Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 18 - Topeng


...✪✪✪...


Yudha dan teman-temannya baru saja selesai membangun tenda. Sekarang mereka duduk berkumpul sambil saling berdiskusi. Kebetulan sekali Yudha satu kelompok dengan Elisha. Tetapi sejak awal datang Yudha benar-benar bersikap seolah tidak mengenal Elisha.


"Yud, kamu sama Elisha sudah saling kenal kan? Aku soalnya lihat kedekatan kalian saat di parkiran," celetuk Tiara. Dia gadis lain yang juga satu kelompok dengan Yudha.


"Ah itu, Elisha cuman kembaliin buku aku yang ketinggalan kok." Sebelum Elisha menjawab Yudha lebih dahulu bersuara. Alhasil Elisha terpaksa menganggukkan kepala. Menyetujui ucapan Yudha yang hanya kebohongan belaka.


Yudha pergi ke toilet sebentar. Dia hendak menenangkan diri sebelum acara dimulai. Yudha mencuci tangannya sembari menatap pantulan dirinya di cermin. Tangannya lekas-lekas membasahi rambut. Dirinya selalu menghargai anugerah dari paras tampannya. Jika ada yang berani menyentuh atau melukai wajahnya maka Yudha tidak akan segan-segan menghabisinya.


Ceklek!


Pintu toilet mendadak terbuka. Sosok Reyhan beserta kedua temannya muncul. Mereka tersenyum licik ketika melihat kebaradaan Yudha.


"Ada mahasiswa ganteng nih," tegur Reyhan seraya berderap menghampiri Yudha. "Senang pasti ya, baru masuk kampus sudah langsung populer," lanjutnya yang sekarang mengusap pundak Yudha. Seakan-akan membersihkan serpihan debu dari sana.


"Hits banget dia Rey dikalangan ciwai-ciwai. Kalah telak kamu! hahaha!" Iwan ikut bersuara. Tergelak kecil untuk memanas-manasi kawannya.


"Aku nggak peduli, yang paling aku peduliin itu cuman Fevita. Gebetan baruku di jurusan Kedokteran Gigi," respon Reyhan. Tangannya perlahan diletakkan ke atas pundak Yudha.


"Yud, kamu nggak mau gabung jadi geng kita? Asyik loh!" ujar Vino. Teman Reyhan yang satunya.


Yudha hanya memasang wajah datar. Tidak mengucapkan satu patah kata pun dimulutnya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan klub pertemanan Reyhan.


"Woy jawab! Punya mulut nggak sih?!" Vino memegang kasar dagu Yudha. Berbicara dengan nada tinggi. Dia mendesak Yudha menjawab.


"Maaf Kak." Yudha terpaksa mengalah. Dia masih membutuhkan reputasi yang baik, agar rencananya nanti malam berjalan lancar.


"Penurut juga ya dia. Jadi suka!" ungkap Iwan seraya mengamati wajah Yudha dengan seksama. Senyumannya terlihat nakal.


"Eh jangan gila Wan! Cowok mau kau embat juga!" Reyhan mendorong kepala Iwan untuk menjauh.


Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan Erin dari arah lapangan. Dia menyuruh semua mahasiswa baru untuk berkumpul dan berbaris.


"Aku harus pergi," ucap Yudha sembari melepaskan rangkulan Reyhan. Lalu bergegas keluar dari toilet. Dia hanya bisa mengumpat dalam hati terhadap kelakuan Reyhan dan kawan-kawan.


Erin mengabsen mahasiswa baru yang ada. Dia memastikan tidak ada yang tertinggal. Selanjutnya mereka disuruh memakai atribut yang telah dibawa. Tanpa diduga ada tiga orang mahasiswa yang baru saja datang. Mereka lebih terlambat dari Yudha, dan beralasan kalau mobilnya mogok di jalan.


"Parah kalian ya! Ini terlambat banget tahu!" bentak Iwan. Dia menyuruh tiga mahasiswa baru berdiri di tengah lapangan. Para kakak-kakak tingkat sontak berdatangan satu per satu.


"Semuanya bubar!" titah Reyhan kepada semua adik tingkatnya. Kecuali tiga orang lelaki yang datang terlambat.


Yudha berjalan menuju tendanya. Akan tetapi sebelum sampai, dia berhenti sejenak untuk melihat apa yang dilakukan kakak-kakak tingkatnya.


Reyhan dan Iwan terlihat memarahi habis-habisan tiga mahasiswa baru. Reyhan bahkan tidak segan-segan melayangkan tendangan.


Tiga lelaki yang datang terlambat itu disuruh merayap ditanah. Saling berdahuluan mengambil bendera kecil yang dipegang oleh Vino. Parahnya Vina malah mempermainkannya dengan terus berlari jauh. Hingga tiga orang mahasiswa baru itu harus merayap di bebatuan dan tanah basah.


