Transmigrasi Gadis Pintar Sesi 2

Transmigrasi Gadis Pintar Sesi 2
Latihan


"Ini sangatlah keren, " puji Iwan sendiri.


Dia pun membuat berbagai macam wujud benda melalui kekuatan airnya itu.


"Transformation, " ucap Iwan. Dia pun membuat para prajurit dari kekuatan airnya itu.


Betapa takjub nya Iwan melihat elemen airnya dapat diubah ke dalam bentuk prajurit sebagaimana manusia.


Sayangnya, para prajurit dari elemen airnya itu hanya bisa bertahan bila di dalam air. Saat dia akan membawa ke daratannya itu akan segera mencair.


Rita yang melihat Iwan dari jauh pun tersenyum, tapi dia mengeluarkan darah dari mulutnya.


Uhuk


"Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, apakah ini rasa sakit yang dibawa oleh tubuh ini? Hingga dia sengaja berendam dalam ramuan herbal, " gumam Rita.


Iwan yang mendengarkan suara wanita pun menoleh kesana kemari.


"Siapa disana? " teriak Iwan. Dia tidak mendapati satu orang pun yang sedang melihatnya di latihan kecil ini.


Rita yang mendengarkan itu pun segera menggunakan kekuatan teleportasinya. Dia belum dapat menemui Iwan saat ini. Padahal, dia sudah sangat merindukannya lebih dari siapapun. Namun, dia tidak ingin menganggu konsentrasi nya Iwan dalam menggunakan kekuatan raja tiga dimensi. Apalagi, Iwan yang asli sudah disegel di pedang Dark Eyes itu.


Dia tidak boleh gegabah dalam melakukan sesuatu. Dia harus merencanakan segala sesuatunya dengan matang. Dia pun pergi ke tempat padang rumput hijau.


Rita tak menyadari kalau tempat itu merupakan tempat sekumpulan para pengikut Dark Eyes. Dia masuk ke tempat markasnya tanpa seorang pun yang mencurigainya.


"Kau pulang? " tanya Aung kepada Rita.


Rita yang mendengarkan seseorang tengah menyapanya pun kaget.


'Siapa yang menyapaku. ' batin Rita. Dia berusaha tenang dalam situasi hati gelisah saat ini. Dia tidak tahu siapa yang ia hadapi saat ini. Apalagi, dirinya sedang meminjam tubuh orang lain. Dia pun tidak bisa mendapatkan ingatan dari tubuh yang ia gunakan saat ini.


Rita pun menoleh.


"Ya, aku pulang, " jawab Rita pelan. Dia pun memegang dadanya yang terasa sakit hingga mengeluarkan darahnya di depan Aung.


"Sudah aku bilang kepadamu, kau tidak boleh memaksakan diri dengan berendam herbal begitu, " peringat Aung kepada Rita.


Rita menatap Aung. Dia merasa kalau Aung tidak akan bisa melihat jiwanya saat ini bukanlah jiwa yang ia kenali.


"Maaf, " ucap Rita singkat. Dia tidak tahu harus bersikap apa bila ada yang mengkhawatirkan dirinya di tubuh orang lain. Terlebih, dia merasakan aura yang membuat sekujur tubuhnya dingin. Dia pun memandang ke sekeliling hingga melihat langit berwujud Dark Eyes.


Rita yang melihat itu pun masih berpura-pura tennag. Padahal, dalam hatinya sudah meronta-ronta ingin keluar dari sana. Namun, lelaki yang mengenali tubuh yang ia pinjam saat ini, membuat dirinya tidak bisa kabur begitu saja.


"Kau harus meminum darah yang tuan pemimpin berikan agar tubuhmu tidak lemah saat menghadapi lawan, " ucap Aung. Dia memapah Rita ke dalam pemukiman yang memiliki banyak segelnya itu.


Dia dapat melihat jelas kalau segelnya Dark Eyes semakin rumit. Dia tidak bisa menghapalkannya dalam sekali lihat.


"Ya, aku akan berusaha, " ucap Rita. Dia tidak boleh menolak perkataannya Aung saat ini. Kalau dirinya menolak, pasti orang yang tahu tubuhnya itu akan mencurigainya. Dia tidak boleh kehilangan satu informasi apapun dari pihak musuhnya itu.


