Transmigrasi Gadis Pintar Sesi 2

Transmigrasi Gadis Pintar Sesi 2
Persimpangan Awal Mutiara Bulan


"Ini baru persimpangan awal cerita sebelum orang tua menemukan mutiara bulan, " ucap Aung.


Rita yang mendengarkan perkataan Rita pun hanya beroh ria saja sebagai tanda kalau dirinya merespon perkataan Aung.


Saat itulah, kereta kerajaan istana melewati jalur yang mereka berdua pijaki. Hanya saja, mereka berdua yang tak bisa dilihat oleh orang-orang pun hanya sebagai bayangan pelihat masa lalu itu.


"Awas, minggir kalian semua pihak kerajaan ada disini! " seru penarik kuda itu sambil meneriakkan hal-hal yang menjunjung tinggi kerajaan istana itu.


"Mereka begitu sombong sekali, " ucap Rita kesal.


"Itu baru permulaan, dan ada yang lebih parah dari ini, " jawab Aung.


Dia pun menujuk kereta kuda lainnya yang sembarangan mencambuk para pedagang yang menghalangi jalannya.


Rita yang melihat tindakan itu segera menutup matanya. Dia tidak dapat melihat hal-hal yang berbau kekerasan.


Aung yang melihat adiknya itu pun segera membawa Rita ke tempat lain.


"Itulah keadaan di masa lalu, " ucap Aung. Dia berusaha menenangkan adiknya yang tengah menangis dibalik matanya yang ditutup tangannya sendiri itu.


"Aku tidak bisa melihatnya kak, " ucap Rita tengah menangis. Dia tidak dapat menutupi perasaannya yang tengah terluka melihat orang-orang yang hanya status bawahan sebagai pedagang dapat ditindas sesuka hati oleh pihak atasan yang mengatasnamakan kerajaan. Itu bukanlah perbuatan manusiawi.


"Aku tahu, tapi itu keadaan yang dialami kedua orang tua kita saat itu, " ucap Aung.


"Lalu, dimana kedua orang tua kita? " tanya Rita. Dia terbawa perasaan hingga terhanyut oleh tubuh yang ia pakai sebagai pengisi jiwanya itu. Bahkan, dia seperti memainkan peran adik yang sesungguhnya bagi Aung.


"Keadaan kedua orang tua kita masih baik-baik sebelum mereka menemukan mutiara bulan yang sesungguhnya itu, " ucap Aung. Dia tengah kesal saat dia mengatakan itu.


Rita dapat mengetahui perasaan Aung yang dapat melihat masa lalu kedua orang tuanya itu berulang kali, dapat dipastikan itu menyakiti hatinya sendiri. Dia juga dapat mengetahui perasaan Aung yang menahan kesalnya itu. Namun, dia tidak ingin mempermasalahkannya itu, dia tak ingin kalau Aung membuka luka lamanya kembali.


Jadi, biarkanlah Aung yang membicarakan ceritanya itu sendiri dibandingkan dirinya yang terus mengorek informasi tersebut.


"Ayo kita lihat keadaan kedua orang tua kita kak, " ajak Rita. Dia tengah menarik baju kakaknya dengan erat sambil tangisannya tak berhenti itu.


Aung yang melihat itu segera menghapuskan air matanya Rita dengan tangannya sendiri lalu memeluk adiknya sebentar.


"Aku akan membawamu ke sana, tapi kau tidak boleh menangis seperti ini, " ucap Aung. Dia mengusap punggung adiknya itu.


"Ya, aku tidak akan menangis. Jadi, bawa aku ke sana menemui mereka, " ucap Rita. Dia benar-benar telah terbawa suasana dalam memainkan peran sebagai adiknya Aung. Padahal, jiwanya hanya mengisi tubuh adiknya Aung saja.


Rita pun melepaskan pelukannya Aung, lalu mereka berdua segera pergi ke tempat kedua orang tuanya berada.


Tak lama kemudian, mereka berdua sudah berada di kediaman kedua orang tuanya yang statusnya masih tinggi saat itu.


Rita dapat melihat kedua orang tuanya sedang berbincang-bincang di luar halaman dengan senyuman manisnya sambil membawa anak-anaknya itu.


Sayangnya, itu tak berlangsung lama setelah dekret Kekaisaran telah tiba.


"Dekret Kekaisaran tiba, " teriak ajudan Kekaisaran yang datang secara tiba-tiba di kediaman kedua orang tuanya itu.


