Transmigrasi Gadis Pintar Sesi 2

Transmigrasi Gadis Pintar Sesi 2
Petrix vs Iwan Raja Tiga Dimensi


"Aku mengenal aura ini, " gumam Iwan.


Dia pun menggunakan kekuatan nya untuk mendeteksi aura yang ada di sekelilingnya.


Petrix sengaja menggunakan aura nya agar diketahui oleh Iwan.


"Akhirnya kau datang, " ucap Petrix. Dia tengah minum-minuman di kios yang lapuk itu.


Iwan yang melihat itu pun tak gentar saat dia berhadapan dengan Petrix. Dia tahu bahwasanya kekuatan yang ia miliki telah pulih akibat perempuan asing itu.


"Kau sedang menungguku? " tanya Iwan tenang. Dia melompat ke arah pepohonan yang tinggi lalu berbaring santai di atas pepohonan itu.


"Kalau aku memang menunggumu, kau mau apa? " tanya Petrix lagi.


"Aku hanya menduga-duga saja dengan aura yang sengaja kau tunjukkan kepadaku, bukan berarti kau ingin melawan ku, bukan? " gertak Iwan.


"Kata siapa? " tanya Petrix.


"Kata firasat ku, " jawab Iwan tenang. Dia membawa sebuah minuman dari labu yang sering ia bawa saat dia berbicara dengan Petrix.


Dia mengelap mulutnya yang basah itu akibat minuman tadi.


"Itu belum dipastikan selama kau masih bisa menjawab pertanyaanku, " ucap Petrix.


"Haha, ternyata kau sudah mulai sombong ya karena kau menjadi bagian dari Dark Eyes? " tawa Iwan.


"Kau sudah tahu, aku bagian dari Dark Eyes, kenapa kau masih berani lancang kepadaku, " ucap Petrix. Dia sudah menaikkan suara oktaf tertingginya itu.


"Itu tidak sebanding dengan diriku yang sebagai raja tiga dimensi, kau hanyalah bagian terkecil dari kekuatanku bila aku benar-benar ingin memusnahkanmu, " ejek Iwan remeh kepada Petrix.


"Kalau begitu, kenapa kau tidak tunjukkan wajahmu kepada pemimpin kami bila itu tidak sebanding dengan gelarmu, " ucap Petrix.


"Aku tidak perlu menunjukkan wajahku selama aku ingin menyembunyikan diri. Kau tahu mereka akan datang sendiri saat ingin benar-benar melawan ku. Hal itu berarti, ada seseorang yang mereka tunggu sampai saat ini mereka tidak bergerak dan hanya mencari pengikut saja, " jelas Iwan. Dia menjelaskan semuanya secara detail dan itu benar-benar terjadi kepada Dark Eyes yang hanya bis amencari pengikut saja. Mereka sama sekali belum bergerak, apakah Iwan sudah mengetahui rencana Dark Eyes? Kalau dia sudah tahu sejauh mana dia mengetahui rencananya?


"Jangan asal tebak, kau tidak layak menjadi saingannya Dark Eyes, " ucap Petrix. Dia tidak Terima lalu menggunakan kekuatannya hingga gelas yang ia minum hampir mengenai wajahnya Iwan. Namun, dengan kekuatan barrier nya itu tidak mengenainya. Dia pun hanya menunjukkan senyum kepada Petrix.


"Sayang sekali, apakah itu kemampuanmu? " ejek Iwan lagi.


Petrix yang tidak ingin melanjutkannya pun hanya berdehem.


"Itu hanyalah pemanasan, aku benar-benar tidak berniat bertarung denganmu karena aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu, " ucap Petrix. Dia mengalihkan pembicaraan saat Iwan sedang mengejek kemampuan kekuatannya begitu lemah.


"Kau pintar sekali dalam mengalihkan pembicaraan seseorang. Baiklah aku akan mendengarkannya kali ini, " ucap Iwan. Dia memang harus mengumpulkan energinya sebelum dia bertarung dengan Dark Eyes lainnya yang kemungkinan mengincar dirinya. Dia harus berjaga-jaga menghemat tenaga lalu berpura-pura dia masih kuat di hadapan mereka semua agar dia bisa menjalankan perjalanannya untuk mengetahui seluruh kekuatan raja tiga dimensinya itu.


