
Ma Dame Krista memperhatikan vial cairan bening di tangannya. Begitu teliti hingga ia memicingkan mata dengan kaca pembesar. Lantas penyihir itu pun mengambil sampel Metilprednisolon di laci meja kerjanya, lalu membandingkan kedua vial itu dengan sebuah timbangan sihir. Jarum dengan ornamen kristal itu pun bergerak, menunjukan perbedaan mikrogram yang membuat Ma Dame Krista mengernyitkan alisnya.
Gugup aku pun mendekatinya dan bertanya, “Gimana, Ma Dame?”
“Meski konsentrasinya lemah, senyawa ini adalah Metilprednisolon… Si Noctis itu, mengalahkanku lagi. Siapa yang mengira, alat pengonsentrasi zat sihir sudah mereka temukan. Padahal teknologi isepengerin tu hanya dideskripsikan dalam dongeng-dongeng di masa lalu,” kata Ma Dame Krista dengan cengiran tertantang.
“Omong-omong, darimana kamu membuat ramuan sihir ini, Putri Bulan?” tanya Krista.
Aku menggaruk-garuk leherku canggung, “U-uh… Bunga Olivia,” jawabku.
“Bunga Olivia? Yang tak ada gunanya selain hiasan itu? Astaga… aku semakin ingin memiliki sebuah Gruhningen,” kata Ma Dame Krista yang pun memandang suaminya dengan memelas,
“Sayaaang, beliin Gruhningen dong!”
“Mustahil. Dompet gua aja udah kering beliin bis ini untuk lu. Lagipula, mana mungkin kita bisa membelinya, toh alat itu adalah cuma dimiliki Keluarga Noctis,” balas Prof. Oe.
“Dasar pelit. Kan kita bisa bernegosiasi dengan si Noctis.”
“K-Kamu ingin aku bernegosiasi dengan Yang Mulia Ratu? Mustahil!”
"Ih, cemen amat sih!"
Tak menghiraukan pertengkaran kecil kedua suami istri itu, aku memperhatikan timbangan sihir milik Ma Dame Krista. Dengan hidungku, aku tak dapat mengetahui pasti perbedaan kekuatan obat yang kubuat dengan yang aslinya. Tetapi kini perbedaan itu tertera jelas dalam angka yang ditunjukan. Bahkan dengan alat paling mutakhir, obat yang kutemukan hanya memiliki 1/100 dari potensi Metilprednisolon yang asli.
Apakah mustahil untuk mengimitasi obat dari peradaban masa lalu dengan teknologi kami di masa ini?
“Apa ada cara lain untuk meningkatkan potensi obat ini… lewat sihir?” tanyaku.
Ma Dame Krista yang sedang menyikut suaminya pun segera menjawab, “W-What? Putri Bulan, apakah begadang sehari membuatmu mengigau? Kalau ada sihir semacam itu, alkimia sihir tidak akan ditinggalkan sebagai ilmu ketinggalan jaman, sayangku.”
“I-Iya, kan. Benar juga… T-Tapi, tapi!” kataku yang kemudian berlari ke rak bahan Ma Dame Krista yang tak kalah lengkap dengan laboratorium Noctis.
Disana aku pun mengambil beberapa Magicite kosongan dan mengisinya dengan sihirku. Lantas kulemparkan batu itu ke langit-langit dan dalam beberapa saat munculah sebentar, kedutan api menyedihkan darinya sebelum memecahkan batu Magicite itu.
“Apa yang kamu mau tunjukan? Kemampuan Magicite untuk menyimpan sihir dan mengeluarkannya tanpa mantra?” tanya Ma Dame Krista.
Aku pun mengangguk antusias dan memutar-mutar rambutku, “A-Anu… B-Bagaimana kalau ada magicite yang cukup kecil… kecil sekali, sampai bisa tercampur dalam ramuan ini? D-Dengan begitu, bukannya kita bisa mengimbuhkan sihir padanya?”
