Transmigrasi Gadis Pintar Sesi 2

Transmigrasi Gadis Pintar Sesi 2
Raja Mengamuk


"Kau sudah yakin dengan pertanyaanmu itu? " tanya raja memastikan lagi. Dia sudah mengeluarkan aura yang tidak biasa di sekitar ruangan itu.


Sanjaya dapat merasakan tekanan yang luar biasa dari Raja itu.


"Ya, aku yakin dengan pertanyaan ku itu, " tegas Sanjaya.


"Kalau begitu aku tidak akan segan lagi kepadamu, aku ingin membuat dunia ini berada dalam penundukkan atas namaku, " ucap Raja.


"Kalau itu tujuanmu, aku tidak akan memberikan mutiara bulan itu kepadamu, " ucap Sanjaya.


Raja yang mendengarkan penolakan dari Sanjaya pun terlihat geram. Dia pun menggunakan kekuatannya untuk mendorong Sanjaya hingga dia terbentur ke arah tiang. Sanjaya lupa dengan memblokir serangan dari sang raja itu hingga mulutnya terluka parah.


"Kau ingin melawan ku hah! " seru raja. Dia tidak dapat mengontrol lagi emosinya saat mengetahui Sanjaya mengatakan itu.


"Maafkan aku raja, aku tidak bisa memberikannya bila tujuanmu itu berkaitan dengan dunia, " ucap Sanjaya. Dia mengelap darah dari mulutnya itu lalu berusaha bangkit dari tempatnya.


"Aku tidak membutuhkan maaf darimu, " ucap sang raja. Dia pun menggunakan kekuatannya untuk mencengkeram lehernya Sanjaya hingga ia merasa tercekik.


"Aku lebih baik mati dibandingkan menyerahkan mutiara bulan itu, " ucap Sanjaya di sela-sela lehernya dicekik oleh sang raja itu.


Sang raja yang mendengarkan itu pun melepaskan kekuatannya itu. Dia pun menggunakan jaringnya untuk mengikat tubuh Sanjaya.


"Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja, kalau begitu bagaimana dengan keluargamu? " ucap sang raja. Dia terlihat tersenyum sinis hingga dia memperlihatkan layar di hadapannya Sanjaya.


"Apa yang ingin kau lakukan dengan keluargaku? " teriak Sanjaya. Dia tidak Terima kalau Sang raja akan memusnahkan seluruh keluarganya itu.


"Apalagi selain membakar habis mereka, " jawab Sang raja begitu tenang. Dia pun mengirimkn sinyal kepada bawahannya untuk membakar habis keluarganya Sanjaya.


Sanjaya yang melihat itu tidak Terima dengan keputusan Sang raja itu. Dia dapat menyaksikan keluarganya sudah dibakar habis-habisan tinggal istri dan anak-anaknya.


Dia dapat melihat ketiga orang yang ia sayangi sudah berada di altar pembunuhan.


'Aku mohon mutiara bulan, tolonglah anak-anakku. ' batin Sanjaya.


'Ya, aku akan menolongmu, tapi istrimu tak bisa aku selamatkan, " ucap mutiara bulan itu.


Mereka berdua melakukan telepati yang membuat Sanjaya tersenyum.


'Ya, aku tahu soal itu. ' batin Sanjaya.


Mutiara bulan langsung pergi ke tempat altar anak-anaknya itu. Dia tak habis pikir dengan keputusan dari Sanjaya benar-benar membuat sisi nuraninya begitu berat.


Dia pun menghilangkan kedua anaknya Sanjaya hingga terlihat raja.


"Kenapa ini bisa terjadi? " teriak Sang raja.


"Ini memperlihatkan kebenaran akan selalu menang, " ucap Sanjaya. Dia pun menggunakan kekuatannya. Begitu pula, dengan istrinya. Mereka berdua sama-sama menggunakan kultivasi yang disembunyikan itu untuk melawan Kekaisaran.


Sang raja tidak ingin dirinya mati, dia pun menggunakan kekuatan mengikat kepada Sanjaya berulang kali hingga tubuhnya Sanjaya benar-benar tercabik dari segi dantian hingga tubuh fisiknya itu.


Istrinya yang menyerang sekelempok bawahan raja pun menyerang mereka, tapi busur panah yang tersembunyi menancap di jantungnya. Dia pun terbaring di atas altar itu hingga jeritan pun terdengar di mana-mana.


"aarggh."


***


Iwan pun hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak memiliki perasaan seperti manusia lagi.


Tubuhnya yang terluka pun benar-benar pulih saat dia ditancapkan beberapa kali diri dari kekuatannya orang yang bertopeng itu.


"Sungguh eksperimen yang menarik, " gumam orang yang bertopeng itu. Dia pun melepaskan tali yang menjerat di tubuh Iwan itu.


Iwan pun menundukkan kepalanya sebagai penghormatan terhadap orang yang bertopeng itu.


Orang yang bertopeng itu merasakan kesenangan yang tak tertandingi.


Namun, di dalam bawah sadarnya Iwan itu saling memberontak satu sama lain.


"Kau harus melepaskan tubuhku! " teriak Iwan. Dia tidak Terima kalau tubuhnya benar-benar diisi oleh benih hitam dari Dark Eyes itu.


"Aku tidak melepaskannya, ini adalah takdir, " ucap benih hitam itu, dia masih memegang kendali dari tubuhnya Iwan itu.


"Tidak ada yang namanya takdir dalam mengacaukan hidup seseorang, " ucap Iwan.


"Ini adalah kehendaknya, " ucap benih hitam itu dingin kepada Iwan yang ditahan dalam pengendalian diri.


Iwan mencoba menggunakan kekuatan internalnya tapi kekuatannya itu dihempaskan begitu saja oleh benih hitam itu.


"Aku takkan membiarkanmu mengendalikan tubuhku, " geram Iwan.


Benih hitam yang mendengarkan itu pun langsung menutup mulutnya Iwan. Dia menyegel semua rohnya Iwan itu agar dirinya bisa tenang dalam mengendalikan tubuhnya Iwan saat ini.


"Kau terlalu berisik sampai aku benar-benar tidak ingin mendengarkanmu, " ucap benih hitam itu.


Iwan yang mendapatkan penguncian itu pun tak menghentikan tindakannya. Dia segera menggunakan celah yang tersisa yakni matanya. Dia mencoba melepaskannya itu tapi benih hitam yang mengetahuinya langsung membuatnya mita dalam sekejap.


"Aku memang tak bisa membiarkanmu berlari dari pengendalian ku. Patuhlah, " ucap benih hitam itu. Dia menggunakan kabur hitam yang membuat alam bawah sadarnya benar-benar menghitam bagaikan kolam hitam. Itu tak lagi jernih karena jiwanya Iwan sudah ditutupi dengan pengendalian benih hitam itu.


Tak hanya itu saja, dia pun membuat rohnya Iwan benar-benar melayang tanpa tujuan. Dia benar-benar membuat Iwan gila saat ini.


Tak ada yang mengetahuinya, tapi firasat Yuu sedikit tak tenang akhir-akhir ini. Dia merasakan hembusan dunia bagaikan neraka tak terlihat bentuknya.


"Perasaan apa ini? " batinnya. Dia tidak biasa dengan perasaan yang membuatnya tidak tenang, apakah dia terlalu takut kalau misinya gagal?