"Aku mencium aura yang tidak biasa kepadamu seperti Nayna ku, " ucap Petrix. Dia langsung to the point terhadap aura yang ada pada Iwan. Dia memang memiliki insting yang kuat apabila berurusan dengan orang yang ia cintainya itu.


Kalau ya, dia sebagai lelaki yang mencintai wanita itu tidak mengetahui aura nya sama sekali. Bisa kacau kalau dia mengetahuinya dirinya tidak mengenal aura Nayna.


"Apa kau sangat mengenali aura nya Nayna? " tanya Iwan.


"Aku sangat mengenali aura nya. Meski, jiwanya itu berpindah ke tubuh yang lain. Aku sudah menemaninya di ranjang beberapa kali hingga aku tahu betul tentang jiwanya Nayna maupun jiwanya Rita yang ber transmigrasi itu, " ucap Petrix.


Iwan yang mendengarkan ucapan Petrix benar-benar terkejut kalau dia sudah mengetahui identitas keduanya.


"Kalau kau sudah tahu, kenapa kau masih merahasiakannya? " tanya Iwan tak percaya dengan ucapan Petrix. Dia takut kalau pertanyaan Petrix hanya semacam ujian kepadanya.


"Aku takut itu akan membuatnya menghindatiku. Namun, kenyataannya aku tetap dijauhi oleh mereka. Dia tidak sudi lagi melakukan hal itu karena adanya kehadiranmu, " ucap Petrix kesal. Dia memperlihatkan aura gelap di hatinya paling dalam itu.


Hutan pun berubah menjadi gelap ditambah dengan asap hitam yang bisa saja membutakan mata apabila Iwan tidak menggunakan pelindung barrier di matanya itu.


"Kau harus ingat, dia sudah menjadi istriku, " ucap Iwan yang tak lain bukan dari raja tiga dimensi. Melainkan pria yang menumpang di tubuh Iwan agar menjaga jiwanya Rita di dimensi anehnya itu.


"Haha, kau benar-benar tak pantas menjadi suaminya kalau kau bukan bagian dari raja tiga dimensi ataupun pemilik dunia bawah, " ucap Petrix. Dia sudah semakin ngawur dan tidak bisa mengontrol emosinya hingga hutan banyak yang kebakaran akibat ulahnya.


"Pantas atau tidak, itu belum dipastikan sama sekali, " ucap Iwan. Dia masih berusaha tenang lalu mengeluarkan kekuatannya untuk menenangkan hutan yang terbakar oleh aura api itu dengan aura airnya.


Hutan seakan diliputi oleh embun saat dia menggunakan kekuatannya itu.


Embun-embun itu pun berubah menjadi salju dengan kepingan putih yang berusaha menetralkan aura gelapnya itu.


Petrix lalu meniupnya hingga embun itu tidak menghalangi aura gelapnya.


Dia pun menggunakan pedang prmbrlah cuaca hingga hutan itu trrbagi dua bagian dari yang panas hingga dingin.


Kedua situasi itu lalu ia kumpulkan menjadi bola-bola yang mrndapatekan energi besar. Kemudian, ituu dilemparkan kepada Iwan.


"Kau sedang main-main denganku saat ini! " seru Iwan. Dia berhasil menghancurkan bola itu dengan senjata tak terlihatnya itu.


"Salah, kau yang sedang main-main denganku saat ini, " jawab Petrix. Dia pun mengendalikan bola-bola energi yang sudah hancur menjadi pembakar tiada batas. Banyak api yang terlempar ke tubuhnya Iwan. Namun, dia segera menepis api itu dengan aura nya.


Dia pun membuat tembok salju yang tinggi untuk memblokir setiap serangannya Petrix itu.


Tak lupa, dia pun menggunakan pedang salju itu dengan beberapa lemparan yang seringkali berubah wujud demi mengalahkan Petrix.


Petrix yang tak ingin kalah pun menebasnua secara brutual. Emosinya saat ini benar-benar tidak stabil setiap kali melihat Iwan yang sudah merebut orang yang ia cintai selama ini dan menjadi miliknya tanpa pengorbanan apapun.


"Aku tidak Terima, " teriak Petrix.