
—3—
Khanza.
Menyebut nama itu seperti mengetuk pintu ingatan dalam kepalaku. Namanya menghadirkan gambar demi gambar akan kehancuran kota yang tak kukenal. Api berkobar dimana-mana, teriakan minta tolong menjadi bunga-bunga api yang meari di langit. Dan di puncak, turunlah seorang malaikat api yang mengkoyakkan langit memanggil pedang api raksasa.
“Para penghujat black Company… Hancurlah dan jadi debu!” titah malaikat itu.
Dan seperti biasa, sesaat pedang raksasa itu menghujam kota, terang putih mengaburkan mimpiku. Aku pun membuka mataku, menemukan diri dalam kamarku yang kosong. Hanyalah nyeri kepala yang menjadi teman di kamar sempit bernuansa putih itu. Oh iya, tentu saja dengan kaleng-kaleng bir berserakan di meja.
Memijit keningku nyeri, aku pun bergumam, “Duh.. harusnya aku gak minum sebanyak ini. Jadinya kebawa mimpi aneh lagi, huh.”
Kuraih handphoneku di lantai tetapi telah mati kehabisan baterai. Tiada jam disana maupun kalender membuatku bingung. Jam berapa sekarang?
Sempoyongan diriku saat berdiri, tak sengaja menendang kaleng bir yang kosong, hingga jatuh dan menumpahkan sisanya di lantai. Tumpahan bir itu pun menyentuh sebuah laporan dengan cap elang hitam di kovernya.
Terbuka lebar mataku, “A-Astaga, laporan ekspedisiku!” gumamku yang pun mengipas-kipaskan laporan itu berharap kering. Ketepuk keningku dan mengeluh, “Ya Tuhan, kok aku ceroboh banget sih. Kalau aku nggak segera mengumpulkan lpj ini, mana dapat duit aku!”
DUK DUK!
Duh, siapa sih yang mencarinya sepagi ini? Biarin ah, paling cuma tukang koran.
DUK DUK DUK! Ceklek.
H-He …!
Aku terkejut ketika seseorang membuka kunci pintu kamarku. Sayu-sayu mataku melihat gadis berpakaian rapi mendekatiku. Merah rambut sebahunya seperti api yang membara, begitu pula suaranya yang penuh semangat bagaikan matahari dalam dongeng masa lalu. Di tangannya, gadis itu membawa plastik bahan makanan yang terlihat segar.
“Sudah kukira, Chrysant pasti ketiduran!” tegur gadis berambut merah itu.
“Uh… Seraphina?” gumamku setengah sadar. Apakah aku masih bermimpi? Sebab mana mungkin Seraphina bisa punya kunci kamarku?
Tunggu dulu… Ha?
“L-L-Lolololo! Kok kamu bisa disini?!” tegurku kaget. Malu, aku pun segera membereskan kekacauan di kamarku dan menyembunyikannya dari Seraphina.
Tetapi Seraphina melempar sebuah kunci baru kepadaku dan berkata tanpa dosa, “Heh, kamu meremehkan Asistenmu banget ya? Kunci kos kayak begini mah, mudah banget buat dijebol. Sebagai gantinya, kemarin aku mengganti kuncinya yang lebih aman.”
“O-Oh, oke…” gumamku.
Eh, sebentar. Bukankah barusan aku mendengar hal yang sangat luar biasa?
Gadis berambut merah itu pun mendorongku dan mengambil laporanku yang basah kyup. Sipit mata Seraphina melihat kondisi laporan yang mengenaskan itu.
“Sudah kuduga, kalau Chrysant tinggal sendiri tanpa ada yang ngurusuin, bakal jadi begini nih. Sudah bagus-bagus kita tinggal bersama tapi kamu tiba-tiba ingin ngekos sendiri. Kamu tahu, orang-orang panik menunggumu di upacara kemerdekaan?” gumam Seraphina mengibas-kibaskan laporan itu dan mengeringkannya dengan sihir.
Aku pun meregangkan tubuhku manja dan membuka sekaleng bir lagi, “Eh? Upacara kemerdekaan? Bukannya masih minggu depan ya?” kataku santai.
Segera Seraphina mengambil kaleng bir itu dan menjentik keningku keras, “Upacaranya tadi pagi!” tegur gadis itu.
“A-A-Apa? M-Maksudmu, aku tidur selama satu minggu? T-Tunggu dulu, bukankah ini gawat? Kalau aku tidak melapor segera, upahku hangus!” kataku menepuk pipiku panik,
“Lah! Tunggu dulu, kalau kamu udah tahu aku tertidur, kenapa kamu tidak membangunkanku jauh-jauh hari?” lanjutku.
“Lebih seru gini kan?”
“Iiih, nggak gitu juga kali!”
Seraphina tertawa dan mencubit pipiku dengan gemas,
“Tenang, semuanya sudah kuurus. Laporanmu sudah kusalin dengan sempurna, upahmu sudah kubagi rata dengan Saber. Semua tagihanmu sudah kubayar. Kini, kamu tinggal absen muka aja di mabes dan puff, masalah kelar,” katanya yang puas mengerjai adiknya.
Tak percaya, aku pun mengecas hapeku dan mengecek saldo tabungan di dalamnya. Terkejut diriku melihat dijit 7 di dalamnya, utuh dan menggiurkan mata.