"Kalau salah satu ada yang mati, bisa dilaporin tuh mereka!" celetuk Okan yang ternyata sedari tadi berdiri di samping Yudha.


"Sudahlah, aku yakin Reyhan secepatnya akan mendapat karma!" Yudha membawa Okan dan Beni masuk ke dalam rangkulannya. Kemudian berjalan bersama menuju tenda. Ketiganya kebetulan berada di kelompok yang berbeda. Jadi saling memisah saat Yudha tiba di tendanya.



Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Siang berubah menjadi malam. Semua orang sibuk melakukan acara api unggun.


"Elisha mana sih, kok nggak muncul-muncul?" tanya Tiara sembari celingak-celingukan.


"Emang tadi dia bilang mau kemana?" tanya Damar salah satu teman kelompok Yudha.


"Ke toilet katanya. Tapi belum juga balik nih!" keluh Tiara dengan dahi yang sedikit mengernyit.


"Biar aku yang mencarinya!" ujar Yudha bergegas melajukan langkahnya.


"Eh tapi Yud, kita bentar lagi--" Tiara tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ketika Yudha sudah terlanjur beranjak. Alhasil dia dan yang lain hanya membiarkannya berbuat sesuka hati.


"Biarin aja Ra, kali aja nanti Yudha sama Elisha kembali sebelum kita tampil!" ujar Damar. Berpikir positif. Kebetulan kelompok Yudha harus tampil untuk unjuk bakat. Mereka akan tampil digiliran kedua.


Yudha berjalan menyusuri koridor kampus. Ia berderap menuju toilet wanita. Mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Hingga atensinya tertuju pada gerombolan kakak-kakak tingkatnya yang asyik mengobrol. Mereka terlihat mengenakan kostum hitam dan mengenakan topeng menyala. Topeng itulah yang menarik perhatian Yudha, karena dia sangat ingat betul kalau topengnya sama persis dengan yang dipakai Mr. A.


Langkah Yudha pelan. Dia berusaha mendekat, agar telinganya bisa menangkap pembicaraan kakak-kakak tingkatnya.


"Parah ini topeng keren banget!"


"Iya, kamu beli dimana, Dik?"


"Aku pesen tahu. Orang yang bikin topengnya cuman bersedia bikin lusinan. Terus dengan jumlah yang sudah ditentukan. Katanya budgetnya banyak buat bikin topeng keren gini!" jelas seorang kakak tingkat yang sepertinya bernama Diky. Dia terus saling bicara dengan teman-teman lainnya. Selanjutnya mereka segera pergi karena disuruh ikut berkumpul untuk acara api unggun.


'Benar, topengnya. Kenapa tidak terpikir olehku? Aku yakin pembuat topeng itu tahu dengan komplotan Mr. A,' batin Yudha. Dia lekas-lekas masuk ke ruangan dimana topeng menyala disimpan oleh Diky. Lalu mengambil salah satunya. Yudha lantas menyimpannya di tempat tertutup. Tepatnya di samping bangunan kampus dalam semak rerumputan lebat. Dia nanti akan mengambilnya lagi saat jurit malam.


Yudha kini melanjutkan pencariannya untuk menemukan Elisha. Dia tidak segan-segan membuka toilet wanita. Benar saja, di sana ada Elisha yang tampak sibuk menghisap rokok.


"Yudha!" Elisha tersentak kaget dengan kedatangan Yudha.


"Fuuuuw..." Yudha bersiul sambil menggelengkan kepala. Seakan miris dengan kelakuan Elisha.


"Kenapa?! bukankah kau sudah tahu kalau aku gadis perokok?" timpal Elisha dengan dahi berkerut.


"Elisha, sikapmu sangat aneh. Kadang polos dan kadang liar... apa kau memiliki kelainan kepribadian ganda?" balas Yudha. Dia sekarang berdiri di sebelah Elisha. Ikut menyandar di wastafel depan cermin toilet.


"Yang punya kelainan itu kamu!" geram Elisha. Dia tampak mematikan rokoknya. Kemudian membuangnya ke bak sampah.


"Benarkah? Memangnya apa kelainanku?" Yudha mencondongkan wajahnya ke arah Elisha. Menuntut jawaban jelas.


"Bukankah kau nekat menculikku tempo hari? Kau mungkin saja berniat membunuhku," tukas Elisha. Memberanikan diri menatap Yudha. Namun dia lagi-lagi ciut akan tatapan Yudha yang tidak teralihkan darinya. Elisha merasa tidak nyaman dengan tatapan itu. Terasa mengancam tetapi terlihat datar saja. Aura Yudha memang berbeda. Ada kejahatan dan juga keindahan dalam diri lelaki itu.