Lama Ma Dame Krista dan Professor Oe menatapku. A-Aduh? Apakah aku mengatakan sesuatu yang aneh? A-Astaga, ja-jangan-jangan ideku terlalu bodoh sampai mereka sendiri bingung harus berkata apa? Aaaaaa, malu banget! Rasanya aku pingin menghilang dari dunia ini!
“Tidak ada Magicite sekecil itu…,” kata Ma Dame Krista yang kemudian mengambil sebuah batu sihir kosong dan mengikisnya, namun saat ia mencoba membubuhkan sihir pada Magicite itu… tak ada yang terjadi.
“Putri Bulan, begini ya. Magicite adalah satu kesatuan sistem yang terhubung dengan inti planet. Ketika kita menghancurkannya, sistem itu akan menghilang. Karena itulah saat ini mustahil untuk menciptakan magicite sekecil yang Putri minta,” timpal Professor Oe yang kemudian mencari-cari dalam dokumen di meja kerjanya, disamping milik istrinya.
“Saat ini?” tanyaku.
Canggung wajah Professor Oe menunjukan celah yang ingin disembunyikannya. Apalagi Ma Dame Krista segera melotot pada suaminya itu. Ragu dalam hatiku, ingin mengorek celah itu. Namun pesan Mutter tadi pagi menjadi pemanduku. Bila kamu menemukan kelemahan lawanmu, maka negosiasi itu telah menjadi milikmu.
Kesempatan ini tak akan kulepaskan.
“U-Uh... bukan menciptakannya juga sih, so-soalnya dia dari dulu sudah a-“
“A-Araraaa, suamiku ini memang suka mengada-ada, maafkan dia ya Putri,” cegah Ma Dame Krista yang menutup mulut suaminya itu. Pucat pasi wajahnya adalah petunjuk bagiku untuk semakin menekan mereka.
Meniru gaya Kakakku dengan harapan meningkatkan rasa percaya diri di hatiku, aku pun duduk di atas meja dan menyilangkan kakiku.Kugenggam ramuan yang kuciptakan sembari melirik ke kamar tempat Quina berada. Rasa bersalah mengguncang hati, tetapi… aku tidak boleh gagal. Sebab untuk pertama kalinya, Mutter menaruh harapan padaku. Perjanjian ini… akan kutitik beratkan pada keuntungan Keluarga Noctis!
“Aku ingin sekali melihat Quina bermain diluar, seperti anak-anak yang sehat. Tinggal selangkah lagi sebelum obat ini sempurna, namun, mengapa Ma Dame Krista dan Prof. Oe justru tampak ragu?” kataku memanfaatkan kelemahan hati kedua orang tua itu dan menumpahkan ramuanku ke lantai,
“Bila, kalian bersikeras untuk menutupinya dariku. Maka aku tidak punya pilihan lain selain membatalkan bantuanku untuk Quina.”
Dengan panik Ma Dame Krista mencoba membujukku, “B-begini, Putri Bulan, tidak ada yang ingin kami sembunyikan. Hanya saja-“
“Tak usah basa-basi. Katakan saja,” potongku tajam menatap iris rubi wanita itu.
Gemetar tangan kusembunyikan dibalik lipatan tanganku. Untung saja, kebetulan pagi ini aku sudah meminum ramuan yang membuat tenggorokanku lebih lega, sehingga suaraku lebih lantang dan tak bergetar. Oh, tak tahukan mereka betapa cepat jantungku berdegup sekarang? Keberanian? hahahaha… saat ini aku justru sangat ketakutan.
Di hadapanku adalah salah satu dari tujuh Penyihir Tinggi Pei Jin, mereka yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan bencana yang makan membawa sebuah negara dalam kehancuran. Sebenarnya, Ma Dame Krista dapat dengan mudah memaksaku untuk menunjukan jalan ke lab rahasia Mutter. Tetapi, aku mengambil resiko untuk melawan, sebab aku tahu betapa wanita itu sangat menghargai kekuatanku sebagai Daemon Malaakh.