Aung membawa Rita ke dalam kamarnya. Itu terdapat rekaman lukisan tentang dirinya dan Aung. Aung yang pergi ke dapur pun meninggalkan Rita seorang diri di kamarnya.


Dia dapat melihat jelas lukisan itu pastinya berkaitan dengan keluarga tubuh wanita yang ia pakai.


"Aku harus mengetahui keluarganya, " gumamnya.


Dia akan mencari tahu jati diri tubuh yang ia pakai saat ini karena tubuhnya bisa membuat dirinya berlama-lama menggunakan energi dewi airnya.


Tak seperti, tubuh yang merupakan tunangannya Han Qinyi itu akan membuat dirinya kembali ke tubuhnya semula.


Cek lek


Aung pun masuk membawa baskom darah agar diminum oleh adiknya itu.


"Lana, aku sudah menyiapkan ini untukmu. Kau harus meminumnya, " titah Aung. Dia menepuk pundaknya Rita hingga dia terkejut lalu menjatuhkan baskom darah yang dibawa Aung.


Rita yang memang melamun itu baru sadar kalau Aung sudah di belakang tanpa ia sadari sebelumnya.


"Maafkan aku, " ucap Rita. Dia segera membersihkan baskom darah yang dibawa Aung, tapi tangannya Aung pun mencegahnya.


"Lana, kau sedang melamun? " tanya Aung khawatir. Dia membawa Rita ke tepi ranjang lalu membiarkan baskom darah itu berceceran hingga darah yang mencair itu pun menjadi asap merah yang ber gelembung.


"Ya, aku hanya memikirkan hal lain semenjak aku berendam, aku sama sekali tidak memiliki ingatan apapun saat ini, " ucap Rita bohong. Dia mengatakan kalau dirinya amnesia demi melindunginya sendiri.


"Apakah benar begitu? " tanya Aung memastikan.


"Ya, aku sempat bingung sendiri. Maka dari itu, aku banyak melamun, " ucap Rita meyakinkan. Perkataan Rita mampu membuat Aung langsung memeluknya.


"Pantas saja kau terlihat bingung. Maafkan kakakmu ini yang tidak menunggumu saat kau berendam disana. Kakak sedang ditugaskan oleh pemimpin, jadi kakak tidak bisa menemanimu, " ucap Aung. Dia benar-benar menangis saat itu.


Rita yang mendapati perlakuan dari Aung pun merasa iba. Dia langsung menguspa punggung Aung saat dia tengah memeluknya.


"Aku yang harusnya minta maaf tidak memberitahukan kakak lebih awal, " ucap Rita dengan aktingnya itu. Dia benar-benar bisa berperan sebagai adik yang tak ingin kehilangan kakaknya. Padahal, dia merupakan bagian dari musuhnya Aung. Hanya saja, dirinya sedang meminjam tubuh adiknya saat ini. Jadi, dia akan memperlakukan keluarga yang ia pinjam itu dengan baik-baik.


"Kau tidak perlu minta maaf. Aku akan menjelaskan kepadamu secara pelan-pelan. " Aung melepaskan pelukannya lalu mengenggam tangannya Rita agar bisa keluar dari rumahnya untuk menghirup udara segar.


Rita yang tadinya ingin meneliti darah berkeluaran asap itu pun tak jadi akibat Aung membawanya keluar.


'Sabar Rita, kau harus melakukannya secara perlahan agar tidak dicurigai orang. ' batin Rita.


Mereka berdua pun berada di taman belakang rumahnya. Rita yang melihat itu hanya sekumpulan rumput hijau pun tidak mengerti dengan pemikirannya Aung.


'Kenapa dia membawaku kesini? ' batin Rita memandang taman yang tidak ada apa-apa nya itu.


"Aku akan memberikanmu kejutan di taman, " ucap Aung. Dia pun menjentikkan jarinya hingga taman itu berubah menjadi kolam hitam dalam sekejap.


Tak hanya itu saja, kolam itu menunjukkan pernak-pernik di atas airnya itu lalu sepotong tangan mengeluarkan sebuah peti kecil.