“W-Wow, syukurlah. Aku kira bakal nunggak biaya kos lagi bulan ini, hihihi,” kataku. Tapi tunggu dulu…
“Uuhhh, Seraphina-sama, bagaimana bisa kamu mengurus semuanya?”
“Siapa yang mengira, semua passwordmu adalah tanggal ulang tahunku, hmm? Sepertinya, kamu terlalu menyayangiku Chrysant,” ejek Seraphina.
….! A-A-Ahhh, aku kehabisan kata-kata. Panas telingaku tak mampu melihat wajah Seraphina,
“Kegeeran! T-Tanggal lahirmu, kan, sama denganku.”
Eh… sebentar-sebentar!
Tersadar sesuatu, aku pun bertanya, “K-Kok kamu bisa tahu semua itu? K-Kan itu melanggar hak privasi namanya?”
Tetapi Seraphina tertawa geli, “Privasi itu cuma mitos,” katanya yang kemudian pergi ke meja dapur dan membuka plastik bahan makanan yang dia bawa.
“C-Creepy!”
“Biarin,” kata Seraphina sambil membilas peralatan masak… meskipun sebenarnya, semua benda itu adalah miliknya. Dia tahu kemalasanku, lihat aja kamar ini sudah dua bulan ditempati masih kosong lompong.
“Kamu belum makan seminggu kan? Nasi goreng, suka?”
Chrysant menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku lebih suka spagheti.”
“Anak baik tidak milih-milih makanan tahu.”
“I-Iiihh, kalau begitu kenapa nanya!” geramku memukul-mukul pelan Seraphina.
“Gemas aja. Sudah, mandi sana. Udah seminggu ga mandi, baumu acem!” perintah Seraphina yang menutup hidungnya lagi. Tetapi tiba-tiba senyum jahil muncul di wajahnya,
“Atau jangan-jangan, kamu juga pingin kumandiin? Duh, padahal udah gede gini, tapi masih manja sama Kakaknya! Gemesin banget sih, kamu ni.”
“NGGAK MAU!! DASAR MESUM!” teriakku yang segera ingin melompat masuk ke kamar mandi, tetapi Seraphina mencegahnya dan menunjuk ke kompor sihirku.
“Sebelum mandi, aku boleh minta tolong nyalain kompornya?” pinta Seraphina dengan senyum canggung.
—+—
Deras air shower menyerbu wajahku. Bising air menutupi suara, matanya pun tertutup dan dalam sekejap masa lalu menghampirinya.
“… Kamu tidak mengingat siapa dirimu? Kalau begitu, bagaimana jika kamu tinggal bersamaku dan menjadi adikku? Kebetulan, aku sangat menginginkan adik yang menggemaskan!”
Suara itu adalah milik seorang Pathfinder terkuat dalam sejarah, yang mampu mengalahkan seekor Malice tipe S di usianya yang ketujuhbelas. Dia adalah orang yang pertama kali kutemui saat aku kehilangan ingatanku.
Seraphina, sang Morning Star.
Sepuluh tahun yang lalu, Seraphina menyelamatkanku dari percobaan terlarang yang dilakukan oleh sebuah organisasi jahat bernama White Order. Tetapi dalam misi itu, Seraphina melanggar perintah atasannya dan melindungi anak-anak yang menjadi korban kegilaan White Order. Meskipun pada akhirnya… hanya akulah yang selamat.
“Aku yakin anak ini tidak akan menyakiti siapapun. Meskipun dia berasal dari ‘percobaan’ itu, dia adalah seorang manusia, sama seperti kita!”
Black Company memegang teguh perintah dari atasan. Bila melanggar perintah, maka kamu harus bersiap menerima konsekuensi serius. Dan bagi Seraphina, konsekuensi yang ia terima adalah penyitaan Ignition-nya.
Tanpa Ignition, Seraphina tidak dapat menggunakan sihirnya lagi. Dia pun diturunkan secara tidak hormat menjadi seorang Asisten administrasi dengan pengawasan khusus. dan kejamnya, para petinggi Black Company menempatkan Seraphina untuk menjadi asistenku.
“Sihir adalah alat untuk mewujudkan keajaiban. Saat sihirku dapat menyelamatkan hidupmu…” kata Seraphina saat aku bertanya apakah dia menyesal kehilangan kemampuan sihirnya. Tapi Kakak hanya tersenyum dan memandang hampa langit,
“… Aku sudah tak membutuhkan sihir lagi.”
Dibawah tirai air, aku menggigit jariku hingga beradarah. Dalam luka di jarinya itu awalnya mengucurkan darah yang banyak, tetapi hanya dalam hitungan detik pusaran kegelapan menyembuhkan luka itu hingga tak tersisa.
Aku pun teringat tentang Judgment, Malice Aberrant yang kuhadapi seminggu yang lalu. Kecepatan penyembuhannya yang luar biasa sama dengan yang kumiliki. Sebab pada dasarnya, aku dan Malice itu tak jauh berbeda. Sebab jantung yang berdetak di dadaku adalah picis Magicite yang menjadi inti seekor Malice tipe S, The Warden.
Aku bukanlah seorang manusia.
“Apakah hidupku ini pantas untuk menerima pengorbananmu, Kak?” tanyaku.
Sesak dadaku mengingat senyum canggung seraphina saat memintaku menyalakan kompor sihirnya. Tak dapat kubayangkan… apa yang dirasakan Seraphina saat itu.
Andai saja di hari itu Seraphina tak menyelamatkanku, apakah kini dia dapat hidup bahagia?