Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 38 - Bertemu Teman Baru


...✪✪✪...


Yudha hanya bisa mengacak-acak rambutnya saat menerima kenyataan komputernya rusak. Dia bahkan tidak segan-segan menendang alat teknologi itu akibat merasa saking kesalnya.


"Sial! Haruskah aku pergi ke warnet?" gumam Yudha sembari mendengus kasar. Dia segera mengenakan jaket dan topi. Kemudian beranjak pergi dari rumahnya.


Mencari sebuah tempat di kota yang maju bukanlah hal yang sulit. Dengan hanya menggunakan fasilitas internet, Yudha mampu menemukan lokasi dimana warnet berada. Setibanya di sana, dia langsung melangkahkan kakinya untuk masuk.


Yudha sebenarnya tahu apa itu dark web. Dia sering mendengarnya dari pembicaraan ayah dan ibunya dahulu. Namun hingga sekarang dirinya belum pernah diajarkan cara masuk ke laman web tersebut. Bahkan oleh Deny sekali pun. Sepertinya sebelum meninggal, Deny sempat berniat ingin mengajari Yudha tentang segala hal yang berkaitan dengan dark web. Tetapi karena keadaan mendesak, Deny hanya sempat menuliskan laman web dan memasukkannya ke dalam briefcase.


Sebelum memilih komputernya, Yudha memilih berjalan menyusuri warnet. Dia berharap menemukan seseorang yang lebih ahli darinya. Setelah cukup lama melihat-lihat, tertujulah atensi Yudha kepada seorang lelaki berbadan berisi, berkacamata dan mengenakan jaket hody. Ditangannya terdapat sebungkus makanan kemasan yang berisi keripik kentang. Yudha tertarik kepadanya, karena lelaki berkacamata itu tampak membuka sebuah laman web mencurigakan.


Ponsel Yudha tiba-tiba berbunyi. Dia langsung mengangkat panggilan telepon.


"Hello, Mr. Apakah anda orang yang tadi sempat menanyakan apartemen kosong di tempat kami?" suara seorang wanita menyambut Yudha dari seberang telepon.


"Benar. Apakah ada? Aku menginginkan apartemen kosong yang ada di lantai sepuluh!" ungkap Yudha.


"Pas sekali, Tuan. Ada satu apartemen yang baru ditinggalkan oleh satu keluarga di lantai sepuluh. Seperti keinginan anda, kami akan menyiapkan apartemen itu secepat mungkin. Anda bisa datang esok hari," sahut wanita di telepon.


"Baiklah, besok aku akan ke sana," balas Yudha. Pembicaraannya berakhir disitu. Rekahan senyum perlahan terukir diwajahnya. Bingo! Yudha berhasil mendapatkan tempat tinggal di dekat kediaman Elisha.


Sebenarnya ketika dalam perjalanan pulang tadi, Yudha langsung menghubungi pemilik gedung apartemen yang ditempati Elisha. Dia hanya iseng melakukannya. Namun sepertinya takdir memang selalu mendukung Yudha untuk sering bertemu dengan Elisha.


Sekarang Yudha kembali fokus pada tujuannya. Dia berderap menghampiri lelaki berkacamata yang sedari tadi menarik perhatiannya.


"Apa itu dark web?" Yudha bertanya langsung ke intinya.


Si lelaki berkacamata sontak kaget. Matanya membulat kala menyaksikan Yudha sudah berada di sampingnya. Yudha juga tidak malu-malu mencondongkan kepala ke arah layar komputer.


"Te-tentu tidak!" lelaki berkacamata tersebut gelagapan. Dia berupaya keluar dari laman web yang dibukanya. Akan tetapi tangan Yudha dengan sigap mencegahnya.


"Kenapa kau takut? Aku hanya bertanya." Yudha menoleh ke arah sang lelaki berkacamata.


"Memangnya kamu siapa? Mendadak menghampiriku begitu saja," sahut lelaki berkacamata itu.


"Aku Erick. Aku sedang berusaha mencari orang, untuk membantuku masuk ke laman dark web dengan mudah," tutur Yudha. Untuk yang sekian kalinya dia menyamarkan nama aslinya. Dia sebenarnya hanya berjaga-jaga.


"Aku Richard." Si lelaki berkacamata menyebutkan namanya. Tangannya bergerak memperbaiki kacamatanya yang sedikit bergeser. Dia menatap Yudha penuh selidik. "Kau mau masuk ke laman dark web? Kau yakin?" tanya-nya, memastikan.


"Tentu saja aku yakin. Jika tidak, untuk apa aku repot-repot bicara kepadamu!" balas Yudha. Dia yang tadinya sedikit membungkuk perlahan berdiri tegak.