Kedua orang tuanya pun segera menunduk hormat lalu menerima dekret Kekaisaran itu.


"Saya mendengarkan dekret Kekaisaran, " ucap ayahnya mereka berdua itu.


Ajudan kekaisaran pun dengan oktaf tertinggi membacakan perintah dari dekret Kekaisaran itu.


"Kami perintahkan kepada gelar Thomas untuk segera mencari mutiara bulan yang sesungguhnya dalam waktu kurang dari sebulan, " titah ajudan Kekaisaran itu.


Ibunya saat itu sangatlah cemas apabila suaminya tidak dapat memenuhi perintah Raja itu. Dia pun segera memeluk suaminya itu setelah ajudan Kekaisaran itu pergi.


"Apa yang akan kamu lakukan apabila tidak dapat memenuhi perintah yang mulia Raja? " tanya istrinya itu.


"Akan aku pastikan dapat memenuhi perintah yang mulia Raja, kau harus mendoakan aku agar misiku berhasil, " jawab suaminya itu.


"Aku akan selalu mendoakanmu agar para dewa melindungimu dalam setiap keadaan, " ucap istrinya itu.


"Ya, berjanjilah kepadaku untuk melindungi anak-anak, " jawab sang suaminya itu.


"Lihatlah mereka berdua sangatlah bahagia, " ucap Aung. Dia tak bisa melihat kedua orang tuanya itu mati mengenaskan begitu saja.


"Ya, aku tahu. Aku dapat melihat jelas dari sisi mana mereka tidak bahagia dari sini, " jawab Rita. Dia pun menepuk pundak kakaknya itu yang tengah mengepalkan tangannya begitu erat.


"Kau benar-benar tahu tentang perasaan kakak saat ini, " ucap Aung. Mereka berdua pun beralih ke tempat dimana ayahnya akan mencari mutiara bulan itu.


Ayahnya sedang menaiki kuda menuju hutan dalam mencari mutiara bulan yang seringkali dibicarakan oleh masyarakat, terutama para pedagang yang memanfaatkan eksistensi mutiara bulan itu dalam beraneka ragam, ada yang membuat pakaian, makanan, hingga aksesoris lainnya.


Dia menempuh jalannya sendiri tanpa adanya banyak pengawal di belakangnya.


"Ketahuilah kedatanganmu kali ini akan menimbulkan masalah bagi negaramu, " ucap suara yang menggema dalam hutan itu.


Ayahnya pun mencari-cari sumber suara yang sedang berbicara dengannya.


"Siapa kau? " teriak ayahnya itu.


"Kau tidak perlu mencariku, aku hanya memperingatkanmu saja, " ucap suara yang menggema itu lagi.


"Kalau kau sedang memperingatkan aku, harusnya kau memberitahuku dimana lokasi dari mutiara bulan yang sesungguhnya, " ucap ayahnya itu.


"Lokasinya hampir sampai di tempatmu, jadi kau tinggal mencarinya saja usai kau menemukannya jangan mendatangi tempat ini lagi, " ucap suara yang menggema itu.


"Baiklah, aku akan segera menemukannya, " ucap ayahnya itu.


Dia pun berjalan menelusuri ke arah puncak gunung. Dia mengikat kudnaya ke arah pepohonan lalu dia memulai berjalan kaki menuju puncak gunung itu. Dia dapat melihat arah puncak gunung itu begitu bersinar hingga dia berasumsi kalau mutiara bulan berada di sana.


Tanah dari puncak gunung itu begitu licin sekali hingga dia memegang erat setiap tangkainya itu.


"Ini licin sekali, " gumam ayahnya itu.


"Perjuangan ayah begitu besar saat mencari mutiara bulan, " ucap Aung.


"Ya, bisakah ayah bertahan dalam menusuri itu? " tanya Rita cemas.


"Dia tidak dapat bertahan bila mutiara bulan itu tidak menolongnya, " ucap Aung.


"Bagaimana bisa itu menolongnya? " tanya Rita tak percaya.


"Kau bisa melihatnya sendiri dengan apa yang aku katakan tadi, " ucap Aung.


Rita hanya mengangguk saja sebagai respon dari kakaknya itu.


Saat ayahnya sedang menaiki tempat yang tertingginya lagi, dia merasa kalau tubuhnya takkan bertahan.


"Aaargh, " teriak ayahnya itu.