
"Kau tidak bisa berjalan di puncak ini hanya dengan mengandalkan fisikmu saja, " ucap seorang wanita yang membantu ayahnya itu. Dia menggunakan sinarnya untuk menopang tubuh ayahnya agar tidak terjatuh.
Ayahnya pun menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat gadis cantik yang telah membantunya. Padahal, dia hampir terjatuh dari ketinggian puncak gunung itu.
"Kau siapa? " tanya ayahnya itu.
"Aku mutiara bulan, " jawab wanita itu.
Ayahnya yang mendengarkan itu pun tak mempercayainya.
"Mana mungkin mutiara bulan berwujud? " ucap ayahnya itu to the point.
"Aku semacam roh yang berada dalam mautiara bulan yang kau cari, " jelas wanita itu.
"Benarkah begitu? " tanya ayahnya memastikan.
"Ya, tentu saja. Kenapa kau mencariku? " tanya wanita yang merupakan roh dari mutiara bulan itu.
"Aku membutuhkan itu untuk menyelesaikan misiku di istana, " jawab ayahnya.
"Kau yakin akan memberiku ke pihak istana? " tanya mutiara bulan itu.
"Ya, " jawabnya.
"Ikut aku dulu sebelum kau membawaku ke dalam istana, " ucap mutiara bulan itu. Dia pun membawa ayahnya Aung itu ke atas puncak dengan terbang hingga mereka berdua bisa segera sampai.
Mutiara bulan itu masih mengenggam tangan ayahnya Aung itu, dia pun menunjukkan sebuah kolam penuh cahaya. Ayahnya Aung dapat merasakan energi dari kolam bercahaya itu begitu kuat. Mungkin saja, setara dengan kekuatan langit.
"Kau tahu apa ini? " tanya mutiara bulan itu sambil menunjukkan ke arah kolam penuh cahaya itu.
"Aku tidak tahu, apakah itu? Bisakah kau menjelaskannya kepadaku? " tanya ayahnya Aung itu.
"Inilah kolam yang aku jaga, " jawab mutiara bulan itu.
Ayahnya Aung itu kembali mengernyitkan dahinya tak percaya. Dia merasa dirinya sedang dipermainkan oleh mutiara bulan itu.
"Masa kolam dijaga, " ucap ayahnya Aung yang tak mengerti dengan maksud dari Mutiara bulan itu.
"Ini bukan sembarang kolam, " ucap mutiara bulan itu.
"Kalau bukan sembarang kolam, lalu apa yang ingin kau maksudkan ini? " tanya ayahnya Aung itu.
"Ini merupakan dunia yang diperkecil menjadi kolam, " ucap mutiara bulan itu.
Ayahnya Aung pun terkejut mendapati perkataan dari mutiara bulan itu.
"Wow, keren sekali kalau kolam itu ialah dunia yang kita pijaki saat ini, " ucap Rita saat dia masih menonton mereka berdua.
"Ini baru hal kecil, kau belum mengetahui fungsi lainnya yang membuat adikku ini mungkin makin tercengang, " jelas Aung.
"Memangnya, apa lagi selain penjaga dunia itu? " tanya Rita tak mengerti.
"Kau bisa melihatnya sendiri setelah ini adikku sayang, " ucap Aung.
Rita pun hanya menganggukkan kepalanya. Dia ingin melihat kelanjutannya.
"Kenapa kau bisa menjaganya? " tanya ayahnya Aung penasaran. Dia merasa kalau mutiara bulan benar-benar menjaga dunia, kaan menjadi hal terberat baginya dalam memberikan mutiara bulan itu ke istana. Dia takut kalau pihak istana akan menyalahgunakan mutiara bulan itu.
"Apalagi yang ingin kau tunjukkan kepadaku selain ini? " tanya ayahnya Aung itu.
"Kau tidak sabaran ya, " ucap mutiara bulan itu. Dia tersenyum manis saat melihat ayahnya Aung itu dengan raut wajah khawatir.
Ayahnya Aung dapat dikatakan masih lelaki tampan. Meski, dia sudah memiliki istri maupun anak, dia tidak terlihat lelaki tua.