"Honestly, aku juga tidak bisa masuk ke laman dark web. Tetapi aku tahu laman web yang dapat membantumu untuk mencari seseorang yang ahli. Bukalah halaman ini." Richard merobek kertas dari buku yang kebetulan ada di meja. Kemudian menuliskan laman yang dimaksudnya untuk Yudha. "Carilah! Kau bisa menggunakan komputer kosong yang ada di sebelah," saran Richard.


"Terima kasih, aku akan mencoba." Yudha mengambil secarik kertas yang diberikan Richard. Dia segera duduk di salah satu bilik komputer. Lalu memasukkan laman yang diberikan Richard. Selanjutnya, tampillah sebuah laman berupa papan ketik, yang mana di sana Yudha bisa memasukkan pertanyaan apapun. Laman web yang dibukanya itu terlihat gelap. Meskipun begitu, Yudha tidak memperdulikannya. Dengan santainya, dia menuliskan pertanyaan di papan ketik yang tersedia.


...'Adakah yang tahu bagaimana cara masuk ke laman dark web?'...


Kira-kira begitulah kalimat yang Yudha tulis. Tidak lama kemudian muncullah beberapa akun misterius yang menjawab pertanyaannya.


Banyak orang yang memberitahukan Yudha, bahwa masuk ke laman dark web bukan perkara yang mudah. Butuh seorang hacker profesional.


Ketika Yudha mengalihkan pandangannya kembali ke layar komputer, dirinya dikejutkan oleh sesuatu. Ada sebuah pesan pribadi yang masuk. Akun misterius bernama Blackskull bertanya kepadanya. Yudha sendiri menamai akunnya sendiri dengan nama Erick78.


Ilustrasi percakapan pribadi Yudha di laman web :


^^^Blackskull :^^^


^^^Kau benar-benar mau masuk ke laman dark web?^^^


Erick78 :


Ya, apa kau tahu caranya?


^^^Blackskull :^^^


^^^Tentu saja. Mungkin aku bisa membantumu.^^^


Erick78 :


Benarkah? Terima kasih. Jadi kapan kau bisa melakukannya, dan menemuiku secara pribadi?


^^^Blackskull :^^^


^^^Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Yang penting kau sudah menyiapkan uang untuk membayarku. Bantuanku tidak gratis. Apalagi laman dark web terbilang berbahaya.^^^


Erick78 :


Itu mudah. Aku pasti akan membayarmu. Sekarang lebih baik kita menyusun jadwal pertemuan!


Pertemuan Yudha dengan seseorang yang memiliki nama akun Blackskull akan dilakukan lusa nanti. Tepat jam tiga sore, di sebuah gang yang ada di kota Sydney.



Malam berganti siang. Yudha menyibukkan dirinya dengan kuliah terlebih dahulu. Dia sekarang memilih menyendiri. Sama sekali tidak berniat berbasa-basi seperti dahulu. Yudha hanya akan bicara jika ada orang yang mengawalinya lebih dahulu.


Setelah ditinggalkan Deny untuk selamanya, Yudha sengaja memutuskan kontak dengan semua teman kampusnya yang dulu. Kemungkinan dia sudah lelah melakukan kepura-puraan di hadapan banyak orang. Meskipun begitu, tetap saja ada orang yang mau berteman dengannya, dan Yudha sama sekali tidak menolak.


Yudha mengambil ponsel dari saku celana. Dia menghubungi sang pemilik apartemen. Yudha hanya memberitahu, kalau dirinya sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Hari itu, tanpa sepengetahuan Elisha, Yudha sudah resmi menjadi pemilik apartemen yang ada di lantai sepuluh. Letaknya sendiri berseberangan dengan apartemen Elisha. Sebuah kebetulan emas bagi Yudha.


Dua hari berlalu. Tibalah Yudha di hari pertemuannya dengan Blackskull. Kini Yudha tengah dalam perjalanan menuju gang yang disebutkan oleh Blackskull. Sesampainya di sana dia langsung menemukan sosok lelaki berkulit putih. Badannya tinggi dan mengenakan pakaian berwarna biru gelap. Dia memakai tudung jaketnya ke kepala.


"Blackskull?" tanya Yudha sembari mendekat.


"Ya, itu nama akunku. Di kehidupan nyata, kau bisa memanggilku Roy!" jawab sosok pemilik akun Blackskull. Dia melakukan salaman perkenalan dengan Yudha.


"Erick." Yudha tetap pada pendiriannya. Yaitu tetap memakai nama Erick sebagai samaran.


"Apakah kau memiliki tempat aman untuk melancarkan kegiatan rahasia kita?" Roy bertanya sambil membuka tudung yang menutupi kepala. Kini tampaklah rambut aslinya yang berwarna kemerahan.


"Tentu saja. Ikut aku!" Yudha segera memimpin jalan. Dia dan Roy menaiki taksi untuk pergi ke apartemen baru milik Yudha.