
...✪✪✪...
Yudha telah dinyatakan pulih dari sakitnya. Dia dan Deny tengah dalam perjalanan menuju gedung apartemen milik Ferdi. Di sana Yudha berniat tinggal untuk sementara. Letak apartemennya sendiri berada di pusat kota.
Berita mengenai terbakarnya rumah Yudha masih menghebohkan media. Baik dalam hingga luar negeri. Bagaimana tidak? puluhan orang lebih diberitakan meninggal akibat kebakaran. Anehnya tidak ada satu pun media yang menyebutkan mengenai pembantaian. Para ahli teori konspirasi terlihat terus membacot di berbagai media sosial. Banyak orang yang mempertanyakan kinerja dari pihak kepolisian.
"Sepertinya Mr. A memang sosok orang berpengaruh. Kita harus mencari tahu identitasnya secepat mungkin," ujar Yudha, yang baru saja selesai membaca artikel melalui smartphone.
"Aku akan berusaha. Tetapi masalahnya kita sangat kekurangan orang-orang kita. Sebagian besar dari mereka telah dibunuh oleh Mr. A dan komplotannya," sahut Deny. Dia fokus mengemudikan mobil.
"Tidak perlu mencemaskan itu. Aku yakin, orang-orang terpercaya akan datang satu per satu. Untuk sementara, aku akan melakukannya sendiri. Sedangkan kau, carikan saja informasi yang berkaitan dengan insiden kebakaran. Temukan CCTV yang merekam semuanya!" Yudha berucap panjang lebar. Beberapa saat kemudian dia dan Deny tiba di apartemen.
Yudha melanjutkan pendidikan lewat home schooling. Dia butuh waktu mempersiapkan diri untuk berbaur menjadi orang normal. Lagi pula dua bulan lagi Yudha akan lulus SMA. Makanya dirinya tidak ingin repot-repot kembali pergi ke sekolah umum.
Hari berganti hari. Tiga bulan telah terlewat. Yudha kini menerima ijazah SMA-nya. Dia dihadiahkan lima orang anak buah baru terpercaya. Entah bagaimana Deny menemukan orang-orang berbadan bugar dan kuat tersebut. Mereka terlihat seperti preman pasar dimata Yudha.
"Ayo masuk, aku persilahkan kepada kalian, untuk menemui bos kita!" Deny memimpin kelima lelaki pilihannya menemui Yudha.
"Yudha, ini dia orang-orang yang kemungkinan bisa membantu kita. Norman, Wandi, Miko, Agung, dan Haris!" Deny menunjuk satu per satu kelima lelaki yang ada di sampingnya.
"Dia bos kita? kau yakin?" tanya Norman. Menatap ragu ke arah Deny. Perlahan dia mendekatkan mulut ke telinga Deny, lalu berkata, "Dia terlalu muda untuk dijadikan bos!"
Yudha yang sedari tadi diam, tangannya sibuk memainkan pemantik. Meskipun begitu, pendengarannya selalu bekerja dan berguna sangat baik. Dia bahkan mendengar kalimat yang dibisikkan Norman kepada Deny. Yudha lantas bangkit dari tempat duduknya.
"Memangnya kenapa kalau aku masih muda?" Yudha menyalangkan mata kepada Norman. Akan tetapi lelaki yang sepertinya sudah berusia tiga puluh tahunan itu, merespon Yudha dengan tawa kecilnya. Seolah hanya menganggap Yudha sebagai anak kecil.
Merasa kalau dirinya sedang diremehkan, Yudha sontak mengarahkan pukulan kasar ke leher Norman.
"Akhh!!" Norman langsung merasa tenggorokannya tercekat. Dia kini marah terhadap Yudha, dan mencoba melakukan pembalasan.
"Bocah sialan!" rutuk Norman, kemudian meludahkan salivanya ke samping. Selanjutnya dia mendekat ke arah Yudha. Berusaha mengarahkan tinjunya.
Sebelum tinju menghantam wajahnya, tangan Yudha dengan sigap memegangi kepalan tangan Norman. Dia menggengam begitu erat. Sedangkan satu tangannya yang menganggur, segera menyalakan pemantik. Membiarkan api yang menyala membakar pergelangan tangan Norman.
"Aaarrrkkhh!! a-apa yang kau lakukan?!" pekik Norman ketakutan. Dia berusaha melepaskan cengkeraman Yudha, tetapi tenaga anak remaja yang tadi sempat diremehkannya sangatlah kuat.
"AAAAAAARGGGHHH!!! PUANASSS! Kumohon hentikan!" Norman semakin berteriak histeris, ketika kulitnya sudah mulai melepuh.