"Ya, ini menyangkut antara kehidupan yang aku jalani saat ini. Apabila mutiara bulan yang kau tunjukkan kepadaku benar-benar memiliki banyak kegunaannya, akan sangat merepotkan bila berada di pihak yang salah. Khususnya, pihak istana, " jelas ayahnya Aung panjang kali lebar itu.
"Kau benar-benar menjunjung tinggi sekali keseimbangan yang ada di dunia ini, aku patut memberikan penghargaan bagimu bila kau kesulitan saat kau tidak memberikan aku ke pihak istana, kau bisa meminta satu permohonan kepadaku di saat itu, aku akan mengabulkannya, " ucap mutiara bulan itu.
"Lalu, kau tidak akan menjelaskan apapun lagi kepadaku tentang kegunaanmu selain ini? " tanya ayahnya Aung masih penasaran.
"Sudah cukup sampai disini aku menjelaskannya kepadamu, karena kau tidak bisa terus-menerus berada di sini terlalu lama hingga membuat kultivasimu makin terhisap, " jelas mutiara bulan itu.
"Baiklah, kalau begitu. Bagaimana bisa aku membawamu? " tanya ayahnya Aung lagi.
"Kau bisa turun gunung terlebih dahulu, dan aku akan menemanimu dari sini lalu akan berwujud sebagaimana benda yang bisa kau bawa nanti, " ucap mutiara bulan itu.
"Apakah perkataan itu bukanlah kebohongan? " tanya ayahnya Aung. Dia takut kalau mutiara bulan itu membohonginya hingga dirinya tidak bisa membuktikan kalau dirinya benar-benar membawa mutiara bulan yang sesungguhnya saat di depan istana nanti.
"Tentu saja bukan. Buat apa aku membohongimu? " tanya mutiara bulan itu.
Ayahnya Aung pun menganggukkan kepalanya tanda ia menyetujui permintaan dari mutiara bulan itu.
Dengan susah payah dia menuruni gunung itu melalui jalan berliku, penuh bebatuan, disertai akar pepohonan baik yang hidup maupun liar. Belum lagi, banyak hewan yang menatap ayahnya Aung dengan tatapan lapar, tapi mutiara bulan itu benar-benar berada di sampingnya hingga membuat para hewan tidak berani mendekat.
Mutiara bulan memang memiliki keistimewaan yang tidak dapat diketahui sesungguhnya bila seseorang tidak memahaminya.
"Aku merasa kalau dirimu saat ini sangatlah unik, " ucap ayahnya Aung.
"Benarkah begitu? " tanya mutiara bulan memastikan.
"Tentu saja, aku tidak mungkin membohongimu, " ucap ayahnya Aung itu.
"Kalau begitu, aku berterima kasih atas pujianmu itu, " ucap mutiara bulan itu.
"Jangan-jangan, nanti mereka berdua saling menyukai satu sama lain selama di perjalanan, " oceh Rita memperhatikan mereka berdua yang tengah berjalan menuju pulang itu.
"Aku tidak tahu kalau soal ini, " jawab Aung.
"Memangnya kau tidak melihat masa lalu mereka sampai akhir? " tanya Rita.
"Aku tidak sanggup melihatnya. Sudah cukup sampai kematian kedua orang tuaku di tangan istana hingga aku tidak ingin melanjutkan cerita masa lalunya lagi, " jelas Aung.
"Kalau kau gak kuat, kenapa kau menonton lagi bersamaku? " tanya Rita tak mengerti.
"Aku hanya ingin menemani adikku yang amnesia agar bisa mengingat wajah kedua orang tua kita dan masa lalunya mereka, " jawab Aung.
Rita yang mendengarkan itu pun merasa bersalah. Dia memang berpura-pura amnesia demi kebenaran seseorang yang ia pakai tubuhnya itu dapat memberikan efek lama saat dia menggunakan kekuatannya sebagai dewi air. Dia merasa kalau mutiara bulan ini ada di baliknya hingga dia bisa bertahan lama dalam tubuh yang sudah tidak memiliki jiwanya itu.
Kadang dia pun penasaran, kemana perginya jiwa yang ia pakai di tubuhnya? Apakah benar-benar menghilang akibat dia direndam dalam ramuan herbal itu? Ataukah ada yang membunuhnya tanpa terlihat bekasan nya?
Siapa di balik semua ini?