Ma Dame Krista menghela nafasnya panjang, “Kamu memiliki mata yang persis dengan Ibumu, Clairysviel. Oh sudah berapa kali mata iblis itu menjatuhkanku dalam posisi yang sulit,” katanya yang pun pergi ke meja kerjanya yang berada disisi meja prof. Oe.
Di antara kumpulan dokumen dan surat yang berantakan, Ma Dame Krista mengambil secarik surat berwarna hitam. Surat itu tersegel oleh sihir yang hanya bisa dibuka oleh Ma Dame Krista seorang. Dengan mengoleskan darah pada diagram sihirnya, burung gagak pun bermekaran dari dalam surat itu menjadi kegelapan yang membentuk sebuah bunga cantik dengan mahkota yang transparan, melayang di atas tangan Krista. Dan dari bunga itu, terdengar suara,
“Kepada Sang Penyihir Merah
Dalam Ekspedisi kedalaman Hutan Terlarang, aku menemukan sebuah Bunga translusen yang sangat unik. Tergantung dari elemen sihir yang kami alirkan padanya, warna cahaya berpendar dari bunga itu berganti warna.
Secara teori, aku memperkirakan reaksi kimia dalam cairan yang mengaliri sirkuit sihir bunga itu, sama seperti milik Magicite. Tetapi karena dia tak terhubung dengan inti dunia, resonansi sihirnya begitu lemah sehingga hanya dapat mereplikasi sihir yang lemah.
Bunga ini… kunamakan Bunga Lentera, karena mungkin bunga ini akan menjadi lentera pemandu masa depan kita atau justru menghancurkannya sama sekali. Bila kamu ada waktu luang, aku mengundangmu ke labku di hutan terlarang untuk mendiskusikannya lebih lanjut.
Salam hangat, Penyihir Hitam.”
Sesudah suara itu berakhir, api biru pun muncul dan membakar habis bunga cantik itu, kembali dalam wujudnya sebagai secarik surat. Tampak berat sekali Ma Dame Krista, memegang tangannya yang ragu. Sepertinya dia sangat menyesal menunjukan surat rahasia itu padaku.
“Aku sudah tahu, bila seorang ingin mengikrarkan janji dengan seorang Noctis, maka ia harus bersiap untuk terjebak dalam pemerasan yang berat sebelah. Tetapi demi… Wuina. Baiklah, katakan apapun kondisi yang kamu inginkan, Putri Bulan,” katanya yang menghela nafas dengan panjang, “Tapi sebelumnya, dengar peringatanku, Putri Bulan. Keluarga Noctis sudah tumbuh terlalu kaya dan berkuasa. Dan bersama cahaya yang terlalu terang akan muncul kegelapan yang sangat pekat.”
Peringatan Ma Dame Krista bagaikan anak panah yang menusuk jantungku. Telah banyak kubaca tentang keluarga bangsawan yang terlalu kaya dan berkuasa, kelak akan runtuh oleh kekuatannya snediri. Iri hati akan selalu mewarnai hati manusia, mendorong mereka untuk menarik cahaya kembali dalam kegelapan. Khawatir akan masa depan itu… aku mengepalkan tanganku.
“Aku bukanlah seorang Noctis," kataku yang kemudian melompat turun dan memberikan salamku pada wanita itu, “Ini adalah perjanjian antara Clairysviel dan Ma Dame Krista, sebagai sejawat penyihir. Sebagai ganti menyelamatkan Quina, aku ingin memiliki hak penuh untuk obat yang kuciptakan… ditandatangani dalam surat suci Clarent yang tak terbantahkan.”
“… Kamu tidak mengincar Bunga Lentera?” tanya Ma Dame Krista.
“Aku lebih membutuhkan Ma Dame Krista, menyediakanku cukup persediaan esens bunga Lentera, agar bisa memproduksi obat ini lebih banyak.”
Tanpa menunggu lebih lama, Ma Dame Krista pun menjabat tanganku dan emngikrarkan janji di antara kami. Namun pada akhirnya, dia pun tersenyum dan berkata,
“Seorang Noctis yang baik hati… Clairysviel, kelak kamu akan menyesali keputusanmu hari ini.”