salah satu roda bekas di depan Bengkel Sera, mengambil kunci disana. Dilemparnya kunci itu padaku dan berkata,
"Masuk aja noh ke dalam. Kali-kali, ada dokumen yang menunjukan kemana anak tu pergi. Yaaaa, kalau-kalau Neng Chrysant emang rindu sama Dik Dagger dan kebelet ingin bertemu dengannya.”
Ugh...! Aku hanya bisa mengangguk dan berterima kasih. Tak ingin tambah malu, aku pun membuka pintu teralis bengkel AutoGirl dan masuk ke dalamnya.
Berbeda dari halaman bengkel yang tanahnya sudah menghitam oleh oli, hamparan porselain putih nan bersih menyambutku. Berderet onderdil mesin dan berbagai jenis oli terpajang rapi di sisi toko. Saat mendongak, aku dapat melihat langit-langit telah digantikan kerangka mesin pompa angin dan sihir, terhubung oleh kabel dan pipa yang rumit.
“Tapi kamarnya, cewek banget,” gumamku yang merinding setelah masuk lebih dalam lagi dan melihat kamar Dagger yang penuh unsur pink.
Berbagai boneka empuk menggemaskan menyambut Chrysant di atas tempat tidur Dagger. Semerbak aroma parfum stoberi manis yang merupakan favorit sahabatnya itu, tercium di setiap sudut kamar. Ya Tuhan, beda banget dengan kamarku yang berantakan dan bau pizza basi yang menyengat! Apalagi saat Kak Sera tak datang beres-beres di rumah!
Sebuah pigura foto terpajang di meja belajar Dagger. Foto Dagger dan diriku yang berdiri di depan gerbang sekolah dasar, tersenyum dengan gigi ompong dan berpegangan tangan dengan erat. Penuh perban dan lebam mereka, tetapi tatapan mata kedua bocah itu adalah milik para pemenang.
Sehari sebelum foto itu diambil, Dagger melindungiku dari kumpulan anak-anak yang merundungku. Meski dia lemah dan ketakutan, dengan tubuh gemetaran Dagger memandang anak-anak nakal itu dengan mata penuh apinya dan berteriak,
"Jangan sakiti temanku lagi!”
Saat itu hati keberanian Dagger mengobarkan api di dalam hatiku untuk memberontak. Lantas bangkit Chrysant pun berdiri di samping Dagger. Bersama, meskipun menangis kami pun emnghajar seluruh anak-anak nakal itu… dan naik pangkat menjadi Ratu anak jalanan.
Tertawa geli diriku mengingatnya, duh ada-ada saja ya masa kecil tuh. Sekarang aku sudah menjadi Pathfinder dan Dagger baru-baru ini dilantik menjadi Ruinminer.
Lepas bernostalgia, mataku pun tertarik pada sebuah buku di meja Dagger, "U-Unravelling D-Demon Lord Credo: The F-Future of Unlimited Energy?" gumamku kesulitan membaca judulnya.
Duh, nama buku itu seperti dongeng masa lalu saja. Dengan hati-hati, aku pun membuka halaman demi halam buku itu. Tapi buku itu ringkih sekali, hingga satu sentuhan kasar dapat menghancurkan satu halamannya.
“Duh pedas mataku,” gumamku melihat kata-kata rumit di tiap halaman buku itu
Tiba-tiba mataku melihat sebuah kertas putih mencuat dari tumpukan halaman menguning nan rapuh itu. Dengan sangat hati-hati kucabut kertas putih itu. Hah, untung saja berbeda dengan halaman lainnya, kertas putih itu sudah dibubuhi diagram sihir perawatan, makanya masih putih dan tahan saat disentuh.
Sebuah foto rupanya, tetapi sangat tajam dan jernih. Penasaran Chrysant, bagaimana orang-orang di peradaban lalu menangkap foto sebagus itu? Satu lagi Relik masa lalu yang belum dapat dipecahkan cara membuatnya.
"... Tahun 2022, hmmm, 2 abad yang lalu?” gumamku.
Ada tujuh orang di foto itu, semua dengan rambut mereka yang keemasan dan pakaian lab putih, berdiri dibelakang mesin raksasa yang menyerupai sebuah tabung dengan banyak sekali pipa menghubungkannya dengan layar-layar komputer yang sangat maju. Di dalam tabung itu, Seekor Malice hitam bertubuh anak kecil melayang dalam cairan merah. Khusyuk dalam doa Malice itu, dengan kabel-kabel yang menghubungkan sekujur tubuhnya dengan layar komputer diluar.
Para peneliti dari masa lalu mungkin? Tak salah, tulisan disana bacanya, "Artificial Chalice of Impurity Mark VII... S-Subject number 187, Nyghtmare Achlysa.”
Salah satu dari peneliti itu begitu familiar di mata Chrysant. Matanya yang menatap kosong, hampir tertutup oleh rambutnya yang sangat pucat hingga hampir menyerupai warna perak. Senyuman sendu yang ditunjukannya seolah mengetuk pintu ingatanku.
Tapi seberapapun kucoba mengingatnya, tak ada yang muncul.
Aku pun melihat tulis tangan rapih Dagger pada belakang foto itu, "... Quartz Bulan, X003-Y256-Z196.”
… Tunggu dulu, Dagger terlibat dalam ekspedisi ke Junon?!