
"Aku bisa mengubah wujudku, tapi apakah kau akan mengakui keberadaanku? " tanya burung Phoenix itu. Dia seperti mengenal Nayna saja.
Nayna yang mendengarkan itu pun terdiam. Diaa tidak tahu harus menjawab dengan apa, seperti hatinya sudah terbaca oleh burung Phoenix itu.
"Aku tak mungkin mengakuimu, keberadaanmu benar-benar membuat orang salah paham. Apalagi, Bao Yu juga menghindari ku, seakan dirinya membenciku, " jawab Nayna jujur. Dia tidak bisa mengelak pertanyaan dari burung Phoenix itu. Apalagi, dia juga masih berada di dunia Lin'an yang dimana dirinya tidak bisa berbohong sebelum hukum alam memberikan hukumannya bila dia berbohong.
"Aku mengerti, aku akan membuat Bao Yu mengakui keberadaanku hingga dirimu tak bisa memberikan aku alasan lagi, " jawab burung Phoenix itu. Dia pun langsung menghilang ke tempat yang Nayna tidak ketahui.
"Hei, kau mau pergi kemana? " teriak Nayna. Dia tidak menemukan lagi burung Phoenix itu di tempatnya. Dia juga tidak bisa keluar dari kamarnya sendiri sebelum masa pemulihannya selesai. Itulah yang ditentukan oleh Bao Yu.
Nayna pun kembali ke dalam kolam pemulihan hingga dirinya benar-benar merendahkan seluruh tubuhnya akibat kepalanya dibuat pusing oleh burung Phoenix itu.
Dia juga memikirkan kalau dirinya akan berpisah sebentar lagi dengan Bao Yu, tapi dirinya belum mengetahui wajah sesungguhnya Bao Yu.
'Aku akan bertempur lagi di dunia Chang'an, hari pemulihanku disini benar-benar membuatku bisa beristirahat, tapi di dunia Chang'an, aku harus menghadapi kenyataan dengan beberapa musuh yang harus aku musnahkan.' batin Nayna.
***
"Akhirnya, aku bisa beristirahat, " gumam Bao Yu. Dia merebahkan dirinya di kasur es itu.
Saat Bao Yu hendak menutup matanya, suara bayi pun terdengar di kedua telinganya. Dia memang tak bisa melihat akibat kedua matanya diikat kain itu, tapi dia bisa merasakan keberadaan seseorang termasuk bayi yang ia dengarkan saat ini.
"Bayi? " gumam Bao Yu. Dia pun turun dari kasur esnya itu lalu merasakan aura terlemah dari bayi itu.
Bayi itu pun melihat keberadaan Bao Yu yang menuju tempatnya. Dia terlihat senang saat itu, lalu menggunakan sedikit kekuatannya agar Bao Yu segera menemukannya secepat mungkin.
Bao Yu pun baru menemukan bayi itu lalu mengendongnya. Dia tak habis pikir, setelah dia membawa Nayna, banyak sekali kejadian aneh di dalam kediamannya.
"Jangan menangis, " ucap Bao Yu. Dia tengah menenangkan bayi itu, tapi dia memang tak melihat ekspresi bayi itu.
Bayi itu pun mengenggam tangannya Bao Yu. Dia dapat merasakan sentuhan kecil dari bayi itu yang terlihat kecil. Sayangnya, dia benar-benar tak bisa melihatnya.
"Apakah kamu lapar? " tanya Bao Yu.
Bayi itu tak merespon, dia hanya mengemut jari-jarinya Bao Yu.
Bao Yu tidak pernah mengurus anak kecil, dia pun berjalan menuju Nayna. Mungkin, Nayna lebih tahu cara mengurus bayi. Itulah pikiran Bao Yu.
Bayi itu yang mengetahui langkah Bao Yu ke arah Nayna pun terasa senang. Dia dapat menemukan Nayna sekaligus Bao Yu secara bersamaan. Meski, Bao Yu tidak dapat menemukan dirinya sebagai jelmaan dari burung Phoenix.
Bao Yu pun membuka mantranya dengan kedipan matanya saja hingga pintu kamarnya Nayna terbuka.
Nayna yang mendapati tamu tak terduga pun terkejut dengan kedatangan Bao Yu yang menggendong bayi itu.