Deny sengaja membiarkan kelakuan Yudha. Sedangkan ke-empat lelaki lainnya yang melihat, hanya bisa membisu dan menjaga jarak dari Norman. Mereka tidak ingin menjadi salah satu korban Yudha selanjutnya.
"Huhuhu... kumohon hentikan Tuan, aku menyesal... aku tidak akan berbicara dengan semaunya lagi." Norman memohon sambil menangis tersedu-sedu. Dia juga meringiskan wajah, karena masih merasa kesakitan dengan sengatan api di pergelangan tangannya.
"Jika kalian ingin menjadi bagian orang-orangku. Maka yang paling utama, adalah mempercayaiku. Tidak peduli dengan usia, atau apapun itu!" ucap Yudha. Dia kembali duduk ke sofa. Raut wajahnya tampak cemberut. "Pergi sana! kalian membuat suasana hatiku bertambah buruk!" tambahnya lagi.
Deny pun menyuruh kelima orang yang dibawanya untuk pergi. Sementara dirinya tetapi tinggal, karena Yudha hendak bicara empat mata.
"Kenapa kau membawa orang-orang itu? bukankah aku sudah pernah bilang, kalau untuk sekarang biar aku yang mengurus semuanya?! kau seharusnya mencari informasi berguna tentang insiden kebakaran!" Yudha mengerutkan dahi kesal. Bicara tanpa melihat ke arah Deny.
"Maafkan aku. Aku hanya merasa kesulitan melakukan semuanya sendiri. Kamu tahu kan, mencari informasi itu tidak semudah membalikkan telapak tangan?" balas Deny pelan.
"Ya sudah. Kalau begitu, bisakah kau mengurus formulir untuk kuliahku. Aku bosan terus bergaul dengan orang yang tidak seumuran denganku!" titah Yudha. Lalu menyandarkan dirinya ke sofa. Satu hembusan nafas dikeluarkannya dari mulut.
Deny menganggukkan kepala. Dia segera beranjak pergi. Melakukan tugasnya seperti biasa. Namun sebelum sempat Deny melangkah keluar, Yudha kembali memanggilnya. Deny lantas berbalik dan menoleh.
"Kenapa kamu masih setia kepadaku? padahal saat aku sakit kau bisa kabur dan mengambil semua warisan ayah." Yudha melayangkan tatapan serius.
Deny mengembangkan senyuman tipis dan menjawab, "Karena aku berhutang budi sangat banyak dengan ayahmu. Meskipun ayahmu memiliki pekerjaan kotor, tetapi dia tidak pernah sekali pun berkhianat. Bahkan kepada istrinya sendiri." Setelah memberikan penjelasan, Deny kembali menggerakkan kakinya maju.
Di suatu hari menjelang sore. Yudha sedang duduk santai memainkan game sendirian. Pintunya mendadak terbuka. Muncullah Deny dengan mimik wajah serius. Dia tampak tergesak-gesak.
"Ada apa?!" Yudha yang paham segera menghentikan kegiatannya. Memusatkan atensinya kepada Deny.
"Aku mendapatkan sesuatu. Saat aku memeriksa kamera pengawas yang ada di bagian timur rumahmu, aku melihat ada sebuah mobil yang terparkir di sana. Dengan begitu, aku bergegas menemui pemilik mobilnya, dan meminta rekaman black box. Lihat yang aku temukan!" terang Ferdi panjang lebar. Dia lalu menyalakan laptop. Memperlihatkan rekaman yang berhasil ditemukannya.
Yudha sedikit mencondongkan kepala ke layar laptop. Mengamati baik-baik video yang didapat oleh Deny. Pupil matanya membesar saat menyaksikan seorang gadis keluar dari arah rumahnya, sambil membopong lelaki berperawakan gemuk.
"Gadis itu temanmu bukan?" Deny memastikan. "Dia membawa pergi tawananmu. Tetapi sepertinya dia melakukannya sebelum penyerangan dari Mr. A," ungkap Deny. Mengutarakan pendapatnya.
"Elisha..." lirih Yudha. Dia mengulang video yang dilihatnya. Kemudian mem-pause-nya ketika sosok Elisha muncul bersamaan dengan lelaki yang tidak lain adalah Anton.
"Dia sepertinya memang pergi dari pesta lebih dahulu... apakah karena dia sudah mengetahui penyerangan itu? itukah alasan dia menyelamatkan Anton? jangan-jangan tujuan Elisha yang selama ini terus mendekatiku, karena dia punya tujuan dibalik itu?" Yudha bergumam dengan segala praduga.
Bruk!
Kepalan tangannya dihantam ke meja. Dia kini berniat menemukan Elisha.
Catatan kaki :
Black Box : Alat perekam data perjalanan