Apalagi, Nayna tahu kalau bayi itu jelmaan dari burung Phoenix itu.
"Hei kau, " panggil Bao Yu kepada Nayna. Dia tak mengetahui namanya Nayna hingga dirinya hanya memanggil kau saja.
"Ada apa? " sahut Nayna. Dia pura-pura tidak tahu soal bayi yang digendong oleh Bao Yu itu.
"Aku tidak bisa mengurus bayi, kau uruslah dia, " ucap Bao Yu.
"Kau menyuruhku? " ucap Nayna.
"Kau tak punya perasaan, menyuruh wanita mengurus bayi, tapi kau tidak mengetahui namanya. Bahkan, kau pun tidak bersikap lembut, " ucap Nayna. Dia tak menghampiri Bao Yu, dia masih dalam kolam pemulihan itu.
"Memangnya, namamu siapa? " tanya Bao Yu.
"Aku Nayna, " jawab Nayna.
Bao Yu yang mendengarkan namanya itu pun mengernyitkan dahinya.
"Namamu bukan berasal dari dunia Chang'an, tapi manusia bumi. Kenapa kau bisa menjelajahi dua dunia sekaligus dengan namamu itu? " tanya Bao Yu.
Nayna melupakan dirinya sedang menyembunyikan identitas itu terhadap Bao Yu. Dia juga tak bisa jujur ataupun bohong di hadapan Bao Yu.
Dia pun langsung bangkit menuju Bao Yu yang menggendong bayi itu.
"Aku akan mengurus bayi ini, tapi kau tidak boleh mempertanyakan identitas ku lagi, " jawab Nayna. Dia langsung mengambil bayi yang ada di tangannya Bao Yu itu.
"Kenapa kau tak ingin jujur kepadaku? " tanya Bao Yu.
"Bukankah kau yang mengatakan, ada hal yang kau ketahui dan ada hal yang tidak kau ketahui, " jawab Nayna. Dia menggunakan kata-kata yang dipergunakan Bap Yu sebelumnya itu.
Bao Yu yang mendengarkan perkataan Nayna pun terdiam.
"Baiklah, aku takkan mempertanyakan itu lagi. Selagi dirimu dalam masa pemulihan, kau harus mengurusnya, " ucap Bao Yu. Dia tengah pergi dari kamarnya Nayna hingga Nayna menghentikan langkahnya.
"Tunggu dulu! " seru Nayna.
"Kenapa lagi? " tanya Bao Yu.
"Aku tak bisa mengurusnya sendiri, bukankah kau tahu selama pemulihanku selesai, maka aku akan kembali ke duniaku, " jawab Nayna.
"Kau bisa menundanya selama bayi itu sedikit dewasa, " ucap Bao Yu.
"Ini kan bayimu bukanlah bagiku, " protes Nayna. Dia tak bisa mengatakan kalau bayi itu benar-benar hasil dari mereka berdua.
Bao Yu ingin mengatakan kalau bayi itu juga bukanlah bayinya, tapi dia tidak mungkin melukai hati bayi itu. Jadi, dia mengakuinya sebagai bayi sendiri.
"Ya, aku tahu. Namun, aku juga menyelamatkanmy dari marabahaya, anggaplah itu syarat kau tinggal di kediaman ku dengan gratis, " jawab Bao Yu.
Nayna yang mendengarkan perkataan dari Bao Yu pun terharu. Dia benar-benar mengakui bayi yang tak jelas itu sebagai miliknya.
"Apakah aku harus mengasuhnya tanpa kau memberikan status kepadaku? " tanya Nayna. Dia berharap kalau Bao Yu memberikan status pernikahan kepadanya. Meski, dia sudah menikahi Iwan, tapi dia tak pernah direstui oleh hukum alam sebagaimana Bao Yu.
"Kau mengharapkan apa? " tanya Bao Yu.
"Aku ingin menikahimu! " seru Nayna dengan berani.
Bao Yu yang mendengarkan itu pun tertawa. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa terhadap Nayna yang berani mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan itu.
"Kau benar-benar wanita yang berani, " ucap Bao Yu. Dia belum membalas seruan Nayna, tapi dia hanya tersenyum kepada Nayna.
"Itu bukanlah jawaban yang aku inginkan, kau menerimanya atau tidak! " seru Nayna lagi.